18

1161 Kata
Setelah cukup beristirahat, Rey dan Nesya kembali berjalan-jalan menelusuri kota New York untuk terakhir kali. Karena, setelah ini mereka akan berkunjung ke dubai dan pulang ke Indonesia. Rey dan Nesya bejalan seraya bergandengan tangan, genggaman mereka sangat erat seakan itu tidak akan pernah lepas untuk selamanya. Nesya melihat beberapa foodtruck yang berjejeran di pinggiran jalan, rasanya perutnya yang penuh langsung kosong melompong kala ia melihat deretan foodtruck itu. "Sayangg" rengek Nesya seraya mengayun-ayunkan lengan Rey. "Mau makan." Rey mengikuti arah pandangannya ke apa yang sedang Nesya lihat, lelaki itu menghela nafasnya berat setelah melihat deretan foodtruck itu. "Di sana ada 5 foodtruck, pilih satu aja." ujar Rey tegas. Nesya mengerucutkan bibirnya, seraya menatap Rey penuh harap. "Mau semuanya, Reey." pintanya manja. "Satu, atau enggak sama sekali?"  Nesya mendengus kesal, "serah." Rey tersenyum seraya mengusap puncak kepala gadis itu dengan sayang. "Duduk di sana dulu." suruh Rey seraya menunjuk kursi yang kosong. "Biar aku yang antriin." Mengangguk, Nesya menuruti Rey. Ia berjalan menuju bangku yang di tunjuk oleh Rey tadi, namun saat hendak mendudukan dirinya, seorang wanita berparas cantik langsung menyerobot bangku itu. "Eh!" pekik Nesya kaget.  Wanita tadi menatap Nesya dengan senyuman mengejek. "Sorry, but I get it first."  "First? Ini bule sinting kali, ya. Jelas-jelas gue duluan yang tarik bangkunya!" Nesya mendumel dengan bahasa Indonesia, agar Bule songong itu tidak mengerti. Tidak disangka, ternyata Bule itu mengerti bahasa Indonesia. Ia langsung berdiri, dan mendorong bahu Nesya sampai membuat gadis itu hampir terjungkal. "Eh, kamu itu yang sinting!" balas Bule songong itu. Lah, dia paham ternyata. Batin Nesya. "Santai aja dong, nggak usah dorong-dorong!" balas Nesya seraya mendorong balik wanita itu. Tidak mau kalah, Bule itu membalas lagi dan akhirnya mereka saling adu dorong. Orang-orang hanya menyaksikan saja, tidak ada yang ingin memisahkan perkelahian dua wanita itu. Bahkan ada turis yang secara terang-terangan merekam adegan itu. Sampai akhirnya, Rey datang dan langsung memisahkan dua wanita itu. "Nes, kamu ngapain berantem, sih?!" tegur Rey seraya memeluk Nesya dengan satu tangannya. Nesya menunjuk wanita songong itu tepat di depan wajahnya. "Ini loh! Bule jamu, nyerobot tempat duduk kita!" "Heh! Bule jamu lo bilang? Lo tuh, udah mirip pembokat!" balas wanita itu tidak kalah sengit. Rey merasa mengenali suara ini, ia langsung berbalik menatap wanita yang tadi berkelahi dengan kekasihnya itu.  "Bella?" kaget Rey saat mengetahui bahwa wanita itu adalah Bella, pramugari yang sering mengganggunya. Bella sepertinya sama kagetnya saat melihat Rey, ia langsung menarik lelaki itu ke sampingnya. "Kamu di sini aja, jangan deket-deket sama cewek gila itu."  Nesya hampir saja melempar Bella menggunakan pizza cone yang baru saja Rey belikan untuknya, untung saja Nesya sayang dengan makanan itu. Kalau tidak, habis lah sudah rambut dan wajah Bella berlumuran saos dan mayonaise. "Rey, sini!" ucap Nesya seraya melotot tajam. Rey menurut, dan langsung menghampiri gadisnya itu. Sebenarnya ia juga tidak ingin berada di dekat Bella, ia hanya  Shock makanya ia diam saja. "Kamu kenal, sama cewek sinting ini?" tanya Nesya pada Rey, seraya menatap Bella tajam. Bella yang di sebut sinting itu, merasa tidak terima. Dan, akhirnya ia membuka suara. "Eh, yang sinting itu elo ya!" Rey menggaruk kepalanya yang tidak gatal. "Dia yang namanya Bella." Ingatan Nesya langsung menjurus ke malam saat ia dan Rey di pertemukan di rumahnya, pada malam itu Rey bercerita panjang lebar. Termasuk tentang Bella, wanita yang selalu mendekati Rey walaupun sudah beribu kali Rey tolak dengan kata-kata pedasnya. "Jadi ini, cewek yang selalu ngejar-ngejar kamu?" tanya Nesya dan langsung dibalas anggukan oleh Rey. Nesya melirik Bella dengan tatapan jijik. "Aku kira yang namanya Bella itu orangnya elegan. Ternyata, kaya ondel-ondel kurang belaian gini." sinis Nesya. Bella membelalakan matanya. "Heh! Cabe-cabean, sadar diri dong lo! Gue jelas lebih cantik dan lebih baik dari pada elo!" balas Bella seraya menunjuk-nunjuk wajah Nesya. Nesya menanggapi hinaan Bella dengan santai, ia memasang wajah angkuhnya seraya tersenyum jahat. "Gue, cabe-cabean? Iya, emang. Gue cabe high quality bukan kayak elo, cabe kualitas rendah yang udah hampir busuk. Lo lebih cantik? Iyadeh, nggak pa-pa. Tapi, Kecantikan lo itu ga guna.  Rey lebih milih gue. And for the last, lo lebih baik?" Nesya terkekeh pelan, ia kemudian melanjutkan kalimat pedasnya. "Cewek baik itu, nggak ada yang suka ngerebut cowok orang." Nesya seperti menampar Bella dengan kata-kata pedasnya. Setelah mengucapkan itu, Nesya langsung menarik Rey untuk pergi. Meninggalkan Bella yang masih mematung. **** Nesya masih menarik Rey untuk menjauh dari Bella, gadis itu tidak terlihat emosi. Namun, cengkramannya di pergelangan tangan Rey sangat erat. "Ini sampe kapan aku mau digeret kayak sapi?" protes Rey karena tangannya sudah mulai sakit, akibat cengkraman Nesya yang begitu erat. "Kita balik ke hotel aja lah, ya. Aku udah nggak mood mau jalan-jalan lagi, gara-gara ketemu si belalang." ketus Nesya. "Yah, ini hari terakhir, loh. Masa kita jalan-jalannya cuman segini?" sanggah Rey. Nesya memutar badannya, ia melepaskan cengkramannya yang sudah membuat bekas merah pada pergelangan tangan Rey. "Kalau kamu mau jalan, sana jalan sendiri. Aku mau balik ke hotel, males ketemu Belalang!" "Loh, kok marah? Kan dia udah jauh banget, sayang. Mana mungkin kita ketemu dia lagi, New York ini luas." "Kamu mikir nggak sih, New York emang luas. Harus ya, kita ketemu belalang? Atau, dia emang sengaja ikutin kita?" Rey mengacak rambutnya frustasi. "Ya, terus? Kalau dia sengaja ikutin kita, apa itu salah aku? Kalau kita nggak sengaja ketemu dia, itu salah aku?"  "Kamu kok malah marah sama aku?!"  "Aku nggak marah, Nes. Yang marah itu kamu, sadar nggak sih?"  Nesya terdiam, rasanya ia terlalu egois. Ia sebelumnya tidak pernah seperti ini, apakah Nesya cemburu? Untuk apa ia marah-marah tidak jelas seperti ini, Rey benar. Ini bukan salah Rey, ini semua karena Bella.  Namun, Nesya tetaplah Nesya. Gadis keras kepala yang tidak mau mengalah, gengsi kalau Nesya sekarang meminta maaf setelah ia marah-marah tidak jelas. "Terserah, lah. Aku mau balik ke hotel aja!"  Gadis itu segera melangkahkan kakinya untuk kembali ke hotel, namun Rey dengan sigap menahannya.  "Kamu yakin, mau balik sekarang?" tanya Rey. "Yakin!" jawab Nesya ketus. "Yaudah, berati aku jalan sendirian. Nggak  janji ya kalau nggak ketemu Bella, belum lagi aku mau nyari makanan. Sayang, kamu nggak ma-" "Aku ikut, buruan!" potong Nesya dengan cepat. Ia tidak ingin kalau Bella sampai mengganggu Rey lagi. Dan, tadi Rey bilang ia ingin mencari makan. Kebetulan Nesya sedang lapar. Rey tersenyum penuh kemenangan karena rencananya berhasil. ------------------------------------------------- Hai! Sesuai janji aku tadi, hari ini bakalan double update. Btw, gimana part ini? Bisa perbaikin  part sebeelumnya yang kurang,hmmm. Oh iya, aku pengen cepet" tamatin Dangereux 2. Karena ide ku untuk Nesya dan Rey sudah menipis, daripada cerita ini gantung.  Jangan khawatir, aku sudah siapin cerita baru untuk kalian.  Lebih baik, lebih menarik, semoga bisa seperti cerita ini yang menjadi trilogy. Segitu dulu ya, jangan lupa komen. Jangan cuman komen minta next, kesannya gimana ya. Pasti aku next kok wkkw , aku lebih senang kalian koen tentang part ini daripada komen isinya next doang. Jangan lupa vote juga, jangan suka minta next taoi ga pernah vote. Hehe, ada yang ngerasa? Wkkw Salam 6®
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN