Hari ini adalah hari Senin, hari yang paling banyak di benci orang. Kasian si Senin, padahal dia nggak salah apa-apa.
Berbeda dengan Nesya, gadis yang baru saja resmi berumur 23tahun itu sangat menyukai hari ini. Karena, ia dan orang yang paling ia sayangi akan bertolak ke Dubai.
Negara impian banyak orang. Tempat berkumpulnya kendaraan mewah, dan para raja minyak yang rupawan.
Setelah melewati perjalanan hampir 20 jam karena transit sana-sini, akhirnya mereka tiba di Negara Dubai, Arab saudi.
Berbeda dengan New York yang sedang musim dingin, di sini lebih terasa panas. Namun, tidak se panas di Indonesia.
"Panas, ya." ucap Nesya seraya mengibas-ngibaskan tangannya untuk memberikan hawa sejuk.
Rey mengangguk setuju, lelaki tu mengambil kacamata hitamnya yang ia letakan di ransel, kemudian memakainya untuk melindungi pandangannya dari sina matahari yang sangat menyilaukan mata.
Ketampanan Rey bertambah beribu-ribu kali lipat kala ia memakai kacamata itu, bahkan Nesya saja hampir meneteskan air liurnya.
"Biasa aja." tegur Rey seraya mengantupkan mulut Nesya yang ternganga lebar.
Nesya tersadar, ia menggeleng-gelengkan matanya seraya mengerjap-ngerjapkan mata. "Kok ganteng?" celetuknya.
Rey langsung tertawa karena mendengar pujian Nesya yang sangat spontan, sebelumnya Nesya jarang sekali memujinya.
"Tumben?" sahut Rey seraya terkekeh pelan.
Pipi Nesya mulai merah merona karena malu, ia memalingkan wajahnya dan segera berjalan duluan meninggalkan Rey untuk menyembunyikan rona di pipinya.
Rey tersenyum menatap Nesya yang salah tingkah itu. "Nes, tungguin!"
*****
R
ey menumpukan dagunya pada kedua tangannya, ia sangat senang memperhatikan Nesya yang sedang asyik meminum es kelapanya. Rambut Nesya tertiup angin, membuat Rey semakin suka memandangi gadisnya itu.
"Cantik." gumam Rey tidak sadar.
Telinga Nesya dengan jelas mendengar kata itu, ia langsung mencondongkah wajahnya ke depan dan tertawa kecil. "Apa tadi? Ulangin coba?" godanya.
"Hah?" tanya Rey, ia baru saja tersadar dari lamunannya.
Nesya terkekeh pelan. "Tadi kamu bilang aku cantik, tumben." ejeknya.
"Iya." Rey mengangguk setuju. "Tumben kamu cantik."
Alis Nesya terangkat satu. "Tumben aku cantik? Jadi, biasanya aku nggak cantik, gitu?" tanya Nesya sedikit marah.
"Eh? Bukan gitu, biasanya juga cantik, tapi sekarang cantik banget." jelas Rey.
"Gombal." balas Nesya jengkel.
Rey terkekeh pelan, ia mengacak rambut Nesya sampai gadis itu berteriak karena kesal.
"Udah, dong!" tegur Nesya seraya menepis kasar tangan Rey. "Catok rambut aku ini susah tau nggak, ribet!" gerutu Nesya seraya menyisir rambutnya yang panjang menggunakan jari.
"Maafin, deh." ucap Rey.
Nesya hanya berdehem sebagai jawaban. Setelah itu, yang terjadi hanyalah keheningan. Baik Nesya maupun Rey hanya terdiam, seperti sibuk dn.
****
Dua hari kemudian.
Setelah seminggu penuh berlibur di luar negeri, akhirnya Nesya dan Rey kembali ke Indonesia. Tidak banyak sesuatu yang terjadi, perjalan mereka hanya untuk mempererat hubungan mereka yang cukup lama merenggang.
Mereka masih sama-sama cuti, beristirahat satu atau dua hari karena masih dalam keadaan Jet lag.
Ah, ini sangat melelahkan.
Nesya masih tertidur lelap sembari memeluk possesif gulingnya, gadis itu mendengkur pelan. Efek kurang tidur dan kelelahan.
Tubuhnya yang mungil, terbungkus selimut hello kitty berbulu yang baru saja ia beli dari Dubai.
Nesya sudah tidur lebih dari 15 jam, setelah menghabiskan dua nasi kotak dan satu milkshake. Gadis itu belum bangun sampai sekarang, tadinya Tiara mengira Nesya tewas kekenyangan. Ternyata srtelah di periksa, cewek itu kelelahan.
Pintu kamar Nesya terbuka, menampakan gadis yang berwajah mirip dengannya. Itu Tiara.
"Kak!" panggil Tiara seraya menggoyang-goyangkan tubuh Nesya untuk membangunkan gadis itu.
Nesya mengerang pelan, kemudian ia melanjutkan tidurnya.
Tiara mendengus kesal, percuma membangunkan mayat hidup seperti Nesya. Ia tidak akan bangun, bahkan jika ada gempa bumi sekalipun.
Selain kebiasaan buruknya yang doyan makan, Nesya juga punya kebiasaan lain. Yaitu, susah dibangunin.
Tiara melirik segelas air putih yang terletak di nakas, sekelebat ide jahatnya muncul. Tiara mengambil air itu, bukannya mencipratkannya, Tiara langsung menyiram Nesya.
"Banjir, bundaa!" pekik Nesya kaget seraya melompat dari kasurnya.
Tiara tertawa gelak melihat kelakuan kembarannya itu. "Ya Allah, punya kembaran kok gini amat."
Nesya tersadar atas kebodohannya. "Tiara! Kamu ngapain siram aku!" geramnya kesal.
"Abis, kakak tidur lama banget. Itu calon suaminya nungguin dari tadi, dari ganteng banget sampe urakan begitu. Dibangunin pake senar drumband enggak ngaruh, di teriakkin nggak ngaruh, eh disiram ngaruh." jelas Tiara seraya nyengir lebar.
"Di bawah ada Rey?" tanya Nesya.
Tiara mengangguk sebagai jawaban. "Iya, dari tadi. Katanya mau fitting baju."
Nesya menepuk jidatnya. "Astagfirullah, aku lupa!" gadis itu segera berlari menuju kamar mandi.
Sepuluh menit kemudian, Nesya keluar dengan pakaian yang sdah rapi. Gadis itu berjalan menuju meja rias, menyisir rambut panjangnya dan memakai lipstick. Lalu, ia segera berlari turun ke bawah untuk menemui Rey.
"Rey!" panggil Nesya.
Rey yang sedang asyik menonton gosip bersama Bunda Nesya, langsung menengok. Ia tersenyum saat melihat penampilan Nesya yang sudah rapi.
"Berangkat sekarang?" ajaknya. Nesya mengangguk, dan mereka segera pergi ke mobil.
*****
M
obil Rey terparkir rapi di depan tempat ia dan Nesya fitting baju pengantin. Mereka keluar bersama, dan masuk bergandengan.
Di dalam, mereka sudah di sambut oleh Zahra---mama Rey---designer---calon mertua Nesya.
"Kok kalian lama?" tanya Zahra seraya menggiring dua sejoli itu ke ruang fitting.
"Ini loh ma, Nesya tidurnya lama. Kecapean katanya, kaya mayat, susah dibangunin." ucap Rey seraya tersenyum jahil ke arah Nesya.
Nesya tersenyum kikuk menahan malu.
Zahra terkekeh mendengar penjelasan Rey. "Oalah, yaudah, yuk di coba bajunya."
Dua pegawai Zahra datang seraya membawa masing-masing baju untuk Nesya dan Rey. Mereka menerima baju itu, dan berjalan ke ruang ganti.
Lima menit kemudian, Rey keluar terlebih dahulu mengenakan tuxedo putihnya. Tidak lama, Nesya juga keluar seraya mengenakan kebaya putih yang indah.
"Cocok, banget!" seru Zahra senang. "Mama tinggal dulu, ya."
Setelah kepergian Zahra, Rey menarik Nesya ke dalam rangkulannya. Mereka berdiri menghadap kaca besar, yang memantulkan bayangan mereka mengenakan pakaian pengantin.
"Jadi pengen nikah sekarang." ucap Rey datar.
Nesya mengernyitkan dahinya menatap Rey. "Ih, apaansih."
Rey tersenyum, sraya menatap mata Nesya lekat-lekat. "Kamu, udah siap untuk hidup selamanya, sama aku?"
Nesya membalas tatapan Rey, tersenyum manis membalas senyuman cowok itu. Dan dengan mantap, Nesya mengangguk. "Aku siap."
------THE END------
HUHUHU!!!!
MAAFKAN AKU, KARENA OTAKKU SUDAH BUNTU.
INI UDAH ENGGAK GANTUNG LAGI, YA:)
MEREKA UDAH BERSATU... INTI DARI CERITA INI, NESYA DAN REY BERSATU.
GIMANA, APAKALIAN MENYESAL BACA CERITA INI?
OH IYA.
SUPAYA KALIAN NGGAK BOSAN, AKU SUDAH SIAPKAN CERITA BARU DAN AKAN AKU POST BESOK!
SAMPAI JUMPA DI CERITA BARU, TERIMAKASIH ATAS DUKUNGAN KALIAN SEJAUH INI.
BEST REGARDS, RARAA CANTIKA