3

1155 Kata
Nesya melihat almameter putihnya yang dilumuri darah, mungkin orang lain akan jijik, namun berbeda dengan para dokter. Ini adalah pertanda bahwa mereka habis menangani atau bahkan menyelamatkan nyawa seseorang. Saat ingin kembali ke ruangannya untuk mengganti almameternya, seorang suster memanggilnya dan mengatakan bahwa Dokter kepala memanggilnya. Nesya mengangguk untuk mengiyakan perintah suster itu. Nesya melanjutkan langkahnya untuk memasuki ruangannya, ia harus mengganti dulu almameternya sebelum bertemu dokter kepala. Tidak mungkin ia menemui Dokter Kepala dengan pakaian yang berlumuran darah. Setelah sampai didepan ruangannya, Nesya masuk dan segera mengganti pakaiannya. Selesai, Nesya melihat penampilannya di cermin. Ia tersenyum melihat penampilannya, rasanya sangat mustahil ia bisa seperti ini sekarang. Ini semua, berkat bantuan Pieter. Segera Nesya berjalan menuju ruangan Dokter Kepala, ia mengetuk dan mendapatkan perintah untuk langsung masuk. Nesya menurut, membuka pintu dan segera masuk.  "Silahkan, anakku." Perintah pria paruh baya blasteran Indonesia-Inggris itu. Nesya mengerti, dan segera duduk di kursi yang berada dihadapan Dokter Kepala itu. Dominic Berydno Nama itu terpampang jelas diatas meja Dokter Kepala itu.  "Kapan rencana kau dan Pieter akan menikah, nak? Aku sudah tidak sabar ingin menimang cucu." Lelaki yang dipanggil Dom itu tertawa. Sedangkan Nesya, bahkan ia tidak pernah berfikir akan menikah dengan Pieter. Nesya lupa, bahwa tahap setelah bertunangan adalah menikah. Dan, Nesya belum siap akan hal itu. Karena satu hal, mungkin raganya adalah milik Pieter. Namun, sebuah benda kecil yang bernama hati, itu adalah milik cinta pertamanya, pacar pertamanya, Raelando Wirawan. Lelaki yang selalu ada di pikirannya, yang selalu ia rindukan, yang pernah menjadi alasannya menangis dan mengurung diri didalam kamar mandi karena telah meninggalkan lelaki itu.  Nesya tidak tau, apakah Rey juga merasakan hal yang sama. Namun, semua itu percuma. Ia tidak bisa kembali lagi dengan lelaki itu. Andai saja, Rey yang datang menolongnya, bukan Pieter. Mungkin ia akan bertunangan dan menikah dengan Rey, bukan Pieter. Andai. "Nesya?" Tegur Dom, membuat Nesya terperanjat dari lamunannya. "Iya?" Jawabnya gelagapan. Dom menggeleng-gelengkan kepalanya. "Anesya, Anesya. Sudah berulang kali saya katakan, jangan pernah memikirkan siapapun, kecuali anak saya. Pieter."  Tubuh Nesya menegang, rasanya ia telah menjual hidupnya. Untuk apa ia hidup, jika harus dipaksa, ia bukan boneka. Namun, apa daya. Nesya tidak bisa apa-apa, seandainya bisa, ia lebih memilih mati waktu itu, daripada diselamatkan dan hidupnya menjadi berantakan. "Pak, saya belum siap." Ujar Nesya dengan nada bergetar. Mata Dom melotot lebar, ia menghentak mejanya dengan keras, kemudian ia berdiri seraya mengacak pinggang dan menatap Nesya tajam. "Apa yang membuat kamu belum siap?! Lima tahun, hanya itu jawaban kamu! Belum siap, belum siap, jangan coba-coba menguji kesabaran saya. Apa susahnya, membalas budi dengan menikahi Pieter? Dia sudah mengorbankan dirinya, bahkan ia hampir MATI! kamu dengar? Jika tidak ada Pieter, kamu sudah habis!" Geram Dom. Ia tidak habis pikir, apa susahnya untuk Nesya membuka hatinya pada Anaknya. Hampir lima tahun, dan Nesya selalu menolak untuk menikah. Bahkan bertunangan pun harus dipaksa, alasannya karena prang tuanya tidak ada disini. Padahal Dom siap mengeluarkan sebesar apapun biayanya, untuk memboyong seluruh keluarga Nesya, dari Indonesia ke London. "Say-"  "Sudah, diam. Alasan kamu, hanya membuat saya darah tinggi. Keluar dari sini, saya muak melihat wajah wanita tidak tau diri seperti kamu." Dom mengibas ngibas kan tangannya, membuat gestur mengusir. Nesya mengangguk dan bangkit dari posisi duduknya. "Maaf, pak."  Kemudian, Nesya segera keluar dari sana. Ia segera masuk ke dalam ruangannya, duduk di kursi khusus-nya. Memejamkan mata, Nesya memijat pelipisnya yang terasa pening. Nesya mengingat hari sialnya, hari dimana ia hampir kehilangan masa depannya. Hampir kehilangan nyawa dan semuanya. Entah harus senang atau sedih. Ia berhasil selamat namun dari situ hidupnya mulai hancur. ●●●●● Rey turun dari taxi yang ditumpanginya, ia mengeluarkan beberapa lembar uang untuk membayar ongkos taxi yang ditumpanginya. Selesai, Rey berjalan menuju pintu masuk rumah sakit itu. Sebenarnya, Rey sangat malas untuk ke rumah sakit. Rey kurang suka dengan bau obat-obatan, itu di alaminya beberapa tahun yang lalu. Padahal, sebelumnya Rey biasa-biasa saja dengan aroma rumah sakit. Ini adalah hal wajib untuk para staf penerbangan yang habis melakukan penerbangan, untuk mengecek stamina dan penyakit  yang di alami selama perjalanan.  Rey mendatangi receptionist untuk mendaftarkan dirinya, dan ia disuruh menunggu sampai gilirannya tiba. Rey duduk di kursi tunggu, seraya memainkan ponselnya. Tangan Rey bergerak untuk menekan aplikasi berlogo warna hijau, bertuliskan LINE itu. Dahinya mengernyit, saat melihat group chat yang berisikan 5R bernotif 999+. Mereka hanya berlima, dikurangi Rey yang tidak muncul, itu berarti mereka hanya berempat, apa saja yang mereka berempat bicarakan sampai 999+ banyaknya. Pandawa lima (5): Rio : minggu depan gue sama Tasya mau tunangan, inget ya. Revin : Insyaallah, sah. Rico : ^baru tunangan, belom sah. Revin : maksudnya judul film yang lagi tayang. Rico : ngeles aja si dugong. Rasya : berisik, elah. Lagi pacaran. Rio : jaman, pacaran? Tunangan dong, bro. Eh, gue lupa. Ada yang masih nungguin ceweknya, ya? Wkwk Rico : tujuh tahun Rio : kaga dikasih kabar Revin : kaga dikasih kepastian Rasya : ditinggalin gitu aja Rio : nasib sepupu gue apes banget, ya Rico : sabar Rey, kali aja lu ditinggal si Nesya nikah Rasya : omongan lo jelek amat, bro.  Revin : sabar Rey, kali aja lu ditinggal si Nesya nikah (2) Rey : gw rbt blk, lh. Jdh gw, mt aj yg rbt. Revin : Rio, I Need translate Rico : Rio, I Need translate (2) Rasya : Rio I Need translate (3) Rio : gue rebutbalik, lah. Jodoh gue, mati aja yang rebut. (Translate by www.kamusrey.com) Revin : mau matiin pake apa? Rey : lnds pki pswt Rio : lindes pake pesawat. (Translate by www.kamusrey.com) Rey langsung menutup aplikasi chat online-nya, namanya dipanggil untuk giliran check up. Ia segera berdiri dan masuk ke dalam ruangan yang di persilahkan suster. Saat masuk, Rey dapat melihat siluet seorang wanita dibalik sehelai kain putih yang menjadi penghalang mereka. Tidak lama,  wanita itu menyingkap kain putih yang menjadi pembatas diantara mereka berdua. "Selamat siang, mari silahkan duduk." Ucap dokter itu dengan ramah. Bukannya menuruti permintaan dokter, Rey malah berdiam ditempatnya. Matanya membelalak lebar, jantungnya berpacu dengan kuat. Semua ini hanya karena ia mendengar suara dokter itu, suara yang sama dengan suara wanita yang sangat ia rindukan. Dengan perasaan campur aduk, Rey memutar tubuhnya untuk melihat wanita iu, apakah benar itu dia atau bukan. Dan, saat Rey membalikkan tubuhnya, matanya bertemu dengan mata cokelat yang sangat ia kenali. Rambut wanita itu berwarna cokelat brunete, matanya juga berwarna cokelat, kulitnya putih bersih, sangat cocok dengan dirinya sebagai dokter. Namun, bukan itu yang menjadi masalah. Gadis yang sedang duduk dihadapannya seraya mengenakan pakaian lengkap khas dokter itu, adalah cintanya. Gadis yang sangat di nantinya, dia adalah wanita yang Rey rindu dan mimpikan setiap harinya. Dia adalah, Anesya Jasmeen. ---------------------------------------------------------------------------------------------- Hai, gimana part ini? Guys, ini baru part awal. Jangan langsung judge kalau cerita ini bakalan jadi sad ending. Hehe. Bagusnya, di lanjut atau tidak? Komen tentang part ini, dong. By the way, baca juga cerita ku yang lain, ya.  Judulnya : Ragio. Rara♡
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN