4

1065 Kata
Jantung Nesya berpacu sangat kuat, kini dihadapannya ada seorang laki-laki yang paling ia hindari. Rey, lelaki itu tengah menatapnya dengan tatapan yang sangat sulit di artikan. Mata mereka berdua saling menatap, memancarkan kerinduan yang telah lama terpendam. Tubuh mereka seakan dibekukan, bibir mereka seperti digembok. Tidak dapat bergerak, dan hanya diam seraya saling menatap. Dengan susah payah, Rey membuka bibirnya yang terkunci rapat. Tidak tau harus berkata apa, bahkan harus melakukan apa. Ini adalah saat yang ia nantikan, bahkan ia berdiri didepan kaca sangat lama, untuk bersiap jika akan bertemu Nesya. Firasatnya benar, mereka bertemu saat ini. Namun, pertanyaan, ungkapan, bahkan sebuah pelukan kerinduan tidak Rey lakukan. Entah terlalu terkejut atau apa. "Ne-ne-sya?" Panggil Rey terbata-bata, Rey melihat Nesya seperti melihat setan. Bibirnya bergetar, rasanya sangat sulit untuk bibirnya mengucapkan nama gadis itu. Dengan cepat, Nesya menetralkan perasaannya. Menghilangkan kerinduan yang muncul lagi didalam hatinya, mencoba bersikap sedatar dan sedingin mungkin. Pertahanannya tidak boleh goyah, Nesya sudah sejauh ini. "Selamat siang, tuan Rey." Sapa Nesya formal, ia memasang kacamata minusnya. Kemudian, Nesya membuka sebuah map berisi berkas milik Rey. "Pemeriksaan rutin, hm?" Rey tidak menjawab, ia mengernyitkan dahinya. Bagaimana bisa, dengan mudahnya Nesya bersikap seperti ini. Padahal, tadi Rey dapat melihat dengan jelas, di mata gadis itu ada kerinduan yang sama dengan yang ia rasakan. Ah, pasti Nesya lagi ngajak bercanda. Batin Rey. Rey kemudian tertawa, ia menepuk-nepuk tangannya. Nesya mengernyitkan dahinya karena melihat sikap Rey yang aneh, bukannya marah Rey malah bersikap seperti seorang sutradara yang sedang memuji hasil akting seseorang. "Di sini sedang tidak ada pertunjukan, untuk apa bertepuk tangan?" Tanya Nesya sarkas. "Udah ah, jangan bercanda mulu. Kamu, nggak kangen sama aku?" Rey berjalan mendekati gadis itu, berniat untuk memeluknya. Menumpahkan semua rindu yang sudah ia pendam, rasa kaku yang tadi sempat bersarang kini telah hilang. Digantikan oleh rasa ingin memeluk dan mengikis semua jarak diantara mereka. "Stop!" Nesya menyuruh Rey berhenti mendekatinya. "Kamu, dan saya, hanya sebatas pasien dan dokter. Urungkan semua niatan yang ingin kamu lakukan, jika ingin melakukan hal lain selain check up, anda boleh pergi." Dahi Rey mengernyit. "Apaan sih? Lagi PMS, ya?"  Nesya menggeleng cepat, ia mundur beberapa langkah, membuat Rey gregetan dan akhirnya maju dengan cepat. Sekarang, tubuh Nesya tersandar ditembok. Rey mengunci tubuh Nesya dengan kedua tangannya. Jarak diantara mereka hanya lima senti meter, itu cukup untuk membuat Nesya tidak bisa bernafas. Jantungnya bergedegub sangat kencang, ia memalingkan wajahnya. Tidak ingin menatap Rey, karena itu hanya akan membuatnya lemah. Rey meraih tangan kanan Nesya, dengan perlahan Rey mengangkat tangan itu, berniat hendak menciumnya. Sayang, mata Rey menangkap sebuah benda kecil yang melingkar di salah satu jari manis Nesya, benda kecil itu sangat berkilau, dan ada sebuah batu kecil bernama berlian yang menjadi hiasannya. Itu adalah cincin tunangan. Mata Rey terbelalak, entah dorongan darimana, ia langsung melepaskan cincin yang melingkar dijari manis Nesya itu dengan kasar. Rey meneliti setiap bentuk cincin itu, matanya menangkap sebuah nama yang tersembunyi didalam cincin itu. Pieter Berydno Wajah Rey memerah menahan marah, ia tidak mungkin meninju orang yang berada dihadapannya saat ini. Rey meninju tembok yang tepat berada disamping Nesya. Rey meletakkan kembali cincin itu diatas meja Nesya, dengan amarah yang membuncah dihatinya, Rey keluar dari ruangan Nesya tanpa sepatah katapun. Nesya masih diam, mematung, ia shock dengan reaksi Rey barusan. Kakinya sangat lemas, tidak kuat untuk menopang tubuhnya, membuatnya jatuh terduduk. Matanya mengerjap, membuat buliran airmata jatuh dari pelupuk matanya. Ia masih menetralkan perasaannya yang tidak karuan, matanya memanas, bersiap untuk menangis yang lebih hebat. "Rey," ujarnya berat.  ●●●●● Rey memasuki kamar hotelnya dengan perasaan marah, ia menabrak apa saja yang mengganggu jalannya. Pikirannya kacau, orang yang selama ini ditunggunya, kini sudah bertunangan. Dan, siapa itu Pieter Berydno? Apakah dia dokter, sama seperti Nesya? Apakah dia lebih tampan? Apa yang membuat Nesya bisa berpaling dari Rey? Semua pertanyaan itu terus menghantui pikiran Rey. Sekarang, yang harus Rey lakukan adalah, menangkap pria bernama Pieter Berydno itu. Lalu mengikatnya, dan meletakkanya di tengah jalur pesawat. Setelah itu, ya, Rey akan melindasnya.  Sadis. Melupakan tentang melindas Pieter, Rey merogoh saku celananya, ia mengambil ponselnya dan menekan beberapa angka untuk menelfon seseorang. "Halo, ma?" Panggil Rey. Terdengar suara sahutan antusias Zahra dari sebrang sana. "Iya, sayang? Kamu baik-baik aja, kan?" "Rey baik-baik aja, ma. Rey cuman mau minta kontak detektif yang sering mama suruh buat buntutin Papa."  Ya, sampai sekarang sifat posessif Zahra tidak pernah hilang. Hanya Rey yang tahu, jika Zahra menyuruh satu orang detektif untuk selalu mengikuti Rey. Dan, karena hal itu, sudah banyak wanita dikantor Eldy yang kehilangan pekerjaannya hanya karena berani menatap, modus, bahkan menyentuh Eldy dengan sengaja. Eldy is hot papa. "Buat apaan? Emang siapa yang mau kamu selidikin?" Tanya Zahra penuh selidik. "Nanti Rey ceritain ya, ma. Sekarang Rey perlu kontaknya dulu."  "Iya, mama kirim ya. Kamu baik-baik, ya disana. Minggu depan Rio sama Tasya tunangan, pastiin kamu udah di Indomesia, ya sayang?" "Insyaallah, ma."  Lalu, sambungan telfon terputus. Tidak lama, Zahra mengirimkam kontak detektif yang biasa ia suruh untuk mengikuti suaminya. Rey dengan cepat menghubungi detektif itu, menyuruhnya untuk menyelidiki seseorang bernama Pieter Berydno.  "Maaf pak, kalau untuk wilayah luar negeri, saya tidak bisa. Tapi, saya punya teman disana yang bisa membantu anda. Kirim kam saja alamat bapak disana, dan teman saya akan datang untuk membantu." Rey mengangguk paham, selesai bercakap dengan detektif itu, Rey kembali menekan nomor seseorang, kali ini yang paling penting. "Pak, saya ingin minta cuti." Ucap Rey to the point saat orang yang dipanggilnya Pak itu menyahut. "Wah, ada apa ini Rey? Saya ingat sekali, tiga tahun kamu bekerja, tidak pernah sekalipun meminta cuti? Kali ini, kenapa?" Balas orang itu disertai kekehan. "Karena saya tidak pernah cuti, saya ingin meminta cuti satu bulan. Bisa tidak bisa, harus bisa."  Rey bersikap seakan-akan ia adalah bosnya, namun itu adalah hal biasa. Mereka sangat takut kehilangan Rey, dia adalah pilot yang sangat berpengalaman, dengan jam terbang paling banyak, walaupun masih terhitung junior. Namun, kemampuannya sudah hampir menyamai para senior. "Oke, oke. Bisa, tapi setelah penerbangan London selesai. Jadi, kamu hari Rabu masih harus bekerja, setelah itu akan kamu dapatkan apa yang kamu minta, bagaimana?" Tawar pria tu. Rey mengangguk-anggukan kepalanya. "Baik, pak." Rey kemudian menutup telfonnya, sebuah senyuman miring tercetak dibibirnya. Sebuah misi merebut kembali Nesya sedang berjalan, dan Rey yakin, ia akan berhasil. ---------------------------------------------------------------- Ha!  Apa pendapat kalian tentang part ini? Greget nggak? Kesel nggak?  Tunggu part selanjutnya, ya! Rara
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN