5

1015 Kata
Seminggu kemudian. Setelah menghadiri pesta pertunangan Rio dan Tasya, Rey langsung memboyong semua sahabatnya itu untuk membantu merebut Nesya lagi. Bahkan, ada Tiara dan Jordan yang juga ikut andil dalam misi mereka saat ini. Awalnya Tiara menolak, ia tidak ingin mencampuri urusan kakaknya. Yang Tiara dan kedua orang tuanya tahu, Nesya bertunangan dengan Pieter karena saling mencintai. Walaupun sempat menentangnya, Tiara akhirnya pasrah karena Nesya terus memohon agar di restui. Mereka berdelapan sudah sampai di Bandara sekarang, 5R ditambah Tiara, Tasya dan juga Jordan. Mereka keluar dari bandara dan segera mencari taxi untuk membawa mereka menuju hotel, tempat mereka tinggal untuk satu bulan kedepan. Setelah mendapatkan 3 buah taxi, mereka segera membagi diri dan masuk ke dalam taxi itu. Dua puluh menit perjalanan, mereka sampai dihotel yang sudah mereka pesan. Masuk, mereka menyeret koper masing-masing, dan check in ke receptionist. Setelah masuk ke dalam kamar masing-masing, mereka kembali berkumpul dikamar Rey, karena kamar Rey yang paling besar. "Jadi, apa rencana kita?" Tasya membuka percakapan diantara mereka. Rey kemudian menyuruh mereka semua merapat, karena mereka membuat posisi lingkaran mereka jadi terlihat seperti pemain sepak bola yang sedang mengatur strategi. Selesai mengatur strategi, mereka semua tersenyum. Ini adalah liburan yang paling menyenangkan. ●●●●● Hari ini adalah hari libur untuk Nesya, setelah seminggu penuh berjaga ia akhirnya bisa beristirahat. Namun, sepertinya istirahatnya harus terganggu karena seseorang menekan bel apartemennya. Dengan malas, Nesya berjalan gontai untuk membukakan pintu apartemennya. Saat pintu terbuka, sesosok lelaki dengan sebuket bunga mawah merah tengah berdiri seraya tersenyum dihadapannya. Nesya yang tadinya mengantuk, menjadi segar kembali karena mendapatkan kejutan kecil seperti ini.  "Pieter," ujarnya. Nesya tersenyum dan menyuruh Pieter untuk masuk, lelaki itu selalu penuh kejutan. Tetap saja, Pieter tidak bisa mengukir namanya di hati Nesya. "Kamu ngapain disini?" Tanya Nesya saat mereka sudah duduk di sofa. Pieter memutar bola matanya malas. "Kamu kayaknya tiap aku samperin, selalu nanya mau ngapain, deh. Nggak suka, kalau disamperin cowok ganteng kayak gini?"  Nesya terkekeh mendengar keluhan Pieter, ia selalu lupa, bahwa lelaki yang tengah berada disampingnya ini adalah tunangannya. Hanya tunangan, status sebagai tanda pemilik raganya, bukan hatinya. "Mau makan?" Tawar Nesya, biasanya Pieter ke sini akan meminta dimasakan sesuatu, ya karena masakan Nesya sangat lezat baginya. Pieter mengangguk antusias, ia memikirkan ingin minta dimasakan apa. Kemudian, nasi goreng lah yang menjadi pilihannya. Jangan bingung, mengapa Pieter yang tinggal di London bisa menyukai nasi goreng. Itu karena Indonesia adalah tempat kelahiran ibunya, dan Pieter juga sempat tinggal di Indonesia yang membuatnya bisa berbahasa sana. Karena itu, Pieter bisa berteman dengan Nesya. Mereka bertemu saat masuk universitas yang sama, dari situ Pieter sudah mulai menyukai Nesya. Awalnya ia hanya mencintai gadis itu diam-diam, sampai pada waktu itu, Pieter menyelamatkan Nesya dari orang yang berniat mencelakainya. Menyelamatkan Nesya membuat Pieter harus koma selama sebulan, saat ia sadar, ia tidak tahu apa-apa, karena tiba-tiba Ayahnya mengatakan bahwa satu bulan lagi ia dan Nesya akan bertunangan. Pieter tidak tahu apa-apa, ia senang-senang saja karena kata Ayahnya Nesya yang menginginkan itu. Pieter senang karena cintanya tidak bertepuk sebelah tangan, namun ada yang aneh. Sudah lima tahun mereka bersama, Pieter tidak pernah sekalipun merasakan cinta dari Nesya. Gadis itu baik padanya, tapi ia tidak merasakan adanya cinta. Tapi, Pieter tidak peduli, mungkin semuanya butuh proses. "Yaudah, bentar, ya." Nesya kemudian bangkit, dan segera melenggang pergi menuju dapur. Pieter duduk anteng seraya menunggu gadisnya itu memasak, tanpa sengaja, Pieter melihat ponsel Nesya yang terletak diatas nakas menyala. Menampilkan Id caller seseorang. Tiara Pieter tidak berani mengangkatnya, ia memang tunangan Nesya, tapi bukan berarti Pieter bisa mengganggu privacy Nesya. Ia membiarkan saja telfon itu terus berbunyi sampai pada akhirnya telfon itu mati. Dan, mata Pieter membulat sempurna. Kala ia melihat wallpaper ponsel Nesya, foto seorang pria sepertinya masih SMA. Tampan, dan Pieter tidak mengenali siapa pria itu. ●●●●● "Nggak di angkat, ih!" Gerutu Tiara, mereka berdelapan sedang berada di loby apartemen Nesya sekarang. "Sabar, by. Sibuk kali." Jordan mengacak rambut Tiara, membuat gadis berhenti menggerutu. "Gini aja, deh, langsung masuk aja. Gue nggak sabar, elah." Celetuk Rey, ia segera berdiri, tidak sabar untuk bertemu lagi dengan Nesya. Tentunya kali ini ia sudah siap, tidak akan membeku atau gugup lagi. Kalau bisa, Rey ingin segera membawa penghulu agar mereka langsung menikah saat ini juga. Tidak peduli dengan Nesya yang sudah bertunangan. "Iya, deh. Bener kata Rey, langsung aja." Rio ikut-ikutan berdiri, membuat mereka semua juga berdiri. Akhirnya, di pimpin oleh Tiara, mereka berjalan mencari nomor yang sesuai dengan alamat yang pernah Nesya berikan pada Tiara. Tiga puluh menit berkeliling, akhirnya mereka menemukan apartemennya. Kali ini, Rey yang berdiri paling depan. Ia menekan bel dengan tidak sabaran. Tidak lama, pintu terbuka dan mereka semua terdiam. Bukannya Nesya, malah seorang lelaki yang membukanya. Awalnya mereka kira salah apartemen, ternyata di belakang laki-laki itu muncul seorang wanita yang tengah mereka cari. Itu Nesya. "Kamu kenal?" Tanya Pieter pada Nesya. Saat hendak menjawab, Tiara duluan nyeletuk. "Kenal, lah. Gue kembarannya, ini semua sahabat Nesya yang datang jauh dari Indonesia." Pieter tersenyum hangat saat mengetahui bahwa mereka adalah kenalan Nesya. Ia menyuruh mereka masuk dengan ramah, namun gadis yang bernama Tiara tadi selalu menatapnya dengan tidak suka. Mereka kemudian duduk diruang tamu, suasana menjadi akward karena ada Pieter disini. Padahal mereka sudah merancang semuanya dengan baik, entah mengapa semuanya tiba-tiba tidak dapat disampaikan saat Pieter berada disini. Nesya mati-matian menahan degupan jantungnya, rasanya mau copot. Apalagi Pieter terus menggenggam tangannya, dan mata Rey tidak pernah lepas menatapnya tajam, membuat Nesya semakin ketakutan. Tanpa diduga, Rey bangkit dari posisi duduknya. Membuat mereka semua menatapnya dengan heran, Rey tersenyum dan mengalihkan pandangannya kearah Pieter dan Nesya. "Saya mau bicara dengan kamu, Pieter."  Rey kemudian berjalan lebih dahulu dan Pieter berjalan mengekor dibelakangnya. Pieter menatap Rey dengan bingung, rasanya ia pernah melihat Rey, tapi tidak tau dimana. Rey kemudian berhenti saat mereka sudah berada diluar apartemen Nesya. "Untuk apa kamu mengajak saya ke sini? Kamu siapa?" Tanya Pieter. Rey menyandarkan dirinya ditembok seraya bersidekap d**a, ia terkekeh melihat Pieter. Membuat Pieter bergidik ngeri melihat gelagat Rey. "Gue? Saingan, lo." ----------------------------------------------------------------------- UHUK! greget sendiri gue. Rara
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN