Pieter menaikan sebelah alisnya, ia tidak mengerti dengan ucapan Rey barusan. Saingan? Saingan apa? Apakah Rey juga mencalonkan diri sebagai Dokter kepala, sehingga Rey menjadi saingannya?
Tapi sepertinya bukan itu, Pieter menatap lagi wajah Rey. Lelaki itu tengah tersenyum mengejek, Pieter seperti pernah melihat wajah lelaki dihadapannya ini.
Ini adalah pria yang menjadi objek foto wallpaper Nesya.
"Kamu, siapanya Nesya?" Tanya Pieter.
"Udah, nggak usah pake aku-kamu lagi. Jijik." Cibir Rey.
Pieter memutar bola matanya malas. "Lo, siapanya Nesya?" Tanyanya sekali lagi.
Rey terkekeh, ia berjalan mendekati Pieter. Saat sudah berada dihadapan Pieter, ia menatap tajam lelaki itu.
"Budek, ya? Tadi gue bilang, kalau gue saingan lo, kan. Nilai sendiri, gue siapanya. Itu kalau lo punya otak."
Pieter gondok menghadapi lelaki dihadapannya ini, apa salahnya jika Pieter menanyakan spesifiknya apa hubungan pria dihadapannya ini dengan Nesya.
"Tinggal kasih tau aja, ribet amat, ya?" Pieter menatap Rey tidak kalah tajam.
"Mantan." Jawab Rey enteng.
Pieter tergelak mendengar jawaban Rey, ternyata hanya mantan. Bukankah mantan adalah sesuatu yang harus dilupakan dan dibuang ke dalam bak sampah?
"Cuman mantan?" Pieter berdecak. "Setau gue, mantan itu sesuatu yang wajib dilupakan, nggak pantes dinget, kalau bisa dibuang."
Rey tersenyum miring mendengar komentar Pieter. "Bahkan gue yakin, kalau Nesya nggak bisa ngelupain gue." Ujarnya percaya diri.
"Yakin banget, tau darimana lo? Kalau dia nggak bisa lupain lo, kenapa dia mau tunangan sama gue, bahkan kami mau menikah. Lo bisa apa? Mantan." Pieter tertawa meremehkan.
Rey mengepalkan tangannya, ia ingin sekali meninju lelaki bernama Pieter ini. Bahkan sepertinya Rey akan benar-benar melindas Pieter menggunakan pesawat.
"Mau dia tunangan lo, atau bini lo, kalau Tuhan bilang dia jodoh gue, lo bisa apa?" Tandas Rey.
Pieter lagi-lagi tertawa meremehkan. "Kasian, seorang mantan yang masih berharap."
"Ya, gue memang mantan. Mantan pertamanya, pacar pertamanya, ciuman pertamanya, bahkan cinta pertamanya." Rey menepuk selaki pundak Pieter. "Lo pasti tau, kan. Cinta pertama itu paling sulit buat di lupakan? Kayaknya lo tau, okedeh. Gue cabut, bye."
Untuk terakhir kalinya, Rey tersenyum ke arah Pieter. Tentunya senyuman meremehkan, ia kemudian pergi. Bukannya kembali ke apartemen Nesya, Rey malah kembali ke hotel.
Misi satu, sukses.
●●●●●
Nesya tengah menunduk, para sahabatnya tengah memelototinya sekarang. Nesya bahkan tidak berani hanya untuk sekedar mengangkat kepalanya, pasti mereka sudah tahu kalau Nesya bertunangan dengan Pieter.
"Jelasin ke mereka, kak. Tiara nggak mau ikut-ikutan." Ucap Tiara saat Nesya memandanginya dengan tatapan memohon agar dibantu.
Nesya menghembuskan nafasnya kasar.
"Maaf, gue nggak bisa kasih tau apa alasan gue tunangan sama Pieter. Tapi, ini yang terbaik. Jangan nilai dari sudut pandang kalian doang, tapi lihat juga dari sudut pandang gue."
"Nggak bisa gitu, Nes! Lo nggak tau, Rey itu tujuh tahun nungguin lo. Berusaha cari cara buat ngehubungin lo, 24 jam berdiri depan rumah lo biar bonyok lo sama Tiara mau ngasih tau info tentang lo. Bahkan, dia hampir gila. Lo nggak tau kan?" Tasya berucap mewakili teman-temannya.
Dada Nesya rasanya sesak, mendengar Rey seperti itu. Ia sudah menyakiti Rey, tapi kenapa lelaki itu sampai harus berjuang sejauh itu? Kalau begini, perjuangan Rey dan Pieter hampir sama.
"Stop!" Pekik Nesya meminta agar mereka berhenti.
Tasya tersenyum miring, ia tidak mengenali sahabatnya sekarang. "Gue yakin seratus persen, lo nggak sayang sama Pieter. Hati lo seutuhnya milik Rey, apa yang bikin lo mau tunangan sama orang yang nggak lo cintai? Itu cuman bikin lo sakit hati, tersiksa batin, hidup lo berantakan.
Hidup bersama orang yang nggak kita cintai, itu lebih buruk daripada sekedar patah hati."
Cukup sudah, semua yang dikatakan Tasya memang benar. Ia tidak mencintai siapapun kecuali Rey, ia memang tersiksa, tapi Nesya bisa apa?
"Udah, cukup!" Nesya menahan air matanya agar tidak tumpah.
"Nggak, sebelum lo sadar. Bukan cuman Rey yang tersakiti, tapi lo, bahkan Pieter juga." Tasya terus memberikan dorongan agar Nesya mau meninggalkan Pieter.
●●●●●
Semilir angin malam menerpa tubuh Nesya yang hanya dibalut jaket tipis, Nesya mengusap kedua lengannya berniat membuatnya tetap hangat.
Untung sebentar lagi ia sampai ke apartemennya, bayangan Nesya saat ini adalah ia tengah tertidur diapartemennya dengan selimut yang berlapis-lapis seraya memeluk foto Rey yang diambilnya diam-diam.
Nesya jadi tertawa sendiri mengingatnya, tanpa sadar ada seseorang yang sedang mengikutinya dari belakang. Orang itu menepuk bahunya dari belakang, membuat Nesya mematung karena ketakutan.
"Kaget, ya?"
Nesya langsung berbalik ke belakang, ia mengenali suara itu. Benar saja, yang menepuk bahunya tadi adalah Pieter. Nesya sempat berfikir bahwa yang menepuk bahunya adalah preman yang sering mangkal disini.
Pieter nyengir tanpa dosa saat melihat ekresi ketakutan di wajah cantik Nesya, melihat itu, Nesya memukul dengan keras lengan Pieter membuatnya mengaduh kesakitan.
"Kok di pukul?" Protesnya.
Nesya tidak menjawab, ia berjalan cepat meninggalkan Pieter. Saat sudah jauh, lagi-lagi ada yang menepuk pundaknya. Nesya geram, Pieter sangat hoby menakut-nakutinya.
"Pieter, udah deh!" Nesya berbalik ke belakang, ingin menabok Pieter lagi. Sayang, ia membatalkan niatnya saat melihat yang menepuk pundaknya bukanlah Pieter.
"Hey, lady." Sapa preman gendut dan botak.
Nesya bergidik ngeri melihat penampilan mereka, segera ia menepis tangan preman itu dan berniat untuk kabur. Sayang, preman itu dengan cepat menahannya.
Menarik Nesya ke gang kecil dan gelap dijalanan itu, preman itu mengunci pergerakan Nesya. Membuat gadis itu meronta, ia berusaha melepaskan dirinya. Namun, percuma, tenaganya tidak kuat untuk melawan.
Preman gendut dan jelek itu berada sangat dekat dengannya, Nesya sangat ketakutan. Ia berteriak minta tolong, berharap ada yang lewat dan bisa membebaskannya.
"Let she go!"
Nesya menghela nafasnya lega, ia kenal suara ini. Penyelamatnya sudah datang sekarang.
Preman itu geram, dan segera menghampiri Pieter. Dengan cekatan, Pieter memukuli dan menumbangkan preman gendut itu dalam sekejap. Ia mencibir preman gendut yang tengah tersungkur seraya memegangi perutnya yang sakit itu.
"Kamu, baik-baik aja?" Tanya Pieter khawatir dan hanya dijawab anggukan oleh Nesya.
Pieter merasa lega saat mendengar Nesya baik-baik saja, ia mengajak Nesya pergi dari sana. Namun, mereka tertahan saat Pieter mendengar Nesya memekik.
"Pieter!"
Pieter menoleh kebelakang bertepatan dengan sebuah pisau menancap tepat di perutnya, Pieter melihat kearah preman itu yang juga tengah menatapnya dengan cengiran jahat. Satu tusukan sudah berhasil preman itu tancapkan di perut Pieter, ia mencabut pisau itu dan menusukkannya sekali lagi.
Saat tusukan kedua dicabut, Pieter tumbang sembari memegangi perutnya yang terasa perih dengan darah yang terus mengalir tanpa henti. Nesya memekik melihat Pieter yang seperti itu, ia segera meraih ponselnya dan menelfon ayah Pieter, Tuan Dom.
------------------------------------------------------------------------
Huft.
Ngebut, hari ini :(,
Guys, kayaknya gue cuman bisa update setiap sabtu&minggu sekarang. Soalnya, sekolah gue mulai menetapkan sistem fullday school, ya pulang jam 5 sore. Mana gue udah kelas 12 :').
Doain aja, siapa tau waktu jam istirahat gue dapet hidayah buat ngetik, ok.
Rara