11

1060 Kata
Di sinilah Nesya, duduk di samping Pieter seraya menggigit bibir bawahnya dan menahan tubuhnya yang bergemetar hebat. "It was a half of minute, can you tell me the reason, now?" tanya Pieter dengan suara sedikit meninggi. Nesya menarik nafasnya berat. "Aku--aku--" ucapnya terbata. "Apa!" bentak Pieter tidak sabar. "Aku disuruh tuan Dom, ayah kamu!" jawab Nesya keras, airmatanya mengakir deras. Rahasia yang selama ini ia jaga, kini terungkap sudah. "Ayahku?" ucap Pieter tidak percaya. Nesya mengangguk berat, mungkin ini saatnya Pieter tau kebenarannya. Tidak mungkin ia terus menyimpan rahasia ini, Nesya sudah tidak kuat terus menipu Pieter dengan berpura-pura mencintainya. Apalagi setelah Rey kembali, dengan perasaan hancurnya dan upaya Rey untuk membuat dirinya kembali. Nesya merasa tidak pantas untuk dicintai siapapun. Dirinya terlalu lemah dan munafik, lemah karena dengan mudahnya ia menyetujui permintaan Dom yang membuat dirinya sakit. Munafik karena berusaha menguruh Rey menjauh walau sebenarnya hatinya tidak ingin. Pieter terdiam, seharusnya ia sadar. Gadis yang selama ini hanya menganggapnya sahabat, tiba-tiba setuju bertunangan dengannya. Karena terlalu senang, Pieter sampai tidak sadar bahwa itu adalah sebuah keterpaksaan. "Jadi, benarkan kamu tidak pernah cinta sama aku?" tanya Pieter dan dijawab anggukan oleh Nesya. Pieter tertawa hambar seraya mengangguk anggukan kepalanya mengerti. "Kalau begitu," ucapnya menggantung. "Aku sudah paham. Dalam cinta tidak harus memiliki, aku melepaskan kamu untuk bersama lelaki yang kamu cintai. Bagi aku, kebahagiaan kamu nomor satu. Kamu bahagia, aku juga bahagia. Aku memang cinta sama kamu, tapi aku tidak bisa memaksa agar kamu membalasnya. Aku tidak sejahat itu." Pieter berdiri seraya tersenyum tulus, saat hendak pergi,   Pieter menepuk pundak Nesya dua kali. "Pulang lah, kembali pada Rey. Aku rela, yang penting kamu bahagia. Sudah cukup kamu menahan untuk berpura-pura mencintai aku, terima kasih. Nesya, pergilah tanpa beban. Jangan merasa bersalah, karena ini keinginanku. Jangan pernah muncul lagi di hadapanku, selamat tinggal." Setelah selesai mengucapkan kalimatnya, Pieter benar-benar pergi. Membawa hatinya yang hancur, dan perasaannya yang campur aduk. Pieter bingung, apakah keputusannya sudah benar? Melepaskan gadis yang sangat ia cintai untuk bersama orang yang  dicintai oleh gadis itu. ***** Nesya hanya diam menatap punggung Pieter yang kian menjauh, ini yang diinginkannya sejak dulu. Berpisah dengan Pieter. Bukan untuk kembali pada Rey, ia merasa tidak pantas untuk kembali pada lelaki itu. Ia sudah menyakiti lelaki itu banyak, ia cukup tahu diri. Masih banyak wanita yang lebih pantas untuk bersama Rey, bukan dirinya. Dengan tekat bulat, Nesya mengambil koper besarnya. Memasukkan seluruh barang-barang yang ia perlukan, termasuk foto Rey yang ia curi sebelum berangkat ke sini dahulu. Nesya sudah selesai dengan London, ia akan kembali. Menjadi Nesya yang berbeda, ia akan menjalani hidupnya seorang diri. Tidak bersama Rey ataupun Pieter. Sebelum benar-benar pergi, Nesya mengambil ponselnya. Memesan tiket untuk ke suatu tempat, setelah itu ia mendial lagi nomor seseorang. Terdengar bunyi pertanda panggilannya sebentar lagi akan tersambung, tepat di bunyi ke tiga, telfon itu diangkat. "Hallo?" ucap seorang lelaki yang Nesya telfon tadi. Nesya tersenyum ketika mendengar suara lelaki itu. "Hai." sapanya ramah. Lelaki disebrang sana sedang menahan nafasnya, "Nesya?" ungkapnya tidak percaya. "Ini Nesya, kan?" ucapnya lagi memastikan. Nesya terkekeh mendengar suara antusias dari lelaki itu. "Ya, Rey. Ini aku." "Kenapa? Kenapa nomornya ganti? Berubah pikiran?" cerocos Rey. Walaupun tidak bisa melihatnya, tapi Rey tahu bahwa gadis itu sedang menggelengkan kepalanya. "Aku cuman mau pamit."  Rey sedikit tersentak. "Pamit? Kamu mau kemana? Aku jauh-jauh ke sini cumanbuat nyusul kamu, dan kamu malah mau pergi?" "Maaf Rey, tapi aku nggak pantes buat kamu. Kamu terlalu baik, aku mau hidup sendiri. Bukan bersama kamu atau Pieter. Mungkin ini terakhir kali aku dengar sara kamu, begitu juga sebaliknya. Aku sayang kamu, Rey. Kamu harus tau itu. Aku pamit, ya. For the last. You are my first, and my last love. I love you." Setelah itu, Nesya langsung memutuskan telfonnya sepihak. Airmatanya mengalir, memikirkan betapa jahatnya dirinya. Dengan cepat, Nesya langsung pergi dari apartemennya. Takut kalau Rey datang ke sini dan menahannya untuk pergi. ***** Pieter berteriak-teriak marah saat tiba dirumahnya, ia memanggil manggil ayahnya untuk keluar. Namun, ibunya yang terlekbih dahulu muncul. "Ada apa, nak?" tanya ibunya heran. "Kenapa memanggil ayah seperti itu?" Pieter menatap tajam ke arah ibunya, seperti ingin memangsa. Tidak lama, ayah Pieter datang menuruni tangga seraya berlari. "Ada apa, nak?" tanya Dom saat sudah berada di hadapan Pieter. Pieter mengalihkan pandangannya dari ibunya ke ayahnya, ia menatap Dom penuh amarah. Ia sangat kecewa dengan Dom. "Apa maksud Ayah, memaksa Nesya untuk bertunangan denganku? APA!" bentak Pieter. d**a Pieter naik turun, seiring perasaan marahnya yang kian membuncah. Dom tersentak mendengar pertanyaan anaknya itu. "Apa maksud mu, Piet?"  Pieter berdecih kesal. "Aku kecewa. Aku selalu mengatakan pada Ayah, kalau cinta tidak bisa dipaksa! Aku lebih senang dia hanya menjadi sahabatku tapi tulus, bukan seperti ini! Membunuhku secara perlahan!" "Tidak, nak." Dom menggelengkan kepalanya. "Dia harus membayar pengorbanan mu selama ini, bahkan kamu hampir mati karena menyelamatkan dia!  Terlalu bodoh kalau kamu tidak menginginkannya!"  "Tau apa Ayah soal aku? Ayah tau, ayah sudah menghancurkan hidup seseorang dengan memaksanya hidup bersama orang yang tidak dia cinta. Ayah tau? Hal paling sempurna dihidup kita, adalah saat kita hidup bersama orang yang kita cintai dan sebaliknya."  Kemudian Pieter pergi, masuk ke dalam kamarnya. Menutup pintu dengan kasar, sehingga membuat suara keras menggelegar ke seluruh rumahnya. ***** Rey menyetir mobil Robicon hitam hasil menyewa dengan paksa itu dengan kecepatan tinggi, teman-temannya yang berada di kursi belakang terlihat mengkomat-kamitkan bibir mereka memanjatkan doa keselamatan. "Rey, gue sama Tasya baru tunangan Rey. Belom nikah, belom ngerasain ena ena. Gue belom mau mati, Rey!" ujar Rio dan langsung mendapat tabokan keras dari Tasya yang pipinya mulai semerah tomat. "Keburu Nesya pergi, berisik!" tukas Rey geram membuat mereka terdiam. Lima menit kemudian, mereka sampai dengan selamat di apartemen Nesya. Rey langsung berlari keluar mobil, tanpa mematikan mesinnya terlebih dahulu. Rio menggeleng-gelengkan kepalanya saat melihat kelakuan sepupunya itu. "Mentang-mentang bukan mobil sendiri, seenak jidatnya nyelonong pergi. Gue setengah mati ngerayu mbak-mbak kamar sebelah biar dia mau nyewain, anjir emang." gerutu Rio. "Ekhem, ngerayu siapa, Baby?" tanya Tasya dengan senyuman membunuh dibibirnya. "Ha?" Rio tersentak kaget, ia menggaruk tengkuknya yang sama sekali tidak gatal. "Hehe." Rio nyengir lebar. Di depan mereka, Rey sudah jauh. Dan, Rey sampai paling pertama. Sayang, mereka terlambat. Didepan pintu apartemen Nesya, sudah ditempeli sebuah surat kecil. Go away, nobody here. -Anesya ------------------------------------------------------------------- SO, WHAT ON YOUR MIND? BY THE WAY, maaf ya Dengereux jadi ngedrama banget. Hehe Rara
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN