Episode 5

462 Kata
"Stop Yo, dan turun ke bawah atau nama baik keluarga ini akan hancur," peringatan keras sang Daddy ini menusuk hatinya. "Apa karena Adrian miskin Dad? Apa karena Adrian tidak sekaya dan sekuat Wailmar?" "Kami tunggu maksimal lima menit dibawah, jika tidak ingin bursa saham Idris menurun yang juga akan berdampak pada karier dan impian yang telah kau bangun selama ini. Apa hanya karena seorang pria, Ceolette* Yo melepaskan tanggung jawab kepada perusahaannya," ucap Daddynya sebelum keluar bersama Momannya. Dia seakan tersenggat listrik ribuan watt, bahkan ia sampai tidak merasakan usapan lembut Mommanya pada punggungnya sebelum wanita anggun itu pergi. Impian dan suatu pencapaian dalam karier bagi seorang wanita adalah kehormatan, harga diri dan pengakuan atas prestasinya di mata masyarakat. Kerja keras, keringat, dan waktu yang panjang telah ia keluarkan untuk membangun tiga perusahaan di bawah kuasannya. Ia bahkan rela membuang masa bersenang-senang di waktu mudanya dan lebih memilih giat menuntut ilmu lalu membangun perusahaannya sendiri. Perusahaannya adalah kekasih pertamannya, anaknya, dan panggilan jiwannya. Hal yang tidak mungkin bisa dipisahkan dari dirinya. Dia termenung. Tapi cinta, cinta seorang Adrian yang selama tiga tahun ini mewarnai hidupnya, memberikan nafas baru dan mengisi kekosongan dirinya adalah suatu hal yang penting juga dalam hidupnya, bahkan kalau dia mau jujur seorang Adrian lebih berharga dari ketiga perusahaannya. Adrian adalah seorang pria yang datang untuk mencarikan kebekuan hidupnya yang dipenuhi dengan target dan target. Dia termenung sendirian. Kekasih atau anaknya- perusahaan? *Ceolette: sebutan yang kuberikan Ayah Yolanda untuk Ceo perempuan (untuk Yolanda) "Cheer....." ucap pria yang memilik rambut gelap beruban jarang berseru kepada hadirin semua. "Cheeer...." semua hadirin yang ada di saa mengulangi kata-katanya. "Semoga semakin jaya," ucapnya dengan aksen barat yang kental. "Hari ini adalah awal dari penyatuan dua keluarga, Idris dan Wailmar, dua jaringan perusahaan raksasa, Buffet Corp dan Idris Corp, juga penyatuan dua roda ekonomi, Amerika dan Asia, ini adalah tonggak sejarah baru awal dari kejayaan kita semua." Pria tua itu tertawa keras disambut dengan tawa-tawa keras dari berbagai sudut. Memang, tidak semua orang yang hadir di sana tertawa keras dan bahagia. Di sebuah sudut seorang pria berjas putih menatap nyalang dengan mata berapi-api. Dia langsung menghentikan pelayan dengan kasar dan meneguk teqiula dalam gelas hanya dalam sekali teguk. Ia terlihat terkejut tapi penuh amarah. Setelah menegak habis minumannya, dia berbalik dan keluar dari ruangan yang membuat tubuhnya gerah itu dengan langkah cepat. Tiba-tiba saja seorang wanita bertubuh sintal yang mengenakan dress selutu dari siffon mengekor di belakangnya. Keluarnya pria itu dari ruangan bertepatan dengan munculnya kembali Yolanda ke tengah-tengah kerumunan orang. Dengan sigap Momanya menyeret gadis itu untuk merapat ke gerombolan rekan-rekan bisnisnya. Dengan wajah boneka yang kaku Yolanda menyahuti pertanyaan-pertanyaan yang diajukan kepadanya dengan singkat dan berbalut senyum palsu, matanya sesekali tetap mengedarkan pandangan, mencari-cari sosok pria yang ingin segera ia temui. Namun nihil. Pria bermata senja yang menentramkan hatinya itu tak ada di mana-mana.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN