Episode 6

452 Kata
Hari yang panjang bagi Yolanda di balik meja kerjanya. Dia memutar-mutar bolpoin berwarna silver mewahnya. Ballpaint mahal, seharga dua juta yang di hadiakan Adrian untuknya. Ia menatap benda runcing itu seolah seperti melihat belati yang menusuk-nusuk hatinya hingga berdarah-darah. Dia semakin frustasi belakangan ini, terlebih melihat kenyataan bahwa keputusan Daddynya tidak ada tanda-tanda digoyah apalagi dibatalkan, bahkan menurut informasi curian yang dia dapat dari para pelayannya tentunya setelah dia mengancam mereka, bahwa rencana pernikahannya akan dipercepat dan di langsungkan bulan depan. Dan alangkah lebih terkejutnya ia setelah tahu bahwa rencana pernikahannya itu telah menjadi kesepakatan antara Idris dan Wailmar lebih dari empat tahun yang lalu. "Cantikcantik kok bengong Non." Suara itu mengejutkan Yolanda, membuat gadis itu mengangkat dagunya. Dia menatap lurus kearah sekertarisnya dengan muka cemberut. "Pagi-pagi sudah cemberut," godanya namum tanpa memeriksanya terlebih dahulu dengan cermat seperti kebiasaan Yolanda selama ini. "Kalau kau seperti itu terus, kau akan kurus kemudian sakit-sakitan seperti seorang nenek tua, saat itu siapapun tidak akan ada yang mau menikah denganmu." Yolanda mendelik kearah sekertarisnya. "Sidkaa..." Panggil Yolandadengan keras. "Iya Yolan," dengan genitnya Sidka menjawab. "Tutup mulutmu yang pedas itu dan keluar dari ruanganku!" ancam Yolan tapi Sidka yang telah mengenal sahabatnya lebih dari lima tahun itu hanya berdiri terpaku bahkan kini ia melipat kedua tangannya di d**a. Dia seperti menunggu Yolanda menyemprotkan semua kata-katanya. "Bawa keluar mulut busukmu itu Sidka dan jangan ikut campur urusanku! Kau tahu berapa rumitnya hidupku belakangan ini. Kedua orangtuaku bertindak seolah mereka adalah Tuhan dalam hidupku. Aku bukan anak kecil yang perlu mereka dikte dan mereka pilikan jalan mana yang akan ku jalani kelak." Sidka memutar bola matanya dan Yolanda berbicara tanpa titik koma. "Dan yang lebih parahnya lagi Adrian ditendang entah kemana oleh Daddy." "Dia pergi ke Batam untuk menemui seorang..." Potong Yolanda dengan cepat, "selama tiga tahun Adrian kerja diperusahaan ini, doa tidak pernah sekalipun ditugaskan keluar dari purusahaan ini. "Adrian akan dapat promosi dan naik jabatan." "Itu semua hanya taktik Daddy dan kaki tangannya untuk menyingkirkan Adrian dariku. Sungguh licik dan cerdas bukan kedua orang tuaku itu? Setelah keberhasilan mereka dalam menyembunyikan rencana perjodohan gila ini selama hampir lima tahun, kau tahu li-ma ta-hun. Bayangkan Sid!" Sidka hanya mengangkat pundaknya dan menunggu kata-kata yang akan keluar dari mulut Yolanda tapi gadis itu seperti menelan semua kata-kata yang menyangkut di tengorokannya, detik-detik kemudian ia diam. Sidka memandang bingung, merasa bahwa sahabatnya itu bersikap diluar kebiasaannya. Dia mengenal Yolanda, seperti mengenal dirinya sendiri. Dia tahu bahwa apa yang dihadapi Yolanda saat ini begitu berat dan sangat menganggunya. "Mari ke Starsbuck dan memesan secangkir Moccalatte kesukaan kita sambil mengoda pelayan ingusan disana," tawar Sidka. "Kurasa aku memang membutuhkan itu tapi tidak termasuk 'sambil mengoda pelayan ingusan disana,' kalau hal itu kau saja yang melakukannya. Mengerti?" Dia berdiri dan mengukuti Sidka pergi. "Terserah kau saja!"
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN