Di dalam bis yang penuh dengan penumpang, Laura duduk di kursi jendela, terlelap dalam alunan musik yang mengalir dari headset-nya. Ia terlebih dahulu memejamkan mata, membiarkan lirik-lirik lagu meresap ke dalam telinganya, membebaskannya dari keributan sehari-hari.
Namun, ketenangan itu terputus saat telepon seluler Laura berdering. Ia mengambil telepon dari saku dan melihat nama "CEO Lee" terpampang di layar. Ekspresi wajah Laura menjadi malas, namun ia menyadari bahwa hubungan mereka bukan hanya sebagai bawahan dan atasan, tetapi juga sebagai pasangan.
Laura menghela nafas, menghentikan musik di headset-nya, dan menekan tombol menerima panggilan. "Halo, Oppa," sapa Laura dengan nada yang sedikit enggan.
"Laura, ada dimana kamu sekarang?" Tanya CEO Lee dari seberang telepon dengan jelas.
Laura pun menjawab, "Aku sedang di dalam bis, dalam perjalanan pulang. Ada yang bisa aku bantu?"
CEO Lee pun berkata dengan serius, "Baiklah, aku butuh kamu mengirim lokasi saat ini. Bisakah kamu menggunakan fitur share location dan mengirimkan padaku?" Tanya CEO Lee.
Laura terkejut dengan permintaan. Namun Laura tak menolak permintaan bosnya itu, "Oh, tentu. Aku akan melakukannya sekarang."
Laura membuka aplikasi peta di telepon genggamnya dan mengaktifkan fitur share location. Setelah itu, ia mengirim tautan lokasinya kepada CEO Lee melalui pesan.
CEO Lee pun berterima kasih, "Terima kasih, Laura. Aku akan melihat lokasi kamu sekarang. Tolong kamu turun di halte selanjutnya dan beritahu aku ya?"
"Baik, aku akan memberitahumu. Apakah ada sesuatu yang penting?" Tanya Laura penasaran.
"Ada hal yang ingin aku sampaikan, dan kita harus bertemu," ucap CEO Lee.
"Baiklah," jawab Laura pasrah. Setelah itu panggilan pun berakhir.
Laura duduk di bis, masih memikirkan pertemuan mendadak dengan CEO Lee. Ia merasa heran mengapa CEO Lee ingin menemuinya secara tiba-tiba. Apa yang bisa begitu penting sehingga perlu diurus dengan segera?
Laura melihat pemberitahuan dari aplikasi peta di telepon genggamnya, menunjukkan bahwa halte bus selanjutnya akan segera tiba. Ia berdiri dan bersiap untuk turun di halte tersebut.
Lima belas menit kemudian, bus berhenti di halte yang dituju. Laura turun dengan langkah hati-hati dan menyadari bahwa ia harus segera menghubungi CEO Lee untuk memberitahukan bahwa ia sudah sampai.
Laura mengeluarkan telepon seluler dari tasnya dan mengetik pesan singkat kepada CEO Lee.
[Laura: Halo, Oppa. Aku sudah turun di halte sesuai perintahmu. Di mana aku harus bertemu denganmu?]
Laura menunggu beberapa saat, menantikan balasan dari CEO Lee. Hatinya berdebar-debar, mencoba untuk tidak berpikir terlalu banyak tentang alasan di balik pertemuan ini.
Beberapa detik kemudian, pesan masuk dari CEO Lee.
[CEO Lee: Halo, Laura. Aku berada di kafe sebelah halte. Ayo bertemu di sana.]
Laura merasa penasaran. Kafe sebelah halte? Mengapa CEO Lee memilih tempat itu untuk pertemuan mereka? Semakin banyak pertanyaan muncul dalam pikirannya, tetapi ia memutuskan untuk menunda pemikirannya hingga bertemu dengan CEO Lee.
Laura berjalan menuju kafe dengan hati yang penuh dengan pertanyaan. Ia memasuki kafe dan mencari wajah akrab CEO Lee di antara keramaian.
Laura melihat meja yang diduduki oleh CEO Lee di pojok kafe.
Laura dengan hati-hati mendekati meja itu dan menyapa dengan lembut, "Halo,Oppa."
CEO Lee tersenyum dan menjawab, "Halo, Laura. Mari kita makan bersama. Setelah itu kita pergi ke suatu tempat," ajak CEO Lee penuh teka teki. Laura merasa terkejut, "ke suatu tempat apa?"
"Ah kamu ini sangat penasaran sekali!"
"Sudah makan dulu saja. Saya sudah lapar," ujar CEO Lee serius.
"Duduk," pinta CEO Lee. Laura pun mengangguk dan mengikuti permintaan CEO Lee.
Laura dan CEO Lee duduk di sebuah restoran yang tenang dan nyaman. Mereka memesan hidangan masing-masing dan menunggu saat makan tiba. Suasana terasa sedikit tegang, karena Laura masih memikirkan permintaan aneh yang akan diajukan CEO Lee setelah makan.
Ketika makanan tiba, mereka mulai menyantap hidangan mereka dengan penuh konsentrasi. Laura mencoba untuk menjaga sikap profesionalnya, tetapi rasa penasaran terus menghantuinya.
Tengah-tengah makan, CEO Lee meletakkan sendoknya dan menatap Laura dengan serius.
C"Laura, setelah makan ini, aku butuh kamu mengantarku ke pusat perbelanjaan. Ada sesuatu yang harus aku beli dengan segera," ucap CEO Lee.
Laura merasa kaget mendengar permintaan itu. Ia tidak mengharapkan akan ada agenda seperti itu setelah makan.
"Pusat perbelanjaan? Maaf, Oppa, tapi apakah ini termasuk dalam tugas saya sebagai bawahan? Aku tidak terbiasa mengantarmu ke tempat pribadi seperti itu," protes Laura.
CEO Lee menatap Laura dengan tegas, "Laura, sebagai kekasihku dan juga bawahanku, aku berharap kamu bisa membantuku dalam hal-hal seperti ini. Aku membutuhkanmu dan ingin melibatkanmu dalam segala aspek kehidupan, termasuk hal-hal pribadi seperti ini."
Laura merasa bingung. Ia mengerti pentingnya menjaga hubungan baik di tempat kerja dan sebagai pasangan walau kekasih bayaran, tetapi permintaan ini terasa di luar batas biasa.
Laura berpikir sejenak, memikirkan apa yang dikatakan CEO Lee hingga akhirnya ia menjawab, "Baik, Oppa. Aku memahami permintaanmu, meskipun terasa sedikit tidak biasa. Aku akan mengantarmu ke pusat perbelanjaan setelah makan."
Laura mencoba menyembunyikan kekagetannya dan melanjutkan makan dengan perasaan campur aduk. Ia berpikir bahwa mungkin ini adalah bentuk pengorbanan yang harus dilakukan dalam hubungan profesional dan pribadi mereka.
Setelah mereka selesai makan, Laura membayar tagihan restoran dengan kartu yang diberikan Lee padanya tempo hari dan mereka berdua keluar menuju mobil. Mereka naik ke dalam mobil dan keduanya memulai perjalanan menuju pusat perbelanjaan sesuai permintaan CEO Lee dan saat itu CEO Lee menyetir sendiri.
Laura cukup terkejut, karena biasanya CEO Lee selalu diantar sopir.
"Kamu sepertinya kaget melihat saya menyetir," ujar CEO Lee tanpa melihat ke arah Laura.
"Ya. Jujur saja saya kaget, Anda…" ucapan Laura terputus.
"Jangan panggil Anda!" Seru CEO Lee memperingatkan.
"Oh iya. Jujur saya kaget Oppa kan biasanya selalu diantar sopir," ucap Laura merevisi kalimatnya.
"Saya sengaja. Karena saya ingin yang tahu hubungan aku dan kamu sekarang ini cukup Sam saja," ujar CEO Lee. Laura pun mengangguk.
Selama perjalanan, Laura mencoba untuk menciptakan suasana yang nyaman dan mencari cara untuk mengatasi ketidaknyamanannya dengan posisinya saat ini. Ia berharap dapat menyeimbangkan antara menjadi bawahan dan kekasih bayaran yang setia.
Setibanya Laura dan CEO Lee di pusat perbelanjaan. Mereka keluar dari mobil dan berjalan menuju pintu masuk dengan langkah mantap. Laura merasakan kegelisahan di dalam hatinya, karena belum pernah mengalami situasi seperti ini sebelumnya.
Mereka memasuki pusat perbelanjaan yang mewah dan mulai mencari toko pakaian yang tepat. Laura mengikuti CEO Lee dengan hati-hati, mencoba menjaga penampilan profesionalnya.
Akhirnya, mereka menemukan sebuah butik yang menarik perhatian mereka. Laura kaget melihat koleksi pakaian yang dipajang.