Bab 01 - Kisah Lalu dan Hari Pertama yang Baru
Pagi itu seperti biasa sebelum berangkatnya sang suami, Pak Rudi, Nyonya Dinda melayani keperluannya terlebih dahulu sebelum anaknya bangun. Ia menyajikan kopi hangat di meja kecil ruang tamu, menyusuri setiap sudut rumah untuk memastikan tidak ada yang terlewat, seperti yang selalu ia lakukan sebagai istri dan ibu yang penuh perhatian.
Setelah itu mereka sarapan bersama di meja makan kayu jati yang selalu terawat rapi. Sambil memberikan telur dadar ke piring suaminya, Nyonya Dinda dengan hati yang penuh harapan mengajak Pak Rudi ke taman hiburan terdekat. "Besok kan hari Minggu, Rud. Kita bisa ajak Ayunda bermain bianglala seperti yang dia selalu minta," ujarnya dengan suara lembut. Namun seperti biasa, jawaban yang diterimanya sama saja. "Maaf, Dinda. Pekerjaan di kantor sedang banyak, aku harus lembur. Besok mungkin tidak bisa ikut," ucap Pak Rudi sambil menyambar roti tawar dengan cepat. Nyonya Dinda hanya mengangguk dan mengalah lagi—dia sudah akrab dengan alasan itu setiap kali mengajak suaminya berlibur bersama anak mereka.
Tak lama kemudian, Pak Rudi pun pamit pergi bekerja, meninggalkan Dinda dan Ayunda di rumah. Tanpa berlama-lama, Nyonya Dinda bergegas ke kamar sang putri. Kebetulan Ayunda sudah bangun dan telah berdandan rapi, mengenakan baju warna biru muda yang menjadi kesukaannya. "Ibu, kita kan janjian pergi ke taman ya?" ucap Ayunda dengan wajah ceria yang membuat hati Dinda sedikit terhangatkan.
Sebelum berangkat, Nyonya Dinda dengan cermat menyiapkan segala keperluan anaknya: bekal nasi bungkus dengan lauk kesukaannya, botol minum berisi jus jeruk segar, serta handuk kecil dan sapu tangan yang selalu ia bawa setiap kali keluar bersama Ayunda. Ia ingin memastikan putrinya merasa nyaman dan bahagia, meskipun hanya berdua dengan ibunya.
Sesampainya di taman hiburan, suasana ramai dan penuh tawa anak-anak membuat hati Dinda sedikit rileks. Mereka berjalan menyusuri lorong taman, berhenti sebentar melihat kelinci di kandangnya sebelum memutuskan untuk naik bianglala. Saat Ayunda bersandar erat di dadanya dan mesin bianglala mulai berputar perlahan, wajah putrinya penuh dengan kegembiraan. Namun kebahagiaan itu tiba-tiba sirna ketika suara Ayunda yang sedikit bergetar terdengar di telinganya.
"Ibu... itu ayah, Bu!" teriak Ayunda sambil menunjuk ke arah bawah.
Mendengar itu, Nyonya Dinda dengan terpaksa mengikuti pandangan mata putrinya. Di sana, tepat di bawah bianglala, berdiri Pak Rudi—suaminya yang katanya harus lembur di kantor—bersama seorang wanita yang tidak dikenalnya, serta seorang anak kecil perempuan yang tampak mirip dengan Pak Rudi. Mereka tertawa dan saling berpegangan tangan dengan akrab, seolah-olah mereka adalah keluarga yang bahagia.
Dalam sekejap, dunia Nyonya Dinda seakan runtuh. Mata airnya tidak mampu menahan air mata yang sudah lama menumpuk, dan tubuhnya hampir terjatuh jika bukan karena Ayunda yang masih menempel erat padanya. Hancurlah hati Nyonya Dinda di depan mata putrinya sendiri, menyaksikan khianatan yang telah menyembunyikan diri di balik kebohongan suaminya selama ini.
Tanpa berkata banyak, Nyonya Dinda segera mengajak Ayunda pulang. Sesampainya di rumah, dia dengan suara yang hampir tidak terdengar menyuruh pengasuh, "Bu Siti, tolong bawakan Ayunda ke kamarnya ya. Beri dia makan dan ajak dia bermain." Setelah Ayunda pergi, Nyonya Dinda masuk ke kamar tidurnya, mengunci pintu dari dalam, dan akhirnya melepaskan semua beban dengan isak tangis yang merobek hati. Tangisannya menusuk kedalaman malam, mengungkapkan rasa sakit yang terlalu berat untuk ditahan sendirian.
Tak lama setelah itu, telepon rumah berbunyi dengan keras. Mas Joko, supir pribadinya, mengambil telepon dan dengan wajah pucat segera menghampiri kamar Nyonya Dinda. "Bu, ada kabar dari rumah sakit. Pak Rudi mengalami kecelakaan mobil di jalan tol," ujarnya dengan gemetar.
Tanpa berpikir dua kali, Nyonya Dinda menyeka air matanya dan bergegas menuju rumah sakit dengan didampingi Mas Joko. Namun ketika mereka tiba, dokter telah memberikan kabar yang lebih menyakitkan—Pak Rudi tidak bisa bertahan hidup. Di saat terakhirnya, Pak Rudi memanggil Dinda dan dengan suara lembut menitipkan seorang anak kecil yang sedang menangis di sisi ranjangnya. "Dia Alia... anakku dengan Maya. Maya sudah tiada dalam kecelakaan yang sama. Tolong... jaga dia dengan baik," ucap Pak Rudi sebelum nafasnya terhenti.
Di hadapan mayat suaminya dan anak kecil yang tidak dikenalinya, Nyonya Dinda merasakan campuran emosi yang luar biasa—kesedihan, kemarahan, namun juga rasa iba yang muncul tiba-tiba. Setelah beberapa saat memandangi wajah Alia yang berusia tiga tahun, dua tahun lebih muda dari Ayunda, dia akhirnya mengangguk dan mengambil anak itu ke dalam pelukan. Dengan berat hati, Dinda mengikhlaskan semua khianatan dan kesakitan yang pernah dialaminya, serta menerima titipan anak hasil perselingkuhan suaminya.
Dua hari kemudian, Nyonya Dinda membuat keputusan tegas. Dia menjual rumah lama yang penuh dengan kenangan pahit dan memutuskan untuk pindah ke Belanda, membuka lembaran baru bersama Ayunda dan Alia. Di negeri baru itu, dia bekerja keras dan mulai membangun karirnya dari nol.
Beberapa tahun berlalu, Alia kini berusia 18 tahun. Meskipun hidup bersama Dinda dan Ayunda selama bertahun-tahun, dia masih merasa ada jurang yang memisahkannya dengan ibu tiri yang telah membesarkannya. Alia selalu merasa bahwa Dinda lebih memilih Ayunda, memberikan kasih sayang yang lebih banyak pada kakaknya yang tenang dan penyayang. Setiap kali melihat kedekatan Dinda dan Ayunda, rasa sakit dan kecewa akan muncul kembali di hatinya.
Namun dalam setiap kesedihannya, selalu ada sosok Rafa—teman satu sekolahnya yang telah mengenalnya sejak lima tahun yang lalu. Rafa selalu ada di sisinya, menghibur dengan candaan yang lucu atau hanya duduk berdampingan tanpa berkata apa-apa, memberikan dukungan yang dia butuhkan tanpa pamrih.
Pagi itu berbeda dari biasanya. Alia muncul di meja makan dengan penampilan yang sangat rapi—berbaju kantor warna biru muda dengan rok plisket hitam, rambutnya diikat rapi dengan jepit rambut kecil, dan wajahnya sedikit diberi riasan alami. Saat dia mulai mengambil roti dan menyiram s**u ke dalam gelasnya, Ayunda yang tengah menyantap bubur ayam melihatnya dengan tatapan heran.
"Mau kemana kau pagi-pagi gini tumben rapih?" tanya Ayunda dengan nada menyindir namun tetap penuh perhatian.
Alia sedikit tersenyum. "Ya mau kerjalah Mbak. Oh iya Mbak, Bu—hari ini Alia mendapatkan email dari perusahaan tempat kemarin Alia melamar pekerjaan loh," ucapnya sambil menatap Nyonya Dinda yang sedang membaca koran.
Nyonya Dinda segera menurunkan koran dan memperhatikan Alia. "Bagus itu, kau kerja dimana Alia?"
"Di ProfKantoor & Boekhouding Belanda NV, Ibu," jawab Alia dengan suara yang sedikit lebih keras, seolah ingin memastikan ibunya mendengarnya dengan jelas.
"Yah.." keluh Ayunda sambil menggeleng-geleng kepala.
"Kenapa Ayunda? Bukankah bagus adikmu bekerja, setidaknya ijazah S2 nya tidak menganggur di rumah. Coba lihat kau—kau saja yang lulusan S3 malah bermalas-malasan dan menganggur tidak mau bekerja. Oh ya Alia, hari ini kau diantar Mas Bowo ya," kata Nyonya Dinda sambil memberikan tahu supir baru mereka yang telah bekerja selama setahun.
"Terimakasih Ibu sebelumnya, tapi maaf Ibu tidak perlu di antar supir," tolak Alia dengan sopan.
"Loh kenapa adikku? Jarang-jarang loh Ibu memperhatikan kau. Ya kan Bu...." ucap Ayunda sambil menoleh ke arah Nyonya Dinda.
Mendengar perkataan putrinya kandungnya itu, Nyonya Dinda tiba-tiba tersedak dan mulai batuk-batuk keras. Ayunda segera memberikan air putih padanya, sementara Alia hanya diam dengan pandangan yang sedikit menyakitkan.
"Iya sih, tapi beneran deh Mbak tidak usah. Karena saya sudah terbiasa dari SMP hingga sekarang kemana-mana sendiri—juga kan kemana-mana enak naik sepeda," ucap Alia dengan nada yang tenang namun jelas.
"Oh begitu ya, sudah terserah kau saja. Kalau begitu aku yang pakai supir ya Bu hari ini," kata Ayunda dengan cepat, seolah ingin mengalihkan perhatian dari kejadian tadi.
"Hari ini mau kemana kau?" tanya Nyonya Dinda yang sudah sedikit tenang kembali.
"Mau pergi shopping ke mal. Hehe.... Ada beberapa barang ingin ku butuhkan," jawab Ayunda dengan wajah yang kembali ceria.
"Baiklah, tapi ingat kau jangan pulang malam-malam ya," tegur Nyonya Dinda dengan nada khasnya.
"Iya Bu.." jawab Ayunda sambil mencium pipi ibunya.
Sarapan pun selesai. Alia berdiri, mengambil tas kerja kecilnya yang terletak di sudut meja, lalu menghampiri Nyonya Dinda. "Ibu, Alia pamit kerja ya," ucapnya dengan sopan. Nyonya Dinda mengangguk dan memberikan senyuman singkat, sementara Ayunda mengangkat tangan sebagai tanda perpisahan. Tanpa berlama-lama, Alia keluar rumah dengan langkah yang mantap, siap menghadapi hari pertama bekerja yang menjadi awal dari babak baru dalam hidupnya.