Bab 1 Kejutan di Hari Ulang Tahun Pernikahan
POV Maria
Hari ini, hidupku seharusnya berkesan dengan adanya dua perayaan penting, yaitu ulang tahunku yang ke dua puluh sembilan dan ulang tahun pernikahanku yang kesembilan. Suamiku, Rafael, selalu sibuk bekerja sehingga aku rasa membuat pesta kejutan adalah cara paling sempurna untuk merayakan betapa kami saling mencintai. Rumah kami diterangi oleh cahaya hangat dan setiap sudut ruangan dihiasi dengan potret perjalanan hidup kami berdua. Aku mencurahkan isi hatiku pada setiap foto dan detail hiasan yang aku pasang di sini.
Tanganku sedikit gemetar saat memasang hiasan terakhir. Keluarga terdekat dan sahabat kami berdua sudah bersembunyi di sudut-sudut ruangan. Mereka saling berbisik dan tersenyum misterius. Ruangan ini diselimuti oleh perasaan cinta dan gugup.
Aku tahu bahwa Rafael lupa jika hari ini adalah hari ulang tahunku yang bertepatan dengan hari pernikahan kami. Namun, aku paham karena jika dia terkadang melewatkan hal-hal semacam ini karena pekerjaannya memang menyita banyak waktu. Aku tidak akan marah karena hal-hal semacam ini karena aku tahu Rafael memang benar-benar sibuk.
Ini sudah waktunya dia pulang. Aku sempat menelepon kantor dan mereka bilang, Rafael sudah keluar satu jam yang lalu. Seharusnya, tidak lama lagi dia akan sampai di rumah. Namun, seiring berjalannya waktu, Rafael tidak juga datang. Teleponku tidak segera dia angkat, pesanku tidak juga mendapat balasan. Kekhawatiran mulai menyelimuti diriku, menciptakan simpul yang semakin kencang di perutku.
Tidak lama, aku mendengar suara kunci pintu diputar. Ya, itu Rafael. Aku langsung memberi isyarat kepada semua orang untuk bersembunyi. Dia akhirnya masuk ke dalam, tetapi perhatiannya tertuju pada seseorang di penghujung telepon. Mendengar perkataannya pada seseorang yang tidak aku ketahui membuatku tertegun.
Hari itu… adalah hari ulang tahun pernikahan kami.
Hari ulang tahunku.
Hari yang seharusnya kami rayakan.
Namun, aku justru mendengar nada suara dan kata-kata yang seharusnya hanya ditujukan untukku, kini ditujukan kepada orang lain.
“Aku akan memberitahunya hari ini, jangan khawatir… Aku akan menjelaskan padanya kalau aku sangat mencintaimu. Hari ini, aku pastikan kalau Maria mengetahui perasaanku padamu dan bilang kalau aku nggak bisa melanjutkan hubungan kami. Aku juga lelah dan ingin hidup bersamamu saja, aku nggak ingin membuang-buang waktu lebih banyak lagi. Jangan khawatir, aku akan berterus terang hari ini”
Duniaku seolah terhenti. Perkataan Rafael barusan seakan menggema di becakku dan setiap kata yang dia ucapkan menampar hatiku. Dengan tangan gemetar, aku menyalakan lampu. Ruangan itu kini menjadi terang, memperlihatkan sebuah pesta yang tidak pernah ada, dan menampilkan ekspresi terkejut dari orang-orang terdekat kami yang turut bingung dengan situasi ini.
Hatiku… Hatiku rasanya hancur.
Di sinilah aku, berdiri di tengah pesta kejutan yang aku siapkan untuk diriku sendiri. Gaun indah yang aku pakai kini tampak seakan mengejekku. Air mataku juga mulai mengalir di pipiku.
Dengan ponsel yang masih ada dalam genggamannya, Rafael memandang kami semua dengan wajah penuh keterkejutan dan rasa bersalah.
Tidak ada kata-kata yang terucap. Hanya rasa sakit yang menyayat hati dari sebuah pengkhianatan yang tidak aku duga.
Bagaimana ini bisa terjadi? Bagaimana bisa pria yang aku cintai, yang telah menjadi pendampingku selama hampir sepuluh tahun ini, menyatakan cintanya pada wanita lain tepat di hari ulang tahun pernikahan kami?
Melihat situasi ini, para tamu hanya terdiam dalam kecanggungan. Mereka menyaksikan bagaimana hatiku hancur. Aku merasa tertangkap basah dan tidak berdaya, layaknya seekor burung yang terluka di bawah hamparan langit yang tidak mengenal belas kasihan.
Di sinilah aku, berdiri dengan mata terpaku pada Rafael, menunggu penjelasan dan ungkapan penyesalan darinya. Namun, aku tidak mendapatkannya. Seluruh pasang mata di ruangan itu menatap kami penuh harap. Kemudian, dengan suara yang hampir tidak aku kenali sebagai suaraku sendiri, aku meminta Rafael untuk mengulangi perkataannya di telepon tadi.
“Apa… yang kamu bilang barusan? Siapa yang sedang kamu telepon? Kamu nggak lagi bercanda dengan mengatakan ini di hari ulang tahunku dan hari ulang tahun pernikahan kita, kan?”
Aku tertawa gugup, masih berharap jika kejadian barusan hanyalah sebuah lelucon. Mataku menatap wajah para tamu satu per satu dan… ekspresi mereka sama seriusnya dengan ekspresi Rafael, “Jawab!”
Dia tidak menjawab dan hanya bisa menundukkan kepalanya, berusaha menghindari kenyataan yang baru saja dia ciptakan sendiri. Dengan dorongan emosi yang datang tanpa aku sadari, aku berjalan menghampirinya dan menamparnya, meluapkan rasa sakit dan amarah yang aku rasa. Sekilas, aku melihat kilat keterkejutan di matanya.
“Ayo kita bicarakan ini berdua saja,” gumamnya. Namun, aku tahu sudah terlambat untuk menyimpan ini menjadi sebuah rahasia. Semua orang di sini sudah mendengar sebuah pengakuan yang juga aku dengar, apa gunanya membicarakan permasalahan ini berdua di saat aku sudah merasa dipermalukan di hadapan semua orang?
“Maria, aku minta maaf. Ayo kita bicarakan ini berdua. Aku akan menjelaskan semua,” ucap Rafael.
“Nggak,” aku melanjutkan, “Semua orang sudah mendengar apa yang kamu katakan tadi. Apa yang ingin coba kamu katakan lagi?”
Adikku mendekat dan mencoba meyakinkanku jika para tamu lebih baik pergi. Namun, aku menolak. Aku tidak ingin lari dari sini, dari rumahku sendiri, dan dari orang-orang yang aku sayangi. Orang tuaku juga menghampiriku, mencoba menenangkanku. Namun, bagaimana aku bisa tenang? Aku baru saja melihat duniaku runtuh dengan kedua mataku sendiri.
Pada akhirnya, Rafael mendesah pasrah dan membuka pintu. Satu per satu tamu, mulai dari teman hingga keluarga mulai melangkah keluar. Setiap tatapan dan gerakan yang aku lihat menjadi pengingat akan apa yang menimpaku hari ini.
Tubuhku rasanya lemah hingga aku membiarkan tubuhku terjatuh di lantai. Kedua kakiku tidak lagi mampu menopang tubuhku.
Semua orang akhirnya pergi dan ruangan ini kini hanya berisi kami berdua, aku dan Rafael. Ruangan yang telah menjadi saksi dari sekian momen bahagia kami berdua. Namun sekarang, menjadi saksi dari momen paling menyedihkan dalam hidupku.
“Maafkan aku,” dia akhirnya angkat bicara. “Tapi aku ingin kita bercerai. Aku nggak ingin menyampaikan ini dengan cara seperti ini, tapi aku ingin kita bercerai. Aku udah selingkuh dari kamu, Maria.”
Perkataannya terus menggema dalam benakku. Bercerai? Aku tidak bisa mencerna ini. Hari ini adalah ulang tahun pernikahan kita, hari ulang tahunku… Bisa-bisanya dia tega melakukan ini semua padaku?
“Aku akan mengemasi barang-barangku dan pergi sekarang juga. Aku rasa… nggak ada gunanya aku tinggal di sini malam ini. Maafkan aku. Aku nggak bermaksud begitu, Maria.”
Dia memang meminta maaf, tetapi pengakuannya terdengar hampa. Tidak ada ketulusan dari perkataannya, tidak ada penjelasan yang bisa mengurangi rasa sakit akibat dikhianati dan ditinggalkan yang aku rasa.
Di sinilah aku, duduk sendirian di lantai ruang tamu dengan dikelilingi oleh dekorasi sisa pesta yang pada akhirnya tidak pernah terlaksana. Tawa dan harapan yang tadi memenuhi ruangan ini, kini berubah menjadi keheningan yang memilukan.
Aku tidak tahu apa yang akan aku lakukan selanjutnya. Yang aku tahu, pria yang aku cintai, pria yang telah menghabiskan hampir satu dekade bersamaku itu sudah menghancurkan hatiku pada hari yang seharusnya menjadi hari paling membahagiakan untuk kami.
Suara roda koper milik Rafael bergema di seluruh rumah. Setiap rodanya berbenturan dengan lantai, sebuah palu seakan menghantam hatiku. Selama ini, dia tidak pernah bisa mengemasi barang-barangnya dengan cepat. Namun sekarang, dia mengemasnya dengan cepat, seakan-akan dia buru-buru untuk pergi, seakan-akan…dia ingin meninggalkanku secepat mungkin.
Aku melihat sosoknya sedang berdiri di sana, sibuk memindahkan barang-barangnya dan bersiap meninggalkan rumah kami, perjalanan kami, dan juga meninggalkanku.
Aku merasa sesak dan dalam sekejap, tubuhku yang sebelumnya hampa kini dipenuhi dengan rasa putus asa. Aku berlari mengejarnya, mencoba menghalanginya dengan berdiri di pintu rumah.
“Jangan pergi,” bisikku dengan suaraku gemetar. Rasa malu, sakit, dan penuh keputusasaan dapat terdengar dari ucapanku barusan.
Aku tahu jika aku membiarkannya keluar melalui pintu itu, dia tidak akan pernah kembali. Begitu dia pergi, seluruh hidupku dan kebahagiaanku akan lenyap dalam sekejap. Dia akan meninggalkan segalanya seakan tidak terjadi apa-apa.
Beberapa jam yang lalu, semua masih tampak normal. Dia pamit bekerja dengan menciumku, memelukku, dan mengucapkan kata-kata penuh cinta yang masih terngiang di telingaku. Apa semua itu hanya sandiwara? Apakah pernikahan kami hanya sebuah lelucon di matanya?
Rafael menatapku dengan pandangan sakit dan pasrah.
“Aku mohon, minggir,” ucapnya dengan nada lembut.
Namun, aku tidak bisa melakukannya. Lebih tepatnya, aku tidak mau. Mengikuti kata hatiku, aku melompat ke arahnya dan berusaha merebut koper itu dari tangannya. Aku berusaha menyeret koper itu menjauh untuk mencegahnya pergi, meski aku tahu semua itu sia-sia. Dia mengikutiku dengan langkah yang berat dan tatapan memohon, berharap aku tidak mempersulit keadaan.
Air mataku masih terus mengalir. Aku berbalik ke arahnya, meminta jawaban.
“Siapa wanita itu?” tanyaku sambil terisak, “Siapa selingkuhanmu itu?!”
Rafael memalingkan wajahnya. Dia hanya menjawab pertanyaanku dengan sebuah gumaman, “Jangan mempersulit keadaan.”
Namun, aku perlu tahu, aku perlu tahu siapa wanita itu.
“Siapa wanita yang sudah merebutmu dariku? Siapa wanita itu?” desakku dengan suara berteriak.
“Awalnya, ini semua hanyalah kesalahpahaman,” Rafael akhirnya mengakui perbuatannya. “Tetapi aku jatuh cinta padanya. Sudah bertahun-tahun aku mencintainya. Aku…ingin menghabiskan waktu bersamanya. Satu-satunya hal baik yang dapat aku lakukan untukmu adalah dengan mengakui ini semua, Maria. Aku nggak pernah berniat menyakitimu, sama sekali nggak pernah. Aku benar-benar minta maaf.”
Perkataannya menghantamku dengan kuat, merenggut semua harapan yang masih ada. Jiwaku hancur, dadaku terasa sesak. Mengapa kenyataan ini begitu kejam?
“Siapa namanya?” desakku, melontarkan pertanyaan terakhir. Sebuah informasi yang ingin aku ketahui dan aku pegang di tengah rasa sakit yang aku rasakan. Namun, dia menggelengkan kepalanya, enggan memberitahuku.
”Lebih baik begini. Aku akan segera menghubungimu untuk penandatanganan surat perceraian. Proses ini akan berlangsung cepat, jadi aku mengharap kerja samamu.”
Berakhir sudah. Pernikahanku, sumber kebahagiaanku, dan semua yang telah aku bangun dan cintai, kini berakhir.
Rafael kembali berjalan menuju pintu. Sosoknya tampak di bawah cahaya lorong. Aku melihatnya pergi, setiap langkah kakinya bergema di dalam kehampaan dadaku. Aku menjatuhkan diriku ke lantai, air mata menggenang di pelupuk mataku. Rumah yang dulu dipenuhi oleh tawa dan cinta, sekarang hancur menjadi sebuah kenangan dengan impian yang sirna.
Aku mengamati sekelilingku, ada foto-foto yang terpasang di dinding, perabotan yang kami pilih bersama, dan kehidupan yang telah kami bangun berdua. Semua seakan mengejekku, mengingatkanku apa yang telah hilang dari hidupku. Aku memeluk tubuhku, mencoba mencari kenyamanan dalam keheningan malam yang dingin.
Bagaimana semua ini bisa terjadi? Kapan Rafael berubah dari sosok pria yang aku kenal? Pertanyaan-pertanyaan itu terus berputar di kepalaku. Namun, aku tidak bisa menemukan jawabannya. Rasanya sulit seakan mencari bayangan dalam kegelapan.
Sekali lagi, aku menatap pintu di mana Rafael melangkah pergi. Pintu yang menjadi batas kebahagiaan dan masa lalu kami.
Dia mencintai orang lain dan orang itu bukan aku. Dia memintaku bercerai di hari ulang tahunku, di hari ulang tahun pernikahan kami berdua.