Bab 4 Perjanjian Perceraian

1930 Kata
POV Maria Aku tidak bisa menahan rasa sakit di dadaku, rasa sakit yang timbul akibat perpaduan antara kesedihan dan pengkhianatan yang mengancam untuk menghancurkan hidupku. Rafael, suamiku, ada di hadapanku. Namun, matanya memandangku seakan aku adalah orang asing–seorang penyusup yang masuk dalam hidupnya dan kini menjadi orang asing. Aku memaksakan diri untuk fokus pada topik perceraian karena sepertinya, itu adalah satu-satunya topik yang bersedia ia diskusikan. Meski bibirku ingin sekali mengatakan jika aku mencintainya dan hampir memohon agar kami mencoba memperbaiki hubungan ini serta menawarkan berbagai solusi, termasuk terapi pasangan, tatapan matanya yang tajam membuatku mengurungkan niatku. Seingatku, Rafael tidak pernah menatapku setajam ini selama ini. Sikapnya membuatku merasa jika semua sudah berakhir sejak kemarin. Namun sepertinya, pernikahan kami sudah berakhir bertahun-tahun yang lalu di matanya. Dengan suara gemetar, aku memberi saran untuk berdiskusi dan mencari kesepakatan dari permasalahan kami, daripada melibatkan pengacara. “Menurutku, kita nggak perlu melibatkan pengacara. Aku rasa, dengan berbicara berdua saja, kita bisa menyelesaikan masalah ini. Lagi pula, kamu seperti terburu-buru untuk mengakhiri hubungan kita. Bukankah lebih baik kita selesaikan berdua supaya lebih cepat?” “Maria, ini bukanlah sesuatu yang bisa kita selesaikan berdua.” “Memangnya aset apa saja yang kita punya? Aset kita yang membutuhkan pengacara untuk membaginya? Ini semua berkaitan dengan pembagian, kan? Beberapa mobil, sebuah perusahaan, dan dua rumah. Selain itu, nggak ada lagi, Raf. Aku udah memberimu modal untuk membangun perusahaan ini, perusahaan ini dibangun selama pernikahan kita. Pembagian ini akan berjalan mudah, kenapa nggak kita bicarakan aja? Kita bisa membuat kesepakatan di antara kita berdua.” Begitu aku menyelesaikan ucapanku, Rafael berdiri dan memukul meja dengan kedua tangannya. Sikapnya ini membuatku terlonjak kaget. “Kamu nggak boleh meminta hak atas perusahaanku! Apa itu yang sebenarnya kamu inginkan? Kamu nggak akan pernah bisa mendapatkan perusahaanku!” Sikap Rafael memunculkan kekhawatiran dalam diriku. “Perusahaanmu katamu?” jawabku, “Perusahaan ini milik kita! Akulah yang memberimu uang untuk mendirikan perusahaan ini. Ini bukan sesuatu yang seharusnya aku ingatkan padamu, Rafael Lorenzo. Ide pembangunan perusahaan ini memang milikmu, tapi perusahaan ini dibangun dengan uangku. Jadi, perusahaan ini milik kita berdua!” “Selama ini kamu hanya sibuk melukis! Apa lagi yang udah kamu lakukan untuk perusahaan? Apa kamu pikir memberikan uang sama saja dengan memiliki perusahaan? Coba lihat sekelilingmu, semua ini nggak mungkin terjadi tanpa usahaku, Maria. Akulah yang membangun perusahaan ini. Satu-satunya orang yang bisa mengakui kepemilikan perusahaan ini adalah aku. Aku bekerja lebih dari delapan jam sehari, sedangkan kamu hanya memegang kuas, pensil, dan kanvas. Akulah orang yang berkeringat siang dan malam, memikirkan apa saja yang harus dilakukan dan apa yang tidak boleh dilakukan.” Air mata mulai mengalir saat bayangan akan ketertarikanku dan semangatku dalam seni selalu dipandang sebelah mata olehnya. Aku ingat bagaimana dia tidak pernah mau menjadi model untuk lukisanku. Bahkan, apa yang dulu dia kagumi dari lukisanku, kini ia remehkan. “Tanpa uangku… idemu nggak akan jadi apa-apa,” gumamku sebelum melanjutkan, “Setengahnya, itu jumlah yang adil.” “Perusahaan ini milikku sepenuhnya, Maria.” “Ini milik kita!” “Lalu bagaimana kamu bisa membuktikannya, Ya? Kamu cuma gadis kaya yang banyak tingkah! Akulah yang membangun perusahaan ini! AKU!” Aku semakin putus asa saat dia menyangkal bahwa perusahaan ini milikku. “Tapi kamu membangunnya dengan uangku! Uang wanita yang kamu sebut kaya dan banyak tingkah! Aku memberimu uangku, semua uangku! Untuk suamiku yang sedang membangun masa depan bersamaku. Aku sudah begitu percaya padamu, Raf. Aku mempercayai…pria yang aku cinta.” Mendengar itu, dia menatapku dengan pandangan meremehkan, seakan-akan aku adalah gadis yang bodoh. Aku tidak kuasa menahan air mataku. Perlahan, aku juga kehilangan ketenanganku saat menghadapi kenyataan yang tidak ingin aku lihat. “Aku mempercayaimu. Aku mempercayaimu.” “Dengar, Maria,” ucapnya dengan nada dingin, “Maaf, tapi kamu tahu sendiri kalau aku yang memajukan perusahaan ini. Keberhasilan perusahaan saat ini adalah hasil dari ideku, proyekku, dan kerja kerasku. Sementara kamu? Semua yang kamu punya adalah hasil dari kerja kerasku. Kalau kita masih punya uang, ya itu karena usahaku.” Setiap kata yang keluar membuatku merasa semakin kecil, semakin tidak berarti. Aku bertanya-tanya, ke mana laki-laki yang dulu aku cintai itu. “Aku nggak bermaksud mengambil segala yang kamu punya darimu. Aku hanya ingin mengambil setengah dari yang seharusnya menjadi milikku. Aku tahu, kesuksesan perusahaan ini adalah karena idemu. Aku juga paham, kamu sudah menginvestasikan pengorbananmu selama bertahun-tahun di sini, tapi itu semua... berasal dari uangku." “Baiklah, Ya,” aku menjadi sedikit lebih santai mendengar dia akhirnya sadar. Pembagian ini akan adil karena perusahaan ini milik kami berdua, bukan miliknya sepenuhnya, “Kalau begitu, bagaimana kalau kita menyelesaikannya dengan mengembalikan uang yang kamu berikan dulu sebagai modal? Karena kamu banyak menyinggung tentang uang…” Mendengar hal itu, aku tersinggung. “Apa kamu benar-benar menganggapku bodoh? Aku nggak menginginkan uang yang aku berikan padamu. Itu sudah sembilan tahun yang lalu. Jumlahnya bahkan nggak seberapa dengan nilai perusahaan saat ini. Kenapa aku hanya menerima uang itu saja?” “Bukankah kamu di sini karena menurutmu kita bisa menyelesaikan masalah ini berdua. Nah, kita sedang membicarakannya sekarang. Nggak ada pengacara. Hanya ada kita berdua. Aku akan memberimu uang yang selalu kamu bahas itu.” “Bukan begitu, aku nggak ingin menyalahkanmu. Kenapa kamu ingin membuatku seakan menjadi orang jahat di sini? Waktu itu, aku memberikannya padamu dengan sepenuh hati. Aku bahkan tidak pernah membahas ini bersamamu sebelumnya, sial! Aku mempercayaimu. Ayahku… memberiku uang itu setelah kita menikah, khusus untuk ini, untuk membangun masa depan bersama suami dan keluarga kecilku. Raf, aku mohon, jangan bersikap seperti itu. Perusahaan ini juga milikku.” Dengan gestur mengancam, dia mendekat dan kembali mencengkeram bahuku,. Tatapannya dingin dan tajam. “Pokoknya, kamu nggak berhak atas perusahaan ini,” ucapnya. Aku mencoba membalas perkataannya. Namun, dia malah tertawa, melepaskanku, dan berjalan menjauh. “Kamu nggak memiliki apa pun yang berkaitan dengan perusahaan ini, kamu nggak ada hubungannya dengan perusahaan, dan namamu juga nggak tercatat di mana pun. Rafael Lorenzo adalah pemilik tunggal." Ya, dia benar. “Jadi, aku hanya harus berjuang supaya kamu nggak bisa mengambil setengah harta yang seharusnya menjadi milikku. Oh iya, aku juga akan memberitahu sesuatu padamu di sini, kamu bisa mempertahankan rumah dan mobil karena yang penting bagiku adalah mempertahankan apa yang aku bangun dengan usahaku sendiri, yaitu perusahaan ini. Dengan uang yang aku beri, lanjutkan saja hobimu berbelanja, jalan-jalan, bermain bersama teman, dan oh, kamu mungkin bisa menjual lukisanmu. Jangan sampai uang yang aku beri habis dalam waktu kurang dari satu tahun, ya?” Pikiran bahwa dia akan meninggalkanku dengan tangan kosong membuatku tersiksa. Tidak ada bukti jika aku pernah menjadi bagian dari perusahaan atau bukti bahwa akulah yang memberikan uang modal untuk Rafael. “Aku ini istrimu! Setengah hartamu adalah milikku meski kamu mengatakan jika perusahaan ini sepenuhnya milikmu. Aku tetap berhak atas sebagian dari perusahaan ini, Raf.” Dia kembali tertawa–sebuah tawa yang menyayat hatiku. “Keluarlah dari ruanganku.” “Aku nggak akan pergi, Raf. Kita belum selesai berbicara.” “Aku akan bicara dengan pengacaraku supaya mereka bisa menghubungimu. Nggak ada lagi yang perlu kita bicarakan, yang jelas, percakapan ini nggak seharusnya terjadi dan kamu nggak punya urusan di sini.” Dia menatapku, menunggu aku pergi, aku terdiam, tidak tahu harus bereaksi seperti apa hingga akhirnya dia mendekat,menarik tanganku, membuka pintu ruangannya, dan mengusirku. Apa dia baru saja mengusirku dari ruangannya? Aku keluar menuju lorong. Setiap langkah kaki terasa seperti sebuah kekalahan. Air mataku mengalir deras, seperti aliran sungai yang tidak kunjung berhenti. Pada saat itu, aku merasa jika aku tidak hanya kehilangan suami, tetapi juga kehilangan segala sesuatu yang kami sudah kami usahakan selama ini. Kenyataan seperti itu adalah kenyataan yang tidak pernah aku bayangkan akan terjadi padaku. Aku berjalan keluar dari bangunan ini dengan rasa kesepian dan putus asa yang lebih berat dari sebelumnya. Setiap langkah yang aku ambil di lorong adalah sebuah pengingat tentang kenyataan yang baru aku hadapi. Kenyataan di mana aku menemukan diriku harus merelakan pernikahan sekaligus rasa aman yang selama ini aku punya. Air mata yang menggenang di pelupuk mata mengaburkan pandanganku, tetapi aku berhasil sampai ke mobil. Begitu sampai di mobil, aku langsung mendudukkan diri di kursi pengemudi dan mulai menangis terisak tanpa henti. Setelah beberapa menit, aku mengambil ponselku yang bergetar dan segera menghubungi nomor adikku. Begitu mendengar suaranya, kata-kata itu keluar dari dalam diriku yang ini merasa hancur dan kebingungan. Aku menceritakan padanya apa yang terjadi di kantor Rafael, bagaimana dia meremehkanku, menolak semua penawaranku tentang perusahaan, dan meremehkan kontribusiku dalam mendirikan perusahaan ini, hingga dia akhirnya mengusirku. “Aku memang bodoh, tapi aku memberikan uang itu pada suami, bukan pada pria yang sekarang mengusirku seakan itu semua bukan hal yang besar.” “Sudahlah, Kak, tenanglah,” ucap adikku berusaha menghiburku dengan suara yang tenang, tetapi tegas. Terdengar jelas dia sedang menahan amarah atas semua yang terjadi. “Ayo kita selesaikan masalah ini. Aku punya beberapa kontak pengacara hebat, kita bisa menemui mereka sesegera mungkin.” “Iya, iya. Itu akan lebih baik,” ucapku di sela-sela tangisanku. Aku harus melakukan sesuatu. Aku tidak boleh membiarkan dia mengambil semua dariku. Kami berdua–aku dan adikku–sepakat untuk bertemu besok dan mengunjungi sebuah firma hukum. Aku melajukan mobil kembali ke rumah, setiap kilometer yang aku lewati terasa seperti menjauh dari kehidupan yang sudah hancur. Begitu tiba di rumah, aku menatap bayangan diriku di cermin kamar mandi. Mataku bengkak dan memerah, sementara riasanku sudah berlumuran air mata. “Kamu harus kuat,” kataku pada diriku sendiri, meskipun saat itu aku merasa tidak kuat sama sekali. Langkahku otomatis membawaku ke studioku, tempat yang selalu menjadi pelarianku, sebuah ruangan untuk menemukan kedamaian dan kreativitas. Namun hari ini, tidak ada kedamaian yang bisa aku temukan, hanya hati yang hancur dan pikiran yang penuh kebingungan dan amarah. Dengan dorongan emosi, aku mengambil kuas dan cat. Aku merasa putus asa untuk menyalurkan semua emosi yang ada dalam diriku ke dalam kanvas. Aku ingin melukis sesuatu, apa pun itu, yang bisa mengekspresikan amarah dan pedih yang aku rasa. Namun, saat aku mencoba menggoreskan garis pertama, air mataku mulai mengalir, mengaburkan pandanganku, dan menggagalkan segala upayaku untuk berkonsentrasi. Rasa frustasi menguasai diriku dan saat aku mencapai puncak kemarahanku, aku melemparkan kuas dan cat yang aku gunakan ke lantai. Suara toples yang jatuh ke lantai bergema di seluruh ruangan. Sebuah gema akibat keputusasaanku sendiri. Aku terjatuh ke lantai, dikelilingi oleh sisa usahaku yang gagal melukis. Tanganku gemetar sementara air mata terus mengalir di pipiku. “Sialan kamu, Rafael,” bisikku di sela-sela tangisku. “Bisa-bisanya kamu melakukan ini padaku?” Kata-kata itu adalah teriakan dalam heningnya studioku. Sebuah ruangan yang dulu dipenuhi oleh cinta dan hasrat pada seni dan kini, menjadi saksi dari rasa sakitku yang paling dalam. Semua kenangan, semua momen, semua mimpi yang kita bangun bersama, semuanya seakan hancur di depan mataku. Aku merasa dikhianati, ditinggalkan, dan yang paling buruk, aku merasa tidak berdaya. Di sini, di lantai studioku yang penuh kekacauan, aku membiarkan diriku merasakan sakit yang tidak kunjung berhenti. Rasanya, setiap air mata yang menetes mengurangi sedikit beban yang berkecamuk di dalam diriku. Di momen ini, aku bukanlah seorang seniman, bukan juga seorang istri. Aku hanyalah seorang wanita yang hancur dan mencoba menemukan cara untuk menyatukan diriku kembali. Waktu pun berlalu. Aku tidak tahu sudah berapa lama sejak aku mulai menangis, tetapi air mataku akhirnya mengering juga. Bersamaan dengan itu, rasa sakitku berkurang dan digantikan dengan perasaan damai yang kosong. Perlahan, aku bangkit dan menatap sekeliling. Cat warna yang berserakan, kuas-kuas yang terbuang, dan kanvas yang masih bersih. Bagaimana aku bisa menerima fakta jika suamiku benar-benar melakukan ini semua padaku?
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN