Gagah masuk ke dalam rumah dengan perasaan campur aduk, dia membenci seperti ini. Seolah semuanya salah dia, dan karenanya juga lah jadi berantakan seperti ini..
Dia terlihat jahat dan tidak perduli dengan perasaan orang lain, padahal dia hanya ingin hidupnya tenang seperti dulu kala. Ditambah sekarang ini dia sering kali melihat beberapa orang mengikutinya.
"Kamu kenapa?" Tanya ibunya sembari menahan bahu sang anak yang hendak masuk ke dalam kamarnya.
"Mau istirahat Bu, kepalaku pusing banget."
"Lah, terus Angkasa kemana?"
"Pulang."
"Kamu usir? Jangan gitu dong Gagah. Kan kasian Angkasanya dia sudah jauh-jauh datang ke sini untuk ketemu sama Kamu."
"Ibu kenapa sih? Angkasa pulang sendiri bukan Aku usir."
Gagah tidak berniat untuk marah, tapi emosinya tersulut begitu saja, karena melihat ibunya sangat mengkhawatirkan Angkasa. Padahal mereka tidak pernah bertemu secara langsung sebelumya.
"Oh gitu, ya sudah."
Karena tahu bahwa anaknya sedang kesal, dia pun segera mengakhiri percakapan itu.
Gagah yang hendak membuka pintu kamar, melepaskan tangannya dari gagang pintu tersebut, kemudia berbalik badan. Mengikuti perginya langkah kaki itu.
"Kenapa?"
"Mau minum."
"Tumben buka kulkas, biasanya air hangat."
"Lagi pengen aja."
Dia melihat kue yang dibawa oleh Angkasa. Dia yakin 100 persen jika kue tersebut bukan buatan bundanya. Saat di makanpun rasanya seperti kue di toko pada umumnya.
"Orangnya saja kamu musuhi, kuenya dimakan juga."
Gagah berusaha untuk menormalkan bernafasnya setelah acara tersedak. Setelah minum satu galas penuh, barulah bisa merasa lebih lega.
"Aku hanya menghargai permberiannya saja."
"Memang kalian ada masalah apa sih? Sepertinya sangat serius sekali, Ibu tahu Kamu pasti tidak akan tiba-tiba marah apalagi sampai menjauhi teman hanya karena hal sepele."
"Itu Ibu tahu."
Kepala pemuda itu tidak terselamatkan karena sebuah. Spatula berhasil mendarat dengan sempurna, meksipun setelahnya langsung terbang kembali.
"Jadi anak kok ngeyel banget. Kalau ibu tahu alasannya gak akan nanya Kamu. Kalian sama saja ditanyakan. Gak ada yang benar jawabannya."
"Ya sudah. kami hanya sedang bercanda saja. Ini urusan laki-laki, perempuan tidak boleh tahu sekalipun itu ibu."
"Durhaka tahu rasa Kamu. Ibu sebenarnya gak mau ikut campur. Tapi melihat kalian bertengkar, sangat membosankan dan membuat ibu pusing."
"Ya dianya saja. Dibilang jangan datang, malah ke sini."
"Angkasa sepertinya dewasa dan pengertian. Tidak seperti Kamu yang bentar-bentar marah."
"Hmmm."
Melihat ibunya masih meledek, hatinya kembali tenang. Dia takut didiami oleh wanita paruh baya itu seperti dulu.
Sementara itu, Angkasa awalnya tidak berani kembali ke basecamp. Namun suara panggilan membuatnya harus menemui sang komandan. Karen tidak boleh terkata tidak jika komandannya sudah memberikan perintah. Karena metbukan hanya asal bicara saja.
"Sudah, biar Kami yah akan menyelesaikannya."
"Saya masih mau ikut andil dalam hal tersebut pak. Saya Yakin, Gagah pasti akan luluh."
"Terlalu lama..saya sudah tidak bisa menunggunya Lagi. Sudah, jangan memaksakan diri, Kamu sudah bekerja keras. Ikhlaskan saja dia."
"Tolong jangan menyakitinya."
"Tidak janji, semua adalah bagaimana dianya. Jika menurut, mungkin tidak akan terluka. Namun sekalinya, biarkan saja dia belajar untuk dewasa.
Angkasa menelan ludanyanya dengan susah payah, dia akan mencari bagaimana caranya agar bisa membuat pemuda itu terlepas dari jeratan tersebut. Meksipun tidak tahu kedepannya akan seperti apa, sejujurnya dia sangat panik, bahkan sangat panik.
"Saya pamit pergi dulu."
Tidak biasanya seorang Angkasa menolak keinginan atasannya. Namun pada hari ini, dia melemah dan bisa membuat Gagah terlepas dari tanggung jawabannya.
"Kamu tidak mau ikut dengan rencana yang saya susun?"
"Saya akan bantu, setelah dia berkata setuju dengan segala persyaratan yang kita miliki. Permisi."
Gagah berjalan dengan hebatnya ke arah pulang. Baru kali ini dia bersikap tidak propesional dan membuat kecew bosnya yang sudah mengira bahwa pemuda itu sudah berhasil dibujuk.
Bagaskara akhirnya memanggil para anggotanya yang lain, untuk bisa menghadapi Gagah.
"Ya sudah, kita atur saja strateginya. Saya yakin, dia akan mau jika terus diyakinkan."
"Lakukanlah, jangan membuat Saya harus turun tangan sendiri."
"Baik Pak, siap!" Teriak mereka lantang. Sehingga masih terdengar oleh Angkasa sebelum dia keluar ruangan
Dia menyerah, dan membiarkan orang lain mengurusnya. Sejujurnya dia sangat tidak tega untuk memaksa sahabatnya.
Kali ini, dia kebanyakan sekali berpikir dan kasian sehingga kasus berjalann sangat alot.
Angkasa masuk ke dalam mobil, tak lama ada dua orang temannya yang keluar dari basecamp. Dia hanya bisa melihatnya dari dalam mobil saja.
Kemudian, mereka pergi menggunakan sepeda motor, Angkasa pun segera menyalakan mobilnya lalu mengikuti teman-temannya yang akan menggantikan tugasnya.
Sementara itu, Gagah yang sedang kehabisan tisu memilih untuk pergi ke mini market terdekat.
"Ada yang mau dititip gak Bu?" Tanyanya pada ibunya yang sedang asik menjahit baju.
"Enggak, sudah sana pergi. Beli cemilan saja untuk dirimu sendiri."
"Iya Bu."
Gagahpun akhirnya melangkah keluar dari rumahnya tanpa merasa sesuatu akan terjadi. Begitupun dengan ibunya. Karena anak lelaki itu sudah ijin pamit ke mini market.
Di perjalanan, dia tangannya dicekal seseorang dengan sangat kuat, bahkan dia yang lelaki saja kehilangan tenaga untuk berontak dan akhirnya menyerah mengikuti kemauan mereka untuk ikut pergi bersama mereka.
"Ada apa? Tolong jelaskan. Saya tidak pernah ada urusan dengan kalian."
Mereka memilih bungkam, dan membiarkan pemuda itu mengoceh sendiri. Dia akan membawanya langsung sesuai dengan perintah yang ada.
Gagah berontak, tapi karena tangannya sudah sangat sakit, akhirnya dia menyerah dan mulai mereda.
"Saya sekarang tahu, siapa kalian. Tolong lepaskan! Sayantidak mau ikut campur dalam bisnis gelap!"
"Bisnis gelap apa yang Kamu maksud hah? Jangan mengada-ada. Saya tidak akan segan-segan untuk mematahkan mulut anda."
"Terserah! Kamu pikir Saya takut. Ingat ya, kalian harus segera insap. Jangan hanya karena urusan dunia yang sementara."
"Diam!"
Bentak salah satu dari mereka yang duduk di depan. Jadi mereka yang datang ada 4 orang dan semuanya pakai pakaian yang beragam, bahkan bukan seperti seorang yang bertugas untuk negara.
Mendengar bentakan seperti itu Gagah langsung diam, jelas saja dia sedikit bergetar karena selama hidup. Dia tidak pernah mengalami bentakan dari seorang ayah.
"Kalian akan menyesal, sudah melakukan ini semua padaku."
"Kami tunggu penyesalan itu."
"Sialan!"
Teriaknya kencang tidak sadar diri sudah membentak mereka. Wajar saja dia melakukan semuanya itu. Karena sudah diperlakukan tidak baik. Padahal dia tidak melakukan kejahatan apapun.
"Kamu harus mengerti. Hidup tidak selalu tentang ego yang harus dituruti."
Dalam situasi seperti ini, dia merasa sangat sendiri, seandainya ada seorang ayah. Dia bisa meminta bantuan untuk ayahnya untuk menyelematkan dia dari orang-orang jahat seperti mereka. Namun saya sekali, dalam bentuk kejahatan apapun yang ditemuinya. Dia harus tetap melewatinya sendirian. Tidak mungkin mengabari ibunya dan membuat wanita itu sakit. Gagah memilih bungkam saja, sembari terus berdoa dalam hati.