"Mungkin masih ada masalah Bu, dia kan memang sulit untuk bercerita. Pada Saya saja tidak mau bicara akhir-akhir ini."
"Serius amat, ngobrolin apa?"
Gagah datang dari arah belakang, dia membawa minuman untuk temannya dan juga dirinya.
"Kepo."
"Ya sudah, kalian bicara saja berdua. Ibu mau melanjutkan pekerjaan yang masih belum selesai."
"Iya Bu, jangan terlalu lelah."
"Pasti Nak."
Gagah langsung merubah raut wajahnya. Dia menatap sinis temannya itu.
"Langsung to the point, Lo ada apa ke sini?"
"Silaturahmi."
"Lo pikir Gue bakal percaya? Sudahlah Angkasa. Jangan terlalu memaksakan diri. Lo juga sebaiknya keluar saja dari organisasi tidak jelas itu."
Angkasa tidak terima, gurat wajahnya berubah tegas, satu alisnya juga sudah terangkat. Namun dia tidak mau berkata kasar. Karena bukan itu tujuannya datang ke sini.
"Emangnya salah kalau mau ketemu sama teman sendiri? Lo pikir Gue membisniskan pertemanan kita juga hah?"
"Lalu apa? Kita berhentikan saja pertemanan ini. Gue mau hidup tenang."
"Gue ke sini datang baik-baik, gak ada sedikitpun kepikiran buat bujukin Lo. Emangnya salah apa pekerjaan Gue? Segitu hinanya di mata Lo yang suci ini."
"Gue gak mau punya masalah Angkasa. Gue sendirian gak punya banyak backingan kayak Lo. Nanti kalau sampai kita masih temenan dan mereka masih mau Gue. Apa kabar? Lo akan ada di pihak siapa?"
Angkasa mengambil kunci mobilnya yang ada di atas meja. Kemudian dia langsung berdiri.
"Semoga setelah ini, Lo gak ngemis di hadapan Gue."
Angkasa berjalan ke arah mobilnya tanpa menengok sedikitpun. Jujur saja dia sangat kecewa dengan ketegasan sahabatnya. Padahal lelaki itu bisa memikirkan baik-baik.
Sesampainya di mobil, dia langsing menacap gas untuk meninggalkan area tersebut, dan mencari tempat yang lebih sepi.
Seandainya Gagah tahu, dia sudah membelanya bahkan di hadapan atasannya.
Flashback on
Pada hari berikutnya. Terhitung dari mereka yang pernah bertemu di basecamp. Angkasa diberikan tugas untuk membujuk Gagah.
Kemudian hari ini adalah waktu dia untuk memberikan laporan pekerjaannya.
"Bagaimana kelanjutannya, sudah ada titik terang? Kamu berhasil membujuknya?"
Angkasa bersusah payah untuk menatap komandannya. Dia merasa sangat lambat sekali membuka misi ini dibandingkan sebelum-sebelumnya yang selalu berjalan mulus tanpa hambatan.
"Maaf, Saya belum mampu membuat Gagah percaya."
"Masa sama anak kecil saja kalah, Kamu jangan lemah Angkasa. Kita sudah tidak mempunyai banyak waktu lagi untuk menunggu."
"Saya sudah berusaha."
"Kamu kurang meyakinkannya. Cari tahu kenapa dia sangat bersikeras dengan pendiriannya. Padahal kita sudah menawarkan sejumlah uang yang kamu hilang bahwa dia kekurangan."
"Saya tidak bohong, dia memang kesulitan ekonomi. Dulu pernah bertanya pekerjaan."
"Lalu sekarang apa? Jika memang dia tidak bisa dibujuk secara baik-baik, pakai cara biasa saja."
Mendengar cara biasa. Angkasa langsung memejamkan matanya secara refleks. Dia tahu apa yang dimaksud oleh komandannya.
"Kenapa Kamu jadi cengeng begini, kita tidak boleh menaruh hati pada saat menjalankan misi. Memangnya Kamu tidak kasian pada banyaknya korban?"
"Siap tidak!"
"Saya bilang apa, cara murahan ini tidak akan pernah berhasil. Dia bahkan sudah mencium gerak-gerik aneh darimu. Lain kali, jika punya ide jangan yang mudah dibaca dan lama sekali."
"Saya akan berusaha sekuat tenaga agar Gagah bisa masuk ke dalam kelompok kita."
Pria yang disebut komenadan itu menatap Angkasa.
"Ada yang kamu takutkan? Jelaskan sekarang!"
Siapapun jika sudah berhadapan dengan lelaki paruh baya itu pasti tidak akan bisa menutupi apapun lagi. Termasuk dirinya yang sudah berusaha sebaik mungkin untuk menutupi agar tidak terbaca.
"Jawab!"
"Saya kasian pada Ibunya. Wanita itu hidup dengan tekanan selama ini, dia berusaha bertahan karena memiliki anak. Jika tujuan hidupnya kita ambil maka secara tidak langsung kita sudah melenyapkan tanpa sadar."
"Gagah bisa selamat, asal kamu dan yang lain tidak lengah."
"Siapa yang bisa menjamin. Kita bukan sekali dua kali melakukan ini, pasti akan ada korban."
"Lalu kenapa yang sebelumnya kamu tidak seperti sekarang?"
"Karena baru kali ini, Saya melihat arti sebuah keluarga. Mereka tidak pernah hidup bahagia Pak. Saya merasa ada cara lain untuk menyelesaikan masalah ini."
"Keputusan tetap ada di Saya. Kamu hanya perlu menjalankannya saja."
"Jangan sampai karena satu orang, semua jadi korban. Bahkan mereka yang tidak bersalah!"
"Bilang apa kamu? Lalu mereka yang sudah menjadi korban apa kabar? Itu sudah tugas kita. Kamu jangan terlalu menye-menye. Jika memang tidak sanggup, bilang dari awal. Anggota kita masih banyak yang lebih mampu dari Kamu!"
Komandannya pun berbicara tidak kalah kencangnya, dia emosi dengan anak buahnya.
"Saya bukan tidak bisa untuk memaksanya Pak. Ini bukan masalah biasa. Anda tidak tahu bagaimana mereka dan sega-"
"Saya sudah lebih dulu makan nasi dibandingkan kamu Angkasa. Banyak pengalaman yang lebih pahit, tapi bukan itu yang harus kita pilih. Mereka hanya bisa kita lindungi, semisalnya kita gagak melindunginya maka tugas kitapun selesai. Kamu tidak kasihan pada banyak orang yang sudah jadi korban hanya karena orang itu. Saya sengaja setuju dengan ide melibatkan keluarga. Karena hanya dengan cara itu siapapun akan takluk."
"Saya pikir, sepertinya kita sudah tidak sejalan Pak."
"Saya tidak akan membiarkanmu berhenti di tengah jalan, kecuali Kakimu tidak berada pada tempatnya. Selesaikan misi ini dan baru bisa istirahat atau Kamu mau pindah tempat juga terserah."
Angkasa sudah menggepalkan tangannya, dia sudah berusaha menjelaskan sebaik mungkin agar pria egois itu mengerti bahwa dirinya tidak mau melakukan ini semua. Namun dia tidak diberikan pilihan apapun..
"Mulai dan berakhir bersama. Kamu pikir yang punya hati hanya dirimu saja? Kita semua punya sisi baik. Tapi saat ini bukan hal yang tepat untuk menuruti semua egomu. Kita harus selesaikan ini segera. Jika tidak mau Saya melakukan cara sendiri tanpa sepengetahuan. Ingat juga kita akan mendapatkan reward yang sangat besar dari hasil kerja ini."
"Kita bisa kerahkan pasukan untuk menyergapnya. Bukannya titik sudah ketemu."
"Dia lebih licik. Jika dengan cara sederhana saja pasti kita akan langsung kalah."
"Baik Pak, permisi."
Angkasa balik badan, dia tahu sudah salah berbicara pada atasannya. Mereka hanya memikirkan keuntungan sendiri saja.
"Kenapa Bro?" tanya temannya yang melihat dia seperti orang yang sedang kebingungan.
"Gagal."
"Dibilangin juga apa, jangan pernah bawa hati ke dalam misi kita. Sayangnya untuk yang satu ini kita tidak bisa loloskan begitu saja."
Angkasa tahu resikonya, tapi yang diinginkannya tidak lah sulit. Jangan memakai Gagah sebagai alat, dia tidak tega jika harus mengorbankan sahabatnya sendiri.
"Berdoa aja. Semoga kita bisa menjaga mereka. Tenang Bro, kita semua bersama."
Angkasa mengangguk paham, dan dia berniat untuk berusaha lagi. Meksipun dia masih tetap saja dijauhi. Bahkan di kampus saja, mereka tidak bisa bertemu karena Gagah selalu lolos.
Niatnya setelah ini dia akan datang menemui rumah lelaki itu. Karena hanya di tempat itu saja Gagah tidak bisa kabur lagi darinya.
Flashback off