Rencana Angkasa Berhasil

1054 Kata
Sebelumya Ibu Gagah pernah bertemu dengan Angkasa secara tidak sengaja. Lalu mereka mengobrol bersama untuk membicarakan anaknya. Flashback on Siang hari wanita paruh baya itu mengantarkan pesanan baju yang sudah selesai dijahitnya. Saat hendak kembali pulang dia tidak sengaja bertemu dengan pemuda yang diketahui sebagai teman anaknya. "Ibu Kenapa ada di sini? Bukannya lagi sakit ayo Aku antar pulang." "Enggak apa-apa Nak Angkasa. Ibu hanya mengantarkan barang saja sebentar. Tidak usah, nanti ngerepotin." "Ngerepotin apa sih Bu, sudah ayo masuk ke mobil." Dia menuntun ibunya Gagah untuk masuk ke dalam mobil, dan segera meninggalkan tempat itu. "Lain kali, Ibu bisa tunggu Gagah saja, atau mungkin pakai aplikasi antar barang." Wanita itu tersenyum. "Kamu kok perhatian sekali, Ibumu pasti akan sangat bahagia mempunyai anak sebaik Kamu." "Ibu bisa saja. Aku gak tega, jika melihat orang tua harus jalan-jalan sendirian. Bagaimana kalau kenapa-kenapa di jalan, kan bahaya." "Iya Nak, Gagah beruntung sekali memiliki teman seperti kamu." "Memang sebelumnya teman-teman dia seperti apa Bu?" "Kamu mungkin tahunya Gagah itu terkenal, rajin dan pintar ditambah jabatannya. Aslinya mereka semua tidak ada yang benar-benar tulus berteman dengannya. Ibu mungkin tidak pernah bertemu mereka, tapi tidak ada satupun yang sebaik Kamu sampai mengantarkan ke rumah bahkan peduli pada Ibu." "Mungkin mereka sungkan datang ke rumah. Gagah orang baik, dia memiliki banyak teman Bu. Tidak usah khawatir, mereka semua baik pada Gagah dan selalu mensupport dalam kebaikan." "Alhamdulillah, jika benar seperti itu. Kamu tahu tidak Nak, dia sekarang lebih pendiam dan sering murung. Saat ditanya kenapa kalian tidak sering pulang bareng dia selalu kesal. Memangnya kalian ada masalah?" "Enggak ada kok. Kita berdua sedang sibuk dengan tugas kuliah." Ibunya hanya menganggukan kepala saja. Dia berpikir mungkin selama ini telah salah menilai anaknya. Saat masih di perjalanan, masih sekitar setengah perjalanan lagi sebelum sampai ke rumahnya. Dia kembali bersuara. "Gagah pasti sering cerita ya sama Kamu tentang Ibu?" tanya wanita itu. "Kenapa Bu? Enggak kok. Dia bilang ibunya penyayang dan sangat perhatian." Hati wanita paruh baya itu sangat tersentuh. Dia berpikir bahwa semua orang tahu jika dirinya dan sang anak tidak begitu kompak. "Dia bohong, Ibu selalu banyak menuntut ini dan itu. Meskipun sebagai anak muda, dia pasti ingin melakukan banyak hal tapi selalu dibatasi." "Oh ya? saya kira malah Gagah terlalu sibuk dengan urusan organisasi dan kuliahnya." "Itu lah dia, semakin dilarang maka akan penasaran dan melakukannya. Kami terkadang ribut karena hal-hal seperti itu. Sulit sekali untuk memberikan pengertian jika sebenarnya Ibu sangat menyayangi dia sampai tidak mau dia memiliki banyak musuh. Jabatan akan selalu jadi rebutan, jangan sampai kejadian seperti kemarin terulang lagi." "Ekhem," Angkasa berdehem. Sepertinya ibu temannya itu sedang mengorek informasi mengenai kejadian beberapa waktu lalu yang menimpa sang anak. Dia juga tahu dari gagah bahwa ibunya tidak mau ikut campur sedikitpun lalu memberikan kuasa sepenuhnya untuk dia menyelesaikan sendiri dan menanggung beban yang sangat berat. Memang terlihat sangat kejam, tapi Angkasa yakin di balik semua itu pasti ada alasannya, dan itu yang harus dia cari tahu saat ini. "Memangnya kenapa jika Gagah terkenal Bu? Bukankah itu baik agar mempunyai banyak relasi." "Ibu membesarkannya dengan cita-cita sederhana. Dia hanya akan kerja untuk memenuhi kebutuhan hidup saja, bukan untuk menjadi seorang yang hebat dan dikenal dunia. Karena siapapun jika sudah berurusan dengan dunia pasti akan kalap. Jangan sampai Ibu memiliki anak yang tamak. Kasian keluarganya yang akan jadi korban." "Bukannya hidup di zaman seperti sekarang ini kan membutuhkan banyak materi Bu. Jika tidak bisa mengejarnya, maka akan tertinggal. Biaya hidup akan semakin mahal." "Dia harus hidup sederhana dan tercukupi. Dari waktu ke waktu biaya hidup tetap segitu, hanya gengsi yang membumbuinya supaya lebih sedap. Karena sesuatu yang dibilang enak pasti akan mempunyai nilai lebih." "Ibu ada trauma dengan hal itu?" "Sedikit." "Ayah Gagah," ujarnya sengaja memberhentikan ucapan karena ingin melihat respon wanita itu bicara. "Jangan membahasnya ya," jawabnya dengan nada bicara yang mulia berubah. Beruntung ini angkasa yang bertanya. Jika orang lain dia pasti akan langsung marah. "Gagah sering kali bercerita bahwa dia ingin bertemu dengan ayahnya. Namun karena terlalu sayang pada ibu. Dia rela berkorban untuk tidak mau tahu mengenai sosok pria yang seharusnya bisa menjaga dia dengan baik." Dia mendengarkan dengan baik apanyang disampaikan oleh pemuda itu. "Gagah tidak perlu berharap besar pada Ayahnya meskipun mereka bertemu. Lelaki itu mungkin sudah tidak ada di dunia ini. Tolong jangan bahas orang itu lagi. Gagah hanya punya ibu saja." "Iya Bu, maaf." "Tidak apa-apa. Itu hal yang wajar, karena pada dasarnya keluarga yang normal memang memiliki ibu dan ayah." "Mungkin saja Gagah berubah karena hal ini Bu. Dia sudah sangat frustasi karena terlalu sering berharap ayahnya datang tanpa perlu dicari-cari." "Benarkah begitu?" "Bukankah kita tidak pernah tahu, sampai kapan orang akan bertahan dengan rasa sakitnya." "Terus Saya harus gimana? Supaya semua membaik, tanpa harus mempertemukan Gagah dengan ayahnya." Keringan menetes dari dahi. Tidak dapat dipungkiri dia memang khawatir dengan mental anaknya. Semenjak dia melihat gerak gerik gagah seperti orang yang linglung dan banyak beban pikiran. Perlahan dia mulai sadar dan memperhatikan anaknya. Namun sayang sekali kini anak semata wayangnya itu berubah menjadi dingin dan pendiam. "Sulit. Karena penyakit harus disembuhkan dengan obatnya." "Apa dia bisa baik-baik saja nantinya?" "Saya tidak tahu Bu, menurut buku yang dibaca. Jika seseorang terlalu sering memendam perasaannya itu sangat tidak baik untuk kesehatan mentalnya." "Gagah kuat, dia pasti bisa melewati semuanya. Dia sudah terlatih menikmati kerasnya hidup. Saya juga sudah mencoba untuk lebih cair dari sebelumnya. Namun memang perlu waktu yang sedikit lebih banyak lagi. Setidaknya sampai menunggunya membaik." "Saya tidak mau menyalahkan antara ibu dan anak karena mungkin memiliki pendapatnya masing-masing. Namun jika Saya boleh saran, mungkin sebaiknya Ibu sekarang harus lebih peka pada anaknya." "Ibu sudah melakukannya Nak. Sakit yang sekarang, cukup membuat Ibu sadar, dia itu sangat baik dan juga menyayangi Ibu. Tidak seharusnya membiarkan dia menghadapi dunia ini sendirian." "Ibu bisa memulainya dengan mengajak bicara, dan lakukan hal-hal kecil bersama. Jika dia sedang melamun maka harus ditemani. Karena terlalu bahaya jika dibiarkan. Luka di dalam hati seseorang akan sulit sekali untuk sembuh Bu, Saya khawatir dia tida bis-" "Enggak. Dia pasti ceria lagi seperti dulu." Angkasa sebenarnya tidak tega membohongi ibunya Gagah. Dia tahu apa yang membuat pemuda itu bersikap demikian. Hal itu karena tawaran pekerjaan darinya. Namun dia tidak mungkin memberitahu pada ibunya yang masih melarang anaknya untuk kerja. Dia hanya butuh sedikit drama agar tujuannya tercapai. Flashback off
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN