Sakit

1046 Kata
Pada malam dini hari. Gagah terbangun. Dia menatap langit kamar. Kepalanya terasa berat dan juga penting. Pengheliatannya pun buram. Namun, dia tetap berusaha untuk bangun. Sekuat tenaga akhirnya bisa terduduk. Karena merasa perlu minum obat. Sebelum keluar dari kamar, dia mencoba untuk minum air mineral dulu, yang sudah di siapkan sebelum dia tidur. Karena biasanya, pada saat bangun. Langsung minum satu gas air mineral. Setelah dirasa cukup mendingan, dari yang tadi. Akhirnya dia bangun, untuk mencari obat. Dia memilih mengambilnya sendiri, karena takut jika ibunya sudah tertidur. Ibunya biasanya, selalu menaruh obat di dapur. Dekat dengan kulkas, agar mudah di jangkau, dan diingat. Meskipun dunia terasa berputar, dia tetap berjalan dengan memegang beberapa alat seperti pintu, kemudian tembok, sebagai pegangan supaya tidak jatuh. Namun, semakin melangkah, bertambah sakit kepalanya. Badannya pun terutawa lutut seolah tidak kuat menahan berat badannya. Sudah hampir sampai, tapi badannya malah terjatuh, karena sudah tidak kuat lagi berjalan. Brughh Beruntung, bukan kelapa duluan. Sehingga tidak menimbulkan cedera yang cukup serius. Beberapa saat masih bisa sadar, tapi matanya kemudian tertutup. Dia merasa gelap dan sulit menemukan cahaya. Suara sesuatu jatuh pun terdengar sampai ke ruangan wanita itu. Malam ini, dia belum tidur. Karena harus menyelesaikan beberapa pekerjaan. Jika sudah memasuki waktu-waktu perayaan hari besar. Biasanya memang selalu seperti ini. Banyak bahan yang harus dijahit. Dia segera bangun, mencari sumber suara yang terdengar dari arah ruang tengah. Begitu sampai, betapa terkejutnya. Saat melihat sang anak sedang terkapar lemah di lantai. Dengan kondisi tidak sadarkan diri. "Gagah!" Teriaknya sekencang mungkin sembari berlari ke arah pemuda itu. Berharap anaknya segera bangun. "Kamu gak mabok kan Gagah?" tanyanya pada sang anak yang belum juga bangun. Dia bukan berpikir negatif, tapi anaknya sedang mengalami masa sulitnya. Pertama, dia mencoba untuk tidak panik, dengan mengatur nafasnya. Kemudian, mengecek suhu tubuh secara manual, lalu mencoba mengguncangkan badan putranya. Seandainya dia masih muda, dan anaknya masih sekecil dulu. Sudah pasti langsung dia pindahkan ke kasur. Sayang sekali, saat ini bahkan badannya 2 kali lipat dari sang anak. Badannya yang sudah renta itu, tidak akan kuat. Setelah beberapa kali guncangan yang cukup keras. Akhirnya, lelaki itu mulai tersadar kembali. Dan orang yang pertama kali dia lihat adalah ibunya yang sedang menatap dengan penuh rasa khawatir. Betapa kagetnya dia, ketika sang anak membuka matanya. "Kamu tunggu di sini, ibu ambilkan air hangat dulu ya." Wanita itu langsung lari ke dapur, dan menuangkan air termos ke dalam secangkir gelas berukuran sedang. Biasa di gunakan untuk minum air es. "Duduk dulu bisa gak?" Tanyanya. Begitu sampai di hadapan sang putra. Gagah hanya bisa menggelengkan kepalanya. Karena dia memang benar-benar tidak kuat untuk bangun. Jika bukan karena kasihan melihat ibunya panik, dia masih betah tiduran di sini. Biarkan saja seperti ini sampai pagi. "Terus gimana? Ibu gak kuat ngangkat Kamu. Mau minta tolong juga sudah malam." Keluhnya, karena sedari tadi dia ingin sekali memindahkan putranya. "Aku tidur di sini aja Bu," ujarnya sangat pelan dan juga lembut. Ibunya berpikir sejenak, lalu dia bangun tanpa memberitahukan tujuannya. Sementara Gagah sedang menghemat tenaga. Dia diam dan beberapakali mencoba memejamkan matanya. Selang beberapa saat. Ibunya kembali, sembari membawa kasur lantai dan juga bantal guling. Benar-benar ibu siaga yang selalu tahu apa yang sedang dibutuhkan. "Kamu geser dulu sebentar," ujarnya setelah mengeluarkan kasur tepat di samping sang anak. "Lemes Bu," ujarnya merengek seperti anak kecil. "Geser! Jangan manja. Baru segini saja lemah, bersyukur masih punya badan lengkap." Dia tidak suka anaknya terlihat manja. Jika sudah kena omel seperti ini, dia bisa apa? Selain menuruti ucapan ibunya. Gagah menggulingkan badannya ke arah kasur lantai yang sudah digelar. "Mau ke dokter?" Tanya wanita paruh baya itu, setelah sang anak mendapatkan posisi nyaman di atas kasur.. "Enggak perlu Bu. Aku cuma lemes aja." "Cuma kok sampe pingsan. Jangan membuat orang khawatir. Kamu pasti melewatkan jam makan malam?" Gagah kembali mengingat, ternyata benar. Setelah pulang, dia langsung mandi, kemudian tidur. Tidak perduli dengan rasa lapar. Karena sudah terlalu lelah. Dia merasa rasa laparnya akan hilang, seiring dengannya yang tidur. "Iya Bu, maaf." Dia menyesal, karena kecerobohannya. Membuat dirinya sakit, dan juga ibunya khawatir. "Ya sudah. Tunggu, ibu ambilkan makan dan juga obat." Gagah tidak memiliki penyakit serius. Dia hanya manusia normal jika kelelahan pasti akan merasa sakit, apalagi tidak makan setelah aktivasi yang berat. "Lain kali, kalau gak mau makan. Bilang saja, biar ibu gak perlu masak." Meskipun nada bicaranya sangat biasa, tapi dia paham. Ini adalah kode untuknya. Agar tidak boleh melewatkan makan. "Bukan gitu Bu, tadi kelelahan. Jadi, pengennya langsung tidur." "Hmmm. Ya sudah, ini makan dulu." "Susah bu, lemas." Ibunya menumpuk bantal agar sang anak masih tetap bisa makan meskipun harus tiduran. Luar biasa kreatif, kasih sayang ibu untuk anaknya memang tidak perlu diragukan lagi. Dengan telaten wanita itu menyuapi Gagah. Menunggunya mengunyah yang memakan waktu. Padahal, dia juga ada pekerjaan. "Ibu kok belum tidur?" "Kalau ibu tidur, yang nyiapin kamu siapa?" Pertanyaan yang dijawab dengan pertanyaan. "Maksudnya, bisa tahu aku pingsan ibu masih terjaga? Kenapa?" "Masih banyak kerjaan. Jahitannya ada yang mau diambil besok." Gagah semakin merasa bersalah, seandainya dia sudah berkerja. Tidak akan dia biarkan ibunya harus bersusah payah bekerja hingga larut seperti ini. Semua karena keegoisannya. Seandainya dia tidak memaksakan diri, mungkin tidak akan mengganggu waktu ibunya yang bekerja. "Sudah kenyang Bu." Dia sengaja mengatakan itu, agar ibunya bisa melanjutkan pekerjaan. Bukan jahat, tapi jika dikerjakan dari sekarang, ibunya bisa istirahat lebih cepat. Karena jika dia meminta ibunya berhenti. Pastinya, itu tidak mungkin bisa terjadi. "Tiga suap lagi." "Biar aku saja. " "Tadi katanya lemas. Kenapa? Kamu gak mau ibu urusin?" Anak selalu paling tidak bisa menjawab pertanyaan seperti ini. "Ya sudah, terserah ibu saja." Wanita paruh baya itu tersenyum tipis. Kemudian, dia memberikan obat untuk anaknya. "Istirahatlah. Supaya bisa sembuh lebih cepat." "Terima kasih Bu." Ibunya mengangguk, kemudian berdiri membawa piring dan juga gelas. Gagah pikir, ibunya akan langsung bekerja ternyata kembali membawa air. Kemungkinana air hangat. "Ini takut haus. Kalau ada apa-apa teriak aja. Ibu kerja dulu. Kamu mau di kompres?" "Enggak perlu Bu. Kan sudah minum obat, nanti juga panasnya turun." "Ya sudah, ibu tinggal dulu." Ibunya pergi, dan Gagah mencoba memejamkan matanya. Ternyata memang sesulit ini untuk bisa menjadi kuat. Rasanya ingin sekali langsung menyerah. Namun, dia sudah niat. Tak terasa, karena efek obat. Dia pun memejamkan mata dan langsung tertidur
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN