Gagah bangun dari tidur yang cukup nyaman. Setelah minum obat, dia bisa tidur hingga pagi dan sekarang badannya sudah tidak sakit seperti sebelumnya. Dia cukup merasa lebih sehat.
"Gimana keadaan Kamu?" Tanya ibunya yang duduk di samping kasur, dengan badan bersender di dinding.
"Ibu, ngagetin aja."
"Sudah baikan?" Tanya ibunya.
"Sudah Bu, jauh lebih baik dibandingkan semalam."
"Ya sudah. Mandi sana, ibadah."
"Iya, Bu."
Gagah pun bangun dan melaksanakan apa yang diminta oleh ibunya.
Setelah selesai, dia kembali mencari keberadaan ibunya. Ternyata wanita paruh baya itu sedang ada di dapur. Sepertinya hendak masak sup. Karena dilihat dari bahan-bahannya.
"Bu, hari ini Aku gak kuliah dulu ya?" Dia bukan membuat suatu permintaan, tapi pertanyaan. Karena jika ibunya bilang tidak artinya itu final. Dia tidak boleh melawan.
"Memangnya, badanmu masih sakit?"
"Sudah lebih baik dari semalam, tapi pegal-pegalnya masih sangat terasa," ujarnya sembari merentangkan tangan, sehingga menghasilka. Bunyi-bunyi otot yang terasa linu oleh orang lain, tapi sebenarnya ini sangat enak. Badan terasa ringan jika sudah ada bunyi seperti itu.
"Kuliah saja. Dia sana juga kamu diam saja. Jangan rapat dulu. Nanti uang jajannya ibu tambah."
"Aku gak apa-apa kok Bu, meskipun uang jajan tidak ditambah. Karena yang kemarin juga masih utuh."
"Oh."
Ibunya menjawab dengan kata-kata yang sangat pendek. Membuatnya sadar akan sesuatu.
"Eh, maksudnya bukan gitu," jawabnya sembari menggaruk tengkuk yang tidak gatal.
"Sudah. Lebih baik segera berangkat. Kamu ada kuliah pagi hari ini."
"Loh, ibu tahu dari mana."
"Kertas kecil warna hijau neon yang kamu tempelkan."
Gagah tersenyum, lalu dia pergi siap-siap untuk berangkat ke kampus.
Sesampainya di kampus. Suasana masih belum berubah. Dia sudah tidak berani ke jalan utama. Pasti selalu lewat samping dan muter. Meskipun jauh, tetap dijalani. Jika ada alat yang bisa memindahkannya langsung ke kelas. Maka dia akan sangat berterima kasih sekali. Setidaknya orang tidak perlu melihatnya.
Mereka masih mendiaminya, bahkan ada yang terang-terangan mengejeknya. Menghina fisik dan juga membuat sakit hati.
"Badan doang tinggi, tangannya letoy," ejek mereka. Dia tidak mau mengurusi hal bully seperti ini. Terus berjalan tanpa memperdulikan tahapan-tahapan orang sekitar. Dalam kamus hidupnya, dia berpikir bahwa orang-orang itu pasti akan lelah dengan sendirinya. Tidak mungkin, dia akan jadi bahan perbincangan di setiap hari.
Brugh
Dia tidak sengaja menubruk badan seseorang. Lebih tepatnya, mereka berdua salah. Namun, Gagah yang tersalahkan.
"Sorry gak sengaja," ujarnya dengan tulus. Dalam kondisi seperti ini. Dia benar-benar tidak ingin punya masalah dengan orang lain. Jika memang dia perlukan dia akan mengaku salah, agar semua masalah selesai.
"Jangan sok penguasa. Lo di sini udah bukan apa-apa dan siapa-siapa lagi. Dalam beberapa waktu lagi juga lo akan diturunkan dari jabatan."
Gagah diam sebentar, dia tidak mengerti. Kenapa mereka semua selalu membawa jabatannya ke dalam setiap permasalahan, bahkan padahal tidak ada hubungannya sama sekali.
"Maaf," ujarnya. Dia masih positif thinking. Mungkin lelaki itu tidak dengan saat dia mengatakan maaf dalam bahasa Inggris.
"Pencitraan terus. Lo sekarang udah gak bisa nutupin. Jati diri. Semua juga tahu, Lo lemah dan hanya bergantung pada jabatan sebagai alat menutupi segala kekurangan."
"Lo boleh benci Gue. Gak masalah, tapi tolong jangan bawa-bawa jabatan. Karena Lo gak tahu apa yang Gue kerjakan untuk organisasi itu dan untuk kampus kita."
"Ya, tapi semuanya hancur karena ternyata ketua kita lemah."
"Susah, kalau ngomong sama orang yang otaknya cuma berantem. Lo pikir, dengan kayak gini bisa jatuhin gue? In your dream. Lo akan menyesal."
Gagah langsung pergi dari situ, dia tahu bahwa lelaki itu hanya memancingnya saja. Sesampainya di kelas dia dibuat bingung karena teman-temannya justru keluar.
Dia langsung menahan bahu seseorang temannya yang hendak keluar.
"Kenapa pada keluar?"
Sungguh hatinya sudah tidak karuan, dia merasa tidak akan kuat jika harus menghadapi ini semua. Seandainya ada orang yang bisa mengerti keadaannya, mungkin dia akan sangat bahagia dan bisa melewati ini semua. Namun sayangnya tidak ada satupun dari mereka yang simpati padanya terutama di kelas ini. Karena mereka menganggap bahwa dia sudah mencemarkan nama baik kelas ini.
Sungguh dia juga jadi merasa bersalah, jika bisa keluar dari kelas ini mungkin sudah dilakukan. Namun sayangnya dia sudah tidak bisa untuk pindah kelas.
"Dosen gak jadi masuk, hari ini kan satu mata pelajaran doang jadi kita semua memutuskan untuk pulang."
"Iya, terima kasih infonya."
Pemuda itu pun keluar, disusul oleh gagah yang berdiri dan meninggalkan kelas itu. Jika tahu bahwa dosen tidak akan datang, dia pasti akan rebahan saja di rumah.
Ini dia seperti anak hilang. Tidak tahu harus pergi ke mana. Karena tugasnya pun sudah selesai semua. Mau pulang takut ibunya berpikir dia bolos. Akhirnya dia memutuskan untuk makan di kantin kampus. Meskipun ada orang, tapi tidak banyak. Jadi masih aman.
"Gagah!"
Seseorang yang dikenalnya memanggil dia dengan suara yang kencang. Gagah diam, dan mencoba untuk balik kanan saja. Nama-namanya terus dipanggil lagi Dan lagi sehingga dia tidak bisa berkutik.
"Kenapa Lo?" Tanya pemuda yang bernama Angkasa.
"Enggak cuma lagi mikir aja, enaknya makan apa."
"Bukan itu, maksudnya kenapa menghindar. Lo ketahuan dan dimarahin ibu?"
Gagah menggerakkan kepalanya ke kanan dan kiri.
"Terus?"
"Semalem langsung sakit."
"Hahaha."
Tawa angkasa mengema di kantin tersebut. Sehingga beberapa orang yang mendengarnya langsung melihat ke sumber suara. Tanpa merasa bersalah ataupun malu lelaki itu langsung melanjutkan obrolannya. Berbeda dengan Gagah yang merasa malu, bisa-bisanya dia punya teman yang tingkahnya sangat aneh begini.
"Lo gak ada simpatinya sama sekali."
"Gimana mau simpati, Lo cuma joging, dan langsung sakit hahaha."
Angkasa tidak bisa berhenti tertawa. Dia merasa hal tersebut cukup lucu. Bahkan dari 50 itu, Gagah hanya mampu setengahnya dan 10 kali untuk hukuman karena dia minum 2 kali di bukan jam istirahat.
"Ketawa aja terus. Selagi gak perlu bayar," ujarnya ketus.
"Yaudah, supaya gak diketawain lagi hari ini 100 ya?"
"Ogah. Gue mau off latihan selamanya."
"Bukannya tadi pagi, Lo masih kena bully ya?"
"Itu bukan urusan Lo. Tenang aja, gue cuma perlu diem dan masalah selesai."
"Kalau di jalan tiba-tiba Lo di serang?"
"Lari lah."
"Kayak lari joging? Mana bisa lolos. Udahlah, Lo gak usah gak mau gitu. Gak ada pilihan lain bro."
"Harus banget?"
"Banget enggak, tapi pikirin baik-baik. Masa iya Gue harus bujukin Lo terus. Sementara Lo aja labil. Lagian apa untungnya buta Gue?"
"Gue mau latihan, tapi gak hari ini."
"Kalau sakit itu hal yang wajar, karena Lo kan udah jarang banget olahraga. Kalau di udahin jangan. Lakuin aja, biar sampai tubuh berima. Yang ringan-ringan aja dulu."
"Ngapain?"
"Ngangkat barbel 1 kg."
Gagah merasa mengangkat barbel bukan hal yang sulit. Apalagi hanya 1 kg.
"Oke deal."