Curhat

1081 Kata
Ternyata apa yang dibayangkan tidak bisa semudah itu ketika dilakukan. Baru 15 kali angkat, dia sudah kelelahan. Mengeluh sakit tangannya. Mungkin karena tenaganya belum sepenuhnya pulih. "Latihannya besok aja," ujar Gagah, dia menaruh barbel yang baru saja dipegang belum ada 5 menit. "Lemah," cibir Angkasa. Jelas, lelaki itu mengatakan hal tersebut. Karena melihat faktanya langsung. "Kalau masuk rumah sakit sanggup biayain emang?" Tanyanya sembari memasang wajah sombong. "Lah ngaco. Emang Lo mau masuk rumah sakit, Gue sih gak masalah kalau Lo mau dibiayain." Malah ditantang balik oleh Angkasa. "Ogah." Pria itu langsung mengedikkan bahunya. "Nih minum dulu." Gagah menerima botol air mineral. Dia langsung meminumnya, hingga hampir setengah botol. "Lo dulu ikut pelatihan apa sih?" Tanya Gagah iseng. "Banyak, pokonya latihan fisik Gue suka. Bela diri dan baskey Gue suka banget." "Biar apa?" Tanya Gagah, dia heran dengan motivasi pria itu yang sangat berambisi sepertinya. "Kuat." Jawaban yang sangat singkat, padat dan jelas. Sampai membuatnya hanya geleng-geleng kepala saja. "Badan Lo kayak polisi, kenapa gak ikut pelatihan aja biar bisa masuk sana? Kayaknya bakal kepilih sih." Ide yang sangat briliant, dia juga tidak asal bicara. Karena dari segi wawasan lelaki itu juga cukup memahami banyak hal. "Enggak dulu deh. Mau pokus kuliah dulu. Biar dapetin gelar. Baru deh, cari pasangan. Nikah." "Cita-cita Lo mau jadi apa emang?" Tanya Gagah. "Orang yang berguna bagi Nusa dan bangsa." Dengan percaya diri dan juga bangga. "Enggak salah sebenarnya. Tapi, Gue jujur aja kesel dengernya." "Lo mau jadi apa emang?" Tanya balik Angkasa pada pemuda di sampingnya. "Gue? Gak tahu..pokonya, habis lulus mau langsung kerja. Cari uang yang banyak supaya ibu gak perlu kerja keras lagi." Angkat sederhana dan terlihat mudah untuk dijalani, padahal tidak segampang itu. "Sorry sebelumnya, ayah Lo udah gak ada emang?" Angkasa seolah lupa dengan percakapan sebelumnya. Dia malah bertanya topik yang sangat sensitif. "Enggak tahu, gak ada satupun dari mereka yang kasih tahu Gue soal beliau." Dia malah curhat. Karena kenyatannya begitu. Dia tidak tahu, di mana pria yang seharusnya menjaga dia dan juga ibunya itu. "Lo udah pernah ketemu tapi?" Tanyanya, karena merasa tertarik dengan ucapan pemuda itu. "Kata ibu sih Gue malah pernah di gendong segala, tapi udah lupa rasanya gimana." "Kok bisa?" Tanyanya merasa heran. Dia seperti orang yang sangat kepo terhadap hal yang terjadi pada temannya itu. Padahal, mereka baru bertemu. "Orang Gue masih bayi banget." Entah Gagah ingin melucu atau emang dia terlalu polos jujurnya. "Bisa aja Lo." Angkasa berpikir itu hanya sebuah guaraun yang diucapkan oleh Gagah. "Serius. Gue gak tahu. Gimana dia, mukanya dia. Bahkan namanya juga aja gak tahu." Gagah berusaha meyakinkan, bahwa yang dia ceritakan memang benar adanya. Tanpa rekayasa sedikitpun. "Akta Lo? Pasti di sana ada dong namanya?" Tanya Angkasa. Pria itu sampai mengerutkan alis. "Susah jelasinnya. Sudah, jangan bahas tentang hidup Gue yang gak menarik itu. Mending Lo cerita tentang diri Lo aja. Kayaknya, hidup Lo jauh lebih seru deh." Gagah tidak suka, jika membahas tentang dirinya dan keluarga. Karena menurutnya tidak ada hal yang bisa diceritakan selain kesedihan. Tinggal di kota yang sebesar ini, tapi tidak memiliki siapapun, kecuali ibunya. "Gue normal-normal aja kok. Seperti kebanyakan orang pada umumnya. Justru yang menarik itu Lo. Masa iya, Lo gak tahu nama bapak sendiri. Berarti, Lo gak kenal sama keluarga bapak Lo juga." "Apapun tentang keluarga, Gue cuma punya Ibu." Menyedihkan, tapi dia berusaha tetap tersenyum di akhir kalimat. Agar terlihat seperti orang yang kuat. Bukan orang yang kekurangan kasih sayang. Karena selama ini, dia berhasil membangun image, bahwa dirinya baik-baik saja bahkan cenderung bahagia, sehingga membuat orang lain iri dengan pencapaiannya. Mereka tidak tahu bagaimana dia melewati itu semua dengan air mata dan juga luka. Motivasinya hanyalah ibunya. Dia ingin menjadi orang sukses dan bisa membahagiakan wanita yang membesarkannya itu. Meskipun, tidak dapat dipungkiri. Tidak ada sanak keluarga yang lain, tidak masalah. Namun tidak ada seorang Ayah. Membuatnya sangat terpukul dan merasa sangat minder dengan temannya yang lain. Mentalnya sangat diuji, menjadikannya pria yang ambisius dalam belajar. Dia ingin membuktikan bisa menjadi murid yang pintar secara akademik.. "Lo gak penasaran sama ayah Lo? Terus kalau yang lain tanya tentang ini Lo jawab apa?" Sering sekali, dia mendapatkan pertanyaan seperti ini. Dari orang-orang terdekatnya. Baik di sekolah dasar sampai tingkat mahasiswa seperti sekarang. Jawaban yang diberikan jelas berbeda-beda. "Penasaran. Tapi, gak tahu harus gimana lagi. Gak ada yang tahu, kecuali Ibu. Namun, beliau gak mau ngasih tahu. Sementara sanak saudara juga kan gak tahu." "Lo hebat juga ya, kuat ngehadapin itu semua." "Enggak kuat, Gue terpaksa sampai terbiasa. Hingga sekarang, Gue masih mikir kok bisa ngelewatin ini semua. Rasanya gak adil, tapi karena udah berlalu, ya mau gimana lagi. Terima nasib doang." Dia bersedih, tapi raut wajahnya biasa saja. Dia tidak tahu harus berekspresi bagaimana. Karena semua sudah terjadi dan terlewatkan. "Kalau misalnya, ada kesempatan. Lo untuk ketemu dia, Lo mau?" "Lo kira sopan nanya gitu sama anak yang dari kecil ditinggal ayahnya? Jawabannya ya mau banget lah." Angkasa sudah panik, dia pikir Gagah marah, karena pertanyaannya. Dia juga merasa sudah keterlaluan. Namun beruntung ternyata pemuda itu tidak marah. "Semoga, kelak Lo akan dapat kesempatan itu." Doa adalah hal yang paling terbaik yang bisa dilakukan. "Gue sering doa, bahkan hampir tiap hari. Tapi belum waktunya. Entah sampai kapan, tahu beliau hidup aja udah bersyukur banget." Hal sederhana untuk sebagian orang yang bisa bertemu dengan orang tuanya kapan saja, namun harapkan ini begitu besar untuk orang-orang yang ditinggalkan terlebih dahulu oleh orang tuanya. Padahal hanya untuk sekedar bertemu saja. "Apa hal pertama yang ingin Lo sampaikan ke beliau?" Angkasa Masih betah bertanya-tanya pada pria itu. Dia merasa kasihan dengan apa yang sudah terjadi. "Apa ya, enggak tahu. Dulu banget nih ya, pernah kepikiran. Kalau sampai ketemu hal pertama yang dilakuin itu mau meluk, mau bilang sayang banget. Meskipun Gue sendiri gak dapat kasih sayang itu. Mau bilang, jangan pergi lagi udah gitu aja." "Lalu sekarang?" Karena ada kata dulu dalam kalimat yang diucapkan, Angkasa berpikir ada yang berubah seiring berjalannya waktu. "Dari rasa sayang banget, kangen berat. Sampai ada di tahap nyerah sama keadaan. Gue udah nggak bisa merencanakan apa yang bisa gue lakuin, ketika ketemu dia ya gue juga nggak tahu harus bagaimana sekarang. Kayaknya hal itu juga nggak mungkin terjadi. Merasa percuma aja, terlalu banyak menghayal juga nggak baik buat mental." Dari sini, Angkasa bisa melihat betapa sakit hatinya pemuda yang masih belum sepenuhnya dewasa itu. "Lo benci dia? Setelah semua yang dilakukan?" "Enggak tahu, yang jelas. Ibu benci Ayah."
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN