Rapat

1060 Kata
"Benci ayah?" tanya angkasa mengulang pertanyaan sebelumnya. Tentang ucapan Gagah. Dia benar-benar tertarik dengan ucapan lelaki itu. "Sudah. Lo gak perlu tahu. Ini urusan keluarga Gue." Gagah langsung menghentikan percakapan tentang keluarganya. Dia takut terlalu banyak bercerita dan membuat Angkasa bertanya lebih dalam tentang keluarganya yang selama ini dia tutupi rapat. "Kalau mau berbagi gak usah sungkan. Gue gak masalah kok. Semisalnya Lo mau cerita." "Enggak. Gue bilang gak ada yang perlu diceritain. Bahas yang lain juga bisa. Gak harus keluarga." Lelaki itu benar-benar merasa sensitif sekarang. "Ya sudah. Sekarang mau pulang atau gimana?" Karena melihat temannya sudah kehilangan mood, lelaki itu mengakhiri pembahasan. "Pulang aja. Males di sini juga gak latihan. Mending ngerjain tugas di rumah." "Hidup Lo pikirannya tugas melulu. Hati-hati botak sebelum waktunya." "Gak ada ceritanya begitu. Kalau orang gak ngerjain tugas, itu mah males namanya." "Lo yang kerajinan. Giliran ngankat barbel aja. Langsung nangis." Ledeknya, sembari memandangnya dengan tatapan meremehkan. "Gue gak nangis ya. Cuma emang lagi sakit aja." Gagah tidak terima dibilang cengeng. Di juga anak yang jarang menangis. Kecuali, masalahnya memang berat. Dia baru berani nangis. "Ya udah. Nanti pas Lo udah sembuh. Gue mau lihat, kuat berapa lama." "Siapa juga yang bilang bakal lama. Gue balik dulu." Gagah berdiri, dia malas jika lama-lama dekat dengan Angkasa. Lelaki itu kerap kali senang membuat emosinya naik. Padahal, dia tidak pernah membuat masalah sebelumnya. "Lo nebeng aja sama Gue." "Enggak lah, mau naik ojek online aja." "Ribet Lo. Udah naik sini." Dengan terpaksa. Gagah akhirnya memilih untuk naik motor bersama dengan Angkasa. Melewati jalanan yang lumayan macet, karena sebentar lagi jam prime time. "Makasih." "Bayar orang juga. Makasih gak bakal bikin bensin gue penuh." Angkasa hanya bercanda. Namun Gagah menganggapnya serius. Dia mengeluarkan selembar uang berwarna hijau. Lalu diberikan pada Angkasa. Angkasa tersenyum. Dia rasa, akan sangat berat baginya bisa mendidik Gagah supaya jadi orang yang lebih peka terhadap ucapan orang lain. "Lah, ini." "Lo pikir Gue serius. Udah lah, Gue cabut." Pria itu pergi, dan Gagah hanya bisa mengedikkan bahunya saja. Dia merasa heran dengan tingkah laku teman barunya yang dianggapnya sedikit aneh. Dia akan membiasakan diri. Dia pun masuk ke dalam rumah. "Assalamualaikum." "Waalaikumsalam, gimana keadaan Kamu?" "Sudah lebih baik Bu. Aku ke kamar dulu ya." Hari ini, dia sedang ingin sendirian saja. Dia juga tidak mau berdebat dengan ibunya. Rasanya hanya ingin istirahat yang banyak. Sudah lama sekali, baru kali ini ada orang yang menanyakan tentang ayahnya lagi. Ini seperti sebuah luka yang terkena cuka. Setelah membersihkan badan, dia langsung rebahan. Saat hendak menutup mata. Pintu kamarnya berbunyi. Karena ada yang mengetuknya. "Makan dulu Nak." "Masih kenyang Bu." "Makan, Kamu harus minum obat." "Nanti saja Bu." "Ya sudah." Jangan harap. Ibunya akan merayu atau membujuknya. Gagah sudah tahu. Dia juga tidak berharap. Malah bersyukur, karena bisa langsung tidur. Kepalanya masih sangat pusing, dia seperti orang yang hilang harapan sebenarnya. Tapi, orang lain tidak tahu. Jika dia sedang dalam fase yang sulit. Hidupnya seperti tidak tahu mau di bawa ke mana. Meskipun baru beberapa waktu. Namun, sangat terasa perubahannya. Dia seperti kehilangan kehidupannya. Organisasi pun dia sudah mulai malas. Orang-orang benar-benar menjauhinya. Mereka sama-sama demo untuk tidak masuk rapat. Padahal. Dia ingin sekali menyelesaikan masalah bersama mereka. Sampai sekarang belum ada titik terang. Sementara dengan Dino. Dia belum bertemu lagi, setelah kejadian itu. Lelaki itu seperti hilang. Dia juga tidak mencari, tapi sangat terasa bahwa lelaki itu memang tidak terlihat. Karena biasanya akan selalu mencari cara agar bisa membuatnya marah dan sering sekali menjahilinya. Sore ini, dia meminta teman-teman organisasi untuk berkumpul. Karena ada yang harus didiskusikan. Dia tidak mau menunggu lebih lama lagi, sehingga membuat masalah ini berlarut-larut. Padahal masih ada beberpaa program yang harus dikerjakan bersama-sama. Dia sudah mengirimkan broadcast ke grup. Biasanya. Mereka berkumpul sore hari, karena jika siang hari anggota masih beraktivitas. "Mau ke mana lagi?" Tanya ibunya saat melihat anaknya sudah rapih dan juga wangi. Padahal, satu jam lalu dia menengok ke kamar. Gagah masih terlelap. "Kumpul organisasi Bu." "Sudah sore, kebiasaan. Makan saja belum, sudah mau berangkat." Ibunya selalu tidak suka, jika dia berhubungan dengan organisasinya. Karena itu harus berhubungan dengan orang banyak, dan juga terlalu menjadi tren senter. "Ada masalah Bu, harus segera diselesaikan." "Makan dulu." Perintah mutlak ini, mau tidak mau dia turuti. Karena bahaya, jika sampai dia pergi tanpa melaksanakan perintah. Belum lagi, wajah ibunya seperti orang menahan marah, membuatnya semakin tidak tega. "Iya Bu," ujarnya. Lalu pergi ke dapur untuk mengambil makanan. Dia lupa, tadi siang juga belum makan. "Mau sampai kapan kamu mengurusi organisasi? Ibu bukan tidak marah sebenarnya. Tapi, kalau bisa segera lepas. Akhir-akhir ini ibu merasa kalau Kamu mulai terancam." "Mulai terancam gimana Bu?" "Kamu juga merasakan sendiri sebenarnya. Tanpa harus ibu beritahu. Berhenti menjadi pusat perhatian, Kamu harus hidup normal saja seperti yang lain." "Aku tidak punya banyak kegiatan. Hanya ada satu itu saja. Jadi, tidak mungkin juga mundur tiba-tiba. Tanggung jawabnya pun cukup besar." Ibunya langsung diam. Akhir-akhir ini dia sebenarnya merasa khawatir. Anaknya banyak berubah. Biasanya, Gagah tidak seperti ini. Tutur katanyapun lemah lembut padanya. Namun, sekarang dia lebih sering marah dan melawan ucapan. Banyak kejadian aneh juga yang terjadi. Seperti dia yang tiba-tiba sakit, pulang seperti orang yang kelelahan. Seperti orang yang melakukan aktivitas yang berat. Namun, selama tidak ada yang melewati batas. Dia akan tetap membiarkannya terlebih dahulu. "Lakukan saja sesukamu. Ibu mau lanjut bekerja. Ingat, jangan pernah membawa-bawa nama ibu jika kamu membuat masalah lagi. Ternyata sabar tidak cukup untuk mendidikmu jadi anak yang mengerti." "Iya Bu." Percapakan selesai. Di ruangan ini hanya ada suara dentingan sendok pada piring keramik berwarna putih. Setelahnya, Gagah mencuci piring sendiri, lalu berangkat. Sesampainya di tempat biasa mereka berkumpul. Gagah seperti mendapatkan kejutan. Karena ternyata berbeda dari kemarin. Mereka kini benar-benar datang. Ada rasa bahagia dalam dirinya. "Selamat sore teman-teman. Maaf terlambat." Catat ya, dia hanya telat 5 menit saja. "Sore." Mereka masuk bersama-sama ke dalam ruangan. Duduk di kursi masing-masing. "Apakah sudah datang semua?" "Belum." "Ya sudah, kita tunggu 10 menit lagi. Kalian kalau mau ngopi, atau makan silahkan." Namun, mereka tidak ada yang menjawab dan milih bungkam. Hingga datang seseorang dari arah pintu. "Selamat sore semuanya. Maaf saya terlambat." "Sore!" Yang menjawab lebih banyak, dibanding saat dia memberikan sambutan. Namun, Gagah tetap sabar. Dia tidak mau terpancing emosi.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN