"Lelah?"
"Enggak. Hanya butuh istirahat saja sebentar. Minum dulu, haus nih."
"Tadi semangat banget, baru juga satu jam udah minta minum."
"Kan bilang tadi, cuma minta minum doang. Lo sih enak, tinggal nyuruh-nyuruh."
Angkasa tersenyum tipis. Dia memang hanya memerintah saja dari tadi. Dia benar-benar mengawasi Gagah agar dia berlatih dengan serius.
Dibanding dengan semalam, hari ini sepertinya Gagah benar-benar serius. Angkasa tidak lelah memberikan semangat agr dia mau berusaha lebih giat lagi.
"Lima menit dari sekarang."
"Sebentar banget," keluhnya. Namun, dia tetap melakukannya. Dia tetap melakukannya.
"Gimana? Seru kan?"
"Kaga. Pusing iya, pertanyaan Gue. Kenapa harus semua sih. Gue kan cuma butuh buat jaga-jaga doang, gak perlu panahan segala deh kayaknya."
"Lo pasti akan sangat berterima kasih sama Gue suatu saat nanti, karena udah ngajarin ini semua."
"Gue masih tetep gak ngerti, coba Lo kasih pemahaman. Kenapa harus ngelakuin itu?"
"Siapa tahu nanti Lo diculik sama mafia. Hidup kan gak ada yang tahu."
"Ngarang aja Lo," ujarnya kesal.
"Udah, lebay amat. Tinggal latihan doang banyak omong. Waktu istirahat habis. Ayo matahari udah mulai keluar nih."
"Rese Lo."
Gagah bangun. Jam sudah menunjukan pukul 6 pagi. Matahari sudah mulai keliatan.
"Lo tahu tempat ini dari mana sih, kenapa lengkap banget."
"Penting Lo buat tahu?"
"Salah Mulu perasaan."
Gagah berjalan dengan malas, karena jaraknya lumayan antara satu tempat ke tempat lain. Dan tidak ada alat transportasi untuk mengangkut mereka. Jadi, dia bisa
"Ayo!"
Gagah mau tidak mau berlari. Karena Angkasa sudah mulai jauh dari tempatnya berdiri.
Sesampainya di tempat mereka untuk latihan tembak. Angkasa mengambilkan alat untuk mereka latihan.
"Harus banget?" Tanyanya yang masih belum sepenuh hati. Jika masih boleh untuk berhenti. Dia memilih untuk tidak melakukannya. Asli, tangannya sudah gemetar. Bukannya menjawab, Angkasa malah mengagetkan Gagah.
Dor
"Udah, gitu doang. Gak sulit kan?" Tanyanya dengan santai.
Gagah yang sudah memegang senjata tajam itu malah menodongkan ke arah Angkasa.
"Gah, Lo gak lagi kesambet kan?" Tanyanya sedikit khawatir.
"Hahaha!"
Dia tertawa sangat kencang, tapi Angkasa tetap santai. Pria itu tetap terlihat tenang. Mencoba untuk menguasai keadaan.
"Nyebut Lo!" Teriak Angkasa.
"Apaan sih. Orang Gue cuma bercanda doang."
"Bercanda Lo gak lucu sumpah."
"Kaget kan Lo? Gimana? Akting Gue udah oke belum?"
"Udah, bisa kayaknya jadi pemeran pembantu. Bagian buat digebukin."
"Sialan!" Teriak Gagah kesal.
Angkasa mulai menjelaskan tata cara untuk latihan. Sebenarnya tempat ini jika siang di pakai latihan oleh banyak orang. Jadi, dia sengaja mengambil waktu pagi, supaya bisa mengajarkan dengan leluasa. Karena Gagah harus sampai bisa. Bila perlu, harus mahir.
Keringat dingin mulai bercucuran dari dahinya. Dia benar-benar tidak tahu lagi caranya berhenti, ternyata saat sudah mulai mengerti dan berhasil. Dia justru ketagihan.
Gagah berlatih dengan sangat serius. Angkasa sampai bangga melihat temannya cepat mengerti apa yang dia ajarkan.
Mereka berdua latihan sampai matahari benar-benar menyorot dan sudah sedikit panas. Banyak orang yang mulai berdatangan.
"Aduh!" Teriaknya sangat kencang. Angkasa saja sampai kaget, dan segera menghampiri Gagah.
"Kenapa?"
Pria itu langsung memperlihatkan luka yang ada pada tangannya yang tertusuk.
"Tunggu, Gue ambil obat dulu."
"Aman, lanjutin aja lah nanggung."
"Enggak. Kita udahan aja. Gue tahu Lo lelah. "
Angkasa mengajak Gagah untuk mengobati lukanya.
"Gimana? Seru kan?" Tanyanya, ketika dia mengobati luka temannya.
"Lumayan," jawab Gagah. Selain lelah, tangannya benar-benar sakit.
Awalnya biasa saja, tapi lama kelamaan jadi perih.
"Latihan itu gak bisa langsung bisa. Jadi, Lo harus sabar dan juga tekun. Gue gak akan lelah ngajarin Lo asalkan gak manja dan pengen cepet selesai terus."
"Hmm. Makasih, Lo udah perduli sama Gue." Dia merasa sangat beruntung. Sebelumnya, dia ada teman yang perduli padanya. Mereka hanya memanfaatkannua saja.
"Gak masalah, kita kan temen. Saling bantu."
Angkasa tidak menunjukan banyak ekpresi.
Gagah mengacungkan jempolnya tanda setuju.
"Cari sarapan dulu kali ya?"
"Boleh, deket sini ada yang jual bubur, rasanya juga oke."
"Yaudah. Ayo gas!"
Mereka pergi ke tempat makan yang dimaksud oleh Angkasa. Setelah memesannya, mereka duduk menunggu.
"Jadi, rencana selanjutnya apa?" tanya Gagah. Angkasa mulai bicara. Dia menjelaskan lagi rencana selanjutnya.
Gagah mengangguk paham, dia pun setuju dengan yang diperingahkan oleh temannya itu.
"Lo ngerti kan?"
"Iya, paham. Lo yakin, cara ini berhasil?"
"Mana kita tahu, kalau gak pernah dicoba."
"Gue takut Ibu marah. Karena ini gak pernah boleh Gue ketahui."
"Hidup Lo aneh banget deh, terus. Kalau mereka nanya nama bapak Lo gimana?"
"Gue gak jawab. Diem aja udah, mereka juga paham kalau Gue diem."
Pesananpun datang. Mereka makan bersama.
"Lo banyak pengalamannya ya?"
"Gue lebih tua dari Lo."
"Oh ya? Kita beda berapa tahun emang?"
"5 tahunan kali, gak tahu."
"Lo kelahiran Tahun berapa emang?"
"Kepo."
"Pelit aman."
"lagian Gue keliatan muda kan?"
"hmm. Mending lanjutin makan lah, daripada kenyang duluan gara-gara dengerin Lo ngomong."
Setelah itu, mereka pulang ke rumah. Karena perjalananya juga cukup memakan waktu. Tadi malam tidak begitu kerasa, karena tidak ada macet. Namun, sekarang rasanya cukup jauh.
"Assalamualaikum Bu," ujar Gagah. Begitu lelaki itu sampai di rumah.
"Waalaikumsalam. Kenapa lama sekal?"
"Jauh Bu ternyata di arah selatan."
"Lain kali, cari yang dekat saja. Ibu ada perlu sulit."
"Iya Bu. Maaf."
"Kalau mau makan, sudah ada di meja. Sudah dipisahkan,"
"Iya Bu, Gagah mau istirahat dulu."
"Iya. Ibu juga mau istirahat di kamar."
"Ibu kenapa?"
"Sedikit tidak enak badan."
"Kok bisa? Pasti kelelahan bekerja."
"Iya, hari ini ibu tidak menjahit dulu. Tolong kamu kirimkan pesanan mereka, nanti kalau mereka bayar. Langsung beliin ibu obat."
"Iya Bu."
Dia segera pergi ke kamarnya.
Setelah melakukan ritual bersih-bersih. Gagah mencari keberadaan ibunya. Dia mengambil beberapa pesanan yang sudah dipisahkan dan diberi alamat lengkapnya.
"Semuanya sudah benar Bu alamatnya?" tanya Gagah. Dia memperlihatkan barang yang hendak dikirim.
"Iya, sudah. Tolong ya, nanti kalau mereka tanya berapa harganya. Itu juga sudah ibu pisahkan kwitansinya."
"Baik Bu, mau pesan obat apa?"
"Parasetamol dulu aja."
"Baik Bu, Aku pergi dulu ya."
"Kamu ada ongkos?"
"Ada Bu," jawabnya. Kemudian dia keluar dari rumah.
Saat di perjalanan, dia kembali merasakan. Ada orang yang mengikutinya, tapi saat hendak dilihat. Orangnya tidak ada.
Dia mencoba untuk tidak perduli dan tetap pada tujuan awal. Dia segera naik bus. Membaur ke keramaian. Dia bukannya takut, hanya saja dia merasa hidupnya terusik akhir-akhir ini.
Sekilas, saat bus sudah jalan. Pria yang memakai pakaian serba hitam yang dirasanya mengikuti dia sedari tadi itu mengeluarkan kamera dan memotret bus yang ditumpanginya.
Gagah segera mengeluarkan handphonenya. Namun sayang sekali, tidak keburu untuk mendokumentasikan orang tersebut. Namun, dia mencoba mengingat-ingat ciri-ciri dari pria itu. Jika nanti bertemu lagi dia harus waspada.