Kabur

1154 Kata
Masih pagi sekali, dia bangun. Sekarang sudah siap untuk pergi. Belajalan dengan sangat pelan, agar tidak ketahuan ibunya. Sengaja, sepatunya dia jinjing agar tidak menimbulkan suara ketika berjalan. Dia sedikit lega, karena sudah sampai pintu utama. Namun, tidak ada tanda-tanda ibunya sudah bangun. Dia pun sangat pelan membuka pintunya. Karena saat membuka kuncian pintu, menimbulkan suara yang cukup nyaring. Dia terus berdoa, agar tidak kedengeran oleh Ibunya. Trek Krekk "Mau kemana Gagah, masih sangat pagi?" Tanya wanita paruh baya yang sedang berdiri di depan pintu kamarnya. "Eh Ibu, sudah bangun. Ini mau olahraga. Kebetulan, hari ini kan libur." Gagah langsung menampilkan senyum pasta gigi, dia tidak mau terlihat gugup padahal, hatinya berdebar. Dia takut tidak diijinkan keluar. Kasian Angkasa yang sudah menunggu dari tadi, di depan gang. "Aneh-aneh saja kelakuanmu. Masuk kamar sana. Nanti jam 6 baru Kamu olahraga, seperti tidak ada waktu lain saja." Nah kan, baru dipikirkan sudah kejadian. Ibunya tidak akan memberi ijin keluar di jam 3 subuh seperti ini. "Nanggung Bu, lagipula. Aku lagi semangat olahraga." "Sama siapa?" Tanya ibunya menelisik, anaknya pasti tidak mungkin pergi, jika tidak ada teman yang mensupportnya. "Ada temen, dia nungguin di GOR. Makanya, ini aku mau buru-buru ke sana. Kasian dia nunggunya takut kelamaan." "Kamu baru pulang loh tadi malam jam 10, sekarang sudah mau keluar lagi. Kalau sampai sakit lagi, Ibu gak mau urusin." "Tenang Bu, makanya olah raga juga, supaya badan kuat gak lemah dan sakit-sakitan." "Hanya olah raga saja kan?" Tanya ibunya menelisik. Dia sedikit tidak percaya. Jika sang anak hanya olahraga saja. Karena sebelumnya tidak pernah senjata ini. "Iya Bu, Aku kan sudah janji tidak akan membahayakan diriku dan juga tidak berlatih apapun." "Ibu tidak bilang kamu berlatih." "Jadi gimana, boleh gak Bu?" "Silahkan. Tapi, jangan pulang terlalu siang. Kamu butuh istirahat. Ibu juga mau minta tolong untuk mengirimkan paket pakaian pada customer." "Siap. Nanti kalau sudah selesai, Aku pulang." "Hati-hati di jalan. Naik apa ke sana?" "Ojol Bu, sudah dekat katanya." "Hmm." Gagah segera keluar, dia menghela nafas panjang, begitu bisa lolos dari ibunya. Dia berjalan dengan cepat, ke arah gang yang sudah ada Angkasanya di sana. "Lo mau ngasih Gue ke nyamuk ya? Parah banget, bisa-bisa DBD nih Gue." Angkasa kesal, dia sudah menunggu terlalu lama. Padahal, sebelumnya pemuda itu bilang, dia sudah keluar dari rumah. Artinya, hanya butuh tiga sampai 3 menit untuk sampai. Ini malah sampai 10 menit. "Ya maaf, soalnya Ibu bangun." "Hah? Terus gimana?" Tanyanya kaget. Tidak bisa dipungkiri dari wajahnya yang terlihat panik. "Aman, buktinya Gue ada di sini. Tadi sempet gak boleh sih. Tapi, beruntung bisa ngeles. Jadi tetap dibolehin." "Gak sia-sia Abang ajarin Kamu Dek." Dia terlihat sangat bangga. "Hoek!" Teriaknya sebagai jawaban. Dia tidak terima dengan ucapan Angkasa. Karena jelas lelaki itu tidak pernah mengajarkannya. "Yaudah, ayo kita pergi. Nanti keburu siang." "Emang jauh banget ya? Kenapa harus dini hari begini sih. Masih ngantuk parah padahal." "Berisik!" "Galak!" Mereka pun pergi, di perjalanan. Gagah menceritakan yang semalam terjadi, bagaimana ibunya terpancing. Dan semua yang diucapkan Angkasa itu benar. "Kok Lo bisa tahu sih, ciri-ciri bokap Gue?" "Gue? Enggaklah..itu cuma ngarang, kebetulan aja bener. Emang Gue hebat sih." "Asli, nadjis banget Gue. Bisa gak sih, serius dikit. Gue gak percaya, Lo cuma ngarang, masalahnya ekpresi ibu langsung ketakutan." "Ini baru permulaan Gah. Lo jangan cepet panikan dan menganggap ini udah selesai. Kita baru mulai, akan banyak hal yang terjadi kedepannya. Berlatihlah untuk biasa saja." "Iya, bakal Gue coba. Tapi, Gue tetep penasaran sama Lo. Kenapa kejadian ini kayak kebetulan semua atau emang sudah di setting." "Lo berprasangka buruk terus. Gue kan udah bilang, Gue gak kenal Lo, kita juga baru bertemu sekarang-sekarang kan? Kalau bukan Lo yang cerita. Mana mungkin tahu." "Jujur aja, rasanya ragu. Tapi gak mau mundur." "Ikuti kata hati aja. Gue simple. Lo yakin, kita maju. Kalau enggak kita mundur sekalian. Jangan setengah-setengah." "Enggak. Gue beneran mau nuntasin ini semua." "Ya sudah. Ikuti cara main Gue. Jangan kebanyakan tanya. Lo harus mempersiapkan diri." "Kalau semisalnya kita gak perlu latihan, apa boleh?" "Enggak. Lo harus latihan. Gak boleh sampai gagal. Gue kalau udah ngajarin atau ngasih ilmu gak suka setengah-setengah." "Yaudah iya." Tak lama, mereka akhirnya sampai. Ini seperti berada di wahana outbond. "Lo yakin, beneran di sini tempatnya?" "Ada masalah?" "Lo bukan lagi ospek Gue kan?" "Enggak. Emang harus begini. Lo harus bisa semuanya." "Gue nyerah." "Gak terima penolakan. Sekarang segera pemanasan. Kita mulai 20 menit lagi." "Aduh, minum Gue ketinggalan di dapur." "Jangan banyak alesan. Kita gak lagi di interogasi. Cepet!" "Siap Bos!" Gagah nurut saja, karena panjang urusannya jika dia sampai mengeluh lagi.sudha cukup membuat Angkasa marah semalam. Meskipun lelaki itu tidak bilang, tapi dilihat dari ekpresinya dia kecewa. Karana selama ini Gagah selalu saja seperti orang main-main. Lelaki itu mulai pemanasan. "Lari 5 kaki aja." "Tumben." "Mau ditambah?" "Enggak lah, enak aja. Lima kali sudah cukup." Gagah langsung lari, seperti yang dikatakan oleh Angkasa. Ketika sudah lima kali, kakinya terasa sedikit lemas. Beruntung udara segar mampu membantunya lebih nyaman dan tidak cepat haus. "Kita lanjutin gerakan yang kemarin Gue ajarin." "Siap." Mereka pun mulai latihan. Meskipun beberapa kali Gagah masih terlihat kaku, tapi lelaki itu cepat sekali menangkap yang diajarkan cukup baik. Perkembangannya lumayan pesat. Beberapa kali dia melakukan kiai yaitu suara teriakan semangat dan juga tanda peringatan. Ketika dirinya sudah tidak terlalu kuat. Angkasa sepertinya sudah sangat mahir. Dia mampu melatih Gagah dengan sangat telaten dan juga baik. "Bagus! Tingkatkan lagi." Dia sangat senang, beberapa kali Gagah bisa menepis serangannya. "Minum dulu boleh gak sih. Asli, lama kemalaan haus juga." "Ada di jok motor. Ambil aja, tuh kuncinya." "Kita beli aja deh." "Itu juga baru. Jangan sungkan begitu, alay. Lagian, mau beli di mana? Masih gelap gulita begini." "Hmm." Lelaki itu mengambil minuman dan meneguknya. "Thanks." "Iya, setelah istirahat. Kita lanjut lagi. Nanti kalau udah agak terang, kita latihan memanah." "Hah? Memaham segala?" "Iya, pacuan kuda dan tembak juga. Pokonya semuanya Lo harus coba." "Serius? Lo niat banget ngajarin Gue. Jadi gak enak hati. Sorry ya, kemarin-kemarin Gue labil." "Bagus kalau nyadar. Gak berguna kalau cuma minta maaf, jangan dilakuin lagi." "Gue mesti bayarnya gimana?" "Aman. Gue gak minta bayaran. Lagipula, anggap aja. Gue juga sekalian latihan rutin." "Ini kita bayar gak sih, di sini." "Enggak. Gratis kok. Lonya aja jarang ke luar. Jadi gak tahu kan, ini gratis." Aslinya, sebenernya ini cukup mahal, karena sistemnya Angkasa membooking tempat ini. "Oh, mungkin kau. Kali, kalau ada waktu bis ke sini lagi." "Ya." "Lo orang kaya ya Angkasa?" "Enggak. Orang biasa aja." "Kok Lo bisa semuanya sih. Pacuan kuda kan biasanya orang kaya doang yang bisa." "Makanya main kata Gue juga. Banyak kok caranya biar bisa latihan. Kenapa jadi mikirin Gue sih. Udah, Lo fokus aja." "Iya." Mereka pun mulai latihan lagi. Gagah kini makin semangat, mungkin karena sudah memiliki basic, jadi tidak terlalu asing dengan beberapa gerakan yang diajarkan.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN