Aksi pertama

1142 Kata
"Memangnya, dulu Ayah gak suka ajak ibu jalan-jalan? Tempat kencan pertama kalian di mana?" gagah mulai memancing pembicaraan. dia tahu hal ini sangat sensitif, tapi tetap akan mencobanya. dia rasa, ibunya cukup bisa untuk diajak bicara. "Kenapa nanya begitu. Bukannya ibu selalu bilang. Berhenti bertanya hal apapun tentang ayahmu. Jika tidak mau Ibu sedih dan marah." meskipun ekpresinya seperti orang kesal, tapi nada bicaranya tidak seketus biasanya. "Bu, Aku kan juga mau denger. Nanti, semisalnya punya pacar gimana? Pengalaman siapa yang akan kujadikan sebagai patokan." dia mencari alasan yang halus. agar tidak membuat ibunya merasa dia terlalu ambisius. "Kamu sedang naksir perempuan?" Tanya ibunya masih dengan ekpresi yang sangat datar, sulit sekali untuk ditebak. Gagah langsung menganggukan kepalanya. Dia tidak tahu, cara apalagi yang membuat ibunya mau bercerita. "Lulus dulu. Baru punya pacar." nasehat orang tua yang tidak ingin anaknya bergalau ria, hanya karena cinta yang belum tentu untuk selamanya. "Aku kurang pengalaman. Nanti gimana bisa dapetin perempuan. Emang Ayah dulu kaku banget gini ya. Sama kayak Aku?" "Hmm..., Enggak. Dia biasa aja, cenderung cuek. Tapi, selalu kasih kejutan." "Serius Bu? Wah, idaman banget dong ya. Sama kayak temanku di kampus juga carinya yang begitu. Pantas, ibu suka sama ayah." "Kamu lagi berbuat sesuatu di belakang ibu?" "Enggak. Buat apa? Aku hanya ingin denger cerita aja kok. Kenapa sih, masa denger cerita dikit doang juga. Ibu kan tahu, Aku juga sudah tidak perduli padanya. Biarkan saja, yang penting. Nanti Aku tidak boleh seperti itu." "Maafin Ibu. Tidak bisa mencarikan sosok ayah pengganti untukmu." Ibunya mungkin paham, bahwa sang anak tidak tahu bagaimana rasanya kasih sayang seorang ayah. Dia merasa bersalah, tapi tidak dapat menebusnya. "Jangan bersedih. Aku pengen denger cerita seru kalian." "Enggak ada yang spesial. Makan di taman, naik kereta gantung, diam di halte sudah itu saja." "Diam di halte?" "Iya, Kami senang diam di halte. Pacaran jangan berdua-duaan di tempat sepi. Kalau di halte kan ramai. Terus, bisa lihat banyak aktivitas. Saling bertukar pikiran." "Kenapa begitu? Memangnya ibu dan Ayah tidak memilik tempat istimewa lainnya." "Ayah dan ibu kan gak punya uang. Gak bisa naik mobil, ataupun naik motor ya kami jalan saja. Berhenti di halte. Sebagai tempat istirahat dan juga berkeluh kesah. Terkadang, membaca buku juga." Gagah teringat sesuatu. Namun, dia terus menahan diri agar tidak terkesan aneh. "Kok Ibu mau sama Ayah." Sebenarnya ini moment langka, ibunya mau bercerita. Biasanya juga tidak pernah. "Takdir Nak. Ayahmu bukan orang jahat, dia hanya terlalu serakah dengan dunia. Suatu saat pasti akan menyesal." "Ibu masih cinta Ayah?" "Jangan bertanya hal yang tidak mungkin. Kamu akan kecewa, jika mendengar jawabannya." Sampai di sini, Gagah tahu mana ada wanita sudah disakiti masih mencintai. Dia juga tidak berharap hal itu. "Ibu masih ingat gak? Tanggal jadian kalian?" Ibunya terdiam, memikirkan jawabannya. Lalu dia meraih agenda yang ada di nakas, masih bisa terjangkau oleh tangan. Dia perlahan melihat angka yang ada di kalender tersebut, mencoba mengingatnya. "Hari ini." Suaranya tidak keluar dengan sempurna, tapi sang anaknya bisa menangkap dengan baik yang dikatakan. Wajah Gagah yang tadinya biasa saja, kini berubah menjadi muram. Dia tidak sepenuhnya yakin, tapi mencoba memecahkan teka-teki. Hasilnya menjurus pada satu jawaban. "Ayah punya mata yang tajam. Badannya tegap dan berisi. Dia sepertinya hidup bahagia dengan harta melimpah." Ibunya kaget, kenapa sang anak mudah sekali berbicara seperti itu. Seakan mengetahui sesuatu tentang ayahnya. "Apa yang kamu ketahui?" "Enggak ada." Sembari menggeleng-gelengkan kepalanya. "Jujur Gagah. Ibu tidak suka Kamu bohong, tidak pernah kan ibu mengajarkan hal seperti itu?" Panik, ada rasa khawatir paling mendominasi. Membuatnya tidak bisa mengontrol nada bicaranya. "Kenapa sih Bu. Aku bilang kan gak tahu. Memangnya Aku pernah ketemu Ayah? Kan enggak. Lihat potonya saja tidak pernah. Kenapa sampai menuduh begitu." "Ibu gak percaya. Kamu pasti tahu sesuatu. Katakan!" Bentak ibunya dengan nada suara yang mulai meninggi. "Ibu gak percaya karena Aku bilang begitu? Itu hanya ilusiku saja Bu. Selama ini Aku berpikir ayahku seperti yang dikatakan. Memang salah, Aku kan hanya bisa menghayal tanpa tahu kebenarannya. Dari cerita ibu jga dapat kusimpulkan sosok ayahku memang seperti itu." "Kamu gak berusaha buat cari tahu sendiri kan?" Ibunya ingat, kala mereka bertengkar hebat. Anaknya pernah bilang akan mencari tahu sendiri. "Enggak Bu, tenang aja. Gak berani juga, ibu kan menutupi dengan sangat rapat. Mana mungkin ada celah, bahkan udarapun tidak bisa masuk." Hanya ada satu kemungkinan, di antara kemungkinan yang ada. "Ibu gak suka Kamu khianati." "Aku gak berani mengkhianati Ibu." "Kamu jangan main-main Gagah." Semakin anaknya bersikap sangat tenang, dia semakin gelisah. "Ibu tidak akan bisa Kamu bohongi." "Aku juga tidak akan bisa membohongi Ibu. Hanya Ibu yang boleh membohongiku." "Jangan pernah bahas tentang Ayahmu lagi. Ibu tidak akan pernah menjawabnya. Meskipun kamu nangis darah. Ingat itu!" Ibunya bangun dari tempat menjahit. Kehilangan konsentrasi, karena sang anak sudah bisa mengira-ngira dengan benar ciri-ciri ayahnya. Pria yang selama ini dia coba hilangkan perannya bahkan kehadirannya. Namun, kenapa anak itu bisa mengetahuinya. Dia segera pergi ke kamar. Mengunci pintu rapat-rapat. Mencari sesuatu di atas lemari dan mengambil satu koper besar. Setelah menyetel password dengan benar. Akhirnya, koper itupun terbuka. Dia memastikan sesuatu di dalamnya. Ternyata masih tersimpan aman. Lalu, dari mana anaknya tahu mengenai sosok ayahnya. Itu masih jadi pertanyaan besar. Mana mungkin pria itu melanggar janjinya untuk memperlihatkan wajahnya di hadapan sang anak. Dia tidak tahu lagi, harus bagaimana sekarang ini. Gagah sudah dewasa, tapi dia takut kehilangan anaknya itu. Dia takut, Gagah akan dibawa oleh ayahnya. Dia tidak memiliki siapapun yang berharga kecuali sang anak. Gagah menatap kepergian ibunya. Dia tidak tahu, kenapa reaksinya akan seperti itu. Padahal, dia benar-benar hanya menebaknya saja. Tebakan itu, sama seperti yang dikatakan oleh Angkasa. Pria itu lah yang memberitahukan padanya agar dia berbicara seperti itu kepada ibunya. Bukankah jika seseorang bereaksi berlebihan itu tandanya sedang merasa terusik. Apa mungkin, ciri-ciri yang disebutkan Angkasa memang benar. Lalu, dari mana pria itu tahu tentang sosok ayahnya? Dia perlu cari tahu juga. Gagah membereskan sisa pekerjaannya. Lalu, mematikan lampu. Dan pergi ke kamar. Tidak ada yang perlu dibahas lagi malam ini. Selain sudah larut, dia juga takut ibunya marah. Jika dia meneruskan pembicaraan ini. Dia juga sudah diancam untuk tidak membahas hal ini lagi. Dia jadi tidak tega. Akhir-akhir ini seperti anak yang sangat pembangkang. Mudah marah, melawan, dan juga membohongi ibunya terus menerus. Dia ingin berhenti, tapi belum bisa. Merasa belum waktunya. Masih butuh beberapa waktu lagi sampai akhirnya bisa benar-benar selesai. Ditambah, Angkasa yang sangat memberikan support untuk dia mencari Ayahnya. Membuat Gagah semakin semangat dan juga optimis. Dia bisa segera bertemu ayahnya. Akan dia buktikan pada dunia yang selama ini mengejeknya. Dia juga punya ayah, dan nyata. Mereka pasti akan sangat sedih, jika tahu faktanya dia memiliki seorang Ayah. Sia-sia sudah semua yang mengejeknya. Gagah memejamkan matanya. Mengatur nafas dan terlelap. Dia masih harus merencanakan rencana selanjutnya untuk esok hari.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN