Ketakutan

1063 Kata
Gagah masih bertanya-tanya. Dia merasa kejadian itu sangat aneh. Bahkan saat di rumah pun dia lebih banyak diam, saat ibunya bertanya dia tidak mampu berkata jujur. Sementara saat Angkasa mendesaknya. Barulah dia mau bercerita. "Fokus! Lo kenapa sih? Niat gak?" tanya Angkasa sedikit emosi. Dia sudah meminta pemuda itu fokus dari tadi. Namun, Gagah terus saja melamun di tengah-tengah latihan. Menyebabkan beberapa kali, lelaki itu mengalami pukulan yang didaratkan mulus olehnya. "Sorry, kali ini beneran Gue fokus deh." "Keburu males Gue. Ini bukannya Gue gak mau ngajarin Lo. Dua jam Gagah, tapi Lo masih aja ngelamun. Ada apa sih? Cerita dulu coba." Angkasa terlihat sangat kesal. "Enggak kok, gak ada apa-apa. Gue kan baru pemula. Maklum lah kalau salah." "Pemula itu salah gerakan, bukan seneng ngelamun. Lo ada masalah kan cerita aja? Atau inget orang tua pengen cepet pulang?" Dia melihat arah jam yang menunjukan pukul 9 malam. Niatnya hari ini latihan sampai jam 10. Namun sepertinya Angkasa sudah kesal duluan. Melihatnya malas. "Bukan gitu, tadi pas pulang kuliah. Ada orang kayak ngikutin Gue ke halte. Terus, gue buru-buru tuh kan ya, beruntung nih ada bapak di sana. Dikira orang biasa, ternyata bawa senjata tajam juga. Kayak pistol gitu. Terus yang lebih anehnya lagi. Dia kenal Gue. Kebayang gak kalau Lo jadi Gue gimana?" "Kenal Lo gimana? Dia kerabat atau teman Lo kali." "Enggak. Sama sekali bukan. Gue sedikit feeling sih, itu...," ucapannya sengaja dia jeda. Karena ragu untuk berkata jujur. Takutnya, justru ditertawakan oleh teman barunya. "Siapa?" Tanya Angkasa penasaran. Namun, Gagah sepertinya enggan untuk bilang. "Bukan siapa-siapa. Orang asing." "Orang asing apa? Alien? Jelasin aja sih, daripada Lo kayak orang baru putus cinta begini. Galau gak jelas, kenapa?" Desaknya pada Gagah. Sehingga, lelaki itu merasa terpojokkan dan tidak memiliki pilihan lain. Selain jujur. "Enggak jadi deh. Mana mungkin juga kan itu bapak Gue. Secara, pas pulang aja pakai mobil sport. Belum lagi, dia tahu dari mana Gue bakal ke halte buat pulang. Biasanya kan juga naik gojek." Dia bercerita dengan semangat. Entahlah, seperti anak kecil mendapatkan mainan baru. Matanya berbinar, dan itu tidak dapat ditutupi. Angkasa bisa melihat sendiri. Bahwa temannya tersebut, memang mengharapkan untuk ketemu dengan bapaknya. "Kalau Lo emang beneran mau cari dia. Gue mau kok bantuin. Kita kan temen, jadi harus tolong menolong. Lo gak perlu gak enakan, Gue bantuin sampai Bapak Lo ketemu." Angkasa selayaknya anak baik, juga sahabat yang pengertian. Dia bisa tahu apa yang Gagah inginkan. Namun, Gagah adalah pemuda yang tidak mau merepotkan orang lain. "Enggak usah. Tenang aja, Gue baik-baik aja kok. Cuma ngerasa ada yang beda aja gitu. Lo gak akan paham, meskipun Gue ceritain." "Paham Gue. Lo yang jangan nutupin perasaan sendiri. Pasti dong, dalam hati kecil Lo pengen ketemu sama bokap? Gue bantu. Gimana pun caranya. Asalkan Lo gak bimbang aja. Nanti, tengah jelas tiba-tiba Lo malah pengen mundur." "Nanti, Gue pikirin lagi. Belum bisa bilang itu sekarang. Kita pikirin lagi nanti." "Kapan terakhir kali Lo tanyain tentang bokap ke nyokap?" "Belum lama, Gue bilang ke Ibu. Pengen tahu Bokap di mana, tapi tetep gak dikasih tahu. Sebenernya gak tega. Kadang, ada satu waktu Gue yang lagi buntu pasti langsung nanyin tentang bokap." "Gue gak tahu gimana perasaan Lo, tapi yakin banget Lo pasti pengen ketemu. Kalau emang kunci satu-satunya adalah ibu Lo. Kita susun rencana aja. Supaya dia mau kasih tahu." "Caranya gimana?" Angkasa pun mulai menjelaskan, harus mulai dari mana. Gagah mendengarkan dengan serius. Kemudian, Lelaki itupun setuju dengan apa yang dikatakan oleh temannya. "Gimana? Keren kan ide Gue?" "Aman Gak?" "Ya aman lah, tenang aja." "Yaudah, Gue mau." "Siap. Kita mulai besok. Sekarang, mending Lo pulang istirahat. Gue gak mau ngajarin orang galau. Capek hati sendiri." "Oke, deal." Mereka berjabat tangan. Kemudian Gagah pulang. "Sorry, Gue gak bisa nganter. Soalnya, habis ini masih ada acara." "Kalem. Gue juga gak takut pulang sendirian." "Bagus deh." Jelas, Gagah tidak takut. Orang dia pulang naik ojol. Coba kalau pulang naik bus, mana berani. "Assalamualaikum," ujarnya. Begitu sampai di rumah. "Waalaikumsalam." Ibunya seperti biasanya, sedang menjahit pakaian. "Bu, sudah pukul 10. Kok belum tidur juga." "Masih ada kerjaan. Kamu dari mana? Kenapa malam sekali pulangnya. Tadi, bilangnya hanya ijin ngerjain tugas saja." "Susah Bu tugasnya. Aku bersih-bersih dulu sebentar. Nanti, Aku bantuin." "Tidak usah, istirahat saja." Gagah hanya tersenyum kemudian dia pergi ke kamar. Hanya butuh waktu 15 menit dia sudah keluar dari kamar dengan pakaian yang berbeda. Tentu pakaian khas untuk tidur. Celana kolor dan Laos tanpa lengan. Dia membantu ibunya, dengan mengumpulkan sisa bahan yang dipotong. Biasanya akan dibuat jadi kerajinan atau dia simpan. Takutnya, nanti ada pelanggan yang meminta untuk tambalannya. "Ibu pasti lelah. Sehari-hari kerja seperti ini." Nada suara Gagah sangat manja. "Biasa aja." Ibunya yang dingin itu, sudah kebal dengan segala perlakuan manis. "Ibu mau Aku pijitin?" "Enggak perlu. Pegalnya juga bukan karena menjahit." "Terus, kenapa?" "Nungguin Kamu yang senang pulang malam sekarang." "Maaf ya Bu, namanya juga tugas sekolah. Tidak bisa ditunda-tunda. Aku kan pengen cepet lulus. Supaya bisa kerja. Cari uang yang banyak. Agar Ibu tidak perlu menjahit lagi." "Mau sebanyak apapun uangmu. Ibu tidak akan berhenti dengan hal ini. Tidak banyak yang bisa ibu lakukan selain menjahit." "Ibu harus keluar rumah. Lihatlah, dunia luar yang sudah berubah sangat indah Bu. Sayang untuk dilewatkan." Satu rahasia lagi, ibunya tidak suka keluar rumah. Jika tidak ada urusan yang mendesak. Dia akan tetap diam di dalam rumah ini. Ibunya juga salah satu orang yang tinggal di kota, tapi belum pernah ke mall. Rasanya aneh sekali, tapi ini faktanya. "Ibu sudah cukup dulu menikmati dunia. Sekarang, waktunya bekerja dan pulang dengan tenang." "Tapi, bukankah ibu perlu jalan-jalan." "Tidak tertarik." "Aku mau jalan-jalan bareng Ibu. Apakah bisa kita meluangkan waktu. Sedih sekali rasanya, tidak pernah berlibur. Tidak seperti orang-orang." "Orang-orang berlibur karena dia punya banyak uang yang tidak perlu ditabung lagi, buat senang-senang. Kamu kalau jalan-jalan mau ngapain? Nanti yang ada, pulang jalan-jalan kita pusing karena kehabisan uang." Asli, ini adalah sebuah alasan saja. Karena pada faktanya, ibunya tidak sesusah itu. Mereka masih mampu makan di sana, ataupun beli barang satu dua. Namun, sekali lagi. Dia merasakan bahwa ibunya memiliki pobia dengan keramaian. Dia sudah sadar dari dulu, tapi sekarang dia sudah sepenuhnya yakin, bahwa memang ada yang aneh dari ibunya. Karena phobia juga ada sebabnya. Dia harus cari tahu.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN