"Pertanyaan apaan? Udah sih, makan dulu. Laper Gue. Lo juga, kenapa gak makan coba?"
"Pikir aja sendiri, emang Gue anak sultan. Uang jajannya banyak. 50 ribu cukup buat beli ini semua doang."
Angkasa terdiam sebentar sebelum akhirnya dia tertawa terbahak-bahak.
"Kok bisa?" Tanyanya sembari teertawa.
"Keseleo tahu Rasa Lo," ucap Gagah sembari mengambil gorengan yang ada di piring.
"Ya udah, nih Gue ganti. Cepet cari makan sana."
Dia mengambil uang selembar 100 ribu, lalu diberikannya pada Gagah.
"Udah, gak apa-apa. Gue juga masih kenyang kok."
"Bohong. Udah sana, kayak anak perempuan Lo malu-malu segala."
"Hmm."
Gagah mengambil uang tersebut, lalu dia pergi mencari makan. Karena dia juga sebenarnya lapar, tapi gengsi untuk bilang.
Angkasa menatap kepergian gagah, sembari mengelus dadanya. Dia merasa lega, karena bisa menghindari untuk kedua kalinya. Dia jadi tidak perlu memikirkan alasan lainnya.
"Cepet banget. Pesen apa?"
"Bakso."
"Oh, hari ini latihan habis magrib aja ya."
"Iya."
"Tumben nurut, biasanya banyak alesan."
"Nurut salah, gak nurut diledekin."
"Aneh aja. Semangat banget kayaknya. Biasanya juga lemes kayak gak niat gitu."
"Udah ngerasa yakin aja buat bisa bela diri."
"Kenapa?"
"Enggak. Cuma pengen jadi cowok kuat aja."
"Lo gak lagi pengen balas dendam kan?"
"Enggak. Sama sekali enggak kepikiran ke situ, karena Gue gak mau ditindas lagi sama Dino. Dia boleh bangga bisa bayar orang buat keroyok Gue. Kalau Gue bisa baik-baik aja pas dia ngelakuin itu. Pasti dia akan sangat kecewa."
"Alasan Lo aneh banget."
"Lah, kan jadinya dia sia-sia ngeluarin uang."
"Kenapa gak diubah aja. Misalnya, supaya Lo bisa hajar balik mereka yang kurang ngajar."
"Enggak lah, Gue pengennya damai aja. Balas dendam kayak gitu bakal buat dend baru yang bisa nyakitin banyak pihak. Aneh sih sebenernya, dia lebih segala-galanya tapi masih aja nyari gara-gara."
"Dia bingung kali, cara nikmatin hidup. Makanya nyari gara-gara begitu. Padahal, emang jauh sih. Kalian kalau dilihat diluar dari segi harta. Jelas lah, orang pasti akan milih Lo."
"Ngaco. Dia juga sebenarnya baik, pinter juga. Tapi, kan harus ada yang rangking satu. Gak semuanya bisa jadi rengking satu."
"Dan sialnya, dia rangking 2 terus. Jadi, dia ambisi buat ngalahin Lo gimanapun caranya."
"Entahlah, mungkin dia ada alasan lain. Atau Gue pernah nyakitin dia kali ya? Sampai begitu banget dendamnya."
"Bisa jadi, heran sih Gue juga. Lo gak rebutan perempuan kan?"
"Enggak. Gue gak pernah pacaran."
"Kalau Lo sih keliatan banget culun. Tapi, bisa aja cewek yang dia sukain malah sukanya sama Lo."
"Mana mungkin, Gue kan cupu kayak Lo bilang."
"Bisa aja. Karena Lo pinter, atau terkenal."
"Entahlah, pusing kalau mikirin dia. Gak jelas maunya apa."
"Iya, padahal kasian banget dia. Sampai kapanpun dia coba jatuhin Lo. Pasti gak akan bisa."
Angkasa berkata dengan sangat yakin, seperti orang yang tahu tentang suatu rahasia.
"Kenapa begitu?"
"Enggak. Feeling aja."
"Hmm. Ya udah, nanti kita ketemu langsung di markas aja. Habis magrib kan?"
"Iya, Lo aman kan keluar jam segitu."
"Gampang, nanti cari alasan."
"Gue harap, Lo istirahat yang cukup. Soalnya, kali ini kita bakal latihan lumayan ekstrim."
"Latihan apa aja emang?"
"Ada lah, siapin aja mental Lo."
"Hmm."
Mereka memutuskan pembicaraan, dan fokus makan. Beberapa orang melihat ke arah mereka berdua dan dapat dirasakan oleh Gagah. Tapi, dia berusaha biasa saja. Dulu, sebelum ada kasus juga dia sering diperhatikan banyak orang karena jabatannya. Jadi, dia tidak terlalu kaget.
Dia pulang sendirian. Karena Angkasa bilang, dia masih ada kelas. Gagah berjalan keluar kampus, dan menyebrang, kemudian berjalan di trotoar. Lurus dari sini, ada halte bus. Kali ini, dia mau pulang naik bus saja. Karena jauh lebih hemat. Meskipun nanti dia harus berjalan cukup jauh, karena ke rumahnya melewati gang yang tidak bisa masuk bus karena tidak ada jalurnya.
Saat dia berjalan. Gagah merasa seperti ada orang yang mengikutinya di belakang. Namun, saat dia berbalik badan. Dia tidak menemukan siapapun. Dia langsung berjalan cepat. Namun, orang itu sepertinya terus mengikutinya. Beruntung di halte ada orang yang sedang membaca buku. Jadi, dia aman. Dia duduk di sana mencari aman.
Ini perdana, dia merasa di ikuti oleh seseorang misterius yang memakai baju hitam-hitam. Pikirannya jauh melayang. Dia sempat berpikir bahwa orang yang melakukan itu bisa saja Dino karena dia merasa kalah, tidak berhasil menjatuhkannya di organisasi.
Dia menatap ke orang di samping, lelaki itu sepertinya sangat serius membaca buku novel. Sampai wajahnya tertutup oleh buku. Dia tidak bisa melihatnya, karena penasaran, dia sedikit bergeser.
Saat mengecek jam di tangan, kemungkinan bus akan datang kurang lebih 5 menit dari sekarang. Dia merasa khawatir karena tidak ada orang lain, selain dirinya dan juga orang yang membaca buku ini. Dia melihat ke kanan dan kiri. Memastikan situasi aman.
Tadinya, dia berpikir untuk menelpon Angkasa, tapi sadar lelaki itu ada kelas. Dia tidak berani mengganggu dan memilih untuk diam saja mengatasi ini semua sendiri.
Gagah yang sedang was-was. Malah jadi ketar-ketir. Ketika lelaki di sampingnya berdiri. Ternyata di belakangnya lelaki itu tercantol senjata tajam. Gagah sampai berdiri. Dia bersiap untuk lari. Dia akan lari sejauh mungkin, suatu keberuntungan. Karena memiliki kaki yang jenjang, sehingga bisa lari lebih cepat dan jauh.
"Dek," ujar pria paruh baya itu.
"I-ya Pak."
Dia menjawab pertanyaan orang itu, dengan gemetaran. Tangannya dia coba sembunyikan agar tidak ketahuan.
Matanya membulat. Nafasnya kian tidak beraturan. Dia ingin pergi, tapi mata pria itu membuatnya masih bisa berdiri di situ. Dia panik tapi penasaran. Karena pria itu memakai masker.
"Kamu yang bernama Gagah ya?" tanya pria itu membuat Gagah langsung berdiri tegak membuat pertahan diri.
Ceeeestt
Suara bus berhenti. Membuat Gagah merasa sedikit tenang.
"Maaf Pak. Saya duluan."
Dia berjalan, bahkan sedikit berlari masuk ke dalam bus. Sengaja ambil bagian dekat dengan supir. Agar dia aman. Karena takut pria itu juga ikut masuk. Namun ternyata tidak, dan hanya melambaikan tangan saja.
"Ayahnya Dek?" tanya kenek bus. Karena melihat pria itu melambaikan tangan seperti mengucapkan selamat tinggal lewat isyarat.
"Ha? Enggak Pak. Bukan!"
Dia masih panik, jadi nada bicaranya belum normal. Kenapa orang itu seperti mengenalinya. Sesekali dia mencuri-curi pandang lewat kaca spion Bus. Ternyata lelaki itu dijemput oleh mobil sport bagus. Dia penasaran dengan pria itu, sekaligus takut.
Kini, dia pun keringet dingin. Karena merasa ada yang aneh. Di hati kecil yang paling dalam, bahkan sangat amat dalam. Dia berharap jika lelaki itu ada ayahnya. Meskipun konyol, tapi dia merasa itu adalah lelaki yang selama ini dia tunggu-tunggu. Namun, jika memang benar. Harusnya pria itu langsung memeluknya dan berkata bahwa dia ayahnya. Tapi, tidak terjadi.
Mana mungkin juga, Ayahnya orang kaya. Punya mobil sport segala. Sementara dia membiarkan anak dan istrinya hidup susah.