Di kelas. Dosen menjelaskan dengan jelas apa yang sedang mereka diskusikan. Namun, tiba-tiba di pertengahan mereka dikejutkan dengan ulangan dadakan. Suasana kelas yang tadinya hening, karena mendengarkan penjelasan dosen. Kini riuh dengan suara teriakan mahasiswa yang tidak terima. Jika harus ulangan mendadak seperti ini. Kecuali Gagah, dia diam saja.
Kebetulan, untuk materi kal ini dia sudah cukup hapal. Karena sudah belajar secara mandiri sebelumnya. Dia melihat beberapa temannya melirik ke arahnya. Biasanya, sebelum ada kejadian menjauhinya. Mereka sering kali meminta jawaban padanya. Namun, sekarang mereka seperti sungkan.
Di tengah perjalanan mengisi soal, seseorang dibangku belakang sedikit menggeser bangkunya. Membuat dia tidak nyaman.
"Kenapa?" Tanya Gagah tanpa suara hanya gerak bibir saja, sepertinya orang itu juga paham. Dia menengok ke arah belakang, sembari waspada melihat ke arah meja dosen.
"No 4."
Setelah dilihat jawabannya dia langsung memberitahukan kepada temannya itu. Gagah tidak menerapkan sistem mencontek. Dia hanya akan membantu satu soal saja. Dari dulu, dia memang tidak pelit. Teman-temannya yang selalu memanfaatkan.
"Gagah, kenapa Kamu gerak-gerak terus?" tanya dosen dengan suara tegas.
"Saya sudah selesai Pak."
"Oh begitu, ya sudah. Kumpulkan! Kamu boleh istirahat duluan."
"Baik Pak."
Kenapa dia bisa duluan? Karena soalnya pun hanya lima saja. Ini biasanya di ambil dosen sebagai nilai tambahan ketika ujian mereka kecil.
Dia berjalan dengan percaya diri. Beberapa temannya yang lain menatap dengan kagum. Memang tidak diragukan lagi, bahwa dia memiliki kepintaran di atas rata-rata teman-temannya yang lain.
Dia pun keluar dari kelas.
Seseorang mengagetkannya dari arah samping.
"Bisa gak sih, gak usah ngagetin. Kayak anak kecil lo." Gagah menonjok lengan bagian bahu Angkasa yang kekar. Alhasil, tangannya lah yang kesakitan.
"Sukurin!"
Gagah menatap tajam Angkasa. Namun yang ditatapnya biasa saja.
"Keren. Lo bisa keluar duluan dari kelas itu. Bukannya dosennya galak ya?" Tanyanya sembari mereka jalan bersama.
"Gue kan murid teladan." Gagah berkata sembari menengadah. Dia sengaja berpura-pura sombong, tapi hanya sekedar bercanda saja.
"Telat Dalat pulang duluan."
"Itu sih Lo. Jam segini keluyuran. Lo gak nungguin Gue di luar kan?" Tanya Gagah. Jujur saja, dia merasa heran. Kenapa Angkasa tidak pernah terlihat sibuk dengan kelasnya. Saat dia sudah kelar kelas, atau sedang dalam waktu luang. Lelaki itu tiba-tiba saja datang. Seperti mengetahui waktu santainya.
"Kurang kerjaan banget. Nungguin Lo, mending Gue makan di kantin."
Angkasa langsung menaikkan nada bicaranya. Dia mungkin tidak terima dituduh.
"Ya udah, Ayo ke kantin!" Ajak Gagah.
Mereka pun pergi bersama. Banyak pasang mata melihat ke arah mereka. Orang-orang yang waktu itu memandang remeh terhadapnya. Kini, seakan ingin menyapanya kembal. Namun, dia mendapatkan bisikan dari lelaki di sebelahnya.
"Tetep cool aja. Mereka cuma orang-orang yang cari perhatian. Giliran Lo ada masalah, semuanya menjauh."
Gagah semakin dibuat bingung harus bersikap seperti apa. Karena ada dua kemungkinan kenapa mereka berubah menjadi baik lagi. Bisa saja, karena dia sedang berjalan di samping Angkasa. Sepertinya anak baru ini, mempunyai eksistensi yang cukup tinggi di kampus. Sampai beberapa orang menatap kagum.
"Tapi gak enak, Gue biasanya nyapa mereka."
"Lo gak ada kewajiban nyapa mereka. Biarkan aja begitu, sebelum mereka benar-benar sadar dengan kesalahannya."
"Ya sudah."
Gagah akhirnya menyerah. Dia bukan nurut pada Angkasa. Tapi, yang diucapkan lelaki itu memang benar.
"Katanya kemarin seru ya pas rapat?"
Tanya Angkasa. Lelaki itu sepertinya memancing agar Gagah mau berbicara.
"Lumayan. Tapi semua masalah sudah selesai. Anggap saja angil lalu. Dia memang begitu sepertinya. Karakter susah buat diubah."
"Lo gak hajar dia?"
"Gue kan baru belajar. Belum bisa buat hajar-hajar orang. Lagian, kalau sampai Gue pukul dia yang ada langsung masuk penjara kali."
Gagah tidak akan seceroboh itu. Di ruang lingkup terbuka, dia tidak akan langsung menonjoknya. Jika memang masalahnya tidak berat. Hal kemarin masih bisa dimaafkan, karena mungkin Dino merasa dirinya kalah secara tidak langsung. Jadi, dia sengaja memancing emosi. Agar Gagah mau kembali melakukan kesalahan untuk yang kedua kali.
"Bapaknya dia serem banget ya. Belain anak sih boleh. Tapi kalau terlalu manjain juga salah. Lihat kan hasilnya, jadi begini."
"Daripada Gue yang gak punya Ayah. Mending dia kemana-mana."
"Galau terus..., Lemah."
"Berisik. Gue laper. Lo mau makan apa? Sekalian Gue pesenin."
"Ketoprak, pake nasi."
"Pake nasi?"
"Kenapa?"
"Enggak. Ya udah, tunggu. Gue pesenin dulu."
"Minumnya es jeruk. Sama gorengnya jangan lupa."
"Oh oke. Awas kalau gak habis."
"Meragukan? Makanan Lo juga kalau perlu Gue yang habisin."
Gagah dibuat tercengang. Dia tidak mempermasalahkan hal itu. Memilih untuk segera pergi mencari makanan yang dipesan temannya tersebut.
"Aden, tumben baru keliatan lagi?" Tanya ibu warung.
"Eh ada Bang Gagah. Makan siang Bang?"
Dia hanya membalas dengan senyum tipis dan sebuah anggukan saja. Jujur dia merasa canggung, dan tudak merasakan ada ketulusan di sana.
"Bu, pesan ketoprak sama nasi satu, gorengannya 5 minumnya es jeruk 2."
"Banyak juga ya makannya sekarang."
Komentar asisten ibu warung itu.
"Iya, nanti kirim ke meja di sana ya Bu. Semuanya jadi berapa?"
"Semuanya, jadi 50 ribu aja Mas."
Gagah segera memberikan uangnya pada ibu kantin itu. Kemudian dia kembali berjalan ke tempat semula.
"Cepet banget. Mana makannya?"
"Nanti dianterin."
Dia langsung duduk. Dan mengeluarkan handphonenya. Mengecek beberapa tugas dan juga melihat grup organisasi yang sudah mulai aktif kembali setelah kemarin.
"Bahagia banget kayaknya. Lagi chattingan sama pacar?"
"Enggak. Lagi liat grup."
"Oh, gebetan Lo ada di sana?"
"Enggak. Gebetan apaan tahu."
"Lo kenapa jomblo Gah. Bukannya waktu itu banyak cewe yang deketin."
"Sok tahu."
"Secara, mahasiswa famous kayak Lo. Pasti jadi inceran Adek-adek."
"Enggak. Masih belum kepikiran. Kasian dia kalau pacaran sama Gue. Gak punya modal."
"Gak punya modal gimana?"
"Gue gak punya banyak duit Bang. Jangankan buat nelaktir pacar, kuota aja masih ketengan."
"Kan buat seketar temen bicara aja."
"Temen bicara juga butuh minum butuh makan. Lo pikir, gak haus ngobrol melulu. Lagian kepo amat sama hubungan asmara Gue. Lo gak suka sama Gue kan?"
"Dih geli. Tahun depan juga mau nikah," ujarnya sembari menunjukan wajah gelinya.
"Serius?" Tanya Gagah.
"Iya Lah, apa lagi yang mau ditunggu dari Gue. Semuanya udah selesai dicapai."
Dia mengatakan dengan sangat bangga. Membuatnya mengerutkan alis. Hampir membuat kedua alisnya bertemu.
"Kuliah Lo? Emang Lo udah kerja?"
Angkasa yang mendapatkan pertanyaan seperti itu langsung diam. Terlihat dari wajahnya yang tegang.
"Eung...," Dia seperti orang kebingungan menjelaskan identitasnya.
"Jujur deh, sebenarnya Lo siapa sih?" Semakin Angkasa terlihat aneh, dia semakin penasaran.
"Gue?"
"Permisi Den Gagah, ini pesenannya."
Percakapan mereka terhenti karena asisten ibu warung kantin membawakan makanan yang dipesan Gagah.
"Iya, makasih."
"Sama-sama. Kalau masih ada yang mau ditambah seperti biasa ya."
"Iya."
Angkasa terlihat lebih lega, dia seperti merasa terbebas dari beban harus menjawab pertanyaan Gagah barusan.
"Mari makan!" Serunya dengan semangat, sampai tidak sadar bahwa Gagah tidak memesan makanan apapun.
"Lo belum jawab pertanyaan Gue."