Sesampainya di rumah. Gagah terdiam, terpaku tidak berdaya. Semua pertanyaan seketika lenyap dan hilang dari ingatannya. Saat melihat ibunya terkapar lemah tidak berdaya di atas ranjang.
"Ibu!" Teriaknya ketakutan. Dia sampai menjatuhkan obat yang dibeli dan juga pemberian dari pelanggan.
Memeluk ibunya dengan sangat erat, seolah tidak boleh pergi. Dia menangis sesegukan.
"Lepas Nak, Ibu sulit bernafas ini."
"Bu," ujarnya dengan suara yang sangat pelan.
Dia melepaskan pelukannya, dan duduk di lantai tepat di samping ranjang ibunya. Memegang erat tangan wanita paruh baya itu.
"Maafin Gagah ya Bu."
"Kenapa?" Tanyanya kebingungan.
"Ibu jangan sakit, Gagah gak tega lihatnya. Kalau bisa biar Aku aja yang kesakitan."
"Ngaco saja bicaramu. Kita tidak bisa melawan takdir Nak. Sakit dan sehat itu juga punya Allah. Sabar, nanti juga sembuh jika sudah waktunya."
"Ibu pasti kelelahan bekerja. Bagaimana, jika Gagah saja sekarang cari kerja."
"Buat apa? Nanti kuliahmu malah tidak beres. Jangan menambah waktu lagi, nanti akan memakan banyak biaya. Sudah, jangan terlalu dipikirkan. Ibu hanya sakit biasa saja."
Gagah memperhatikan tangan ibunya yang sudah mulai keriput, urat-uratnya terlihat jelas, dia jadi membayangkan. Sampai kapan bisa menggenggam tangan ini untuk selamanya.
Seandainya Ayahnya benar sudah tidak ada. Dia hanya memiliki ibunya saja di dunia ini. Perasaan tidak rela dan juga ketakutan sangat berdampak besar pada pikirannya saat ini.
"Ibu jangan tinggalkan Gagah ya Bu."
"Kenapa Nak? Kamu kok jadi lemah gini. Anak laki-laki cengeng sekali, cepat atau lambat kita juga pasti akan berpisah. Jika sudah waktunya tiba."
"Enggak. Gagah mau Ibu selamanya."
"Tidak akan bisa, jangan mengada-ada. Ibu kan sudah melatih Kamu jadi anak mandiri, kenapa baru melihat ibu sakit saja, Kamu sudah hancur begini."
"Aku takut."
"Jangan takut, lawan segala rasa takutmu. Waktu cepat berlalu Nak. Ibu sudah semakin tua, dan Kamu semakin dewasa. Nanti Kamu cari wanita yang bisa membuatmu merasakan arti kehidupan. Bukan hanya menerima Kamu apa adanya."
"Gagah tidak kepikiran ke arah sana Bu, ingin membahagiakan Ibu dulu. Nanti kita pergi jalan-jalan bersama, makan di restoran mewah. Kemana-mana naik mobil. Pokoknya, Gagah mau ibu merasakan kehidupan yang baik. Aku akan pastikan Ibu bahagia selalu."
"Kamu hanya memikirkan dari segi harta saja Nak. Memangnya, Kamu pikir ibu sekarang tidak bahagia? Kamu salah, Ibu sangat bahagia melebihi dari apapun. Mempunyai Kamu adalah suatu kebahagiaan yang tidak dapat ternilai oleh barang mewah apapun yang ada di dunia ini."
Dia terharu, tidak menyangka ibunya akan sangat seromantis ini. Padahal, saat sedang sehat. Mana pernah begini, selalu ketus dan tidak pernah membiarkan Gagah mengungkapkan keresahannya. Dia akan membentak dan juga marah. Ketika Gagah cengeng.
"Makasih ya Bu, selalu ada untukku. Selama ini, Gagah memang kurang bersyukur. Selalu saja menuntut banyak hal, padahal tidak seharusnya begitu."
"Kamu aneh-aneh saja. Datang malah menangis tidak jelas. Baru juga dimintai tolong untuk mengantarkan pesanan. Ingat ya Gagah Ibu tidak mengijinkannya menangis lagi. Sudah cukup masa kecilmu penuh dengan tangisan, sekarang waktunya berubah."
"Iya Bu," jawabnya. Kemudian dia mengambil obat yang tadi dibeli di apotek.
"Ini apa?"
"Itu ramuan herbal dari Bude."
"Aduh, orang itu. Selalu saja baik. Nanti jika Kamu punya rejeki lebih, ingat ya pada orang-orang baik yang selalu membantu kita."
"Siap Bu. Tadi Aku diberi uang saku juga oleh para pelanggan. Aku satukan ke dalam uang bayarannya ya."
"Jangan, mungkin sudah rezekinya. Simpan saja untuk keperluan Kamu."
"Ya sudah, terima kasih Bu."
"Iya, tolong ambilkan air minum. Ibu mau minum obat. Nanti mau tidur baru minum herbal."
"Iya."
Gagah mengambil minum untuk ibunya. Sungguh dia sangat dilema sekarang, tadi dia melihat sendiri. Bagaimana ibunya menahan kesakitan sembari tiduran. Nafasnya yang sudah tersenggal-senggal membuatnya merasa sangat takut.
Ibunya tidak akan memberitahukan apa yang sedang dirasakannya. Sehingga dia bingung harus melakukan apa untuk mengobatinya.
"Bagaimana kalau kita ke rumah sakit?"
"Uang dari mana Nak. Sudah, nanti juga sembuh."
"Kan kita masih punya uang dari-"
"Tidak perlu memakai uang itu. Lebih baik Kamu istirahat saja. Jika ingin makan beli saja. Maaf, Ibu tidak kuat untuk masak hari ini."
"Kenapa harus minta maaf sih Bu. Jangan seperti itu, Aku tidak suka. Nanti Aku bisa beli makan sendiri."
Gagah memang tidak suka, kala ibunya selalu minta maaf, padahal bukan salahnya. Karena itu akan membuatnya semakin merasa bersalah. Selama ini selalu menuntut banyak hal.
"Baiklah."
"Gagah serius Bu, kita ke rumah sakit saja. Kalau dibiarkan nanti akan bahaya."
"Ibu sudah tua. Wajar bila mengalami hal-hal seperti ini. Jangan terlalu dipikirkan, karena nanti akan sembuh dengan sendirinya. Bagaimana jika dalam waktu 2 hari ibu belum sembuh juga. Baru kita ke rumah sakit?"
"Kenapa harus menunggu 2 hari? Ini penyakit Bu, bukan makanan permentasi."
Sungguh Gagah tidak tahu lagi bagaimana caranya bisa membujuk ibu agar mau pergi berobat.
"2 hari Gah. Sebaiknya Kamu keluar, Ibu mau istirahat."
"Ini pasti karena Aku ya, Ibu kepikiran atas ucapan kemarin," ujarnya penuh penyesalan.
"Semakin aneh-aneh saja. Sudah, pergi sana. Atau Kamu mau main keluar juga tidak apa-apa."
"Enggak, Gagah mau temani ibu saja. Aku tunggu di luar ya, jika butuh sesuatu panggil saja."
"Hmm."
Ibunya hanya menjawab seadanya saja, kini matanya sudah mulai tertutup mungkin efek samping dari obat yang diminum.
Gagah berdiri, dia keluar dari kamar. Membiarkan ibunya istirahat karena hanya itu yang bisa dilakukan untuk saat ini.
Dia duduk di sofa, seperti janjinya akan menunggui dari luar. Karena jika dikabar bila dipanggil tidak akan kedengeran.
Selalu saja, ketika kebenaran tentang ayahnya akan terungkap. Maka akan banyak sekali rintangannya. Dia tidak pernah berhasil memenangkanya. Berakhir dengan kegagalan, tidak mendapat hasil apapun.
Seperti saat ini, dia hanya perlu bertanya. Namun, mana mungkin dia bertanya saat kondisi ibunya sedang sakit. Dia tidak mau meperparah kondisi tersebut.
Dia merenung, mencoba mengingat dan juga mencerna. Mulai menyambungkan kejadian satu ke kejadian yang lain.
Memang cukup masuk akal, jika benar Ayahnya sudah tidak ada, karena selama ini selalu ditutupi dengan rapat. Padahal, jika memang benar. Dia tidak akan sampai penasaran begini. Dianhanya butuh buktinya saja. Tidak lebih, kenapa semua orang seperti mempersulit dirinya.
Dia hanya ingin melihat makan ayahnya, jika memang sudah tidak ada. Bila mana masih ada, dia ingin bertemu. Hanya bertemu tidak lebih. Tidak akan menuntut banyak hal. Semua untuk membayar rasa penasaran saja.
Apa memang ayahnya orang penting, sampai dia harus disembunyikan, atau seorang penjahat yang harus disembunyikan. Dulu pernah bertanya seperti ini, berakhir dengan sebuah tamparan keras mengenai pipinya.