"Ibu gimana keadaannya?"
"Baik Nak, ini sudah mendingan panasnya. Tadi kan sudah minum obat."
"Tapi kok masih lemas? Kalau gak, kita berobat saja hayu Bu."
"Tidak perlu, nanti juga sembuh. Kamu kok tidak ada bosannya minta ibu brobat terus."
"Aku khawatir Bu."
"Tidak perlu khawatir. Ibu sehat kok."
"Ya sudah kalau begitu. Makan dulu Bu. Aku sudah belikan bubur."
"Boleh."
Gagah menyuapi ibunya, sungguh sangat lembut hati pria itu. Dia bisa sangat penyayang sekali. Mungkin, jika memiliki kekasih. Dia juga akan memperlakukan wanita itu seperti Ibunya dalam hal menyayangi.
"Sudah, cukup. Ibu kenyang."
"Minum obat dulu."
"Iya, tolong air minumnya."
"Ya sudah, ibu istriahat lagi saja. Gagah mau ambil kasur lipat dulu."
"Mau ngapain?"
"Di sini, tungguin Ibu."
"Hey, ibu bukan anak kecil lagi. Tidur sana di kamarmu sendiru. Ibu mau istirahat. Jangan di ganggu. Sebaiknya kamu juga istirahat, karena besok harus masuk kuliah."
"Bu, besok Aku mau ijin saja."
"Tidak boleh, Kamu harus kuliah."
Selalu seperti ini. Minumnya tidak akan membiarkan dia untuk ijin. Padahal. Dia enggan meninggalkan ibunya sendirian, apalagi dalam kondisi sakit. Karena pasti tidak ada yang menunggunya di rumah. Akan sangat sulit untuk meminta bantuan orang lain. Karena mereka juga memiliki kesibukannya masing-masing.
"Aku sepertinya tidak ada jadwal Bu besok. Dosennya pergi ke luar kota."
"Jangan suka mengarang. Ibu tidak mengajarkanmu berbohong."
"Kita lihat saja nanti."
Gagah keluar dari kamar. Dia bandel, tidak mau menuruti ucapan ibunya. Dia tetap mengambil kasur lipat. Hanya saja, dia tidur di ruang tamu. Jadi tidak di kamar ibunya.
Awalnya, berniat untuk menjaga, tapi malah dia yang tidur duluan. Seharian menjaga ibunya, juga menggantikan tugas rumah. Seperti bebersih, mencuci piring bahkan baju. Sangat melelahkan, beruntung dia sudah dilatih untuk mandiri.
Waktu menunjukan pukul setengah 12 malam. Dia mendengar suara ibunya merintih kesakitan seperti orang yang meminta tolong.
Meskipun belum sepenuhnya sadar, dia bisa mendengar dengan jelas. Jika ibunya sedang kesakitan. Tanpa menunggu waktu lagi, dia berlari ke arah kamar untuk melihat keadaan ibunya.
"Bu! Kenapa Bu?"
"Kepala Ibu sakit sekali Nak."
"Kok bisa Bu? Kita ke rumah sakit sekarang."
"Tidak usah, ibu hanya ingin istirahat."
"Enggak! Gagah mau kita ke rumah sakit sekarang."
Pemuda itu segera memesan taksi online. Ibunya sudah digendongnya keluar dari kamar. Tidak lupa dia mengunci pintu rumah agar tidak ada orang sembarangan bisa masuk.
"Sabar ya Bu, sebentar lagi sampe mobilnya."
Tak lama, sebuah kendaraan roda empat itu berhenti di pekarangan rumahnya. Dia segera membopong ibunya ke dalam mobil. Wanita paruh baya itu terlihat menahan rasa sakit. Sepertinya tidak mau membuat Gagah khawatir.
Pemuda itu sebenarnya sedang kebingungan. Dia tidak memegang uang banyak, ibunya juga tidak memiliki asuransi kesehatan. Namun, demi kesembuhan ibunya. Dia tidak akan pelit ataupun takut tidak bisa membayar biaya rumah sakit. Bagaimanapun caranya akan diusahakan.
Di perjalanan, mobil tiba-tiba terasa oleng. Dia merasakan tidak seimbang.
"Pak, ini kenapa ya? Kok seperti goyang?"
"Iya Mas, sebentar menepi dulu ya."
Pengemudi itu lantas turun, lalu mengecek kendaraannya.
"Aduh, maaf Mas. Ini kempes bannya."
Terlihat sangat penuh penyesalan. Mungkin karena merasa bersalah dan juga kasihan.
"Yah, terus gimana dong Pak?" Tanya Gagah yang juga bingung.
"Mau tunggu saja, atau alih kendaraan lain?"
Gagah segera mengecek handphonenya. Dia mencari kontak seseorang untuk meminta bantuan.
"Halo Angkasa, Lo bisa bantuin Gue gak?" Tanyanya begitu sambungan telepon terhubung.
Dia bisa bernafas lega sekarang, ternyata posisi Angkasa tidak jauh dari tempatnya sekarang. Jadi ibunya bisa segera di bawa ke rumah sakit.
"Kita pulang saja Nak, Ibu sudah baikan kok sekarang."
Wanita itu tidak bohong, dia memang merasa badannya sudah lebih baik dari pada yang tadi, rasa sakitnya juga perlahan hilang.
"Bu, nanti takutnya kambuh lagi. Jadi kita harus tetap ke rumah sakit. Sudah Bu, jangan alasan lagi. Lebih baik kita periksa dulu, supaya tahu sebenarnya Ibu sakit apa. Biar pengobatannya juga mudah, dan obatnya juga tepat."
"Ya sudah, kalau begitu terserah Kamu saja."
Dia melihat Gagah yang sudah mulai kesal, jadi tidak diteruskan lagi niatnya yang ingin pulang. Karena dia tahu jika anaknya sudah begini, artinya dia sangat serius.
"Iya Bu, tunggu sebentar saja. Sabar dulu, nah itu Angkasa. Ayo Bu, pindah mobil."
Mereka berdua turun dari mobil.
"Pak, sekali lagi makasih, maaf Kami buru-buru. Ongkosnya saja bayar full ya."
"Tidak usah Dek, sebaiknya buat berobat ibu kamu saja." Supir taksi online tidak mau menerima bayarannya. Namun, Gagah memaksa dan memberikannya. Dia juga kasihan melihat pria paruh baya itu yang sudah mulai kelelahan.
"Kenapa bisa begini Gah? Ibu ayo ke mobil saya."
"Makasih ya Nak. Maaf merepotkan."
"Jangan bilang begitu Bu, tidak ada yang kerepotan kok. Kebetulan lagi lewat sini juga."
"Rumah sakit mana?" Tanya Angkasa begitu mereka masuk ke dalam mobil.
"Terdekat aja, yang penting ada dokter spesialis organ dalam."
"Ibu sakit apa emang?"
"Enggak sakit apa-apa sebenarnya. Hanya Gagah saja yang repot sendiri. Orang gak kenapa-kenapa."
"Enggak sakit dari mana. Orang dari tadi meringis kesakitan."
"Ya sudah, 15 menit dari sini ada rumah sakit yang cukup bagus."
"Yang biasa saja Nak. Tidak perlu yang bagus-bagus."
"Biar saja Bu, kan harus mendapatkan penanganan yang bagus, supaya cepat sembuh."
"Jangan seperti orang kaya Nak. Kita gak mampu, sesuai dengan kantong kita saja."
"Gah, Bu. Tenang dulu ya. Aman kok, di sana kan bisa pakai asuransi."
"Ibu gak punya asuransi."
"Tenang, Saya punya kok. Bisa dipakai dulu saja."
"Bukannya hanya untuk satu orang?"
"Tidak, ini untuk anggota keluarga. Jadi, ibu tidak usah lagi pusing memikirkan biaya ya."
Ibunya bisa bernafas lega sekarang, ternyata yang dibilang anaknya benar. Penyakit itu sekarang terasa lagi.
"Kenapa Bu?" Tanya Gagah. Saat melihat ibunya seperti merasa kesakitan lagi.
"Ingin tidur."
"Ya sudah, tidur dulu saja. Nanti kalau sudah sampai Aku bangunin."
Wanita itu mengangguk. Kemudian memejamkan matanya.
"Lo kenapa gak bilang, kalau ibu sakit?"
"Enggak tahu, kalau bakal separah ini. Tadi biasa saja soalnya. Apalagi, ibu susah banget diajak berobatnya."
"Beruntung, Gue lagi ada di Deket sini juga. Kan udah dibilang, kalau ada apa-apa langsung telepon Gue."
"Kenapa harus begitu? Emang Lo bapak Gue. Terserah lah, mau bilang atau enggak. Ini aja nelepon mikir-mikir dulu."
"Kenapa?"
"Takut ganggu, Lo kan juga punya kesibukan sendiri."
"Terus aja berpikir begitu. Biar Lo kerepotan sendiri, dan merasa gak punya siapa-siapa di dunia ini."
Angkasa bukan sedang menyindir, dia memang merasakannya. Tadi, dia sudah sangat kebingungan ke mana harus meminta bantuan. Namun, beruntung Allah selalu baik padanya. Sehingga dia menggerakkan Angkasa untuk membantu.