Bima sedang menopang dagu, matanya tertuju pada laptop yang ada di hadapannya. Tapi pikirannya sedang berkeliaran ke mana-mana.
"Gimana aku mau kerja kalau pikiran aku tuh ke mana-mana? aku benar-benar gak fokus kerja hari ini. Ini semua karena istri sendiri. Bisa-bisanya dia malah diamin aku, kan aneh. Padahal aku gak salah, aku juga mau yang terbaik buat anak ku kan, mana mungkin aku gak sayang sama anak sendiri. Justru karena aku benar-benar sayang, jadi aku gak mau kalau Umaya nikah sama anak itu. Anak itu keluarganya aja gak bagus, gimana anaknya? sudah terbukti anak yang dibesarkan dengan keluarga yang gak baik itu ya pasti anaknya gak baik juga. Kebanyakan tuh begitu, jadi aku gak salah kan. Aku kan mau yang terbaik buat anak ku." Bima tampak mengusap wajahnya kasar.
Bima melihat tumpukan dokumen dokumen yang ada di depan matanya. "Malah kerjaan banyak lagi. Masa aku lembur sih?" tanya Bima pada dirinya sendiri.
"Enggak deh, aku gak mau lembur. Aku mau pulang aja. Benar-benar capek sih hari ini, benar-benar gak semangat juga. Aku benar-benar kepikiran rumah." Bima menghela nafasnya lelah.
Bima menutup laptopnya, dia langsung mengambil tas kerjanya dan berjalan keluar dari ruangan kerjanya.
"Aku mau liat Umaya, aku mau nanya langsung sama dia, mau nasehatin dia biar dia ngerti kalau aku begini tuh karena aku sayang sama dia, bukan karena apa apa. Aku juga uda lama gak dekat dengan Umaya karena sibuk dengan pekerjaan , mungkin ini salah satu penyebab Umaya gak percaya lagi sama aku. Aku harus mengambil hati Umaya biar Umaya bisa nurut sama aku." Bima bertekad dalam hati. Hari ini dia harus mulai mendekati sang anak. Sebenarnya Bima dan Umaya itu dekat, tapi tidak terlalu dekat, apa lagi semenjak Bima selalu sibuk dengan pekerjaannya. Bima selalu lembur, jika tidak lembur juga Bima pasti akan membawa pekerjaannya ke rumah dan mengerjakannya di rumah. Jadi tidak ada waktu untuk Bima dan Umaya untuk menghabiskan waktu bersama.
Jika weekend, Bima selalu menghabiskan waktunya di kamar. Saat weekend Bima selalu menghabiskan hari-harinya dengan tidur, karena jika hari kerja, waktu tidur Bima benar-benar sedikit. Jadi Bima membalaskan tidurnya di saat weekend. Biasanya saat weekend, Bima hanya keluar kamar untuk makan saja.
Saat ini Bima sudah ada di dalam mobilnya. Bima langsung menyetir mobilnya, membawa mobilnya pergi dari area kantor.
"Aku lapar, belum makan siang. Kalau aja di rumah gak ada makanan, gak masak, benar-benar ngamuk aku nanti. Enak aja aku capek capek kerja gak dilayani, gak dimasakin. Awas aja." Bima mengomel sendiri.
"Kenapa ya aku punya istri yang keras kepala? benar-benar keras kepala. Dia tuh kenapa sihh selalu nyalahin aku? padahal yang aku lakuin itu kan yang terbaik. Biasanya juga dia nurut aja apa yang aku bilang, kenapa sekarang malah jadi melawan? malah aku didiemin lagi. Apaan coba? seharusnya kalau dia emang niat buat aku buat kasih restu ke hubungan Umaya dan Raka, harusnya dia tuh baik ke aku, ngambil hati aku biar aku ngerestuin. Lahh ini? bukannya malah dibaikin malah didiemin, gak ditegur sama sekali, kayak orang gak kenal. Yang ada bukannya luluh hati aku, malah makin kesal." Bima berdecak kesal. Jika sudah bertengkar dengan sang istri, Bima akan menjadi lebih sensitif, Bima pasti selalu marah marah sendiri, hari harinya juga jadi buruk. Mood Bima turun, dia menjadi tidak fokus kerja dan tidak fokus apa apa karena pikirannya tertuju pada sang istri.
"Masa aku sih yang minta maaf sama dia? dia kan istri, harusnya dia yang salah karena diamin suami, dia kan istri, harusnya dia juga lah yang minta maaf ke aku, bukan malah aku. Toh aku juga gak salah kan? aku gak bakalan mau minta maaf duluan. Biarin aja dia duluan yang minta maaf, kalau dia diemin aku terus, aku bakalan diemin dia juga. Dia pikir cuma dia aja yang bisa diemin aku apa? aku juga bisa diemin dia kali. Liat aja, aku gak bakalan mau bicara duluan ke dia sebelum dia yang duluan nyapa aku." Bima sudah memutuskan, dia tak akan mau menyapa Meli duluan sebelum Meli yang menyala nyala duluan. Karena Bima tak merasa bersalah, dia akan bertahan dengan harga dirinya saat ini.
"Liat aja, seberapa tahunnya dia gak tegur sapa sama aku. Seberapa tahannya dia tidur sekamar tapi diam diaman. Aku gak bakalan ajak ngomong dia duluan, aku bakalan diam, sampai dia yang ajak aku ngomong duluan. Aku yakin, dua hari aja dia pasti uda gak tahan gak tegur sapa sama aku. Pasti besok dia uda minta maaf sama aku. Kalau gak besok juga pasti mentok lusa, yakin deh pasti dia gak tahan diam diaman gini." Bima tersenyum miring. Dia menebak besok Meli pasti akan minta maaf padanya.
"Kita liat aja, ikutin permainannya. Aku yakin kalau dia bakalan minta maaf duluan. Ck, uda gak sabar liat dia minta maaf sama aku." Bima tersenyum penuh percaya diri.
*****
Sekitar setengah jam Bima menghabiskan waktunya di perjalanan. Dan saat ini Bima sudah sampai di depan rumahnya. Satpam langsung membukakan pagar rumah supaya Bima bisa masuk. Setelah itu Bila langsung masuk ke dalam pekarangan rumah, dia langsung memarkirkan mobilnya ke dalam garasi.
Setelah memarkirkan mobilnya di garasi, Bima langsung turun dari mobilnya.
Bima mengerutkan dahinya bingung saat melihat mobil mewah berwarna hitam terparkir di depan rumahnya. "Ini mobil siapa ya? apa ini mobil temannya Umaya yang lagi jenguk Umaya? atau mobil teman mama Umaya? mobil siapa ya?" Bima bertanya pada dirinya sendiri.
"Ahh kenapa harus berpikir di luar sih? nanti kalau masuk ke dalam rumah juga kan pasti tau mobil siapa yang parkir di sini." Bima langsung berjalan menuju rumahnya. Sesampainya di depak pintu rumahnya, Bima langsung memencet bel rumahnya.
Sekitar 3 kali Bima memencet bel rumahnya, dan akhirnya pintu rumah pun terbuka. Yang membuka pintu rumah bibi, bukan Meli.
"Lohh tuan, uda pulang? tumben gak lembur." Bibi berbasa-basi, bibi memang sudah akrab dengan keluarga Bima. Bibi sudah kerjanya sangat lama di rumah ini. Sejak Bima baru menikah bibi sudah bekerja untuknya. Jadi bibi dan keluarganya sudah sangat akrab.
"Iya, bi, capek banget. Gak lembur dulu deh. Mau jagain Umaya juga. Semalam kan liat Umaya cuka sebentar. Hari ini mau ngabisin waktu sama Umaya. Kasian Umaya pasti gak ada temannya." Bima menjawab sambil berjalan masuk ke dalam rumah.
"Ada kok, baru aja datang temannya," ucap bibi.
"Siapa bi?" tanya Bima penasaran.
"Pacarnya, tuan, bibi lupa, pacarnya yang datang, bukan temannya," jawab bibi.
Mendengar jawaban bibi, Bima langsung membelallakkan matanya lebar. Dia langsung berlari menuju Umaya untuk memeriksa.