Setelah mendengar jawaban bibi, Bima langsung berlari menuju kamar Umaya. Bima berlari menaiki tangga dengan cepat.
Bibi langsung mengerutkan dahinya bingung. "Tuan kenapa? kenapa lari lari? harusnya jalan aja kan bisa. Gak kebayang kalau tuan jatuh di tangga waktu lari gitu."
Bima langsung berjalan cepat menuju kamar Umaya. Sesampainya di depan pintu kamar Umaya, Bima langsung mengetuk pintu kamarnya dengan kuat.
Tok tok tokk tok!!!
Semua orang yang ada di dalam kamar Umaya langsung terkejut karena ketukan pintu yang keras dan sangat tiba-tiba.
"Siapa itu, ma?" tanya Umaya yang saat ini sedang asik makan bakso bersama mamanya dan Raka.
Meli menggelengkan kepalanya cepat. "Mama juga gak tau siapa. Bibi mungkin ya." Meli menjawab tidak tau.
"Siapa?" tanya Meli dengan berteriak.
Tak ada jawaban dari Bima, Bima malah kembali mengetuk pintu dengan kuat.
Tok tok tokkk!!
Meli mengerutkan dahinya kembali. "Siapa sih? bibi kenapa ngetuk pintunya kayak mau ngajak berantem?" Meli bertanya pada dirinya sendiri.
"Biar mama yang bukain pintunya." Meli meletakkan mangkok baksonya di atas nakas. Lalu setelah itu dia langsung berjalan menuju pintu kamar Umaya untuk membukakan pintunya.
Meli membuka pintu kamar Umaya. "Biasa aja ngetuknya bisa gak s-"
Ucapan Meli terpotong saat dia melihat Bima yang sedang berdiri di depan pintu kamar Umaya. Meli benar-benar tekejut, dia tak menyangka kalau Bima yang sedang mengetuk pintu kamar Umaya.
Meli menggenggam tangannya kuat. Dia tampak khawatir. Bukannya takut dengan Bima, tapi Meli lebih takut Bima marah-marah dan membuat kerusuhan di kamar Umaya saat melihat Raka ada di dalam kamar Umaya. Meli takut kalau Bima marah-marah bisa menyebabkan Umaya semakin tertekan dan tidak sembuh sembuh.
"Mau apa?" tanya Meli singkat dengan raut wajah datarnya.
"Mau masuk ke dalam kamar Umaya, dia kan anak ku. Kenapa pake bertanya segala?" jawab Bima dengan ketus.
"Minggir," perintah Bima cepat.
Bukannya minggir, Meli malah tetap berdiri di depan pintu supaya Bima tak masuk ke dalam kamar Umaya.
Bima tampak kesal. Raut wajahnya benar-benar menunjukkan kalau dia sedang tidak mood hari ini. "Minggir! aku mau masuk! aku mau liat keadaan anak ku gimana." Bima kembali menyuruh Meli untuk menyingkir dari depan pintu kamar Umaya.
"Kenapa emangnya? Umaya baik baik aja kok. Tanpa dijengukin juga Umaya baik baik aja. Malah kalau dijenguk sama orang yang pemaksaan dan egois mungkin keadaan Umaya makin drop. Jadi lebih baik usah jenguk, dari pada semakin buat drop." Meli menyuruh Bima untuk tidak menjenguk Umaya. Bukan tanpa alasan, alasannya masih sama, Meli takut kalau Bima ngamuk karena melihat Raka ada di dalam kamar Umaya.
"Apa sih?! Umaya itu anak ku. Jangan larang aku ketemu sama dia! minggir!" Bima mendorong Meli pelan supaya Meli menyingkir dari depan pintu.
"Gak usah. Gak perlu, kalau kamu masuk suasana semakin awkard dan gak tenang. Lebih baik kamu pergi." Meli masih bertahan walaupun sudah didorong oleh Bima.
Bima berdecak kesal. Meli benar-benar keras kepala. Bima menambah tenaganya untuk mendorong Meli, tapi Bima berusaha membuat Meli tidak jatuh, hanya membuat Meli menyingkir dari depan pintu supaya Bima bisa masuk ke dalam kamar Umaya.
Setelah berhasil menyingkirkan Meli dari depan pintu kamar Umaya, Bima langsung berjalan masuk ke dalam kamar Umaya.
"Hahaha ... iya, enak banget baksonya. Aku suka banget, ini bakso yang jualan di mana ya?" Umaya bertanya pada Raka. Saat ini Umaya dan Raka sedang bercanda sambil makan bakso yang tadi Raka bawa.
"Ooh ... ini bakso yang jualannya dekat kantor aku. Kamu belum pernah makan di situ kayaknya. Ini baru pertama kali kamu makan bakso yang di situ sih kay-"
"NGAPAIN KAMU DI SINI?!"
Ucapan Raka terpotong saat tiba-tiba Bima bertanya dengan suara lantang.
Raka dan Umaya langsung melihat ke arah Bima. Sejak tadi mereka tidak sadar dan tidak tau kalau Bima masuk ke dalam kamar Umaya.
Umaya menbelalakkan matanya lebar, dia tak percaya dan tak menduga kalau papanya pulang cepat dan masuk ke dalam kamarnya tiba-tiba. Karena Umaya sangat paham, papanya selalu lembur bekerja. Jika tidak lembur pun, papanya tidak akan ada waktu untuk melihatnya. Karena kebiasaan papanya jika tidak lembur atau weekend adalah bekerja di rumah, jadi tidak bisa diganggu.
Sama halnya dengan Umaya, Raka juga sangat terkejut dengan kedatangan Bima yang secara tiba-tiba itu. Tapi Raka berusaha menutupi rasa keterkejutannya itu. Dia harus tetap stay cool di depan calon mertua.
Raka langsung meletakkan mangkok baksonya di atas nakas, di samping mangkok bakso Meli. Lalu kemudian Raka berjalan menghampiri Bima.
"Ehhh om, baru pulang dari kantor?" Raka menunduk dan menyapa Bima dengan senyumannya. Lalu Raka juga ingin menyalim tangan Bima. Tapi Bima menolak, Bima menolak tangannya disalim oleh Raka.
"Jangan sok akrab kamu sama saya!" bentak Bima kuat, membuat Raka langsung kembali berdiri tegak dan tidak jadi menyalim tangan Bima.
Umaya terkejut saat papanya membentak Raka. "Papa kenapa sih? padahal mas Raka kan niatnya baik, mas Raka uda nyapa papa, mas Raka juga cuma mau salim tangan aja. Kenapa harus dibentak coba? papa apa gak tau situasi apa? kenapa sih papa begitu?" tanya Umaya dalam hati.
"Ngapain kamu di sini, hah?!" tanya Bima membentak.
"Saya ke sini mau jengukin Umaya, om," jawab Raka sopan.
Bima tersenyum miring. "Jenguk? ngapain kamu jenguk Umaya, hah? anak saya gak butuh kamu jenguk!!"
"Papa!!" Umaya langsung menegur sang papa yang ucapannya sudah kelewat batas.
"Papa apaan sih? kan mas Raka ke sini cuma mau jenguk Umay. Mas Raka ke sini gak buat rusuh kok, kalau papa takut mas Raka sama Umaya berduaan, enggak kok. Mama juga dari tadi di sini bareng Umaya sama mas Raka. Papa jangan gitu dong, masa mas Raka niatnya baik malah dibentak, gimana sih papa?" Umaya mulai angkat bicara.
"Kamu melawan? kamu malah bela dia?" tanya Bima pada Umaya.
"Kamu malah marahin papa demi anak ini?" tanya Bima sambil menunjuk ke arah Raka.
"Enggak gitu, pa. Tapi yang papa lakuin saat ini itu uda kelewatan. Kenapa sih papa gak bisa baik ke mas Raka? padahal mas Raka itu gak pernah jahat ke papa dan keluarga kita. Apa gak bisa setidaknya papa menghargai mas Raka sebagai tamu?" tanya Umaua lagi.
"Enggak!! enggak!! gak bisa! sampai kapan pun papa tetap gak akan suka sama dia!! mau kamu bela dia sebagaimana pun, tetap papa gak suka dia!!" Bima menjawab dengan tegas.
"Tap-"
"Gak ada tapi-tapian!! cuma karena laki-laki ini kita ribu! cuma karena dia hubungan anak dan papanya jadi hancur?! kamu pikir sendiri Umaya. Pantas kah kamu memilih lelaki yang baru kamu kenal dibandingkan papa yang ngurusin kamu sejak bayi? dibanding papa orang tua kamu?" Bima bertanya pada Umaya. Dia benar-benar marah melihat Raka masuk ke dalam rumahnya.