Bima masih kekeuh mengusir Raka dari rumahnya. "Pergi kamu dari sini! kamu gak punya malu ya? uda diusir juga masih bertahan di sini! pergi kamu dari rumah saya!"
"Pa! apa sih pa? kok papa marah marah? kenapa sih papa gitu sama tamu?" Umaya mencoba menahan emosinya.
"Siapa yang bilang dia tamu di sini? dia bukan tamu, jadi silahkan pergi sekarang juga dari sini!" Bima terus mengusir Raka.
"Siapa yang bilang dia bukan tamu?" tanya Meli yang tiba-tiba mendekat ke arah Bima dan Raka.
Bima melihat ke arah Meli. Dia langsung menghela nafasnya kasar. Apa dia harus ribut lagi dengan Meli hanya karena hal ini.
"Gak usah ikut-ikutan kamu. Aku nyuruh dia pergi dari sini, gak ada sangkut pautnya sama kamu." Bima bicara dengan nada datar pada Meli.
Meli tersenyum miring. "Ck. Siapa bilang gak ada sangkut pautnya? perasaan dari tadi kami di sini tanpa ada orang lain yang masuk baik baik aja. Kenapa tiba tiba datang jadi perusuh? kamu uda jadi orang tua, kamu uda jadi pengusaha kaya raya. Masa kamu gak tau bagaimana cara memperlakukan tamu dengan baik. Kalau kamu gak bisa memperlakukanmu tamu dengan baik, lebih baik kamu gak usah ikut campur. Ada aku di sini, aku yang akan mengurus mereka berduaan. Jadi kamu gak usah sok ikut campur, datang datang buat rusuh!" Meli menatap Bima tajam.
Bima tersenyum kecut. Dia tak menyangka Meli akan membela Raka sampai segininya. "Ini rumah ku. Aku yang berhak untuk mengatur siapa aja yang ada di rumah ini." Bima menatap Meli tajam.
Raka merasa tak enak hati. Dia merasa canggung saat Bima dan Meli bertengkar di depannya, itu juga karena dirinya. Lebih baik Raka yang mengalah. Lebih baik Raka yang pulang saja.
"Uda om, tante, gak usah bertengkar. Maafin saya ya kalau saya ganggu. Maafin saya kalau saya gak tau malu, uda diusir tetap datang ke rumah ini lagi. Saya akan pergi sekarang. Om dan tante gak udah ribut lagi." Raka melerai pertengkaran Bima dan Meli.
"Enggak! gak ada! kamu tetap di sini. Kamu adalah tamu. Baru juga kamu datang, masih juga makan, gak sopan banget manusia yang datang datang malah ngusir kamu dari rumah ini. Kamu lanjutin dulu aja makan kamu, gak apa-apa. Gak usah peduliin orang yang seperti itu." Meli mencegah Raka untuk pergi dari rumahnya.
Bima yang mendengar ucapan Meli seperti itu langsung menatap Meli dengan tajam. "Siapa kamu buat keputusan di rumah ini? aku yang punya rumah ini. Jadi aku yang akan memutuskan apa pun yang bersangkutan dengan rumah ini dan penghuninya! kalau aku bilang dia harus pergi ya pergi! aku gak suka liat dia di sini!" Bima mulai meninggikan suaranya.
Melihat keributan antara Bima dan Meli membuat Umaya semakin frustasi. Bahkan saat ini Umaya sedang memegang mangkok baksonya dengan kuat, seolah meremas mangkok itu untuk menahan emosinya.
"Aku juga berhak atas keputusan di rumah ini!!" Meli tak terima saat Bima mengatakan hanya dirinya yang berhak mengambil keputusan di rumah ini.
"Enggak! gak ada orang lain yang berhak mengambil keputusan di rumah ini selain aku! aku yang punya rumah ini! aku juga kepala keluarga yang berhak mengambil keputusan! gak ada yang boleh membantah keputusan ku! kalau gak suka dengan keputusan ku, jangan tinggal di rumah ini." Emosi Bima mulai memuncak, dia sudah kalap dan mungkin tidak sadar apa yang dikatakannya barusan adalah bom dalam rumah tangganya.
Meli terdiam. Dia masih mencerna ucapan Bima barusan. "Maksud kamu, kamu ngusir aku?" tanya Meli sambil menunjuk dirinya.
"Siapa pun dia yang menolak keputusan ku di rumah ini, silahkan angkat kaki dari rumah ini!" Bima mengulangi ucapannya kembali dengan tegas.
Meli tampak benar-benar terkejut. Dia tak menyangka kalau Bima akan bicara seperti ini padanya.
"Jadi kamu ngusir aku?" Meli kembali menunjuk dirinya.
"Oke, oke kalau kamu ngusir aku. Aku bakalan pergi dari rumah ini sekarang juga!" Meli tersenyum sinis.
Raka langsung khawatir, dia tak menyangka pertengkaran antara Meli dan Bima akan berlanjut separah ini.
"Tante, biar Raka aja yang pergi tante. Raka juga uda mau pulang kok. Raka ada kerjaan lagi di kantor. Biar Raka aja yang pergi, tante." Raka mencegah Meli supaya tidak pergi dari rumah.
Meli tak menggubris ucapan Raka. Dia berjalan keluar kamar Umaya.
"Puas kamu kan? gara gara kamu semuanya jadi begini. Gara gara kamu keluarga saya jadi berantakan! kalau gak ada kamu, keluarga saya bakalan baik baik aja! puas kamu sekarang kan? dasar manusia gak tau mal-"
PRANGGG!!!
Raka, Bima, dan Meli yang masih berjalan langsung terkejut mendengar suara bantingan kaca.
Bima dan Raka langsung menoleh ke arah Umaya. Begitu juga dengan Meli. Meli langsung berhenti berjalan dan membalikkan badannya untuk memeriksa apa yang terjadi.
Meli, Raka, dan Bima terkejut bukan main saat mereka melihat mangkok berisi bakso yang Umaya pegang sudah hancur lebur dibanting olehnya ke lantai.
"PUAS?!! PUAS KALIAN SEMUA RIBUT, HAH?!!! MAU KALIAN APA SIH? APA GAK BISA YA SEHARI AJA GAK USAH RIBUT? APA GAK BISA YA SEHARI AJA BIARIN AKU BAHAGIA?! MEMANGNYA ITU TERLALU BERAT?!" Umaya berteriak pada Meli dan Bima. Dia menyampaikan isi hatinya, seperti nya Umaya sudah tak bisa menahan emosinya lagi.
"Kamu!! kamu kenapa malah marah-marah sama papa? kamu itu anak papa. Papa sayang sama kamu, papa mau yang terbaik untuk kamu. Kenapa kamu marah-marah sama papa? seharusnya kamu bersyukur-"
"Bersyukur apa? bersyukur hubungannya gak direstui? bersyukur orang yang dicintainya ditolak dan di hina di rumahnya sendiri? bersyukur orang yang uda nyelamatin dia malah diusir dari saat bertamu? iya? harus bersyukur untuk itu, iya?!" tanya Umaya marah-marah.
Bima tak percaya melihat kemarahan Umaya saat ini. Menurutnya Umaya tak pantas marah, karena apa yang dilakukan Bima semuanya demi kebaikan Umaya.
"Bisa-bisanya kamu melawan dan membentak papa demi lelaki yang gak jelas begini! kamu sadar gak sih kalau kamu itu anak papa, papa yang membesarkan kamu dari kamu masih bayi, bukan dia! jadi seharusnya kamu tau kamu harus menaati omongan siapa. Jangan melawan orang tua demi orang lain yang bukan siapa-siapa." Bima masih berusaha membuka pikiran Umaya supaya setuju dengan tindakannya.
Umaya tersenyum miring. "Orang tua. Orang tua, umurnya doang yang tua. Kelakuannya sama sekali tidak mencerminkan karakter orang tua!" ucap Umaya sarkas. Dia benar-benar kehilangan kontrol emosinya saat ini.