Pergi Dari Rumah

1018 Kata
Keadaan mulai memanas saat Umaya ikut angkat bicara. Semua orang dibuat terkejut oleh apa yang dikatakannya. "Papa tolong jangan egois! Umaya tuh gak suka liat papa egois. Apa sih salah Umaya? apa salah mas Raka? kenapa sih papa segitunya banget berusaha untuk ngehalangin hubungan kita? papa sadar gak sih kalau apa yang papa lakuin itu egois. Papa sadar gak sih apa yang papa lakuin itu jahat, papa uda rebut kebahagiaan Umaya." Umaya menatap papanya dalam dan penuh arti. Biasanya dia selalu mengalah, biasanya dia tak pernah bicara seperti ini. Tapi untuk kali ini papanya sudah keterlaluan. "Umay, kamu gak boleh gitu. Aku gak apa-apa kok. Aku juga mau ke kantor, ada kerjaan. Memang aku mau bikin." Raka menegur Umaya supaya tak keterusan marah marah pada papanya. Bima menatap Raka tajam. "Uda puas kamu? puas kamu uda buat keluarga saya berantakan karena kamu? puas kamu uda buat anak saya melawan saya hanya karena belain kamu? PUAS KAMU???" Bima membentak Raka di akhir ucapannya. "Jangan ngalamin orang lain, pa! jangan nyalahin mas Raka. Jangan nyalahin siapa pun. Papa harusnya nyalahin diri sendiri, koreksi diri sendiri. Papa yang salah. Papa yang uda rebut kebahagiaan Umaya. Papa yang uda buat keluarga kita jadi bertengkar. Kalau papa gak marah-marah, mungkin Umaya bisa terima. Kalau aja papa datang dengan baik dan bilangin mas Raka supaya pulang dengan cara baik dan sopan, Umaya gak bakalan marah. Ini apa, pa? papa ngusir mas Raka seolah-olah mas Raka itu penjahat yang gak pantas masuk ke rumah kita. Apa papa sadar papa egois? pala juga bilang ke mama tadi siapa yang gak mau dengerin papa angkat kaki dari rumah karena rumah ini punya papa. Papa sadar gak sih apa yang papa omongin itu buat hati mama sakit? papa memang berkuasa, papa memang kaya raya, papa memang yang punya rumah dan isi-isinya, tapi tetap aja papa gak berhak bicara begitu." Umaya menyampaikan kekesalannya pada sang papa. Umaya benar-benar kecewa saat papanya bicara seperti itu pada mamanya. Siapa yang tidak tersinggung jika dikatakan seperti itu? seolah-olah keberadaan Meli dan Umaya di rumah itu hanya lah sekedar menumpang. "Papa cuma mau yang terbaik untuk kita, Umaya. Seharusnya, kalau mama kamu itu istri yang baik, dia gak akan melawan papa, dia gak akan menentang pendapat papa." Bima membela diri. "Menentang apa maksud kamu? aku bukan menentang kamu, tapi aku berusaha untuk kebahagiaan anak ku. Aku berjuang untuk Umaya, aku gak mau liat dia tertekan karena kamu. Apa aku salah? aku sayang anak ku, gak akan kubiarkan dia gak bahagia hanya karena keegoisan kamu. Apa aku salah sebagai seorang ibu? kamu yang salah, kamu terlalu egois sampai-sampai kamu gak memikirkan perasaan orang lain. Baik aku dan Umaya juga punya hak dalam mengambil keputusan di hidup kami sendiri, kami bukan boneka yang bisa seenaknya kamu mainkan." Meli langsung menyambar ucapan Bima, dia tak setuju jika Bima terus membela diri dengan alasan demi kebahagiaan Umaya. "Kamu yang egois. Kamu itu istri aku, seharusnya kamu nurut ke aku. Bukannya malah ngeberontak seperti ini. Bisa gak sih kamu dukung keputusan aku? aku ini kepala keluarganya, aku yang berhak menentukan apa yang diputuskan di rumah ini. Jadi tolong kamu harus paham itu." Bima mulai kesal, dia benar-benar merasa kalau Meli lah yang salah karena tidak mendukungnya. "Terus aku harus dukung kamu yang salah gitu? aku harus bela kamu untuk nyakitin perasaan anak ku gitu?" tanya Meli sinis. "Memang benar ya kata Umaya tadi, umur aja yang uda tua, tapi kelakuan kamu masih seperti anak-anak. Egois, mau menang sendir-" "Cukup!!! jangan terus-terusan bicara seolah-olah aku yang paling buruk!! aku di sini kepala keluarga! siapa pun yang gak suka dengan keputusan aku, silahkan angkat kaki dari rumah ini. Kalau kalian tinggal di rumah ini, itu berarti kalian harus nurut sama apa yang aku bilang!" Bima memotong ucapan Meli. Srekk!! Umaya melepas paksa infus di tangannya. Membuat tangan Umaya mengeluarkan darah. "Umay, kenapa dilepas?" tanya Raka panik. Raka langsung berjalan mendekati Umaya. "Umaya, kenapa dilepas ingusnya, sayang?" tanya Meli panik. Meli mendekati Umaya, begitu juga dengan Bima yang juga berjalan mendekati Umaya. Umaya mencoba berdiri dengan perlahan. Meski badannya masih sakit, tapi Umaya berusaha berjalan pelan-pelan. "Oke kalau gitu. Oke kalau menurut papa ini rumah cuma milik papa dan cuka keputusan papa yang berguna di rumah ini. Nikmati aja kehidupan papa di rumah ini, aku bakalan ikut mama pergi dari rumah ini." Umaya sudah memutuskan untuk ikut pergi dari rumah ini. "Umaya, kamu ngomong apa sih?! kamu itu masih sakit, jangan yang macam-macam, ayo baring lagi." Bima ingin memegang pundak Umaya, tapi tangannya langsung dihempas oleh Umaya. "Lepas!! Umaya gak tahan kalau hidup harus seperti boneka. Umaya juga pengen bahagia. Silahkan nikmati segala kekuasaan papa di rumah ini. Umaya ikut mama pergi." Umaya berjalan mendekati mamanya. "Tapi kamu masih sakit, sayang. Sini aja dulu ya sampai sembuh," Raka membujuk Umaya supaya tidak pergi dari rumah. "Enggak. Aku gak mau hidup penuh tekanan di rumah ini. Lebih baik aku pergi dari pada lama-lama aku gila karena tertekan dan gak bisa bahagia." Umaya memegang tangan mamanya erat. "Ayo, ma, kita pergi dari sini," ajak Umaya pada mamanya. "PUAS KAMU?! PUAS KAMU UDA MENGACAUKAN KELUARGA SAYA?! PUAS KAMU, HAH?! DASAR ANAK GAK TAU DIR-" Bima langsung memaki Raka, dia juga mendekati Raka dan ingin melayangkan pukulan ke wajah Raka. "PAPA!!!" Umaya langsung berteriak dan langsung menarik Raka ke belakang dirinya supaya tidak terkena pukulan papanya. Dan benar saja, Bima langsung menghentikan layangan tangannya saat Raka ditarik ke belakang Umaya. Dan mungkin kalau Bima tidak cepat menghentikan tangannya, pukulannya bisa meleset ke Umaya. "Cukup, pa! gak usah buat Umaya semakin gak suka sama papa. Papa begini semakin ngeyakinin Umaya kalau papa benar-benar egois. Kalau papa gak suka sama hubungan Umaya dan Raka, yaudah, pa, tapi jangan mencoba-coba kasar ke Raka. Umaya semakin yakin kalau Umaya dan mama harus pergi dari rumah ini." Umaya menatap dalam sang papa. "Ayo, ma, kita pergi dari rumah ini." Umaya menarik tangan mamanya supaya berjalan keluar dari kamarnya. Tangan kiri Umaya menarik tangan Meli, tangan kanan Umaya menarik tangan Raka. Umaya berjalan sambil menarik Raka dan Meli pergi dari kamarnya, meninggalkan Bima yang sedang berdiri sendiri di dalam kamar Umaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN