Rumah Baru

1046 Kata
Umaya pergi dengan membawa Raka dan Meli. Dia benar-benar nekat, tidakk memikirkan bagaimana dengan perasaan sang papa. Jujur saja, Umaya benar-benar sudah lelah menghadapi sikap egois papanya yang selalu mau menang sendiri. Umaya juga ingin bahagia, Umaya sudah dewasa, bukan anak kecil lagi yang apa-apa harus ditentukan oleh papanya. Untuk masalah yang lain mungkin Umaya selalu terima pendapat papanya, dia selalu terima apa pun keputusan papanya. Sejak kecil Umaya tidak pernah protes pada sang papa. Mulai dari penentuan sekolah SD Umaya, sampai kampus Umaya pun papanya yang menentukan. Umaya tak keberatan meskipun di awal dia mengeluh. Tapi untuk urusan yang satu ini, sepertinya Umaya tidak bisa mengalah lagi. Umaya benar-benar lelah, dia sudah dewasa, masalah hubungan dan calon suami harusnya Umaya yang pilih, bukan papanya. Lagi pula Umaya memilih pilihan yang baik dan tepat, kenapa papanya harus menolak dengan alasan klasik? Umaya benar-benar tidak suka, papanya banyak berubah. Papanya seakan egois dan kasar dalam berbicara. Perlakuan papanya terhadap mamanya tadi adalah salah satu hal utama yang membuat Umaya menetapkan hati untuk pergi dari rumah. "Tante, Umay, yakin mau pergi dari rumah ini? sebaiknya gak usah, kasian om sindiran tante." Raka bertanya pada Meli dan Umaya. "Biarin aja papa sendiri, biar papa tau kalau papa itu gak bisa hidup sendiri tanpa mama dan aku. Biar papa sadar kalau yang dilakuin papa itu egoisnya uda kelewatan. Papa juga harus tau perasaan orang lain, bukan perasaan papa aja yang harus dimengerti." Umaya menjawab pertanyaan Raka dengan cepat. "Ma, kita mau tinggal di mana? di rumah oma opa?" tanya Umaya pada Meli. Saat ini Umaya, Raka, dan Meli sedang berada di dalam mobil. Raka menyetir mobil dengan kecepatan sedang. Saat ini mereka juga masih ada di dalam komplek perumahan, belum keluar dari komplek perumahan. "Kayaknya kita cari rumah kontrakan aja deh, sayang. Kalau rumah opa dan oma nanti pasti papa kamu datang buat cariin kita. Mendingan kita cari kontrakan aja, cari kontrakan yang papa gak tau," jawab Meli. "Kontrakan? ngapain tinggal di kontrakan, tante? tinggal di rumah Raka aja tante. Rumah Raka kosong, gak ada orang yang tinggal di situ. Tapi ya berdebu lah, tante, karena gak ada yang tinggal di situ dan bersih bersih di situ." Raka menawarkan supaya tinggal di rumahnya. "Lohh kamu uda punya rumah sendiri?" tanya Meli terkejut. "Iya, kapan kamu punya rumah sendiri, mas? perasaan kamu gak pernah cerita sama aku kalau kamu punya rumah sendiri." Umaya juga ikut bertanya. "Rumahnya baru jadi sebulan yang lalu. Aku emang sengaja sembunyiin ini, karena niatnya mau buat surprise ke kamu. Ini rumah yang aku bangun untuk kamu, untuk tempat tinggal kita nanti setelah nikah. Cuma karena aku masih berusaha ambil hati papa kamu, jadi aku gak ngobrol ke kamu dulu kalau aku uda bangun rumah untuk kita. Niatnya setelah semuanya selesai baru aku ngomong sama kamu." Raka menjelaskan pada Umaya. "Ya ampun, kamu benar-benar uda serius banget sama Umaya ya. Sampai sampai kamu juga uda siapin rumah untuk kalian nanti." Meli terharu, dia benar-benar terharu melihat ada lelaki yang mencintai anaknya dengan tulus seperti ini. "Iya, tante. Karena keadaannya masih rumit jadi Raka gak mau kasih tau ke Umaya dulu. Tapi hari ini Raka kasih tau sama Umaya dan tante karena tante lagi cari rumah kontrakan. Gak usah cari rumah kontrakan, tinggal di rumah Raka aja." Raka kembali menyarankan supaya tinggal di rumahnya. "Gimana, Umay? mau tinggal di rumah baru Raka?" tanya Meli meminta pendapat Umaya. Umaya langsung mengangguk mengiyakan. "Iya, ma, kita tinggal di situ aja biar ga ketauan sama papa," jawab Umaya setuju. "Yaudah kalau begitu. Tapi sebelum kita ke rumah baru kamu, tolong anterkan tante ke mall atau toko baju dulu ya. Tante mau belanja baju. Tante sama Umaya kan pergi dari rumah tanpa bawa baju satu pun." Meli memang tidak berniat membawa barang-barangnya yang ada di rumah itu. "Ooh i-iya, tante. Nanti kita mampir ke mall. Tapi baju Umaya uda ada di rumah baru, gak usah beli baju Umaya lagi, tante." Raka memberitahu Meli. "Hah? baju aku uda ada di rumah kamu? sejak kapan aku ke sana? gimana bisa baju aku ada di rumah kamu?" tanya Umaya terkejut. "Bukan rumah aku, sayang, tapi rumah kita berdua. Dan aku uda menyiapkan segalanya, apa pun keperluan kamu di rumah itu. Termasuk baju kamu. Aku benar-benar uda beli banyak baju kamu dan uda aku tata di dalam lemari. Tapi hanya baju aja, kalau pakaian dalam aku belum beli. Nanti tante aja yang beliin punya Umaya sekalian ya, Raka nitip." Raka menjelaskan pada Umaya bagaimana bisa ada baju Umaya di rumah barunya. "Lohh, jadi kamu uda beli banyak baju baru untuk Umaya? benar-benar beli baju Umaya untuk ngisi lemari?" tanya Meli terkejut. Raka mengangguk mengiyakan. "Iya, tante," jawab Raka. "Ya ampun, kamu ternyata benar-benar uda serius banget ya sama Umaya. Bahkan kamu uda menyiapkan semuanya walaupun hubungan kalian masih ditentang sama papa Umaya." Meli sangat bangga dan salut melihat Raka. "Iya, tante, Raka benar-benar serius sama Umaya. Raka akan berjuang bagaimana pun untuk mendapatkan restu dari papa Umaya. Pokoknya Raka bakalan berusaha semaksimal mungkin, tante." Raka tersenyum tulus. Umaya yang mendengarkan ucapan Raka barusan hanya bisa tersenyum dengan bangga. Dia benar-benar semakin jatuh cinta pada Raka, semakin hari semakin jatuh cinta pada Raka. "Makasih ya, makasih uda mau sayang dengan tulus ke anak tante. Tante janji bakalan bantuin kamu supaya bisa menikah dengan Umaya secepatnya." Meli berterimakasih pada Raka. Raka balas tersenyum. "Iya, tante. Makasih kembali uda kasih restu buat Raka. Raka bakalan berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan restu dari papa Umaya." "Semangat ya, kamu pasti bisa. Tante bakalan bantuin kamu," balas Meli. "Oiya tante, kita ke mall dekat sini aja ya. Soalnya cuma mall sini yang terdekat dari rumah," "Iya, gak apa-apa. Mall mana aja deh, yang penting ada jual baju," balas Meli setuju. Sekitar 15 menit perjalanan akhirnya mobil Raka sudah sampai di mall terdekat. "Umaya sini aja ya, Raka juga sini aja. Raka temenin Umaya di sini, mama mau belanja dulu. Umaya kan masih sakit, gak bisa capek-capek." Meli keluar dari mobil, dia menyuruh Raka dan Umaya untuk tinggal di mobil. "Iya, tante, Raka jagain Umaya di sini," balas Raka cepat. "Oke, kalau gitu mama pergi cari baju dulu ya, nanti mama beliin juga punya kamu." Meli pamit, lalu dia langsung berjalan cepat meninggalkan mobilnya. Meli juga tidak akan lama, dia akan kembali secepatnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN