Kacau

1031 Kata
Bima duduk di tepi tempat tidur Umaya, dia melihat tempat tidur yang sudah kosong dan berantakan. Bima diam, dia memandang bekas infus yang dipakai Umaya tadi. Ada sedikit darah di atas sprei Umaya, darah bekas tangannya yang diinfus dan ditarik paksa. "Kenapa semuanya jadi begini sih?" tanya Bima dengan tatapan kosong. "Kenapa jadi kacau gini sih? kenapa semuanya jadi gini? semuanya kacau berantakan. Keluarga ku yang awalnya damai jadi kacau berantakan seperti ini." Bima menghela nafasnya kasar. "Meli kenapa sih? dia biasanya gak pernah begini. Dia biasanya selalu ngedukung apa pun keputusan aku, selagi itu baik. Tapi kenapa sekarang dia malah kekeuh menentang keputusan aku? sampai segininya banget dia nentang keputusan aku. Bisa-bisanya dia rela keluar dari rumah ini cuma demi belain anak gak jelas itu. Maksudnya apa sih? dia kan tau latar belakang Raka bagaimana, aku juga bukannya tanpa alasan kan gak suka sama Raka. Aku gak suka sama Raka itu karena ada alasannya, anak yang tumbuh besar bersama keluarga yang tidak baik, kemungkinan besar anak itu juga sama tidak baiknya. Aku cuma sayang sama Umaya, aku sayang sama anak ku, mana mungkin aku biarin dia sakit hati, mana mungkin aku biarin dia di masa depan nanti tersakiti. Bukannya lebih baik mencegah dari pada mengobati?" Bima bertanya pada dirinya sendiri. Dia sangat kekeuh tak merestui hubungan Umaya dan Raka itu dengan alasan yang sangat jelas. Kenapa Meli masih juga tidak bisa mengerti. Padahal mereka suami istri yang sudah terbiasa bersama, bahkan mereka juga sering mempunyai pendapat yang sama. Kenapa sekarang mereka jadi bertentangan hanya karena hubungan yang belum jelas arahnya. Bima berdiri, dia melihat ke arah nakas. Di atas nakas terdapat bingkai yang ukurannya lumayan besar. Bima mengambil bingkai itu, mengamati foto keluarga lengkapnya. Foto dia bersama dengan istri dan anak kesayangannya. "Dulu keluarga kita baik baik aja, bahkan seceria ini. Cuma gara-gara laki-laki itu masuk di kehidupan Umaya, semuanya jadi kacau. Dia benar-benar anak pembawa sial." Bima tampak menahan emosi. "Padahal aku sangat paham gimana watak anak ku, Umaya gak akan pernah melawan aku. Dan terbukti sejak dia kecil sampai sekarang, dia gak pernah melawan aku. Baru kali ini Umaya melawan aku, menentang keputusan ku, cuma karena anak itu! benar-benar dia pembawa pengaruh buruk di keluarga ku!" Bima mengepalkan tangannya kuat, emosinya sedang memuncak saat ini. Tapi sebisa mungkin Bima tahan. Bima ingin meletakkan bingkai itu kembali ke tempatnya. Namun saat Bima ingin meletakkan bingkai itu kembali, matanya melihat sebuah bingkai kecil yang tersebut. Bingkai kecil yang diletakkan dibalik lampu tidur. Mungkin kalau tidak teliti bingkai itu tidak akan terlihat. Sepertinya bingkai itu memang sengaja diletakkan di situ supaya tidak ada yang tau. Bima mengambil bingkai kecil itu. Lalu dia melihat foto siapa yang terpanjang di dalam bingkai itu. "Ck, bisa-bisanya Umaya sembunyikan bingkai ini. Dia sembunyikan bingkai ini supaya gak ketahuan sama aku atau Meli, begitu?" tanya Bima dalam hati. Bima mengamati foto yang ada di dalam bingkai itu. Dia melihat foto Umaya bersama dengan Raka. Dalam foto itu terlihat Umaya bersama dengan Raka sedang duduk bersama di sebuah taman yang cukup indah. Sepertinya foto ini diambil tidak sengaja, atau Raka dan Umaya tidak tau jika difoto. Fotonya menunjukkan Umaya yang sedang tersenyum lebar dengan satu tangannya memegang banyak balon dan satu tangan lagi memegang es krim. Dalam foto itu Umaya sedang tertawa sambil memakan es krim dan memegang balon. Dan Raka yang duduk di sampingnya juga terlihat tersenyum lebar seraya mengelap bibir pipi Umaya yang terkena noda es krim. Foto itu menunjukkan bagaimana bahagianya seorang Umaya bersama Raka, sang kekasih. Bima tersenyum miring. "Umaya bisa ketawa lepas bersama dia. Tapi belakangan ini, bahkan Umaya aja gak pernah senyum ke aku, papanya sendiri. Pengaruh buruk lelaki ini benar-benar sangat kuat. Masih seperti ini aja dia uda merebut anak ku, apa lagi kalau mereka menikah, bisa-bisa Umaya uda seperti orang gak kenal kalau liat aku." Bima bicara dalam hati. Bima melihat ke sekeliling kamar Umaya. Kamarnya cukup rapih, semua tersusun rapih. Hanya saja tempat tidur nyenyak yang berantakan. Lalu mata Bima melihat ke lantai, di mana banyak pecahan kaca yang berserakan. Pecahan kaca dari mangkok yang Umaya banting tadi. Bima tersenyum miring. "Lihat lah, anak ku yang ku besarkan dengan penuh kasih sayang dan kelembutan, sekarang berubah menjadi wanita kasar. Ini pertama kalinya aku liat Umaya banting barang seperti ini, apa lagi di depan aku. Apa kalau begini aku juga masih harus merestui hubungan mereka? jelas sekali kalau hubungan Umaya dengan Raka hanya membawa pengaruh buruk untuk Umaya." Bima masih tak mau mengalah. "Arghh!! semuanya benar-benar kacau!! semuanya kacau!! aku kehilangan istri dan anak sekaligus!! benar-benar kacau balau!!!" Bima berteriak frustasi. Bima kembali melihat foto Umaya bersama Raka yang masih ada di tangannya. Lalu dengan kilatan mata penuh amarah, Bima langsung membanting bingkai itu ke lantai. "ARGHHHHHHH!!!" PRANGHG!!!! Kaca dari bingkai itu berserakan ke mana-mana. Bima benar-benar frustasi. Dia tidak tau akan melakukan apa sendiri di rumah ini. Rumah ini besar, mewah, dan lengkap, tapi rumah ini akan terasa hampa jika tidak ada anak istrinya. "RAKA BAJINGANNNN!!!" PRANG!!! Bima kembali melemparkan mangkok bakso yang ada di atas nakas. Dia benar-benar kehilangan kontrol emosi nya. "KENAPA SIH ANAK ITU HARUS MASUK KE KEHIDUPAN UMAYA?! DIA BENAR-BENAR PEMBAWA SIAL!! SAMPAI KAPAN PUN AKU GAK AKAN MENYETUJUI HUBUNGAN UMAYA DENGAN ANAK ITU!! GAK AKANNN!!" Bima berteriak kencang, benar-benar kencang, melampiaskan semua emosinya saat ini. Tanpa sadar air mata Bima menetes begitu saja. Dia benar-benar terlihat sangat menyedihkan saat ini. Muka lesu, baju kerja yang dikenakan sudah berantakan, perut lapar, benar-benar sudah menyedihkan, ditambah ditinggal anak dan istri membuatnya semakin malang. "Arghhh!!!" Bima berteriak lagi sambil menjambak rambutnya sendiri. "Gimana caranya Meli dan Umaya balik lagi ke sini? gimana keadaan mereka di luar sana? bahkan Meli dan Umaya pergi gak bawa baju satu pun, mereka benar-benar pergi tanpa membawa apa pun." Bima menangis, dia tak tega saat memikirkan bagaimana nasib anak dan istrinya di luar sana. "Gimana kalau Meli gak bawa dompetnya? gimana kalau Meli gak bawa ATM nya? mereka bakalan makan apa di luar sana? mereka mau tidur di mana?" tanya Bima lagi. Bima tertawa miris dengan air mata yang mengalir di pipinya. "Ckk ... benar-benar kacau karena anak sial itu," ucap Bima pelan. Lalu Bima langsung berjalan keluar dari kamar Umaya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN