Sekitar 5 hari sudah berlalu. Meli dan Umaya tinggal di rumah baru yang ingin diberikan Raka pada Umaya. Mereka tidak mengalami kesulitan apa pun, semuanya dapat mereka jalankan dengan baik. Mengurus rumah sendiri, masak sendiri, dan mengerjakan pekerjaan rumah tangga lainnya sendiri. Mereka benar-benar mandiri dalam situasi seperti ini.
Umaya juga semakin dekat dengan Raka, sebab Raka setiap hari selalu menyempatkan diri untuk menemui Umaya di rumah baru mereka.
Sedangkan Bima, 5 hari terakhir tanpa anak dan istri membuat Bima semakin frustasi. Pekerjaanya amburadul, benar-benat kacau balau. Bima uring-uringan, benar-benar menampilkan tampilan yang paling buruk setiap harinya. Pakainnya sangat tidak rapi dan terkesan acak-acakan. Matanya menghitam karena kebanyakan begadang, semua pekerjaannya selalu salah dan bahkan banyak yang tidak dikerjakan olehnya. Keadaan Bima saat ini benar-benar sangat kalau, sepertinya Bima sedang berada di dalam fase terburuknya saat ini.
Seperti sekarang, saat ini Bima sedang duduk di depan laptop. Pandangannya sayu, matanya menghitam, tubuhnya lemas tanpa gairah, dan dia benar-benar tidak semangat untuk mengerjakan apa pun. Setiap haru Bima hanya datang untuk melamun di depan laptopnya.
Tokk tokk tokk!!
Bima tak mendengar ketukan pintu dari luar. Dia sedang melamun saat ini.
TOKK TOKK TOKKK!!!
Ketukan pintu terdengar lebih keras sehingga mengganggu lamunan Bima.
"Iya masuk," ucap Bima saat tersadar dari lamunannya.
Ceklekk ...
Pintu ruangan Bima terbuka, menampilkan sekretaris Bima yang saat ini sedang berjalan ke arahnya.
"Permisi, pak, saya mau kasih info kalau hari ini kita ada meeting. Setengah jam lagi meeting akan dimulai, saya sudah siapkan semuanya. Saya ke sini cuma mau mengingatkan bapak saja, supaya bapak tidak lupa." Sekretaris Bima memberitahu jadwal Bima sebentar lagi.
"Meeting? meeting di mana? meeting soal apa? itu janjian meeting nya kapan? kenapa saya gak tau? saya gak mau meeting hari ini. Tunda aja meeting nya sampai minggu depan, saya lagi enak badan." Bima menolak jadwal meetingnya hari ini.
"Ta-tapi sebelumnya meeting ini uda pernah sekali bapak tunda. Dan bapak juga janji sama mereka kalau bapak akan ikut serta dalam meeting ini. Ini termasuk klien yang penting, pak. Jadi apa gak sebaiknya bapak menghadiri Meeting ini? sebab klien kita kali ini benar-benar bukan klien biasa." Sekretaris Bima menjelaskan betapa pentingnya meeting Bima kali ini.
Mendengar ucapan sang sekretaris, Bima langsung menoleh ke arahnya, lalu menatapnya dengan tatapan tajam. "Kamu gak dengar saya ngomong apa, hah?" tanya Bima sarkas.
"KAMU GAK DENGAR KALAU SAYA BILANG SAYA GAK MAU MEETING?!! SAYA BILANG TUNDA MEETING NYA!! SAYA GAK PEDULI MAU SEPENTING APA MEREKA, YANG PASTI SAYA GAK MAU MEETING HARI INI!!!" Bima membentak sekretarisnya dengan suara lantang dan mata yang memerah menahan emosi.
Sekretaris Bima langsung diam menunduk, dia langsung takut melihat perubahan Bima yang begitu drastis dan menyeramkan. Pasalnya selama bekerja sebagai sekretaris Bima, dia tidak pernah melihat Bima semarah dan semenyeramkan ini.
Ceklekkk ...
Pintu ruangan Bima terbuka, menampilkan satu sosok lelaki seumurannya dengan pakaian rapih sedang berjalan ke arah Bima.
"Ada apa ini?" tanya lelaki itu pada Bima dan sekretarisnya.
Bima buang muka, dia menatap kesal ke arah lain. Sementara itu sekretaris Bima hanya diam menunduk, dia tak berhenti memainkan jarinya karena sangat gugup dan takut.
"Ada apa ini, Rindi?" tanya Robi, sahabat sekaligus rekan kerja Bima.
Rindi, sekretaris Bima langsung melihat sebentar ke arah Robi. Lalu dia langsung menjawab, "Membahas soal meeting yang akan dimulai sekitar setengah jam lag--"
"Saya bilang saya gak mau meeting hari ini!! tolong tunda jadwal meeting saya!!" Bima memotong ucapan Rindi dengan suara lantangnya.
Robi langsung mengerutkan dahinya bingung. "Kenapa sih? dia kan cuma mau ngasih tau jadwal aja, kenapa harus marah-marah? apa gak bisa ngomong santai? ngomong itu pakai mulut, bukan pakai otot." Robi menatap Bima tajam.
Bima dan Robi sudah bersahabat sejak kecil. Mereka benar-benar sudah mengerti satu sama lain, tidak ada lagi kecanggungan di antara mereka berdua.
"Apa meeting kali ini penting? apa jadwal meeting nya uda pernah ditunda sebelumnya?" tanya Robi pada Rindi.
Rindi mengangguk pelan. Lalu dengan takut-takut dia menjawab, "I-iya, pak. Meeting kali ini memang sangat penting, menyangkut proyek besar kita. Dan meeting ini juga sudah pernah ditunda sebelumnya."
Bima menatap Rindi tajam. "Saya gak peduli mau meeting ini penting atau tidak. Saya sedang tidak mau meeting! dan jika klien kabur, maka saya bisa cari banyak klien baru!" sambar Bima sarkas.
"Apaan sih?!! tolong dijaga ucapannya! ini kantor! kota semua harus profesional dalam bekerja." Robi menatap tajam ke atau Bima.
"Uda, Rindi, kamu boleh keluar. Saya yang akan meeting nanti." Robi menyuruh Rindi untuk pergi dari ruangan Bima.
Rindi mengangguk, lalu dia tersenyum kecil. "Baik, pak, terimakasih. Saya permisi dulu." Lalu setelah itu Rindi langsung pergi meninggalkan ruangan Bima.
Setelah kepergian Rindi, Robi langsung duduk di hadapan Bima. "Lo kenapa sih???! gila banget, bisa-bisanya lo gak profesional. Ini menyangkut bisnis loh, harusnya lo bisa profesional dong." Robi bertanya pada Bima. Robi cukup kecewa dengan sikap Bima belakangan ini.
Robi dan Bima benar-benar bersahabat sudah cukup lama, sejak mereka masih kecil. Jadi tak ada kecanggungan di antara mereka. Mereka benar-benar dekat. Panggilan lo, gue, saat tidak dalam keadaan formal memang sudah biasa mereka lakukan.
Bima berdecak. "Ckk. Ngapain lo nanya ke gue, lo tau jawabannya gue kenapa kan?" tanya Bima balik.
"Ya gue tau kalau lo lagi ada masalah keluarga. Tapi gak seharusnya lo bawa-bawa ke kantor. Kantor ya kantor, tempat bekerja, bukan tempat galau. Ngerti gak sih? lo uda punya anak gadis juga masih aja kayak gini. Lo uda tuir, kenapa masih kayak anak-anak sih? pantas aja binik sama anak lo kabur dari rumah, lagian sikap lo kayak bocil sih." Bukannya iba, Robi malah semakin menyudutkan Bima.
Bima menatap Robi tajam. "Lo kalau gak berguna di sini, mendingan lo keluar deh dari ruangan gue!! muak gue denger omongan lo!" Bima mengusir Robi.
Robi sudah sangat paham dengan watak Bima, begitu juga sebaliknya. Dulu waktu masih muda, Bima dan Robi bukan berasal dari murid teladan yang baik. Mereka benar-benar murid rusuh biang masalah. Jadi wajar saja dalam interaksi mereka berdua mereka terlihat sedikit kasar dan blak-blakan.
"Yeee!! lo pikir cuma lo doang yang muak? gue juga muak kali liat muka sama tingkah lo! uda tua tapi kayak masih bocil! malah gak bisa profesional lagi, ckk dasar, defenisi tua hanya umur aja, tapi otak masih bocil!" Robi menjelek-jelekkan Bima.
"KELUAR!!!!" usir Bima membentak.
"Emang gue mau keluar!! biasa aja kaleee!!!!" Robi mendesis, lalu dia langsung berjalan keluar meninggalkan Bima sendirian.
"Dasar umur tua sifat bocil!!" teriak Robi saat membuka pintu untuk keluar. Robi keluar dari ruangan Bima setelah mengatai Bima habis-habisan. Sementara Bima, moodnya semakin hancur semenjak kedatangan Robi.