Tanya Robi

1088 Kata
Bima mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang. Dia tak tau arah, tak tau akan ke mana mencari anak dan istrinya. "Kayaknya satu-satunya orang yang tau keberadaan anak dan istri ku itu sepertinya hanya Raka. Kemungkinan besar Raka tau Umaya dan Meli di mana. Secara waktu Meli dan Umaya pergi dari rumah si Raka kan ikut dengan mereka. Si Raka juga kan yang ngantarin mereka, mereka pergi dengan mobil Raka." Bima mencoba menebak-nebak. "Tapi aku gak punya nomor Raka. Gimana aku mau cari tau atau menghubunginya Raka kalau nomornya aja aku gak tau." Bima tampak bingung, dia tak tau ingin menghubungi Raka dari mana. "Apa aku ke kantor Raka aja ya?" tanya Bima pada dirinya sendiri. "Tapi aku juga gak tau kantor Raka di mana. Aku gak pernah nanya sama Raka atau Umaya di mana kantornya. Mereka juga gak pernah cerita ke aku. Dan aku juga gak pernah pengen tau di mana kantor Raka." Bima menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Mau cari dimana ya? aku gak kenal sama Raka dan gak pengen kenal sama dia. Ya aku gak tau kantor dia di mana. Terus aku harus tanya ke siapa?" Bima tampak berpikir keras. "Robi," cetusnya pelan. "Nahh iya, Robi mungkin aja tau. Kan aku sering banget cerita ini ke Robi. Robi juganya tau Raka kan, pasti kalau Robi tau Raka, Robi juga tau kantornya. Secara Robi kan kalau kenalan sama orang tuh sampe dalam-dalam juga ditanya." Bima menganggukkan kepalanya. Lalu setelah itu Bima langsung mengambil ponselnya, dia langsung menghubungkan nomor Robi. "Hal-" "Di mana alamat kantornya Raka?" tanya Bima memotong sapaan Robi. "What? apaan? nanya apa sih? gak ngerti," balas Robi dari telepon. "Ckk. Gue nanya di mana kantornya Raka? lo kenal Raka kan? lo pasti tau di mana alamat kantornya Raka. Kasi tau gue, gue mau temui Raka." Bima mendesak Robi agar memberitahunya alamat kantornya Raka. "What? gue gak tau. Lagi pula ngapain lo tanya ke gue? gue juga gak siapa-siapanya. Dan lo ngapain nanyain itu? mau ketemu dia mau ngapain? ngajak gelud?" Robi penasaran mengapa tiba-tiba Bima ingin bertemu Raka. Bima berdecak kesal. "Lo gak usah bohong deh. Gue beneran lagi pusing, gue beneran lagi setres nyariin anak sama istri gue. Tolong kasih tau gue alamat si Raka, gue mau tanya apa dia tau di mana Umaya sama Meli. Soalnya gue baru aja dari rumah Meli, tapi Meli dan Umaya gak ada datang ke rumah itu sama sekali. Gue mau tanya ke Raka, gue yakin Raka pasti seratus persen tau! Ayo buruan kasih tau gue alamat kantornya Raka, gus mau nemuin dia." Bima mendesak Robi supaya cepat memberitahu alamat kantor Raka. "Lahh ngapain minta sama gue? emangnya gue ini siapa? bahkan gue gak kenal sama Raka. Lo harusnya tau lah, secara kan si Raka calon mantu lo, kenapa malah nanyanya ke gue?" Robi merasa tak kenal dengan Raka. Bima mengepalkan tangannya menahan emosi. Bicara dengan Robi memang harus ekstra sabar. "Lo jangan sok gak kenal ya. Lo pernah cerita ke gue kalau lo bilang Raka itu anaknya baik, lo juga bilang waktu ketemu Raka dia bersikap sopan sama lo. Kayak gitu lo bilang gak kenal? gak kenal dari mananya? lo kenal dia, gak usah pura-pura gak kenal. Ayo buruan, buruan kasih tau gue alamat si Raka di mana." Bika terus mendesak Robi agar segera memberitahukan alamat Raka padanya. "Lohh mana gue tanya, ya kali gue tanya dia kerja di mana. Secara gue ketemu dia juga gak sengaja karena ada acara apa ya waktu itu. Lagi pula lo masa aneh, itukan calon mantu lo, masa lo gak tau sih dia kantor dia di mana? memangnya lo gak tanya sama Umaya gitu?" Robi bertanya balik pada Raka "Ya enggak lah. Ngapain juga gue tanya kantor dia di mana, gak penting. Dan gue juga gak mau kalau dia jadi mantu gue, itu sebabnya gak pernah gue tanya." Bima menjelaskan pada Robi kenapa dia tak tau alamat kantor Raka. "Lahh itu lo bilang gak penting. Ya kalau gak penting ngapain dicari?" tanya Robi kesal. "Uda lah, malas gue debat sama orang aneh kayak lo. Gue mat-" "Ehh stop!!! apaan sih?!! gue belum siap ngomong!! jangan dimatiin dulu!" Bima memotong ucapan Robi. "Apa lagi sih?" tanya Robi kesal. "Please kasih tau gue di mana alamat kantornya Raka. Gue tau kalau lo itu tau di mana alamat kantornya Raka, jadi tolong kasih tau gue, please. Gue benar-benar gak tau lagi mau nyari anak dan istri gue di mana. Cuma Raka yang tau mereka ada di mana. Waktu itu Umaya sama Meli pergi dari rumah sama Raka. Raka yang antar mereka, pasti Raka tau di mana Meli dan Umaya sekarang. Ayo kasih tau gue di mana alamat kantornya Raka, please. Gue benar-benar uda gak bisa lagi jauh sama anak dan istri gue. Lo apa gak kasian liat gue? tolong kasih tau gue alamat kantornya Raka." Bima memohon pada Robi. "Gak ah, gue malas ngasih tau alamat kantornya Raka. Secara lo kan punya dendam kesumat sama si Raka. Entar bukannya nanya di mana anak istri lo, lo malah ngelabrak dia lagi. Kan kasian dia, mana masih muda lagi. Masih muda tantangannya uda dihadapkan kayak lo. Gue kasian liat Raka, uda cintanya gak direstui, ehh malah dianya juga dibenci. Mendingan lo cari aja anak dan istri lo sendiri, jangan melibatkan Raka. Lo kan benci liat Raka, jadi kalau benci dan gak suka ye benci aja, jangan pas ada butuhnya langsung mau hubungin dia, gak gentle itu namanya." Robi tetap kekeuh menolak memberitau alamat kantor Raka pada Bima. Bima mengerang frustasi. "Ya ampun, please tolong dong, tolong kasih tau gue. Gue janji gak bakalan gue ajakin ribut dia. Gue janji gak bakalan marah-marah ke dia. Gue cuma mau nanya di mana keberadaan anak dan istri gue saat ini. Tolong kasih tau ke gue, gue benar-benar butuh dia. Gue janji gak bakalan gue apa-apain dia kok. Please." Bima memohon dengan amat sangat pada Robi. "Yakin lo gak bakalan ajak dia ribut? yakin lo gak bakalan mojokin dia?" tanya Robi pada Bima. Bima mengangguk mengiyakan. "Iya, yakin. Tolong kasih tau ke gue alamat kantornya." "Oke, gue kasih tau. Tapi awas aja kalau lo ajak dia ribut, gue bakalan nanyain ke dia langsung." Robi akhirnya mengalah. "Iya, gak bakalan gue ajak ribut. Ayo buruan kasih tau alamatnya," desak Bima. "Jalan Flamboyan, di dekat persimpangan. Pas di sebrang bank, nah itu kantornya Raka. Kantornya paling besar pokoknya." Robi memberitahu alamatnya pada Bima. "Oke, makasih." Tuttt tutt tuttttt tuttt ... Setelah mendapatkan informasi, Bima langsung mematikan sambungan telepon secara sepihak. Lalu dia langsung membawa mobilnya ke arah jalan Flamboyan untuk ke kantor Raka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN