Bima sudah mencari keberadaan Umaya dan Meli keliling rumah. Bahkan dia mencari sampai ke sudut-sudutnya. Tapi tetap saja dia tidak bisa menemukan anak dan istrinya di rumah ini.
Bima langsung turun dari tangga, dia berjalan ke arah bibi dan Pak Asep.
Bima berhenti sejenak di depan bibi dan Pak Asep.
"Gak ada kan, pak? saya gak bohong, pak. Emang neng Umaya sama ibu gak ada di rumah in-"
Suara Pak Asep melemah saat tiba-tiba Bima berjalan cepat melewatinya.
Pak Asep menoleh ke arah belakang, dia melihat Bima berjalan ke luar rumah.
"Hah? Pak Bima mau ke mana? mau pulang?" tanya Pak Asep pada dirinya sendiri.
"Ya ampun, belum juga selesai ngomong eh uda ditinggal gitu aja. Ck, nasih wong kere. Beneran deh, padahal kan mau jelasin yang lebih jelas lagi biar gak salah paham." Pak Asep menghela nafasnya kasar.
"Ya mau kamu gimana? kalau kamu punya nyali kenapa gak kejar Pak Bima tadi, atau cegah Pak Bima untuk pergi? lagi pula kan Pak Bima itu masih dalam keadaan emosi, jadi wajar aja kalau Pak Bima begitu, main nyelenong aja. Maklumin aja lah." Bibi mulai angkat bicara.
Pak Asep menghela nafasnya kecewa. "Ya sudah lah, lupakan. Lanjut kegiatan masing-masing aja. Mau ke belakang, bersihin taman yang uda banyak rumputnya." Baru saja Pak Asep ingin melangkah pergi dari situ, tapi bibi dengan sigap langsung menarik tangan Pak Asep supaya Pak Asep tidak pergi.
"Mau ke mana, hah?" tanya bibi.
"Kan uda dibilang mau ke belakang bersihin taman. Uda banyak rumputnya liarnya," jawab Pak Asep.
"Enak aja mau ke belakang. Enggak!! bersihin ini dulu. Kalau ini uda bersih baru boleh ke belakang." Bibi menunjuk pecahan guci yang berserakan di lantai.
"Engga ah, kamu aja. Kan bisa bersihin, ngapain ngajak-ngajak. Itu rumput liar uda manggil-manggil dari tadi." Pak Asep masih saja kekeuh ingin membersihkan taman, tapi masih menahan pak Asep.
"Enak aja!! ya bantuin lah beresin ini. Ini baru yang di sini, belum lagi yang di atas kan ada juga tadi dipecahkan sama Pak Bima. Pokoknya bantuin ayo beresin, jangan mau melarikan diri." Bibi menyeret Pak Asep dan membawa Pak Asep untuk mengutip pecahan kaca kaca itu.
"Ya ampun, bapak bos kita baik banget, biaknya suka ga kira-kira, tapi sekalinya ngamuk begini banget bapak bos kita. Rusuh, nambah nambahi kerjaan." Pak Asep mengomel sendiri.
"Uda deh jangan ngomel, kerjain aja biar cepat selesai." Bibi menegur Pak Asep supaya tidak perlu mengomel karena berisik. Saat ini bibi dan Pak Asep sedang berjongkok di lantai untuk mengutip kaca kaca pecahan guci.
Sementara itu, setelah tidak juga menemukan anak dan isterinya, Bima memilih pergi dari rumah ini. Dia tidak tau dia akan mencari ke mana lagi. Tapi yang pasti Bima akan terus mencari anak dan istrinya.
Saat ini Bima sudah berada di dalam mobil. Sejak keluar dari rumah tadi, Bima langsung masuk ke dalam mobil dan membawa mobilnya pergi dari rumah itu.
"Di mana lagi aku harus cari mereka?" tanya Bima pada dirinya sendiri.
Bima menghela nafasnya kasar. "Aku tau kalau Meli gak punya rumah lain selain rumah itu. Terus sekarang Meli ada di mana? kenapa dia gak pergi ke rumah itu aja? kenapa dia malah pergi ke tempat lain. Apa meli menyewa apartemen atau menyewa rumah kontrakan ya?" Bima bertanya pada dirinya sendiri.
"Tapi apa mungkin? masa Meli nyewa apartemen sih, kan dia punya rumah sendiri. Pasti ada yang gak beres ini." Bima mulai curiga dengan keberadaan Meli dan Umaya saat ini.
"Apa mungkin Meli tinggal di rumah temennya?" tanya Bima menduga-duga.
"Tapi kalau aku rasa gak mungkin Meli mumpung tinggal di rumah temannya. Apa lagi Meli orangnya gak enakan, pasti dia merasa gak enak dengan teman dan suami temannya. Itu sebabnya kayaknya gak mungkin deh kalau Meli saat ini numpang di ruman temannya." Bima mulai berpikir kritis.
"Terus kalau ga di rumah temannya dia di mana? dia kan gak sendirian, dia sama Umaya. Gak mungkin Meli biarin Umaya ngerasa gak nyaman kan, pasti Meli lagi ada di suatu tempat yang layak untuk mereka tempati. Tapi di mana? di mana mereka sekarang? nyewa apartemen atau nyewa rumah?" tanya Bima pada dirinya sendiri. Bima tak bisa berhenti menduga-duga.
"Kayaknya jejak mereka hilang gitu aja, aku sampai bingung mau gimana." Bima menghela nafasnya kasar.
Bima diam sejenak, dia fokus pada jalan raya ang saat ini terlihat tidak terlalu ramai.
"Gak mungkin kan kalau Meli bawa Umaya pergi jauh?" celetuk Bima tiba-tiba.
Seketika Bima sadar dengan apa yang diucapkannya barusan. Bima langsung membelalakkan matanya shock. "What? apa? pergi jauh?" tanya Bima lagi.
"U-Umaya sama Meli pergi jauh? apa mungkin mereka pergi jauh? mereka pergi ke luar kota atau bahkan luar Negeri?" Bima bertanya pada dirinya sendiri.
Bima tersenyum kecut. "Ck, dugaan apa ini? kenapa aku tiba-tiba mikir begini?" tanya Bima bingung.
"Sumpah demi apa pun, aku gak mau kalau jauh dari anak istri ku, aku gak bisa jauh dari mereka. Jadi ku mohon, semoga mereka masih ada di sekitar sini, gak pergi jauh. Aku benar-benar gak bisa hidup tanpa mereka." Bima merengek, dia menyesali keegoisannya yang membuat Umaya dan Meli pergi dari rumah.
"Aku harus cari mereka ke mana?" Bima tampak frustasi.
Bima merogoh saku celananya, dia membangun ponselnya yang ada di saku celana.
Bima mencari kontak Meli, lalu dia langsung menelepon ke nomor Meli, berharap kalau Meli tidak mematikan ponselnya.
"Ck, gak bisa!" Bima tersenyum kecut.
"Kenapa nomornya gak aktif sih? kayaknya dia sengaja banget gak aktifin nomor HP nya biar gak aku telepon." Bima mengomel sendiri.
Karena nomor ponsel Meli tidak aktif, Bima mencari nomor Umaya, lalu dia langsung menelpon ke nomor Umaya.
"Arghh!! sama aja!! kenapa nomor mereka berdua gak aktif sih?!!" Bima marah-marah sendiri, dia kesal karena nomor telepon Umaya tidak aktif juga.
"Please, gimana otak aku mau berpikir positif kalah begini? bahkan nomor handphone juga gak diaktifkan. Apa mereka emang uda punya rencana buat ninggalin aku?" Bima terlihat cemas dan takut.
"Aku gak mau ditinggal sama anak dan istri ku. Aku benar-benar gak bisa jauh dari mereka berdua. Aku benar-benar nyesal uda emosi dan kasar seperti waktu itu. Sekarang aku sadar kalau aku salah. Dan aku gak mau kehilangan mereka." Bima menghela nafasnya lelah. Dia benar-benar lelah mencari ke kanan perginya Umaya dan Meli.