Pak Asep dan Bibi Gosip

1041 Kata
Bima menaiki anak tangga. Dia ingin pergi ke atas untuk mencari keberadaan anak dan istrinya. "Adel, sayang ... kamu di mana, nak?" Bima memanggil Adel. "Meli, maafin aku. Aku janji gak bakalan keterlaluan lagi sama kamu dan Umaya. Kalian di mana? ayo keluar, ayo pulang ke rumah kita." Kali ini Bima memanggil nama Meli. "Umayaaaaa ... maafin papa, nak. Ayo kita pulang ke rumah. Papa gak bisa jauh jauh dari kalian berdua." Bima kembali berteriak mencari Umaya dan Meli. Bima sibuk mencari keberadaan Meli dan Umaya di seluruh sudut ruangan. Sedangkan di bawah, terlihat bibi dan Pak Asep sedang merasa bingung dan cemas melihat tingkah Bima yang tak biasa. "Menurutnya kamu bapak kenapa? kok bapak marah-marah sampai segitunya? liat aja semua guci hancur gara-gara diserakin bapak. Biasanya bapak gak pernah begitu." Bibi bertanya pada Pak Asep. "Sama, aku juga gak tau kenapa bapak jadi kayak gini. Perasaannya tadi uda aku bilang di depan kalau ibu sama neng Umaya gak ada di rumah ini. Tapi bapak tetap aja kekeuh mau nyari neng Umay dan ibu di rumah ini. Tapi bilangnya ibu dan neng Umaya ada di sini, padahal kan uda dikasih tau kalau gak ada. Tapi tetap keras kepala. Malah bilang kalau aku uda kerjasama sama neng Umaya dan ibu. Padahal kan ibu sama neng Umaya gak ada ke rumah ini beneran. Jadi aku harus gimana, bapak gak percaya sama omongan ku." Pak Asep menceritakan apa yang dialaminya pada bibi. "Lohh ya sama. Aku juga sama ditanyain juga sama bapak. Bapak masuk masuk nanya ibu sama neng Umaya, kan enggak ada. Nah aku bilang enggak ada bapak malah gak percaya. Awalnya cuma gak percaya sama aku aja. Tapi pada akhirnya bapak ngamuk ke aku. Liat aja banyak banget yang pecah karena bapak ngamuk. Padahal yang aku sampaikan itu benar, emang neng Umaya sama ibu gak ada di sini kan." Bibi juga menyampaikan cerita yang sama. "Kira-kira bapak kenapa ya? kenapa bapak keliatannya aneh banget. Aku baru tau ini bapak ngamuk begini. Biasanya gak pernah begini." Pak Asep bertanya pada bibi. "Yo sama. Aku juga gak tau kenapa bapak begitu. Malah aku panik banget sama bapak yang begini." Bibi juga mengiyakan hal yang menurutnya sama. "Sepertinya bapak lagi ada masalah. Sepertinya keluarga mereka lagi ada masalah dan bertengkar hebat. Soalnya bapak cariin neng Umaya sama ibu, itu artinya neng Umaya sama ibu lagi pergi dari rumah kan? berarti beberapa hari ini neng Umaya sama ibu gak di rumah, mereka pergi dari rumah." Bibi mulai menduga-duga apa yang saat ini dialami oleh Bima dan kelurganya. "Kira-kira apa yang sedang terjadi di keluarga Pak Bima ya? kenapa mereka sampai kabur dari rumah? kenapa ibu sama neng Umaya sampe pergi dari rumah. Pasti masalahnya uda berat banget. Aku yakin kalau ini pasti menyangkut masalah perselingkuhannya nih. Apa mungkin Pak Bima selingkuh dan ketahuan makanya neng Umaya sama ibu langsung pergi dari rumah? secara kita tau Pak Bima itu masih sangat terlihat muda dan juga kaya raya, pasti banyak penggoda di luar sana yang mengincar pak Bima. Mungkin aja kan itu masalahnya, soalnya kelihatannya masalahnya benar-benar parah sampai kabur dari rumah." Pak Asep menduga-duga permasalahan apa yang saat ini terjadi di keluarga Bima. Mendengar dugaan Pak Asep yang ngawur, bibi langsung mengikut perut Pak Asep. "Ehh!! jangan ngomong sembarangan. Kalau pak Bima tau gimana? kamu mau kalau kita dipecat? kalau kota dipecat kita mau kerja di mana lagi? kita ini uda tua. Bersyukur masih bisa dikasi kesempatan untuk jaga dan ngurusin rumah ini. Kalau ga ada bapak sama ibu mungkin kita gak bakalan ada di sini. Kalau mereka ngusir kita gara gara kamu ngomong begitu kita mau tinggal di mana? kolong jembatan?" Bibi langsung menegur Pak Asep yang mulutnya terlalu lemes dan berani. "Ya kan aku ngomong secara fakta." Pak Asep membela diri. "Fakta apanya? dari mana kamu tau kalau itu fakta? dari mana? kamu gak tau apa-apa. Kita gak tau apa-apa tentang masalah keluarga pak Bima, jadi kita gak boleh asal nebak. Selain kan berdosa, kita juga punya kemungkinan besar dipecat kalau ketahuan pak Bima. Kamu kalau ngomong hati-hati dong, jangan asal jeplak aja. Disaring dulu." Bibi tampak kesal dengan Pak Asep yang bicara asal ucap saja, tanpa memikirkan dampak kedepannya bagaimana. "Ya maaf. Kan aku ngomong juga kan masih nebak nebak doang. Apa salahnya kita nebak? kita kan gak dikasih tau, jadi kita diharuskan untuk menebak." Pak Asep masih saja membela diri. "Gak usah ngebela diri. Mendingan beresin ini pecahan kaca guci yang dirusakin pak Bima." Bibi menunjuk ke arah lantai di mana semua kaca berserakan. "Ahh gak, kamu dong yang bersihin. Masa harus aku sih? aku capek abis ngebersihin taman." Pak Asep menolak. "Tapi kan kamu bisa bant--" PRANG!!!! "KELUAR UMAY, MELI!! KALIAN GAK PERLU BERSEMBUNYI LAGI!! AYO KITA CERITAKAN MASALAH INI BAIK-BAIK!! JANGAN MALAH KABUR DARI MASALAH!!" Bima berteriak kencang memanggilnya Umaya dan Meli setelah membanting guci yang ada di lantai atas. Mata bibi langsung mendelik lebar. Jantungnya langsung berdegup kencang saat tiba-tiba terdengar suara kaca pecah dan mendengarkan suara bentakan Bima yang super menggelegar. "Aku kok jadi was-was, aku jadi takut ngeliat Pak Bima begitu. Jangan sampai Pak Bima setres gara-gara gak nemuin istri dan anaknya. Malah seram lagi, Pak Bima marahnya serem banget." Bibi yang awalnya sudah jongkok ingin mengutip beling pecah yang berserak ke mana-mana, setelah mendingan teriakan menggelegar Bima, bibi langsung kembali berdiri dan mengamati apa yang terjadi di atas sana. "Aku juga takut liat Pak Bima begitu. Biasanya Pak Bima pernah ngamuk. Takut banget jadinya." Pak Asep berbisik pada bibi. "Semoga aja pelakornya cepat tobat dan gak gangguin Pak Bima, jadi keluarga Pak Bima bakalan kembali harmonis, gak seperti sekarang." Pak Asep berdoa dengan suara pelan. "Hah? kamu kenapa sih? kan uda dibilang jangan buat gosip yang gak jelas. Kamu mau kiat dipecat karena ketahuan kamu gosipin keluaga Pak Bima?" Bibi bertanya pada Pak Asep. Pak Asep langsung menggelengkan kepalanya. "Ya enggak lah, mana mungkin dengar. Kan Pak Bima ada di atas, kita di bawah dan tau." Pak Asep tampak terlihat sombong. "Kamu gak tau di belakang kita, tepat di belakang kita itu ada CCTV." Bibi berbisik pada Pak Asep. Pak Asep langsung mendelik lebar. Dia benar-benar khawatir takut ketahuan oleh Pak Bima. Lalu setelah itu Pak Asep langsung jongkok dan membereskan pecahan guci yang dibuat oleh Bima.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN