Bima Ngamuk

1032 Kata
Bima tak memperdulikan apa yang dikatakan oleh Pak Asep. Tentu saja Bima tidak percaya dengan apa yang dikatakan Pak Asep, oleh sebab itu Bima harus mencari sendiri anak dan istrinya yang bersembunyi di dalam rumah ini. Bima masuk ke dalam rumah dan langsung mengedarkan pandangan ke seluruh ruangan. "Di mana Umaya sama Meli?" tanya Bima sambil melirik ke segala arah. "Umayaaaaaa ... Umayaaaa ... di mana kamu, nak? papa datang. Umaya, kamu di mana? papa mau ngomong sama kamu." Bima berteriak mencari keberadaan Umaya. Karena merasa tidak ada sahutan oleh siapa pun, Bima kembali berjalan menusuri ruangan lainnya. Bima berjalan ke dapur dan mencari Umay dan Meli di sana. "Umayaaaaaa ... papa datang, papa mau bicara sama kamu. Papa gak bisa jauh dari kamu, ayo kita pulang. Ajak mama juga. Papa gak bisa jauh dari kalian, ayo kita pulang ke rumah." Bima kembali berteriak memanggil Umaya. Namun lagi-lagi tak ada sahutan dari siapa pun. "Umaya!!! Umayaaaaa!! kamu di mana? jangan ngumpet lagi, ajak mama keluar. Papa janji gak bakalan marah-marah lagi. Ayo kita pulang, Umaya." Bima berjalan ke segala tempat, mencari Umaya tanpa henti. "Umayaaaaa, Um-" "Pak." Ucapan Bima terpotong saya ada seseorang yang memanggilnya dari belakangan. "Ehh bibi, di mana anak sama istri saya, bi? tolong bilangin sama mereka saya datang mau minta maaf, saya janji gak akan marah lagi. Saya mau ajak mereka pulang. Tolong bilangin sama istri dan anak saya supaya mereka keluar, jangan sembunyi lagi." Bima meminta bibi untuk segera memanggil Umaya dan Meli supaya Umaya dan Meli keluar dan menemuinya. Bibi mengerutkan dahinya bingung. Bibi menatap Bima dengan tatapan bingungnya. "Maksudnya gimana ya, pak?" tanya bibi tak mengedit dengan apa yang dikatakan Bima. Bima tersenyum samar. "Uda deh, bi, gak usah ikutan akting kayak Pak Asep, saya uda tau kok. Uda sekarang saya minta tolong panggilin anak dan istri saya. Bilangin ke anak dan istri saya kalau saya mau ketemu. Ayo cepat, bi, tolong sampaikan sama anak dan istri saya." Bima menyuruh bibi untuk segera menampakkan pesanannya pada Meli dan Umaya. "Hah?" bibi tampak terlihat cengo, dia benar-benar bingung dan tak tau apa yang sedang dibicarakan Bima saat ini. "Maksudnya bapak gimana, pak? bibi kurang ngerti." Bibi kembali bertanya pada Bima karena pada dasarnya dia memang tak paham dengan arah pembicaraan Bima. "Uda deh, bi, kan uda saya bilang kalau bibi gak perlu lagi akting kayak Pak Asep, saya udah tau kalau bibi dan Pak Asep sebelumnya uda ddi-breafing kan sama anak dan istri saya? bibi dan Pak Asep uda disuruh buat ngerahasiain keberadaan istri dan anak saya di rumah ini." Bima menatap bibi dengan sangat percaya diri. Bima tersenyum penuh percaya diri. "Tapi bibi gak usah begitu lagi deh, soalnya saya uda tau kalau bibi dan Pak Asep uda kompakan. Sekarang ayo panggilin anak dan istri saya, saya mau bicara sama mereka berdua. Tolong bibi panggilkan mereka, saya uda gak sabar ketemu anak dan istri saya, saya benar-benar uda rindu sama mereka berdua. Suruh mereka berdua keluar dari persembunyiannya mereka, karena saya uda tau kalau mereka ada di sini." Bima menyurah bibi dengan semangat. Dia benar-benar sudah tak sabar untuk membawa istri dan anaknya kembali ke rumah. "Hah? ma-maksud bapak neng Umaya sama ibu?" tanya bibi kebingungan. Bima mengangguk cepat. "Ya iya lah, memangnya siapa lagi istri dan anak saya kalau bukan mereka? ayo bi, cepat suruh mereka temui saya sekarang." Bima mendesak bibi supaya cepat menemui Umaya dan Meli. "Ta-tapi neng Umaya sama ibu gak ada di rumah ini, pak. Bahkan neng Umaya dan ibu gak pernah ke sini. Terakhir neng Umaya dan ibu ke sini waktu sama bapak itu. Setelahnya gak pernah lagi. Mereka gak ada di rumah ini, meraka gak ada berkunjung kok, pak." Bibi menjelaskan pada Bima bahwa Umaya dan Meli benar-benar tidak pernah datang ke rumah ini. Saat mendengar ucapan bibi barusan raut wajah Bima langsung berubah seketika. Raut wajah bersemangat Bima langsung berubah menjadi raut wajah diam dan menyeramkan. "Saya gak suka dengan orang berbohong, bi. Gak perlu berakting lagi, saya uda tau kalau anak dan istri saya ada di rumah ini. Jadi tolong panggil kan mereka ke sini, segera." Kali ini Bima memberinya bibi dengan tatapan menusuknya. Bibi yang ditatap seperti itu langsung merasa takut dan cemas. "Ta-tapi bibi e-enggak bohong, pak. Memang ibu sama neng Umaya gak ada ke sini setelah waktu sama bapak itu. Kalau memang neng Umaya dan ibu di sini juga pasti uda bibi panggilin dari tadi. Ini mereka beneran gak ada di sini, pak, gimana bibi mau panggil kalau orangnya aja gak ada di sini?" Bibi bertanya balik pada Bima. Bibi mencoba berani dan mengesampingkan rasa takutnya. PRANGG!!! Bibi langsung terlonjak kaget saat Bima membantunya kunci mobilnya ke atas meja ruang tamu yang materialnya terbuat dengan kaca full. Untung saja meja itu kuat dan mahal, jadi tidak pecah saat dilempar kunci mobil dengan sekuat tenaga oleh Bima. "Saya bilang gak usah bohong, bi!!! saya tau kalau anak dan istri saya di sini, cepat panggil kan mereka! saya mau ajak mereka pulang. Bibi gak usah berakting lagi, saya bahkan uda tau yang sebenarnya." Bima tetap mendesak bibi supaya memanggil Meli dan Umaya. Bibi meringis ketakutan. "Ta-tapi emang gak ada, pak. Bibi gak lagi bohong atau akting. Neng Umaya dan ibu memang gak ada di rumah ini." Bibi berusaha menjelaskan dengan kepenuh hati-hatian agar tak diamuk oleh Bima. Bima diam, dia masih menatap bibi dengan tatapan tajam nan menusuknya. "Sa-saya gak berbohong, pak. Saya berani bersumpah. Bahkan saya gak pernah liat neng Umaya atau ibu walaupun hanya sebatas lewat dari komplek rumah ini. Mereka memang gak ada di sini, pak." Bibi kembali menjelaskan dan berharap kalau Bima mengerti apa yang dia katakan. Bima diam, dia mengepalkan tangannya kuat. Emosinya kini sudah di puncak ubun-ubun dan siap untuk diledakkan. PRANGGGG!!! Bima menghempaskan guci-guci yang ada di atas meja. Bibi yang merasa takut langsung refleks menutup mata dan telinganya. Tubuh bibi bergetar hebat, dirinya benar-benar merasa takut. Sebab ini pertama kalinya bibi melihat Bima mengamuk separah ini. Biasanya Bima tidak pernah marah, walaupun separah apa masalahnya. Ini pertama kalinya bibi melihat Bima kelepasan emosi. Bibi menduga kalau masalahnya sudah cukup sangat serius, itu sebabnya Bima yang tak pernah marah tiba-tiba marah dan menghancurkan barang-barang yang ada di sekitarnya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN