Bima mengendarai mobilnya dengan kecepatan tinggi. Dia benar-benar sudah tak bisa menahan lagi, emosinya begitu menggebu-gebu. Rasanya saat ini Bima ingin sekali mengamuk pada Raka. Entah mengapa Bima masih belum juga bisa menerima Raka sebagai calon suami anaknya. Bima belum bisa merestui itu.
"Aku gak tau anak itu ada di mana. Tapi yang pasti sekarang aku mau jemput anak dan istri ku dulu." Awalnya Bima ingin menghampiri Raka dan memberi Raka pelajaran supaya Raka jerah untuk mendekati anaknya. Tapi kali ini pikiran Bima berubah. Dia ingin mencari keberadaan Meli dam Umaya dulu. Bima akan membawa Meli dan Umaya pulang. Bagaimana pun kerasnya Bima, bagaimana pun egoisnya Bima, tetap saja Bima tak akan bisa jauh dari anak dan istrinya.
"Benar-benar uda nyerah, gak bisa jauh dari mereka. Rumah besar dan mewah, tapi kalau tanpa mereka rasanya sunyi sepi dan gak ada kebahagiannya." Bima tampak sangat frustasi. Bima memang sangat menyayangi anak dan istrinya, dia tidak bisa pisah jauh dari anak dan istrinya. Bahkan jika Bima harus ke luar negeri untuk bertugas saja dia pasti selalu membawa Meli dan Umaya.
"Ke mana aku harus cari mereka?" tanya Bima pada dirinya sendiri.
"Kayaknya aku cari ke rumah Meli aja deh. Bisa jadi mereka ada di rumah itu. Dan aku sangat yakin kalau mereka ada di rumah itu. Mau ke mana lagi mereka kalau gak ke rumah itu? Meli juga cuma punya satu rumah kan, gak ada rumah yang lain. Iya deh kayaknya mereka pasti di situ." Bima memutuskan untuk pergi ke rumah Meli. Yang dimaksud Bima rumah Meli adalah rumah peninggi orang tua Meli. Kedua orang tua Meli sudah meninggal dan rumah orang tuanya diwariskan kepada Meli. Rumah orang tua Meli tidak ada yang menempati. Karena Meli sudah berumah tangga, otomatis Meli tinggal bersama Bima. Yang tinggal di rumah Meli hanya asisten rumah tangga dan penjaga rumah lainnya.
Bima membawa mobilnya menuju rumah peninggalannya orang tua Meli. Bima sangat yakin kalau Meli ada di rumah itu.
Untuk sampai ke rumah itu Bima memerlukan waktu kurang kebohongan 40 menit.
Di sepanjang jalan Bima masih memikirkan bagaimana kata-kata yang tepat untuk dia membujuk anak dan istrinya supaya mau ikut pulang kembali ke rumahnya.
Bima masih memikirkan bagaimana jika Meli dan Umaya menolak ikut pulang dengannya, apa yang harus Bima lakukan jika istri dan anaknya menolak.
"Gimana kalau mereka gak mau ikut aku pulang ke rumah?" tanya Bima dalam hati.
"Aku gak tau gimana kalau mereka gak mau ikut aku pulang, serius aku gak tau mau lakuin apa nanti." Bima tampak pusing memikirkannya.
"Arghh!! tapi aku yakin kalau Umaya dan Meli pasti mau ikut aku pulang, aku yakin kalau mereka pasti gak bakalan nolak. Semalam mereka pergi dari rumah juga karena kebawa emosi doang kan. Mereka gak bakalan bisa jauh dari aku, mereka itu sama seperti aku yang gak bisa jauh dari mereka. Kita uda terbiasa sama sama, kepisah sebentar aja rasanya ada yang janggal. Gimana kalau kepisah lama? bisa-bisa aku, Meli, atau Umaya pasti setres." Bima harus percaya diri. Dia harus berpikir positif, anak dan istrinya tidak mungkin menolak untuk ikut pulang kembali bersamanya.
40 menit kemudian.
Mobil Bima sudah masuk ke dalam gerbang rumah Meli. Penjaga rumah sudah membukakan pintu gerbang untuk Bima.
Karena tidak ada yang menempati rumah Meli, jadi rumah ini tidak memiliki satpam. Rumah ini hanya punya satu asisten rumah tangga dan satu penjaga rumah. Dan sangat kebetulan sekali asisten rumah tangga dan penjaga rumahnya adalah suami istri. Mereka tinggal di rumah Meli, di kamar khusus asisten rumah tangga. Mereka adalah orang kepercayaan Meli sejak lama, sejak Meli masih remaja mereka sudah bekerja dengan keluarga Meli.
Bima turun dari mobilnya. Lalu dia langsung berjalan masuk ke dalam rumah. Tapi baru beberapa langkah kaki Bima berjalan, Pak Asep sang penjaga rumah langsung menghampirimu.
"Ehh bapak, apa kabar, pak? tumben ke sini." Asep menyapa Bima.
Bima tersenyum ramah. "Kabar saya baik, pak. Iya nih, saya mau jemput istri dan anak saya," jawab Bima jujur.
Pak Asep mengerutkan dahinya bingung. "Jemput istri dan anak bapak? maksudnya neng Umaya sama ibu?" tanya Pak Asep.
Bima langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban.
"Lohh ... memangnya kapan neng Umaya sama ibu ke sini, pak? perasaan dari tadi gak ada ke sini deh." Pak Asep tampak keninging.
Bima terkejut mendengar pernyataan pak Asep. "Maksudnya, pak? saya mau jemput istri dan anak saya pulang. Mereka ada di sini kan?" tanya Bima dengan tampang seriusnya.
"Hah? enggak ah, pak. Ibu sama neng Umay gak ada ke sini kok. Dari tadi gak ada yang bertamu ke rumah ini. Bukan hanya dari tadi, tapi uda beberapa bulan ini bahkan gak ada yang bertamu ke rumah ini. Terakhir ibu sama neng Umay ke sini kan yang sama bapak pas perayaan tahun baru itu. Setelahnya ibu dan neng Umay gak pernah ke sini lagi atuh." Pak Asep memberitahukan pada Bima kalau Umay dan Meli tidak ada di rumah itu.
Bima tampak tidak percaya dengan perkataan pak Asep. "Bapak jangan bohong deh. Saya tau bapak ngomong begini karena disuruh sama istri saya kan? iya saya dan istri saya memang lagi ada cekcok kecil, pak. Maka dari itu saya ke sini untuk menyelesaikan masalah dan membawa istri dan anak saya untuk pulang."
"Tapi saya gak bohong, pak. Ibu dan neng Umay emang gak ada ke sini." Pak Asep mencoba meyakinkan Bima.
Bima tersenyum kecut. "Uda deh, pak, gak usah akting. Saya tau kalau bapak begini disuruh sama istri saya kan? Ck, bapak keren banget aktingnya. Uda lah, pak, saya mau ke dalam dulu. Saya mau ajak istri sama anak saya pulang." Bima berjalan meninggalkan pak Asep sendiri. Bima langsung berjalan masuk ke dalam rumah, dia tidak percaya dengan perkataan Pak Asep. Bima sangat yakin kalau Pak Asep sudah ditutup rapat mulutnya oleh Meli. Pak Asep sudah kerjasama dengan Meli, Bima sangat yakin itu.
"Tapi saya gak bohong, pak. Beneran ibu dan neng Umay gak ada datang ke rumah ini." Pak Asep masih kekeuh memberitahu Bima walaupun Bima tetap memaksa masuk rumah dan kekeuh kalau Umaya, Meli ada di dalam rumah.
Bima tersenyum miring. "Dibayar berapa Pak Asep sama Meli, sampai Pak Asep kekeuh banget aktingnya," ucapnya dalam hati. Bima berjalan masuk ke dalam rumah dengan langkah gontai.