Beda Pendapat

2004 Kata
Bima masih beradu tatapan dengan Raka. Lebih tepatnya Bima yang menatap Raka dengan tatapan tajam dan Raka hanya bisa menundukkan kepala. "Kamu masih belum sadar kalau kamu pengganggu di keluar saya ya? saya gak akan pernah merestui kamu dan anak saya. Sampai kapan pun itu, gak akan saya restuin kamu. Jadi jangan berharap banyak, lebih baik lagi kalau kamu pergi dari kehidupan anak saya, mulai dari sekarang. Karena perjuangan kamu itu sia-sia, saya gak bakalan kasih restu saya ke kamu." Bima masih menyampaikan unek-uneknya pada Raka. "Sekarang kasih tau saya di mana keberadaan anak dan istri saya. Saya mau bawa pulang mereka." Bima mendesak Raka untuk memberitahu keberadaan Meli dan Umaya. Raka menghela nafasnya lelah. Dia lelah mendapat perlakuan seperti ini dari Bima. Raka sendiri tidak memiliki masalalu buruk yang ia perbuat, bahkan Bima juga tau Raka sukses di bidang bisnis. Raka ada pebisnis muda yang kaya raya dan bertahan. Raka juga tidak pernah berbuat buruk pada siapa pun, lantas apa sebab Bima tak menyukai Raka sebegitunya. Raka benar-benar lelah dipandang sebelah mata. Raka melihat Bima dengan tatapan yang mendalam. "Kenapa sih om gak pernah suka sama saya? memangnya saya pernah buat salah apa sama om dan keluarga om?" tanya Raka yang sudah tak sanggup menahan perlakuan buruk Bima lagi. Bima tersenyum miring. "Kamu masih tanya kamu punya salah apa ke saya? Ck, dasar, emang anak yang orang tuanya gak jelas kayak kamu selalu saja kurang didikan. Pantas saja kamu gak tau diri dan gak pernah sadar diri." "Gak tau diri gimana ya, om? memangnya salah saya apa sama oom? saya gak pernah ngelakuin salah ke om dan keluarga om. Saya hanya menjalin hubungan dengan anak om, saya juga gak pernah nyakitin Umaya. Saya selalu menjaga dan mencintai Umaya sepenuh hati." Raka membela diri. Bima langsung menatap Raka tajam. "Kamu masih gak sadar juga kesalahan kamu di mana?" tanya Bima. Bima berdecak. "Ck, dasar anak gak tau diri. Bisa-bisanya kamu gak tau kesalahan kamu di mana. Sepertinya saya juga gak perlu jelasin ke kamu salah kamu di mana seharusnya kamu sudah ngerti ya. Saya gak suka sama kamu. Karena kedatangan kamu di kehidupan anak saya, anak saya jadi pelawan. Karena kedatangan kamu di keluarga saya, anak dan istri saya jadi pembangkangan. Liat lah, karena kamu anak dan istri saya sekarang kabur dari rumah kan? ini semua karena pengaruh buruk kamu. Apa kamu masih gak sadar juga?" tanya Bima menahan emosi. "Saya minta tolong sekali sama kamu, tolong jauhi anak saya. Saya gak mau anak saya menjalin hubungan dengan kamu yang latar belakang keluarganya buruk. Saya gak mau di kemudian hari anak saya sakit hati gara-gara kamu. Dan saya tau, buah gak akan jatuh jauh dari pohonnya. So, kamu dan orang tua kamu itu sama. Jika saat ini tidak sama, maka di masa depan kamu pasti akan sama dengan orang tua mu. Saya gak mau hidup anak saya hancur karena kamu. Jadi saya harap kamu bisa ngertiin perasaan saya. Hormati saya sebagai papa Umaya. Dan jika kamu benar-benar cinta dengan Umaya, pasti kamu akan melakukan apa pun itu untuk kebahagiaan Umaya, termasuk meninggalkan Umaya saat ini juga." Bima memaksa Raka supaya tidak lagi mendekati Umaya. "Merelakan Umaya demi kebahagiaannya? memangnya Umaya bisa bahagia tanpa saya?" "Enggak, om. Umaya gak bisa bahagia tanpa saya. Begitu juga dengan saya, saya gak bisa bahagia tanpa Umaya. Saya dan Umaya sudah ditakdirkan untuk bersatu. Lalu kenapa om bersikeras untuk memisahkan kami? kenapa om malah mau merebut kebahagiaan dari Umaya? bahagianya Umaya itu sama saya. Harusnya om tau itu. Dan jangan harap saya akan menjauhi Umaya, karena sampai kapan pun saya bakalan memperjuangkan Cinta saya untuk Umaya. Sekeras apa pun om memaksa saya pergi, gak peduli dengan keadaan dan resikonya saya akan tetap bertahan." Dengan kepercayaan diri Raka langsung membantah apa yang dikatakan Bima padanya tadi. Wajah Bima memerah, sepertinya Bima terbawa emosi. "Oohh ... uda berani kamu sama saya?" tanya Bima penuh emosi. "Jangan kamu pikir kamu jagoan. Tidak usah bicara tentang perjuangan, saya tau kalau itu hanya obsesi kamu, bukan perjuangan cinta tulus kamu. Jadi stop bicara soal perjuangan cinta, kamu itu gak tau menau tentang cinta. Keluarga kamu saja tidak mencerminkan cinta sejati, bagaimana kamu dengan bangga sok tau tentang cinta? dan sampai kapan pun saya gak akan mau merestui hubungan kamu dengan anak saya." Bima mulai sarkas, dia benar-benar sudah tersulut emosi. "Kenapa om selalu bawa-bawa orang tua saya? kenapa om menyimpulkan saya sama dengan orang tua saya? bahkan orang yang terlahir kembar saja sifatnya gak sama. Apa saya dan orang tua saya persis punya sifat yang sama?" Tanya Raka dengan wajah tak kalah emosi. Raka sudah berusaha keras untuk menahan emosinya supaya tak meledak. "Enggak om, saya dan orang tua saya itu beda. Kami adalah orang yang berbeda, wajahnya saja beda, apa lagi sifatnya. Lagi pula orang tua saya hanya gagal dalam berumah tangga bukan gagal dalam mendidik saya. Om bisa lihat saja pencapaian saya di umur saya yang masih tergolong muda, apa lagi yang oom jadikan standar sebagai calon menantu? saya punya semuanya. Terlebih saya benar-benar mencintaimu Umaya, begitu juga dengan Umaya. Dan saya harap om bisa ngerti, karena saya tau om juga pernah muda dan tau bagaimana rasanya jika kita dipisahkan oleh orang yang kita cintai." "Dan ya, hidup ini gak bisa egois om. Om memang orang tuanya Umaya, tapi bukan berarti hidup Umaya itu milik om sepenuhnya. Umaya juga berhak menentukan jalan hidupnya, Umaya berhak memilih apa yang terbaik untuknya, karena yang menjalani hidup adalah Umaya, bukan om. Jadi om gak boleh egois, saya harap om paham hal basic seperti ini. Setiap manusia punya haknya masing-masing, om gak berhak memaksakan kehendak meskipun Umaya adalah anak om. Umaya dilahirkan juga sendiri, dia tidak minta bantuan om untuk lahir kedunia ini, meninggal juga nanti sendiri, itu simbol kalau setiap manusia berhak menentukan jalan hidupnya sendiri, termasuk Umaya. Om hanya perantara yang dititipkan anak oleh Tuhan, om gak berhak menjadikan Umaya boneka yang harus menuruti apa kemauan om. Umaya ya Umaya, Umaya berhak atas hidupnya sendiri. Sama seperti om yang memutuskan keputusan untuk hidup om sendiri, begitu juga dengan Umaya. Umaya juga mau memutuskan sendiri segala hal yang ada di kehidupannya." Raka menatap dalam Bima, bicara panjang lebar berharap jika Bima bisa mengerti dengan apa yang dimaksudnya. Berharap Bima bisa luluh hatinya. Bima tertawa remeh. "Bicara apa kamu? kamu bicara seolah-olah kamu tau segalanya, kamu bicara seolah-olah sudah sangat berpengalaman di dunia ini. Kamu masih anak kemaren, jangan berlaga sok paling tau." "Saya gak merasa paling tau segalanya, om. Saya bicara sesuai fakta. Apa yang saya katakan adalah yang saya ketahui, ini fakta sebenarnya. Om, Umaya berhak memilih jalan hidupnya sendiri. Kenapa om begitu egois sama anak om sendiri? tanpa sadar kelakuan om yang seperti ini yang membuat mental Umaya jadi down, kelakuan om yang seperti ini yang ngebuat Umaya merasa gak disayang." Raka tak menyerah. "Kamu gak usah sok tau tentang keluarga saya. Saya yang tau segalanya tentang anak saya, kamu baru masuk di kehidupan anak saya. Kamu gak tau apa pun tentang anak saya." Bima membantah ucapan Raka. Raka tersenyum samar. "Saya gak tau apa-apa tentang Umaya?" tanya Raka remeh. "Justru saya yang paling tau Umaya, dibandingkan om. Saya tau segala keluh kesah dan masalah yang sedang Umaya hadapi. Umaya selalu berbagi cerita apa pun itu pada saya. Sedangkan om? apa om tau apa masalahnya Umaya? apa om pernah tanya kegiatan apa yang lagi Umaya kerjakan? apa om pernah tanya bagaimana hari Umaya berjalan?" "Enggak kan? om gak pernah tanya itu sama Umaya. Om gak tau Umaya sedang menghadapi masalah apa, om gak tau keluh kesah yang Umaya rasakan. Bahkan Umaya saja sering cerita ke saya kalau dia selalu ingin cerita hari-harinya ke om, tapi om selalu sibuk dengan kerjaan om. Bahkan saat weekend pun om gak punya waktu untuk Umaya. Saat di rumah aja om masih sibuk di ruang kerja, sibuk ngerjain kerjaan kantor yang seharusnya dikerjakan di kantor bukan di rumah. Om gak yang diinginkan Umaya, om gak tau Umaya pengen apa dari om kan?" "Om selalu ngatur segalanya, keputusan apa pun itu selalu om yang berhak memutuskan. Sekolah Umaya bahkan sampai universitas Umaya pun om yang menentukan, padahal Umaya punya pilihannya sendiri. Apa om sadar kalau Umaya gak nyaman dengan pilihan om itu? apa om pernah tau kalau Umaya pernah jadi bahan bullyan di sekolah nya dulu?" Raka bertanya pada Bima. Bima tampak diam, mendengarkan Raka berbicara. "Enggak kan. Om gak tau, om gak tau kehidupan Umaya di luar rumah gimana. Om terlalu sibuk dengan pekerjaan om. Om selalu bilang kalau om sayang Umaya, emang iya, saya akui kalau om benar-benar sayang sama Umaya. Bahkan keluarga om juga harmonis. Tapi harmonis di saat tertentu saja. Bahkan om gak pernah tanya maunya Umaya apa. Om selalu saja bertindak seolah hidup Umaya ada di tangan om, pilihan hidup Umaya ada di tangan om. Tanpa ol sadar Umaya tertekan dengan itu semua. Umaya gak butuh sekolah mahal, kampus mahal, barang-barang mahal, Umaya hanya butuh tempat yang buat dia nyaman. Terkadang pilihan orang tua belum tentu yang terbaik untuk anaknya, om harus tau itu." Raka menceritakan apa yang dirasakan Umaya selama ini. Umaya memang selalu terbuka padanya, Umaya selalu cerita apa pun pada Raka. Termasuk cerita kehidupannya yang selalu diatur oleh sang papa. Bima memang seorang ayah yang baik, dia benar-benar sayang dan mencintai istri dan anaknya. Namun manusia tidak ada yang sempurna, begitu juga dengan Bima. Bima memang terlihat sempurna, namun Bima punya kekurangan. Kekurangan Bima adalah dia selalu egois dan selalu memaksakan kehendaknya sendiri. Apa yang dikatakannya harus terjadi, hidup istri dan anaknya harus sesuai dengan apa yang dia mau. Bima diam, dia mencerna kata-kata yang keluar dari mulut Raka. "Saya gak pernah egois. Saya hanya mau yang terbaik untuk orang yang saya cintai. Umaya adalah anak saya satu-satunya. Umaya adalah harta paling berharga di hidup saya, Umaya adalah jantung kehidupan saya. Saya gak akan biarkan hidup Umaya hancur, saya gak akan biarkan Umaya merasakan sakit hati. Saya membesarkan Umaya dengan penuh cinta, saya mau Umaya dapat yang terbaik di dunia ini. Semua yang saya lakukan demi Umaya, apa yang saya pilihkan untuk Umaya adalah yang terbaik untuknya. Kamu gak akan tau perasaan ini kalau kamu belum punya anak. Mungkin kamu akan seperti saya jika mempunyai anak, apa lagi anak perempuan satu-satunya. Saya benar-benar mau yang terbaik untuk anak saya, itu saja. Saya bukan egois. Jika saya dinilai orang lain egois juga saya akan terima, yang penting anak saya mendapatkan yang terbaik di dunia ini. Akan saya pastikan anak saya bahagia dengan pilihan saya." Emosi Bima mulai mereda, dia bicara dengan tenang dan santai. Raka menghela nafasnya kasar. "Kenapa sih om gak pernah mau intropeksi diri? kenapa sih om selalu anggap yang om lakukan itu benar? om itu bukan Tuhan, om itu gak tau mana yang baik dan buruk di kemudian hari. Om itu gak bisa menentukan kehendak om sendiri. Om kan uda berpengalaman, ayo dong, om. Ayo belajar menghargai pendapat dan kemauan orang lain. Om juga harus buka pikiran luas-luas, gak selamanya apa yang om tentukan itu baik. Om juga harus peduli dengan perasaan orang lain. Gak bisa begini terus. Setiap orang berhak atas dirinya masing-masing." "Kita memang beda pendapat dan itu tidak bisa dipungkiri. Tujuan saya ke sini juga bukan untuk berdebat dengan kamu. Tujuan saya ke sini untuk menanyakan di mana keberadaan anak dan istri saya. Saya mau bawa mereka pulang ke rumah. Jadi tolong cepat kasih tau saya di mana anak dan istri saya berada." Bima kembali ke topik utama, bertanya keberadaan Umaya dan Meli. "Saya gak bisa kasih tau ke om, karena saya gak tau Umaya dan tante Meli ada di mana," jawab Raka cepat. "Kenapa kamu harus berbohong? jelas-jelas kamu tau mereka ada di mana. Kamu pergi dari rumah saya bersama mereka. Pasti kamu tau mereka di mana, kasih tau saya sekarang juga." Bima terus mendesak agar Raka memberikan informasi padanya. "Maaf, om, tapi saya gak tau. Dan saya yang om anggap orang luar juga gak bisa ikut campur sama urusan keluarga om." Raka tetap menolak untuk menjawab. Dia tetap tak ingin memberitahukan informasi pada Bima.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN