Sesungguhnya Bima tak ingin bertemu lama-lama dengan Raka. Tapi Raka lah yang membuat semuanya semakin lama. Tujuan Bima adalah bertanya di mana keberadaan Umaya dan Meli. Tapi Raka tak ingin mmberitahu keberadaan mereka pada Bima.
"Tolong kasih tau saya di mana anak dan istri saya. Saya benar-benar gak bisa pisah lama-lama sama mereka." Bima kembali memohon pada Raka.
"Tapi saya gak tau, om. Saya gak bisa ngasih tau om karena emang saya gak tau. Kalau saya tau saya akan kasih tau om. Jadi tolong jangan maksa saya terus, saya juga masih banyak urusan, 1 jam lagi saya ada rapat." Raka terus mengelak, pura-pura tidak tau, padahal Raka tau semuanya.
Bukannya Raka tidak ingin memberitahu keberadaan Umaya dan Meli, tapi Raka tak bisa memberitahunya. Raka takut kalau nanti Meli dan Umaya marah padanya karena ini. Lebih baik Raka bicarakan dulu pada Umaya dan Meli, dan jika mereka setuju Raka memberitahu keberadaan mereka, barulah Raka akan mengubungi Bima kembali.
"Kamu jangan bohong, saya yakin kalau kamu tau semuanya. Anak dan istri saya aja pergi dari rumah sama kamu, kenapa jadi kamu gak tau ke mana mereka pergi? tolong jangan bohong, kasih tau saya mereka ada di mana." Bima kembali mendesak Raka.
Raka menghela nafasnya lelah. "Saya gak bohong om, saya emang gak tau. Saya akan kasih tau om kalau nanti saya uda tau."
"Mustahil kalau kamu gak tau!!" Bima mulai tersulut emosi.
Raka menyapu wajahnya dengan tangan. "Ya kalau om gak percaya itu terserah om. Tapi yang pasti saya memang gak tau di mana mereka sekarang. Kalau saya tau nanti saya bakalan kasih informasi ke om kok."
"Kasih tau saya sekarang juga!!" Bima terus memaksa Raka.
Raka menghela nafasnya kasar. "Maaf, om, tapi saya emang gak tau. Saya juga masih banyak jadwal, maaf banget ya om. Tapi saya memang harus pergi, saya ada jadwal meeting. Maaf saya pergi duluan, om. Sekali lagi maafkan saya." Raka sedikit membungkukkan tubuhnya untuk berpamitan pada Bima. Lalu Raka langsung membuka pintu mobilnya dan langsung masuk ke dalam mobilnya.
Bima mengumpat dalam hati. Dia benar-benar kesal melihat Raka yang menurutnya terlalu sombong.
Raka langsung menghidupkan mesin mobilnya, lalu Raka langsung membawa mobilnya pergi dari parkiran kantor.
Bima melihat dengan benci. "Ck!! belagu sekali anak satu itu. Baru minta kasih tau alamat aja dia uda songong begitu, gimana kalau aku nanti merestui hubungan mereka? gak kebayang, pasti dia bakalan bertingkah semena-mena." Bima tersenyum kecut.
"Waktu berharga ku terbuang sia-sia hanya untuk nemuin dia. Tapi dia benar-benar gak punya hati, bisa-bisanya dia bilang gak tau di mana keberadaan Umaya dan Meli, padahal sudah sangat pasti kalau dia tau di mana Meli dan Umaya sekarang. Meli dan Umaya pergi dari rumah bersama dia, uda pasti dia tau Umaya dan Meli tinggal di mana saat ini. Tapi kenapa dia gak mau kasih tau ke aku? apa mungkin dia balas dendam sama aku karena aku gak merestui hubungan dia dan Umaya?" Bima bertanya dalam hati.
"Arghhh!!!!" Bima menjambak rambutnya sendiri.
"Benar-benar anak sombong!! angkuhh!!" Bima tampak benar-benar menahan emosi karena Raka.
Bima menghela nafasnya lelah. Lalu dengan rasa kecewa yang besar dia langsung berjalan balik ke mobilnya.
"Ke mana lagi aku harus cari istri dan anak ku?" tanya Bima dalam hati.
Bima masuk ke dalam mobilnya, lalu dia langsung membawa mobilnya pergi dari parkiran kantor Raka.
"Gimana aku mau merestui hubungan Umaya dan anak itu? jelas-jelas anak itu benar-benar sombong dan angkuh. Gimana bisa aku ngelepasin Umaya ke tangan orang yang sangat angkuh seperti dia? Aku gak bakalan merestui hubungan mereka, sampai kapan pun." Bima ngedumel di sepanjang jalan.
Sementara itu, di sisi lain ada Raka yang sedang merasakan banyak ketidak nyamanan dan rasa bersalah. "Sumpah aku benar-benar merasa bersalah sama om Bima. Apa tadi kata-kata aku uda kelewatan ya?" Raka bertanya pada dirinya sendiri.
"Apa aku terlihat angkuh dan sombong ya? apa aku menimbulkan kesan buruk di mata om Bima ya?" tanya Raka lagi.
"Tapi aku ngelakuin itu buat nyadarin om Bima. Aku ngomong itu semua supaya om Bima tuh sadar kalau dia gak bisa begitu, Umaya juga punya hak memilih apa yang terbaik untuk hidupnya. Tapi kenapa om Bima masih aja gak bisa ngerti soal itu? kenapa om Bima milih nutup mata dengan fakta itu? padahal aku yakin pasti hati om Bima juga tadi uda ketrigger, tapi egois dia memang lebih besar dari pada logika dia." Raka tampak tersenyum kecut.
"Gimana bisa ada orang seegois itu? gimana bisa om Bima merasa dirinya paling benar, merasa keputusan dia yang terbaik? aneh banget tau begitu. Seharusnya kan gak boleh begitu."
"Tapi yang jelas pasti om Bima makin gak suka sama aku. Aku yakin 100 persen om Bima pasti semakin gak mau kasih restu ke aku. Pasti citra aku uda jelek di mata om Bima, aku yakin banget ngeliat respon dia tadi." Raka merasa sedikit menyesal, pasalnya belum saja dia mendapat restu barang 1% pun, tapi kebencian Bima terhadapnya sudah menumpuk dan bertambah berkali-kali lipat.
Raka menghela namanya kasar. "Ya tapin gimana lagi? mana mungkin aku kasih tau sama om Bima kalau Umaya dan tante Meli ada di rumah aku. Kalau aku kasih tau ke om Bima, belum tentu tante Meli dan Umay suka. Kalau tante Meli dan Umay ngelarang aku buat kasih tau gimana? ya emang yang benar tuh aku pura-pura gak tau aja. Nanti kalau uda sampai di rumah aku bakalan tanya langsung ke Umay dan tante Meli. Kalau tanye Meli dan Umay gak keberatan aku kasih tau keberadaan mereka ke Om Bima, aku bakalan temui om Bima dan kasih tau di mana tante Meli dan Umay."
"Sebenarnya aku kasian banget liat om Bima. Kayaknya om Bima benar-benar uda rindu banget sama tante Meli dan Umay, om Bima juga keliatan benar-benar tak terurus, kayaknya om Bima setres dan frustasi semenjak ditinggal Umay dan tante Meli. Aku yakin kalau kehidupan om Bima tanpa tante Meli dan Umay jadi gak teratur, jadi berantakan, bahkan kayaknya om Bima juga kurang tidur, matanya om Bima menghitam kurang tidur. Aku tau pasti rasanya gak enak dan sangat berat." Raka mengerti bagaimana perasaan yang saat ini Bima alami. Dia juga tak bisa menutup mata, bahwasannya kurang lebih dia pernah merasakan seperti itu. Hanya saja posisinya yang berbeda. Kalau Bima kehilangan anak dan istrinya, Raka kehilangan mama papanya.
"Semoga Umaya dan tante Meli mau kasih tau ke om Bima keberadaan mereka biar aku langsung kasih tau ke om Bima. Semoga juga dengan itu om Bima bisa luluh hatinya dan merestui aku dan Umaya " Raka berdoa dalam hati.
Sekitar 30 menit Raka mengendarai mobilnya, dan saat ini dia sudah berada di rumahnya dan Umaya.
Raka keluar dari mobilnya, lalu Raka langsung berjalan masuk ke dalam rumah.
Raka tidak tinggal di rumah ini, dia tinggal di rumahnya yang lama. Yang tinggal di rumah ini hanya Umaya dan Meli serta asisten rumah tangga.
"Assalamu'alaikum," Raka mengucapkan salah sebelum masuk ke dalam rumah.
Raka berjalan menuju ruang keluarga, dan saat Raka sampai di ruang keluarga, mata Umaya dan Meli langsung tertuju padanya.
"Lohh kenapa kamu ke sini? tumben?" tanya Umaya sedikit terkejut.
"Iya, ada yang mau aku sampaikan ke kamu dan ke tante Meli." Ucap Raka sambil menyalim tangan Meli.
Raka duduk di sofa yang bersebrangan dengan Meli dan Umaya.
"Ada apa? ada hal penting apa kamu sampai ke sini? biasanya kamu cuma ngabarin lewat telepon sama Umaya." Meli bertanya pada Raka.
Raka tertawa. "Hahaha ... maaf, tante, Umay, tapi aku lagi banyak kerjaan banget di kantor jadi selalu pulang larut malam, dan aku gak sempat ke sini. Maaf ya." Raka meminta maaf pada Meli dan Umaya.
"Iih ngapain minta maaf sih? kamu kan gak salah. Aku juga ngerti kok kalau kamu kerja. Kamu juga kan selalu ngabarin aku, jadi ya gak apa-apa juga. Asal kamu jaga kesehatan aja, inget makan." Balas Umaya cepat.
"Iya, ngapain juga minta maaf ke tante sama Umaya? emang kamu ngelakuin kesalahan apa? gak ada kan." Meli juga ikut-ikutan.
"Jadi apa yang mau kamu sampaikan ke aku dan mama?" tanya Umaya penasaran.
Raka diam sejenak, dia masih merangkai kata-kata yang akan disampaikannya pada Meli dan Umaya.
"Kok diam sih? emangnya ada apa? apa yang mau kamu sampai kan?" tanya Umaya lagi.
"Eummm ... ja-jadi aku ke sini mau cerita sesuatu dan minta izin sama kamu dan tante." Raka menyampaikan niatnya.
"Iya, minta izin apa?" tanya Umaya yang sudah sangat penasaran.
"Jadi tadi aku ketemu sama om Bima. Om Bima temui aku di kantor aku, waktu aku mau masuk ke dalam mobil pas mau pulang." Raka memberitahu Umaya dan Meli.
Umaya menaikkan sebelah alisnya. "Papa temuin kamu? ngapain papa temuin kamu? papa marah-marah sama kamu? apa aja yang dibilang papa ke kamu? papa nyalahin kamu, iya?" Umaya langsung menanyakan pertanyaan bertubi-tubi pada Raka.
"Enggak kok. Om Bima gak marah-marah ke aku, om Bima cuma nanya ke aku di mana keberadaan kamu dan tante Meli. Cuma aku bingung mau jawab apa, aku takut kalau aku kasih tau om Bima keberadaan kamu dan tante Meli ada di rumah aku, nanti kamu malah marah. Jadi tadi aku jawab kalau aku gak tau. Itu makanya kenapa aku ke sini, aku mau tanya ke kami dan ke tante Meli, boleh enggak aku kasih tau ke om Bima kalau kamu dan tante Meli ada di sini?" Raka bertanya pada Umaya dan Meli.
Saat selesai mendengarkan Raka bicara, Umaya langsung melihat ke arah sang mama, begitu juga Meli. Mereka beradu pandang, seolah bertanya pendapat satu sama lain.
"Terus papa percaya kamu jawab gak tau? pasti papa gak percaya kan sama jawaban kamu? pasti papa marah-marah kan sama kamu? iya kan? papa marah-marah sama kamu kan?" Umaya terus melontarkan beberapa pertanyaan pada Raka.
Raka menelan ludah, dia bingung ingin menjawab apa. Raka takut kalah dia jawab 'iya', nanti Umaya semakin marah melihat papanya. Raka takut kalau Umaya jadi membenci Bima karena perilaku Bima yang memang bisa dibilang buruk dan tidak pantas.
"Jawab aku, kamu dimarahin sama papa? papa marah-marah sama kamu? iya kan? mustahil papa gak marah-marah sama kamu. Kamu ngantar aku pulang aja papa marah-marah banget ke kamu, gimana soal beginian, uda ketebak kalau papa pasti marah besar ke kamu kan? iya kan? ayo jawab, gak usah bohong." Umaya terus mendesak Raka. Umaya menjadi emosionalnya jika menyangkut Raka dan papanya. Pasalnya Umaya tak suka jika Raka terus-tetusan dapat perlakuan kasar dari papanya. Padahal Raka adalah orang yang sangat baik, Raka yang selalu membantu dan melindungi Umaya, jadi Umaya tidak rela jika papanya memarahi Raka tanpa alasan yang jelas.
"Iya, tante juga mau tau gimana reaksinya papa Umaya ke kamu? apa papa Umaya masih marah-marah lagi ke kamu?" tanya Meli pada Raka.
Raka tampak bingung, dia bingung ingin menjawab apa.
"Gak perlu ada yang ditutup-tutupi, kamu cerita aja, kami cuma mau tau kebenarannya." Meli berusaha menenangkan Raka.
Raka menghela nafasnya. "I-iya," jawab Raka ragu-ragu.
"Nahh kan!! papa gak ada berubah nya, papa selalu aja begitu. Kenapa sih papa selalu marah-marah dan mau menang sendiri? papa itu gak pernah liat kebaikan kamu, padahal kamu itu baik banget ke aku dan mama. Papa selalu aja marah ke kamu, papa selalu anggap kamu buruk, padahal papa gak mengenal kamu sama sekali. Aku gak habis pikir sama papa, entah kenapa papa bisa begini, harusnya papa itu gak egois gini. Aku capek papa begini terus. Mungkin dulu aku terima aja hidup aku diatur papa terus, masuk sekolah dan kuliah harus sesuai sekolah dan kampus yang papa mau, semua tentang aku pasti papa yang menentukan. Tapi untuk urusan pendamping hidup, aku gak bisa nurutin papa. Aku mau pilih yang terbaik untuk aku sendiri, tanpa campur tangan orang lain." Umaya sudah merasa jengkel. Selama ini Umaya selalu mengikuti apa kata papanya, tapi untuk hal yang satu ini Umaya akan memilih pilihannya sendiri.
"Kamu jangan marah-marah gitu dong, kan papa kamu punya alasan kenapa gak suka sama aku. Aku bakalan tetap berusaha kok buat luluhin hati papa kamu, kamu jangan marah-marah begitu, biar bagaimana pun papa kamu ya tetap papa kamu, orang yang paling cinta sama kamu di dunia ini. Jangan marah ke papa kamu." Raka menegur Umaya dan berusaha menenangkan Umaya yang sedang emosi. Raka memang selalu sakit hati karena Bima, terkadang Raka juga kesal dengan Bima, tapi biar bagaimana pun Bima adalah papa Umaya, Umaya tidak boleh membenci papanya.