Umaya Raka Damai

3111 Kata
Perdebatan dan perbedaan pendapat tentang Bima masih saja berlangsung. Umaya yang sudah terlihat sangat kesal hanya bisa mengonel dan marah-marah sendiri. Sedangkan Raka, dia hanya bisa menasehati Umaya supaya tidak marah-marah dan menyalahkan Bima lagi. "Uda lah, kamu gak usah marah-marah lagi, toh kita juga sama-sama tau kan aslinya papa kamu itu orang yang baik. Dia cuma mau yang terbaik untuk kamu, jadi dia oper protektif tentang apa yang menyangkut kamu. Jadi maklumi aja." Raka mencoba menenangkan Umaya. "Tapi gak gitu juga tau, aku capek sama kelakuan papa. Papa selalu aja begitu, gak pernah papa mau tau apa yang aku mau. Papa cuma mau apa yang diinginkannya terealisasikan, papa gak mau tau apa yang aku inginkan." Umaya masih saja mengomel. "Jadi gimana, kamu dan tante setuju gak kalau aku kasih tau ke om Bima di mana kalian saat ini? kasian banget om Bima uda nyari kamu dan tante ke mana-mana. Bahkan Om Bima juga kayaknya hancur banget ditinggal sama kamu dan tante. Om Bima keliatannya gak ngejalanin kesehariannya dengan teratur. Makan, tidur, kayaknya om Bima gak makan dan tidur dengan teratur. Om Bima juga kayaknya setres banget, tampilannya urak-urakan, gak rapih seperti biasanya. Aku juga yakin pasti kerjaan om Bima di kantor juga kacau. Yakin banget aku. Kasian liat om Bima begini, kasih tau aja ya, kamu dan tante pulang aja ke rumah, kasian banget om Bima tersiksa gak ada kamu dan tante di rumah." Raka membujuk Umaya dan Meli. Umaya langsung menggelengkan kepalanya. "Enggak, aku gak mau pulang. Sebelum papa ngerestuin hubungan kita aku gak akan pulang ke rumah. Aku capek kalau hidup ku terus dikendarai sama papa. Aku juga mau memutuskan sendiri apa yang aku mau, aku juga mau pilih sendiri pendamping hidup ku, aku gak mau papa terus memaksakan kehendak dan egoisnya." Umaya menolak untuk pula ke rumah. "Tapi gak bisa gitu, Umay. Kamu kan anak yang baik, kamu gak kasian liat papa kamu kesepian sendirian?" tanya Raka. "Kalau mama mau pulang, ya pulang aja duluan. Temenin papa biar gak sendirian, tapi kalau aku, aku gak mau pulang sebelum papa ngerestuin hubungan aku sama kamu." Umaya kekeuh menolak saran Raka untuk pulang ke rumah. Raka menghela nafasnya lelah. Umaya dan Bima adalah anak dan papa, walaupun mereka tidak sama, tapi tetap saja anak dan orang tua pasti punya kesamaan. Ya, kesamaannya adalah sama-sama keras kepala. Bima dan Umaya sama-sama keras kepala. "Kamu kok gitu sih? biasanya kamu gak gini loh. Kamu gak boleh gitu loh. Kamu kan uda dewasa. Kamu anak satu-satunya papa kamu, masa kamu gak mau bahagiakan papa kamu sendiri sih? seharusnya kamu ngalah aja. Aku yakin suatu saat nanti papa kamu pasti bakalan ngerestuin kita kok, tanpa kamu begini juga nanti papa kamu pasti bakalan luluh hatinya. Kamu gak boleh melawan papa kamu, berdosa tau. Umaya yang aku kenal itu Umaya yang baik hati. Jadi aku harap kamu mau ya pulang ke rumah, kasian papa kamu sendiri gak ada kamu dan tante di rumah. Jadi kalian pulang ya. Bukannya aku ngusir atau gimana, tapi ini demi kebaikan bersama. Kasian banget om Bima. Aku liat om Bima aja gak tega, matanya hitam, badannya kurus dan lencu. Pakaian kerja yang om Bima pakai juga gak teratur. Intinya om Bima kelihatan gak keurus, setres dan kurang tidur." Raka masih berusaha membujuk agar Umaya dan Meli mau segera pulang ke rumah Bima. "Atau kalah gak mau pulang sendiri, aku bakalan kasih tau alamat ini ke om Bima. Om Bima pasti bakalan ke sini untuk jemput tante dan Umaya. Soalnya saat ini Om Bima lagi nyari tante dan Umaya ke mana-mana. Gimana? apa aku kasih tau aja alamat rumah ini ke om Bima ya?" Raka bertanya pada Meli. Meli diam sejenak. Dia masih berpikir tentang apa yang harus dilakukannya. Tidak bisa dipungkiri kalau Meli sebenarnya juga merindukan Bima dan sangat khawatir pada Bima. Apa lagi saat Raka bercerita tentang kehidupan Bima yang tak teratur saat mereka tinggal pergi dari rumah, rasa iba Meli semakin bertambah. Tapi Meli tak bisa memilih salah satunya, dia juga khawatir dengan Umaya. Umaya masih kesal dengan Bima, Meli juga tau kalau Umaya sedang berada di fase tidak suka dan muak dengan semua tingkah sang papa. Yang Meli takutkan adalah Umaya yang memendam semua masalahnya sendiri menjadi setres dan depresi. Pasalnya Meli tau kapasitas anaknya itu. Meli tau kalau saat ini Umaya sudah ada di fase muak dan ingin menyerah. Jadi sebagai ibu yang baik Meli harus menyemangati dan mendampingi putri satu-satunya itu. Meli tak mau kehilangan Umaya nya. "Tapi sebenarnya apa yang dibilang sama Umaya juga ada benarnya. Kejadian ini sebagai pelajaran untuk papa Umaya karena keegoisannya. Tante berharap karena masalah ini papa Umaya bisa berubah menjadi lebih dewasa dan tidak egois. Tapi mendengar apa yang kamu ceritakan tadi, tante menganggap kalau papa Umaya belum berubah sama sekali. Papa Umaya masih sama seperti dulu. Papa Umaya masih menjadi papa dan suami yang egois, tante gak mau kalau papa Umaya terus-terusan seperti itu. Kasian Umaya, hidupnya selalu dikendalikan oleh papanya. Tante gak bisa belain yang salah. Menurut tante papa Umaya memang salah, jadi tante bakalan ngikut apa yang Umaya mau sepertinya." Meli menyampaikan kalau dia setuju dengan Umaya. Meli mendukung apa yang dilakukan Umaya. Raka tampak bingung, dia masih tak percaya kalau Meli malah mendukung Umaya untuk tidak ingin pulang ke rumah sebelum apa yang Umaya mau dikabulkan. "Tapi kan gak bisa gitu, tante. Tante emang gak kasian sama Om Bima? gak ada tante hidup Om Bima berantakan. Baju kerjanya juga gak rapih, kucel banget, matanya hitam kurang tidur, badannya kurus, sepertinya Om Bima gak nafsu makan semenjak ditinggal sama tante dan Umaya. Kasian om Bima, tante. Lebih baik Umaya dan tante balik ke rumah secepatnya, atau saya bisa kasih alamat rumah ini ke om Bima supaya om Bima ke sini terus jemput tante dan Umaya untuk pulang." Raka masih kekeuh membujuk supaya Umaya dan Meli mau pulang. "Enggak! aku gak mau pulang. Kamu kenapa sih? kamu gak mau kalau aku sama mama tinggal di sini? iya?" tanya Umaya pada Raka. Raka terkejut saat Umaya bertanya begitu padanya, pasalnya bertahun-tahun Raka pacaran dengan Umaya, Umaya tak pernah seperti ini. "Eng-eng--" Ucapan Raka terpotong dengan Umaya. "Kalau kamu gak mau aku sama mama tinggal di sini, aku sama mama bisa pergi dari sini sekarang juga kok. Kami juga bisa tinggal di apartemen, kamu gak perlu khawatir, kalau kamu risih aku dan mama tinggal di sini, aku dan mama bisa pergi dari rumah ini sekarang juga." Umaya menatap Raka dengan tatapan yang tak bisa diartikan. "Hah? kamu kok mikir gitu sih?" tanya Raka tak habis pikir. "Kamu kok jadi gitu sih sama aku? aku gak keberatan kalau kamu sama tante tinggal di rumah ini. Ini rumah kan memang aku bangun untuk kamu, jadi gak masalah juga mau seumur hidup kamu dan tante tinggal di rumah ini. Tapi yang jadi masalah itu papa kamu. Papa kamu tersiksa dan kesepian tanpa kamu dan tante. Papa kamu gak bisa hidup sendiri tanpa kalian berdua. Papa kamu capek setiap hari nyari keberadaan kamu dan tante. Apa kamu gak bisa ngertiin itu? kamu pasti tau cintanya papa kamu ke kamu itu sebesar apa, masa kamu tega sih biarin papa kamu tinggal sendiri tanpa kamu?" Raka bingung dengan respon Umaya yang di luar dugaan. Umaya tersenyum miring. "Kamu selalu mikirin gimana perasaan papa aku, kamu selalu kasian sama papa aku. Apa kamu gak mikirin perasaan aku? apa kamu gak mikirin gimana aku? apa kamu gak kasian sama aku? dalam kasus ini jelas aku yang dirugikan, bukan papa. Kamu juga tau kan kehidupan aku dari dulu gimana?" "Ya aku tau kalau papa sayang sama aku, aku tau papa cinta pertama di hidup ku. Aku tau papa benar-benar ingin aku bahagia dan papa gak mau kehilangan aku dan senyum kebahagiaan ku. Tapi tanpa papa sadari, sayangnya papa ke aku itu buat aku jadi gak punya hak untuk menentukan bagaimana kehidupan aku, sayangnya papa ke aku itu uda menjelma jadi egois. Masa kamu gak paham sih? papa uda ambil alih hidup aku. Papa mau apa yang aku jalani itu harus sesuai dengan apa yang dia putuskan. Kalau papa begitu terus, jadi apa gunanya aku hidup? apa gunanya aku hidup kalau aku gak berhak atas hidup ku sendiri? apa gunanya aku hidup? lebih baik aku mati." Umaya tersenyum miris di ujung kalimatnya. Meli langsung terkejut saat Umaya mengatakan lebih baik mati. Meli mendekati Umaya, lalu Meli langsung membawa Umaya ke dalam pelukannya. "Gak boleh ngomong begitu, sayang. Gak boleh ngomong mati. Hidup kamu itu masih panjang. Hidup kamu itu masih muda, kamu harus menjalani hidup kamu dengan kebahagiaan. Jangan ngomong mati-mati, mama gak suka." Meli menegur Umaya dengan lembut. "Ya kan benar yang Umaya bilang, ma. Untuk apa Umaya hidup kalau Umaya aja gak berhak atas hidup Umaya sendiri. Apa-apa papa yang mutuskan, apa-apa papa yang ngatur semua tentang Umaya. Umaya juga mau bebas, ma. Setidaknya dalam memilih pendamping izinkan Umaya milih sendiri. Umaya mau pilih lelaki yang Umaya cintai, bukan lelaki yang dianggap baik sama papa. Umaya juga tau mana lelaki yang baik dan buruk kan, mana mungkin Umaya pilih lelaki yang buruk untuk pendamping seumur hidup Umaya. Tapi apa yang papa lakuin? papa gak setuju dengan apa yang Umaya pilih, papa selalu aja egois, maunya papa itu Umaya selalu nerima apa yang diputuskan papa. Kan yang ngejalanin kehidupan pernikahan nanti Umaya, bukan papa. Seharusnya papa ngerti soal itu. Kan papa uda dewasa." Umaya terus menyampaikan unek-unek di hatinya. Umaya menatap Raka dengan tajam. "Kamu lagi, kenapa sih kamu selalu aja memihak ke papa? kenapa kamu juga gak mikir gimana perasaan aku? kamu selalu aja bilang kalau suatu saat nanti pasti papa bakalan merestui hubungan kita. Suatu saat nanti itu kapan? 30 tahun ke depan? 50 tahun ke depan? atau bahkan gak bakalan ada restu sama sekali ? kamu kenapa sih pasrah aja? kalau kamu emang capek buat perjuangin restu papa bilang aja. Kalau kamu emang capek sama hubungan kita yang terhalang restu ini ngomong aja sekarang, biar aku tau harus apa. Untuk apa aku capek-capek berjuang kalau kamunya uda muak berjuang?" "Kok kamu ngomong gitu sih?" tanya Raka terkejut. "Aku gak pernah bilang kalau aku bosan berjuang untuk dapat restu hubungan kita. Aku gak pernah bilang kalau aku muak dengan hubungan kita yang stuck dan begini-begini aja. Bahkan sampai sekarang juga aku masih berusaha dan berjuang untuk hubungan kita kok. Apa kamu kurang yakin sama aku? apa kamu gak bisa percaya sama aku? kamu yang mikirnya terlalu negatif, kamu uda aneh, padahal aku gak pernah berubah. Aku tetap mikir tiap hari gimana cara meluluhkan hati papa kamu. Dan aku masih mencintai kamu, sampai kapan pun itu. Jadi kamu jangan ngomong yang enggak-enggak, aku gak suka." Raka tampaknya tersinggung saat Umaya menuduhnya sudah tidak lagi berharap dengan hubungan mereka. "Kamu yang buat aku begini, kamu yang menggiring supaya aku mikirnya begini. Kamu selalu belain papa, kamu selalu pasrah dan bilang kalau suatu saat nanti papa pasti bakalan merestui hubungan kita. Padahal kamu tau kalau papa ngerestuin kita itu hampir menjadi hal yang mustahil." Umaya mendebat Raka. Meli yang menyaksikan perdebatan dua sejoli ini langsung menggaruk kepalanya yang tak gatal. "Duhh udah udah, uda jangan ribut lagi. Apa sih yang kalian ribut kan? kalian ini seharusnya kompak, cari cara supaya bisa mendapatkan restu papa, bukannya malah berdebat. Di saat-saay seperti ini seharusnya kalian saling menguatkan. Kalau kalian terus berdebat, bukan gak mungkin hubungan kalian akan kandas dalam waktu singkat. Jadi mama harap kalian harus saling mengerti, jangan berdebat untuk hal-hal yang kurang penting seperti ini. Kalian juga uda dewasa, semakin ke sini semakin banyak cobaan di hubungan kalian, kalian harus menghadapinya dengan cara dewasa dan kepala dingin, jangan semakin berdebat. Debat hanya memperkeruh suasana. Debat hanya buat hubungan kalian semakin memanas. Alhasil bukannya mendapat restu malah bakalan kandas hubungannya. Jadi tolong kalian berdua harus ngurang-ngurangin keegoisan kalian berdua kalau kalian berdua memang serius dan mau menjalin hubungan ke jenjang pernikahan. Jalani cobaa ini bersama-sama, tanpa harus menyalahkan satu sama lain. Yang harus kalian lakukan adalah mendukung satu sama lain, bukan saling menyalahkan satu sama lain." Meli melerai pertengkaran Raka dan Umaya. Raka menghela nafasnya lelah. "Iya, benar apa yang dikatakan mama kamu. Seharusnya di saat-saat seperti ini itu kita saling mendukung dan saling menguatkan satu sama lain, bukan saling menyalahkan. Kalau kita egois dan saling menyalahkan satu sama lain, maka hubungan kita bakalan semakin berat, bakalan semakin hancur. Sulit untuk melangkah ke jenjang yang lebih serius. Sementara aku? aku benar-benar cinta sama kamu, aku benar-benar serius sama kamu. Aku mau kita sama-sama sampai ke jenjang yang lebih serius. Aku mau kita sama-sama sampai kita dikasih restu sama papa kamu dan hidup bahagia sebagai keluarga." Umaya tersenyum samar. "Terkadang bukan aku egois atau nyalahin kamu, aku cuma menyampaikan apa yang aku rasakan. Dan ya, belakangan ini aku emang lagi sensitif kalau bahas papa. Apa lagi kamu selalu belain papa tanpa mikirin perasaan aku, aku jadi merasa kalau kamu uda gak peduli sama aku dan hubungan kita. Maka dari itu aku tanya ke kamu, kalau misalnya kamu memang uda nyerah sama hubungan kita yang rumit ini, aku gak bakalan maksa kamu kok." "Apa sih kamu? siapa yang bilang kalau aku nyerah sama hubungi kita? aku gak bakalan nyerah sama hubungan kita. Aku bakalan berjuang sampai kita direstui, aku bakalan berjuang sampai kita bisa nikah dan hidup bahagia. Aku cinta kamu, dan aku gak bakalan berpaling ke orang lain. Kamu bisa pegang kata-kata aku. Kamu yang pertama dan kamu bakalan jadi yang terakhir juga." Raka meyakinkan Umaya yang sedang goyang dengan hubungan mereka. Meli tersenyum lega. "Tuhh kamu dengar kan apa yang Raka sampaikan barusan? Raka itu cintanya cuma sama kamu, bukan sama yang lain. Raka gak bakalan nikah kalau gak sama kamu. Raka gak mau orang lain, maunya kamu. Lagi pula hubungan kalian uda sejauh ini, uda sejauh dan selama ini kalian menjalani hubungan yang penuh dengan lika-liku. Masa sih kalian mau nyerah sekarang? sekarang itu ibaratkan satu langkah lagi menuju kebahagiaan kalian lo. Kalian hanya butuh restu dari papa aja, lalu setelah itu kalian uda bisa menikah, menjalani kehidupan kalian dengan bahagia dan sempurna. Mama juga pernah merasakan begini, ya walaupun dulu hubungan mama direstui sama kedua orang tua mama dan papa, tapi cobaan itu datang dari mana aja. Dan untungnya mama dan papa tetap tabah dan sabar dalam menjalani cobaan yang kami hadapi. Dan saat kami berdua ingin menyerah, kami selalu ingat perjuangan kami yang uda sejauh itu, lalu setelahnya kami jadi semangat lagi dalam menjalani cobaan yang datang. Dan kalian bisa liat hasilnya sekarang, mama dan papa masih bertahan sampai sekarang. Kami masih saling mencintai dan melewati rintangan hubungan kami bersama-sama dengan baik. Jadi kalian berdua juga harus semangat. Kalian berdua juga harus tetap ingat tujuan utama kalian apa. Jangan menyerah begitu aja, ingat untuk sampai di titik ini aja kalian uda banyak berkorban, jadi jangan sampai nyerah begitu aja. Harus semangat." Meli menyemangati Raka dan Umaya. "Iya, kita harus semangat, ingat tujuan awal dan tujuan utama kita apa. Kita gak boleh menyerah dengan keadaan. Tetap berjalan bersama untuk menuju kebahagiaan yang kita inginkan." Raka tersenyum manis seraya menatap Umaya dengan tatapan teduh. Umaya menghela nafasnya. Dia sadar kalau tadi dia sudah egois dan keras kepala. "Maaf kalau tadi aku egois. Maaf kalau ada kata-kata aku yang buat kamu tersinggung. Maaf kalau aki keras kepala, maaf kalau aku marah-marah gak jelas. Intinya aku minta maaf sama kamu untuk semua kesalahan aku." Umaya meminta maaf pada Raka. Raka tersenyum gemas melihat Umaya meminta maaf dengan tulus. "Gak perlu minta maaf kok, kamu gak salah. Aku yang salah, aku yang minta maaf karena sampai sejauh ini aku masih belum bisa mendapatkan restu dari papa kamu. Sekali lagi aku minta maaf, nanti aku pasti bakalan berusaha lebih keras untuk mendapatkan restu papa kamu. Tungguin ya, jangan bosan nungguin aku. Aku pasti bisa kok dapatin restu papa kamu. Jadi tunggu aku, jangan pernah bosan menunggu." Umaya mengangguk dengan polos. "Iya, aku bakalan nungguin kamu kok. Mana mungkin aku cari yang lain, aku cintanya cuma sama kamu , gak ada yang lain. Aku bakalan nungguin kamu bawa restu papa. Dan aku juga bakalan berjuang sama-sama kamu, aku bakalan berusaha terus sampai papa kasih restunya untuk kita." Meli tertawa geli. "Duhh mama geli deh liat orang bucin, dah lama mama gak bucin jadi liat orang bucin rasanya aneh dan janggal." Mendengar perkataan Meli, Raka dan Umaya menjadi ikut tertawa. "Hahaha ... bohong banget mama, padahal mama tiap hari bucin sama papa. Aku aja sampai ngerasa jadi antinyamuk karena mama sama papa yang bucin banget kok." Umaya menyangkal ucapan mamanya. "Duhh ketauan tante, rahasianya dibuka sama anaknya sendiri." Raka meledek Meli. "Apaan? bucin gimana? mama sama papa tuh gak pernah udahan begin begini lagi. Kamu apa-apa aja dibilang bucin. Padahal yang kamu liat itu emang kewajiban mama sebagai istri papa kan. Bukan karena bucin. Kamu sendiri tau lah kalau papa kamu itu super duper sibuk, bahkan weekend aja masih bawa kerjaan ke rumah. Gimana mau bucin, gak ada waktu untuk bucin. Papa kamu terlalu sibuk, tiap hari mgebucinin kerjaan mulu, mama dilupain." Meli memutar bola matanya malas. "Duhhh kasian banget. Jadi mama lagi nesu nih? jadi mama lagi cemburu sama kerjaan papa?" tanya Umaya pada sang mama. Meli menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak ah, mama gak cemburu. Untuk apa juga cemburu, kan mama dan papa uda tua, gak ada cemburu-cemburuan lagi." Meli mengelak. "Loh tadi itu mama bilang sendiri kok. Mama mah cemburunya sama kerjaan, ihh aneh ih. Papa juga kan kerja untuk mama, untuk kita berdua, masa mama cemburu sih. Nanti kalau papa gak kerja mama gak bisa shopping, gak bisa ikut arisan, gak bisa beli ini itu. Makanya jangan cemburuan sama kerjaan papa deh, ma. Nanti kalau gak dikasih jatah bulanan kan berabe." Umaya masih menggoda sang mama. "Iih apaan sih kamu? kok kamu malah nyerang mama sih? mama kak gak ada ngeledek kamu, gak ada mojokin kamu. Uda ah, jangan bahas mama sama papa. Bahas aja tentang hubungan kalian berdua." Meli berdiri, dia ingin pergi dari tempat itu. "Loh mama mau ke mana?" tanya Umaya bingung. "Mau ke kamar lah. Mama gak mau jadi antinyamuk. Mama mau ke kamar aja. Yaudah ya, mama tinggal kalian, jangan yang aneh-aneh ya, ingat kalian berdua belum sah. Mama ke kamar dulu." Meli berjalan pergi, dia berjalan menuju kamarnya, meninggalkan Raka dan Umaya berduaan. "Iih apaan sih mama, ya kali kita aneh-aneh." Umaya langsung cemberut saat Meli menggodanya. "Uda ah, kan mama kamu cuma bercanda doang, jangan dianggap serius deh." Raka langsung menegur Umaya. Raka dan Umaya hanya tinggal berdua di ruangan itu. Mereka duduk bersebelahan, Raka menghampiri Umaya dan duduk di sebelah Umaya. Mereka sudah lama tidak bertemu, jadi saat ini mereka sedang memanfaatkan waktu dengan baik. Saling berbincang dan bertukar cerita satu sama lain.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN