Raka dan Bima

4549 Kata
Hari ini Raka sedang ada rapat untuk proyek besar. Raka sudah mempersiapkan rapat ini sejak lama, dia benar-benar sudah mempersiapkannya dengan matang. Dan Raka juga berharap besar dia akan berhasil mendapatkan proyek besar ini. "Semuanya sudah lengkap kan? tadi uda benar-benar kamu periksa kan?" tanya Raka pada Mita, sekretarisnya. "Uda saya periksa kok, pak. Semuanya uda lengkap dan gak ada yang ketinggalan, bapak tenang aja. Pokoknya uda perfect. Semoga kita dapat proyek besar ini ya, pak." Mita menjawab dengan tenang dan bersemangat. Raka menganggukkan kepalang setuju. "Baik lah, bagus kalau semuanya uda lengkap. Iya, saya juga berharap kalau kita bisa mendapatkan proyek ini. Secara proyek besar ini benar-benar memilik keuntungan besar. Kalau kita yang akan mendapatkan proyek ini, saya yakin perusahaan kita juga pasti akan lebih dikenal di manca negara. Proyek besar ini kan menyangkut perusahaan asing juga. Saya berharap kita memenangkan proyek ini supaya perusahaan kita semakin berkembang dan dikenal luas." Raka tersenyum, dia benar-benar berharap perusahaannya semakin berkembang dan tekenal di mancanegara. "Aamiin, pak. Semoga aja kita yang memenangkan proyek ini. Ya walaupun saya tau saingan kira berat-berat. Saingan kita perusahaan besar dan sukses semua, pak. Tapi semoga aja rezekinya ke kita." Mita juga gugup, tak bisa dipungkiri, walaupun Mita sudah berpengalaman dan lama bekerjasama bersama Raka, tap jika mengikuti rapat besar seperti ini dia masih merasa gugup. "Kamu tau dari mana? kamu tau siapa aja yang datang? perusahaan mana aja yang datang?" tanya Raka pada Mita. Mita menggelengkan kepalanya sebagai jawaban. "Enggak, pak, saya gak tau perusahaan mana aja yang datang. Tapi saya yakin saingan kita bukan orang sembarangan. Saya yakin banyak perusahaan besar yang hadir," jawab Mita. Raka menganggukkan mengerti. "Oh begitu, baik lah. Kita harus bekerja semaksimal mungkin untuk hari ini. Semoga aja usaha tak mengkhianati hasil." "Iya, pak, aamiin," balas Mita. Saat ini Raka dan Mita sedang berjalan menuju ruang rapat. Mereka bukan rapat di kantor mereka, mereka sedang rapat di salah satu kantor besar yang sudah terkenal. Tokkk tokk tokk ... Raka mengetuk pintu, lalu dia langsung masuk ke dalam ruang rapat. Raka mengambil duduk di ujung, di samping Raka adalah tempat Mita. "Uda banyak juga yang datang ya," batin Raka dalam hati. Raka merasa gugup, dia memperbaiki jas kerjanya yang sudah rapih. Jika gugup biasnya Raka mengerjakan sesuatu, seperti mencoret-coret kertas, memperbaiki dasi atau jasnya. Raka menghela nafasnya, mencoba menetralkan jantung nya yang cukup deg-degan saat ini. Raka mulai memutar bola matanya, melihat ke segala arah, mengamati semua orang-orang yang ada di ruangan ini. Pandangan Raka berhenti di sebelah kiri, tepat dengan mulut dan matanya yang melebar karena terkejut. "What? i-itu beneran Om Bima?" tanya Raka dalam hati. "Ini aku gak salah liat kan?" Raka mengucek-ngucek matanya. "I-iya, itu beneran om Bima." Raka menelan ludah. "Astaga, Om Bima kok jadi begitu sih?" tanya Raka dalam hati. Raka melihat ke arah Bima, dia masih tak percaya dengan Bima yang sedang duduk di bangku sebelah kiri. Raka tidak terkejut karena Bima menghadiri rapat ini. Jika Bima menghadiri rapat ini, wajar saja karena perusahaan Bima memang salah satu perusahaan terbesar yang sukses dan di kenal semua orang. Bahkan perusahaan Bima juga sudah banyak memiliki cabang perusahan baik dalam maupun luar negeri. Jadi yang membuat Raka heran bukan kehadiran Bima, tapi keadaan dan tampilan Bima saat ini. Saat ini Bima sedang duduk menunduk dengan mata terpejam, bisa dipastikan kalau saat ini Bima sedang tertidur. Penampilan Bima saat ini juga benar-benar kacau. Pakaian Bima terlihat kusut, wajah Bima terlihat kucel dan kusam. Rambut Bima terlihat berantakan, lingkaran mata panda jelas terlihat di mata Bima. Saat ini Bima benar-benar terlihat menyeramkan. "I-itu Om Bima? aku gak salah liat beneran kan?" tanya Raka dalam hati. "Kok om Bima begitu sih? serem banget keliatannya, kayak gak keurusan banget. Padahal kan di rumah om Bima juga ada bibi, pasti bibi uda nyetrika semua baju Om Bima kan, gak mungkin bibi gak ngelakuin tugasnya. Tapi kenapa ya bajunya Om Bima kelihatan kusut dan lencu?" tanya Raka dalam hati. "Kalau liat om Bima yang begini kan aku jadi kasian. Aku uda biasa liat Om Bima yang rapih, tegas, dan berwibawa. Dan sekarang aku liat om Bima yang begini, bahkan om Bima sekarang tidur di ruang rapat. Apa mungkin Om Bima gak tidur berhari-hari sampai-sampai om Bima ketiduran di ruang rapat? padahal kan Om Bima itu terkenal sama ketegasan dan profesionalnya. Kalau begini kan om Bima bisa buat jelek citranya sendiri. Bukan hanya citra om Bima yang jelek, tapi citra perusahaan juga yang jelek pastinya." Raka masih bingung mengapa Bima bisa sampai ketiduran di ruang rapat. Rapat memang belum dimulai, tapi semua yang ikut rapat sudah hampir datang semua. Tentu saja saat ini Bima pasti sedang menjadi bahan pergosipan. "Apa aku bangunin aja ya?" tanya Raka tak tega melihat orang-orang sedang bergosip tentang Bima. "Ahh tapi aku takut kalau nanti om Bima malah emosi terus marah-marah ke aku. Bisa-bisa aku diusir kalau buat keributan di sini. Aku gak bisa ambil resiko, ini terlalu bahaya. Aku sangat berharap dengan proyek besar ini, kalau sampai aku diusir bahkan sebelum rapat dimulai kan gak lucu." Raka mengurungkan niatnya untuk membangunkan Bima. "Tapi itu kan di samping om Bima ada sekretaris nya, masa sekretaris nya gak ngebangunin sama sekali sih? aneh banget sekretarisnya." Raka memperhatikan sekretaris Bima yang sedang duduk di samping Bima. "Ahh bingung aku mau gimana. Mau dibangunkan takut nanti berujung keributan. Gak dibangunkan aku kasian liat om Bima jadi bahan ceritaan." Raka bicara dalam hati. "Uda lah, mendingan aku diam aja. Kayaknya rapatnya juga sebentar lagi dimulai, ini bangkunya uda terisi semua, pasti semuanya uda datang." Raka memutuskan untuk tidak membangunkan Bima. Raka melihat jam tangannya. "Lagi pula ini juga uda masuk ke jam rapatnya kan. Berarti ini uda mau dimulai," ucap Raka dalam hati. Raka diam, karena saat ini dia adalah satu-satunya orang paling muda yang ada di ruangan ini. Saingan Raka semuanya sudah berumur, seperti Bima bahkan banyak lebih tua dari Bima. Hanya Raka yang paling muda di ruangan ini. Itu juga salah satu penyebab kecanggungan Raka. Setelah 5 menit ke depan rapat dimulai, sesuai dengan dugaan Raka. Rapat dimulai dengan baik dan lancar. Berbagai argumen dan pendapat saling bersahutan. Mereka juga mempresentasikan hasil pekerjaan mereka dengan baik agar memenangkan proyek ini. ****** "Wahhh asli saya masih gak nyangka kalau kita yang bakalan dapat proyek ini, pak. Padahal waktu pertama masuk ruangan rapat dan melihat saingan kita aja saya uda pasrah. Mereka kan perusahaan besar semua, senior-senior yang berpengalaman semua. Sumpah saya gak nyangka kalau kita bakalan memenangkan proyek ini." Mita tersenyum lebar. Dia terlihat sangat senang dengan keberhasilan mereka. Raka juga ikut tersenyum lebar. "Sama, saya juga gak nyangka kita bisa memenangkan proyek ini. Awal masuk dan ngeliat para senior yang ada di dalam saya uda pesimis duluan. Saya merasa kalau kita yang paling buruk di situ, jadi saya benar-benar gak nyangka kalau akhirnya kita yang memenangkan proyek ini. Ini benar-benar kemenangan yang harus kita rayakan." Raka juga sangat axited dengan kemenangannya. "Iya, pak, saya rasa kita juga harus merayakan keberhasilan kiya ini dengan tim yang uda bekerja keras untuk ini." Mita setuju dengan ide Raka. "Baik lah, kita harus buat acara secepatnya untuk merayakan ini. Nanti kita bicarakan setelah sampai di kantor. Tapi sebelumnya kamu tunggu saya di mobil aja, saya mau ke toilet dulu." Raka menyuruh Mita untuk pergi ke mobil duluan. "Gak apa-apa saya nunggu di mobil duluan, pak? atau saya tunggu di lobby aja?" tanya Mita memastikan. "Enggak, gak apa-apa kamu tunggu saya di mobil aja. Ini kunci mobil saya, kalau bisa panasin sekalian ya." Raka memberikan kunci mobilnya pada Mita. Mita tertawa geli. "Saya panasin nih, pak? make korek kan?" tanya Mita bercanda. "Wahh kalau kamu manasin pake korek, bakalan saya pecat kamu detik itu juga," balas Raka. "Hahaha ... bercanda, bapak. Ya kali saya panasin make api, mana bisa saya gantinya. Gaji saya bertahun-tahun juga gak cukup untuk ganti mobil mewah bapak." Mita tertawa geli. "Yaudah, pak, saya tunggu di mobil ya. Saya ke mobil duluan." Mita pamit pada Raka. Raka menganggukkan kepalanya. "Oke," jawab Raka singkat. Setelah kepergian Mita, Raka langsung berjalan menuju toilet. Mita sudah sangat lama bekerja dengan Raka. Mita juga orangnya ramah dan lucu, Raka sudah menganggap Mita sebagai temannya. Banyak orang yang salah paham dengan hubungan Mita dan Raka, termasuk karyawan Raka yang lain. Tapi padahal Raka dan Mita tidak memiliki hubungan spesial apa pun. Hubungan Raka dan Mita murni hanya sebatas hubungan antara atasan dan sekretaris. Karena Mita orangnya asik, ramah, dan care, maka kedekatan Raka dan Mita berlanjut sebagai teman. Hanya sebagai teman, tidak lebih. "Ini toiletnya di mana ya?" tanya Raka pada dirinya sendiri. "Ooh itu," Raka melihat sticker penunjuk jalan ke toilet di yang di tempel di dinding. "Nahh kan bener itu. Toiletnya jauh banget, kantornya terlalu besar." Raka menggerutu pelan. Lalu dia langsung masuk ke dalam toilet. Mata Raka mendelik lebar saat baru mau masuk ke dalam toilet. Raka masih membuka setengah pintu toilet, lalu dia berhenti berjalan masuk karena mendengar suara aneh yang janggal. Raka mengintip ke dalam toilet. "What? a-aku gak salah liat kan?" tanya Raka dalam hati. Di dalam toilet terlihat seorang lelaki sedang menangis sesenggukan sambil marah-marah pada dirinya sendiri. "AKU EMANG BODOH!! KALAU GAK KARENA AKU YANG SALAH MUNGKIN UMAY DAN MELI GAK AKAN PERGI DARI RUMAH!! AKU BENAR-BENAR BODOH!!" Ya, lelaki itu adalah Bima. Saat ini Bima sedang menangis di depan cermin toilet. Bima marah-marah pada dirinya sendiri, dia menyalahkan dirinya sendirian. Bima benar-benar terlihat sangat kacau. Penampilan Bima saat ini benar-benar terlihat kacau dan berantakan. Pakaian kerja yang seharusnya rapih kini sudah tidak terlihat rapih sama sekali. Jika tadi pakaian Bima hanya sedikit kusut, berbeda dengan saat ini. Saat ini pakaian Bima terlihat lebih kusut dan juga berantakan. Kemeja Bima sudah keluar, dasinya sudah longgar dan miring. Wajahnya terlihat semakin kacau, rambutnya juga terlihat acak-acakan. "Aku uda gagal jadi suami dan ayah. Aku uda gagal!! anak dan istri ku gak bahagia bersama ku! aku benar-benar gagal!!" "Aku gak berguna!! aku gak berguna!! aku benar-benar gak berguna!!! AKU GAK BERGUNA!!!!" BUGHH!! BUGHH!! BUGHH!!! "AKU GAK BERGUNA!!!" Mata Raka membelalak lebar saat melihat Bima memukul dinding toilet dengan tangannya sendiri. "Hah? om Bima kenapa sih? kok dia nyakitin dirinya sendiri?" Raka bertanya dalam hati. "AARHGHH!! AKU BODOH!! AKU GAK BERGUNA!! BODOH!! AKU BODOH!!! GAK BERGUNA!!" BUGHH!!! BUGHH!! BUGHH!!! Bima semakin brutal, dia menangis sambil berteriak dan memukul tembok toilet. Raka yang melihat itu langsung panik dan berlari masuk ke dalam toilet. Raka langsung berlari dan langsung memeluk Bima . Bima terkejut saat tiba-tiba ada seseorang yang memeluknya. "Lepasin!! LEPASIN!!!" Bima memberontak untuk melepaskan diri. Tapi Raka malah mengunci Bima di dalam pelukannya. Raka tak melepaskan Bima meskipun Bima berusaha untuk melepaskan diri. "Lepasin!! lepasin saya!!!" Bima masih memberontak, Bima juga belum tau bahwa yang memeluknya saat ini adalah Raka. "Om, om kenapa jadi gini sih?" tanya Raka pada Bima. "Om jangan gini dong, om gak sesalah itu kok, om jangan nyalahin diri sendiri. Gak gini caranya, om. Kalau om mau Umaya dan tante Meli balik lagi ke rumah, om harus perbaiki sifat om yang buat Umaya dan tante Meli gak nyaman. Nyalahin diri sendiri aja gak bisa mengubah semuanya, om. Om harus perbaiki diri, supaya tante Meli dan Umaya mau kembali ke rumah." Raka memeluk Bima, dia berusaha menasehati Bima supaya Bima tak kalut dan lepas kontrol seperti ini. "Lepasin saya!! kamu bukan siapa-siapa dan kamu gak tau apa-apa!! lepasin saya!! jangan sok baik ke saya!!" Bima kembar memberontak dan berusaha melepaskan diri dari pelukan Raka. Raka menggelengkan kepalanya. "Iya, Raka tau kalau Raka bukan siapa-siapa, Raka tau kalah Raka gak berarti apa-apa untuk om. Tapi Raka mohon jangan begini, om. Raka sayang sama om, Raka gak mau om begini. Raka yakin om bisa melewati ini semua, Raka yakin om kuat. Raka sayang sama om, Raka peduli sama om, Raka gak mau liat om begini. Please jangan gini, om." Raka memeluk Bima semakin erat. Raka juga meletakkan kepalanya di pundak Bima. Raka benar-benar ikut merasakan sakit melihat Bima seperti ini. Raka sendiri tidak pernah merasakan kasih sayang utuh dari papa dan mamanya. Bahkan melihat mama papanya akur saja itu bagaikan kemustahilan yang tidak dapat Raka harapkan. Saat melihat keluarga Umaya, Raka merasa hidup Umaya terlalu sempurna. Raka merasa Umaya adalah salah satu manusia beruntung yang hidup lengkap di tengah-tengah kasih sayang papa dan mamanya. Mencintai Umaya membuat Raka tanpa sengaja juga mencintai keluarga Umaya. Raka menyayangi orang tua Umaya seperti dia menyayangi orang tuanya sendiri. Walaupun Bima selalu bersikap buruk pada Raka, tapi Raka tak pernah marah pada Bima. Raka tetap menganggap Bima sebagai papa yang baik untuk Umaya. Raka menyayangi dan menghargai Bima karena sudah membesarkan dan mendidik Umaya sampai Umaya tumbuh besar sebagai gadis baik hati dan gadis idaman semua lelaki. Raka sangat berterimakasih karena orang tua Umaya sudah membesarkan Umaya dengan baik, jika tidak ada Bima dan Meli maka saat ini tidak mungkin ada Umaya yang benar-benar Raka cintai seperti sekarang. Maka dari itu Raka sangat menghargai Meli dan Bima. "Om, om uda sejauh ini menjalani hidup, kenapa om nyerah? ini cuma cobaan, om. Raka yakin om kuat, Raka yakin om bisa melewati cobaan ini dengan baik. Please, om jangan begini, tante Meli dan Umaya pasti sedih liat om kacau begini." Raka berusaha menguatkan Bima supaya Bima tak terus-terusan menangis dan menyalahkan diri sendiri. "Kamu jangan sok tau!! istri saya dan anak saya uda gak sayang dan gak peduli lagi sama saya!! mereka meninggal kan saya sendiri!! mereka gak peduli dengan saya lagi!! hiksss ... hiksss ...." Bima menangis sesenggukan. "Enggak, om, tante Meli sama Umaya itu sayang banget sama om. Tanta Meli sama Umaya itu masih peduli sama om, mereka benar-benar sayang sama om, bahkan mereka juga merindukan om, sama seperti om merindukan mereka. Hanya saja mereka masih kecewa sama om. Om gak boleh begini, kalau Umaya sama tante Meli tau om begini pasti mereka bakalan sedih dan kecewa." Raka mengelus punggung Bima untuk memenangkan Bima. "Om percaya sama Raka, tante Meli sama Umaya itu sayang banget sama om. Mereka juga sama kayak om, mereka rindu om juga. Apa yang om rasakan itu sama dengan apa yang Umaya dan tante Meli rasakan, mereka juga tersiksa dengan perpisahan keluarga om. Hanya saja tante Meli dan Umaya mencoba bertahan supaya om sadar dengan kesalahan om, mereka masih menunggu om datang ke meraka dan minta maaf ke meraka. Bukannya Raka mau bela tante Meli dan Umaya, tapi melihat keributan terakhir om emang salah. Kata-kata om benar-benar kasar dan buat orang lain tersinggung." Raka berusaha keras untuk menyadarkan Bima bahwasannya Bima salah dalam masalah ini. "Raka yakin kalau om minta maaf dengan tulus sama Umaya dan tante Meli, pasti Umaya dan tante Meli bakalan maafin om kok. Raka yakin banget. Jadi om jangan gini ya, kalau begini tuh gak ada artinya om, malah om jadi terlihat aneh apa lagi kalau tadi ada orang lain yang masuk toilet, citra om pasti bakalan buruk di mata orang-orang. Raka tau om itu orang hebat, Raka gak mau om keliatan buruk dan aneh di mata orang-orang. Jadi jangan begini lagi, om, apa lagi di tempat umum seperti ini. Raka yakin om pasti kuat kok, Raka tau om itu orang yang hebat," ujar Raka menasehati Bima. Bima diam setelah mendengar ucapan Raka barusan. Dia masih bingung apa yang ingin dia lakukan setelah ini. "Terus saya harus apa? saya harus bagaimana supaya keluarga saya kembali seperti semula? saya benar-benat gak bisa hidup tanpa anak dan istri saya. Jadi saya harus apa?" tanya Bima dengan suara lemah. "Om cuma perlu ingat apa kesalahan om aja, om cuma perlu menyadari kesalahan om yang buat tante Meli dan Umaya gak nyaman. Dan om cukup minta maaf dan perbaiki semua kesalahan om yang uda om perbuat. Om gak perlu begini, om hanya perlu perbaiki diri dan menjadi yang lebih baik. Raka yakin juga Umaya dan tante Meli bakalan maafin om kalau om minta maaf dengan tulus dan mau memperbaiki diri menjadi yang lebih baik lagi." Raka menyarankan pada Bima. Raka bicara seperti itu tidak punya maksud apa pun. Raka bicara seperti itu murni supaya Bima bisa sadar dengan kesalahannya dan memperbaiki dirinya menjadi lebih baik lagi. Raka tak bermaksud bahkan tak berpikir sama sekali tentang hubungannya dan Umaya yang tidak direstui Bima. Ya walaupun itu juga sudah pasti masuk ke salah satu masalah kenapa sampai saat ini Umaya masih kekeuh tidak mau pulang ke rumah. Bima diam, dia bingung ingin melakukan apa. Bima seperti orang linglung yang kehilangan arah. Raka yang tau tentang perasaan Bima saat ini langsung kembali meletakkan kepalanya di pundak Bima. Raka memeluk Bima dengan tulus. "Om gak perlu bingung dan mikir yang aneh-aneh. Raka bakalan bantuin om kok, Raka bakalan bantuin om sampai tante Meli dan Umaya balik ke rumah lagi." Raka tersenyum tipis. "Kamu yakin?" tanya Bima dengan tatapan kosong yang menghadap tembok toilet. Raka menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Yakin, Raka yakin, om. Raka bakalan bantuin om sampai tante Meli dan Umaya balik lagi ke rumah om." "Ma- ma-makasih," ucap Bima ragu. Raka tersenyum tulus, dia benar-benar senang mendengar ucapan terimakasih dari Bima. Ini pertama kalinya Bima berterimakasih pada Raka. "Gak perlu terimakasih, om. Raka bakalan ngelakuin apa pun demi kebahagiaan Umaya dan keluarganya. Raka juga gak tega liat Umaya yang sekarang, Umaya yang murung karena kehilangan papanya. Raka mau Umaya kembali ceria dan senyum seperti dulu." Raka memeluk Bima semakin erat. Lalu setelah itu dia melepaskan pelukannya pada Bima. Raka berdiri tepat di hadapan Bima. Tatapan Bima dan Raka saat ini sedang beradu pandang. Bima menatap Raka dengan wajah datarnya. Raka tersenyum tulus. Lalu dia langsung mengelap sisa air mata Bima. "Om jangan nangis lagi, jangan gini lagi. Om itu orang kuat, Raka percaya Om bisa melawati semua cobaan ini." Bima masih diam mematung, dia terkejut saat tiba-tiba Raka mengelap air matanya dengan tangannya. Padahal selama ini Bima selalu memperlakukan Raka kasar, Bima selalu marah-marah pada Raka, tapi kenapa Raka masih baik padanya seperti sekarang. "Uda pokoknya Om jangan khawatir, Raka bakalan bantuin om biar bisa kumpul bareng tante Meli dan Umaya lagi." Kali ini Raka memperbaiki kemeja dan dasi Bima yang berantakan. Setelah membantu merapihkan penampilan Bima, Raka langsung menggenggam tangan Bima erat. "Percaya kalau om pasti bisa melewati semuanya. Sekarang ayo kita keluar. Om gak pantas lama-lama di sini." Raka menarik tangan Bima, membawa Bima keluar dari toilet. "Om mau langsung pulang?" tanta Raka saat mereka sudah keluar dari toilet. "Saya mau cari Umaya dan Meli," jawab Bima cepat. Raka menghela nafasnya. Dia bingung apa dia akan membiarkan Bima mencari Meli dan Umaya sendiri atau dia ikut membantu Bima mencari Umaya dan Meli. "Apa aku antar om Bima ke rumah aja ya biar langsung ketemu tante Meli sama Umaya. Aku gak tega liat om Bima kayak tadi. Itu juga karena kebetulan aku yang liat, dan kebetulan ada aku. Kalau nanti di rumah atau di jalan om Bima kayak tadi lagi gimana? aku benar-benar gak tega liat om Bima begitu." Raka bicara dalam hati. "Apa aku bawa ke rumah aja ya?" tanya Raka yang sedang mempertimbangkan keputusannya. "Ahh uda deh, aku bawa ke rumah aja. Aku yakin om Bima juga pasti tau apa yang harus dilakuin dia biar Umaya dan tante Meli gak marah lagi." Raka sudah memutuskan. "Eummm ... gimana kalau Raka bantu cari Umaya dan tante Meli?" Raka bertanya pada Bima. "Apa kamu gak sibuk?" tanya Bima balik. Raka langsung menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak kok, om. Raka gak sibuk, Raka uda gak ada jadwal hari ini." Jawab Raka cepat. "Kalau kamu emang mau, yaudah. Tapi naik mobil saya," ucap Bima. Raka tersenyum lebar. Lalu dia langsung mengangguk setuju. "Oke, om. Kalau gitu Raka telepon sekretaris Raka dulu biar mobil Raka dibawa ke kantor sama dia." Raka izin pada Bima. "Yaudah saya tungguin," balas Bima. Raka tersenyum lebar. Ini seperti sebuah keajaiban bagi Raka. Sebelumnya Bima tak pernah memperlakukan Raka dengan baik, bahkan saat Raka hanya ingin menyalimnya saja, Bima sudah marah-marah. Bima tak pernah mau dekat dengan Raka, jika bertemu dengan Raka atau Raka datang ke rumah maka dengan cepat Bima langsung mengusir Raka. Maka dari itu Raka merasa sangat senang saat Bima mengizinkan dirinya ikut mencari Umaya dan Meli. Rasanya tak bisa diungkapkan dengan kata-kata, sangking bahagianya Raka saat ini. "Apa ini sebuah jalan baik untuk hubungan aku dan Umaya?" tanya Raka dalam hati. "Semoga aja ini jalan yang baik untuk hubungan aku dan Umaya," lanjut Raka dalam hati. Raka langsung berjalan menjauhi Bima untuk menelepon Mita. Raka mengambil ponsel di saku celananya, lalu dia langsung mencari nomor Mita dan langsung menghubunginya. "Hallo, Mita," sapa Raka saat Mita mengangkat teleponnya. "Hallo, pak, iya, pak, ada apa, pak?" tanya Mita dari sebrang sana. "Saya gak bisa balik ke kantor sekarang, saya ada urusan mendadak. Kamu bawa pulang aja mobil saya. Kamu bisa nyetir kan?" tanya Raka pada Mita. "Iya bisa, pak," jawab Mita. "Yaudah, kamu bawa mobil saya ke kantor sekarang juga ya. Nanti suruh supir kantor antar mobil saya ke rumah saya secepatnya. Saya masih ada urusan, gak bisa balik ke kantor sekarang." Raka menjelaskan apa yang harus dilakukan Mita. "Ooh gitu ya, pak. Baik, pak, nanti saya akan bawa mobil bapak ke kantor, lalu setelah itu saya langsung bilang ke pak supir biar mobil bapak langsung di antar pulang ke rumah bapak." Mita sudah paham dengan apa yang diperintahkan Raka. "Jadwal saya uda kosong hari ini kan? saya uda gak ada jadwal meeting lagi kan?" tanya Raka lagi "Enggak, pak, jadwal bapak uda habis hari ini. Meeting tadi itu yang terakhir di hari ini," jawab Mita dari sebrang sana. "Baik lah. Kamu sampai kan terimakasih saya sama tim yang uda menyelesaikan rancangan proyek itu. Sampaikan sama mereka saya akan merayakan kemenangan kita bersama mereka. Tapi besok atau lusa, karena hari ini saya masih sibuk dan ada urusan." Raka menyampaikan pesan pada Mita. Mita mengangguk mengerti. "Siap, pak, bakalan saya sampaikan sama mereka," balas Mita dari sebrang sana. "Oke, kalau gitu hati-hati ya, awas kamu jangan aneh-aneh. Kalau ada yang lecet sama mobil saya, saya suruh kamu ganti rugi." Raka bercanda, dia hanya mengingatkan Mita supaya berhati-hati. Biar bagaimana pun Raka tidak tau kemampuan menyetir Mita, jadi Raka masih was-was dan khawatir. "Duhh, gak bakalan saya lecetin juga, pak. Bapak gak usah khawatir, saya uda pro nyetir mobil kok," balas Mita. "Yaudah kalau gitu saya tutup teleponnya. Hati-hati, dan jangan lupa sampaikan pesan saya." Tutt tutt tutt tutt ... Raka langsung mematikan panggilan secara sepihak. Setelah menelepon Mita, Raka langsung berjalan kembali menghampiri Bima. "Ayo, om, Raka uda selesai telepon." Raka mengajak Bima jalan. Bima menoleh ke arah Raka, lalu dia langsung mengangguk setuju. "Oke," ucapnya. Bima dan Raka berjalan beriringan, mereka bak anak dan ayah yang sedang berjalan sambil bercerita ringan. "Kita mau cari ke mana? saya uda cari ke mana-mana tapi.saya belum juga nemu keberadaan mereka. Saya bingung mau cari ke mana lagi." Bima bertanya pada Raka. Raka tersenyum tulus. "Nanti kita cari ke mana aja, ke mana aja asal ketemu. Pokoknya Raka bakalan bantuin om terus ke mana om pergi Raja ikut, Raka janji om bakalan ketemu sama tante Meli dan Umaya secepatnya." Raka berjanji pada Bima untuk terus membantu Bima menemukan Meli dan Umaya. Sebenarnya Raka ingin memberitahu langsung kepada Bima di mana sekarang Meli dan Umaya, tapi sepertinya Raka tidak bisa melakukan itu. Raka tau kalau Umaya dan Meli akan marah bila Raka memberitahu Bima, tapi bukan itu yang Raka takutkan. Raka hanya ingin tau apakah Bima benar-benar sudah menyesali perbuatannya atau belum. Jika Bima sudah benar-benar menyesali perbuatannya, maka Raka akan mengantar Bima ke rumahnya untuk menemui Umaya dan Meli. Tapi apabila Bima masih belum bisa menerima kesalahannya, Bima belum bisa berubah dan mengesampingkan egoisnya maka Raka tidak akan memberitahu keberadaan Meli dan Umaya, Raka akan pura-pura tidak tau dan terus mencari mengikuti arahan Bima. Raka tidak mau Umaya dan Meli kecewa untuk yang kesekian kalinya, jadi akan Raka pastikan Bima datang menemui Raka dan Meli dengan perubahan sikap yang lebih baik. Raka akan membawa Bima yang lebih baik, Bima yang mampu menerima pendapat orang lain, Bima sang ayah yang cintai putrinya dan istrinya. "Kamu yakin kamu mau bantu saya sampai saya bisa menemukan istri dan anak saya?" tanya Bima yang masih kurang yakin pada Raka. Raka tersenyum dan langsung mengangguk cepat. "Ya iyalah om, masa Raka uda janji gak ditepatin sih. Pokoknya Raka janji bakalan bantuin om cari tante sama Umaya sampai ketemu, sampai kapan pun itu, Raka janji bakalan bantuin om cari." Raka menyakinkan Bima. Bima tersenyum tipis, sangat tipis, bahkan tidak bisa dilihat oleh Raka. "Kenapa anak ini bersikap baik ke aku? apa dia cuma pura-pura biar keliatan baik di depan aku?" tanya Bima dalam hati. "Apa mungkin dia beneran baik? atau dia cuma pura-pura baik aja? biar dapat restu dari aku? apa ini cuma strategi dia buat deketin aku aja?" tanya Bima curiga dalam hati. "Tapi kalau ini memang cuma strategi dia buat deketin aku, kenapa dari tadi dia gak ada bahas tentang Umaya ya? kenapa dari tadi dia cuma kasih kata-kata nasehat dan motivasi untuk aku? bahkan dia tau kalau salah satu masalah Umaya pergi dari rumah itu ya karena aku yang gak kasih restu ke hubungan mereka. Tapi dari tadi dia gak ada bahas apa-apa soal masalah itu. Dia cuma nyinggung masalah yang waktu aku marah-marah hari itu. Selebihnya dia gak ada nyinggung masalah Umaya yang pergi dari rumah karena gak aku kasih restu. Apa mungkinkah dia bantuin aku karena tulus tanpa berharap apa pun?" Bima bertanya-tanya dalam hati. Bima masih ragu dengan Raka. Bukannya apa-apa, Bima sudah lama hidup di dunia ini, Bima juga sudah banyak bertemu orang-orang bertopeng baik. Baik hanya untuk mendapatkan apa yang dia mau. Bima sudah terbiasa dengan orang yang seperti itu, dalam dunia bisnis orang-orang seperti itu banyak ditemui. Maka dari itu Bima tidak gampang percaya dengan orang lain. "Om, om uda makan siang belum?" tanya Raka memecahkan lamunan Bima. "Hah? a-apa?" tanya Bima yang kurang fokus. "Om uda makan siang belum?" tanya Raka ulang. "Ooh, belum," jawab Bima. "Gimana kalau kita makan siang dulu. Om pasti lapar kan? kita mau cari Umaya dan tante Meli jadi butuh tenaga banyak. Kita makan siang dulu ya, om?" Raka menawari Bima makan siang. Bima diam sejenak, dia mempertimbangkan ajakan Raka. "Gimana, om? mau kan makan siang dulu? kayaknya om keliatan lapar juga, om pasti belum makan siang kan? ayo kita makan siang dulu biar ada tenaga buat cari Umaya dan tante Meli. Nanti kalau gak makan dulu jadi gak fokus buat cari mereka. Tau kan kalau lapar pasti suka ngeblank." Raka tak berhenti mengajak Bima untuk makan siang bersama. Raka tau Bima pasti tidak sarapan sebelum pergi kerja. Melihat dari wajah dan energi Bima saat ini, Raka yakin kalau tubuh Bima butuh energi masuk, butuh makan. Walaupun Bima tak menyadari kalau dia saat ini lapar, tapi tubuhnya tidak bisa bohong. Bima terlihat lemas dan tidak bersemangat. "Gimana, om? mau ya om? kita makan siang di restoran langganan Raka. Restorannya enak banget loh, om pasti suka." Raka masih terus mengajak Bima. Bima menghela nafas. "Oke, kalau gitu kita makan siang dulu sebelum cari anak dan istri saya." Akhirnya Bima menyetujui ajakan makan siang dari Raka. Raka tersenyum lebar. "Yeeayyy ... makasih uda mau makan bareng Raka, om. Raka bakalan ajakin makan bareng di restoran yang paaaaaalingggg enakk!" Raka sangat bersemangat dan bahagia. Melihat respon Raka yang menggemaskan membuat Bima tersenyum tipis. Raka terus berusahalah mendekati Bima dan membuat Bima nyaman. Raka akan memanfaatkan waktu sebaik-baiknya.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN