Makan Bersama

4293 Kata
Saat ini Raka dan Bima sedang berada di dalam mobil Bima. Raka yang menyetir mobilnya karena Raka tau Bima saat ini sedang tidak fokus. Jadi sangat bahaya jika Bima yang menyetir mobil. "Om, kalau om ketemu sama tante dan Umay om mau apa?" Raka bertanya pada Bima. Bima menoleh ke arah Raka sebentar, lalu dia kembali melihat ke arah depan. "Ya saya mau minta maaf sama mereka. Saya mau minta maaf sama istri dan anak saya. Saya sadar selama ini saya sangat egois. Saya sangat menyaingi dan meminta mereka. Bahkan saya siap mengorbankan hidup saya untuk mereka, tapi karena cinta dan kasih sayang saya yang terlalu dalam itu membuat saya buta. Karena rasa cinta dan kasih sayang saya yang berlebihan, saya menjadi orang yang egois. Saya takut kalau anak dan istri saya gak bahagia. Saya terlalu takut kalau anak dan istri saya tidak mendapat kan yang terbaik dalam hal apa pun. Maka dari itu saya menjadi sangat egois dan selalu menentukan apa pun itu menurut pendapat saya sendiri. Saya tidak pernah menanyakan pendapat mereka, jika mereka berpendapat juga saya akan menolaknya. Saya akan tetap menetapkan apa-apa sesuai seperti yang saya mau. Saya ingat dulu Umaya sangat ingin sekolah dan kuliah di luar negeri. Bahkan Umaya juga dapat beasiswa untuk pendidikan ke luar negeri, tapi karena saya takut Umaya tidak terpantau dan menghadapi berbagai macam bahaya, jadi saya tidak mengizinkan Umaya untuk bersekolah dan kuliah di luar negeri. Saya memang sangat egois. Padahal mengenyam Pendidikan di luar negeri adalah cita-cita Umaya dari kecil. Tapi saat dia sudah mendapatkan jalan menuju cita-citanya, saya malah menghalangi jalannya. Dulu saya berpikir itu yang terbaik untuk Umaya, saya berpikir kalau lebih baik Umaya kuliah di sini saja biar saya bisa memantau keadaan Umaya dan memastikan Umaya tidak dalam bahaya. Dulu saya pikir itu adalah keputusan yang terbaik, sehingga tidak ada satupun orang yang bisa mengganggap gugat keputusan saya. Tapi saat ini, sekarang ini, saya baru sadar kalau yang saya lakukan itu salah. Seharusnya dulu saya biarkan Umaya mengejar cita-cita nya di luar negeri. Seharusnya dulu saya izinkan Umaya sekolah dan kuliah di luar negeri. Karena keegoisan saya, Umaya jadi berubah total. Umaya yang bersemangat, ceria, rajin, dan sangat cerdas berubah menjadi Umaya pendiam yang irit bicara, Umaya yang tidak mau bergaul dengan siapa pun, Umaya yang pemalas dan tidak punya niat belajar sama sekali. Saya sampai heran kenapa Umaya berubah drastis, saya pikir dulu karena Umaya sudah kenal cinta-cintaan atau salah berteman, tapi ternyata penyebab utamanya adalah saya sendiri. Saya yang membunuh impian anak saya, saya yang mematahkan sayap anak saya sendiri sehingga dia tidak bisa terbang bebas untuk meraih impiannya." Bima bercerita panjang lebar pada Raka. Dia menyadari dan mengakui kesalahannya. Raka tersenyum tipis. Dia senang karena Bima sudah sadar kalau apa yang dilakukannya selama ini itu salah. "Gak apa-apa, om gak perlu nyalahin diri terus-terusan. Om gak perlu terpaku sama masa lalu, yang harus om lakuin saat ini adalah om harus memperbaiki semuanya. Om harus berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi sekarang. Jangan terpaku dengan masa lalu dan merasa bersalah terus. Rasa bersalah om harus diganti sama perbaikan diri. Mulai dari yang terkecil dan perlahan-lahan aja, biar semuanya terbiasa dan gak merasa aneh dan tertekan." Raka memberi masukan pada Bima. "Menurut kamu apa saya bisa menghilang sifat egois saya ini? saya sadar cinta dan sayang saya yang berlebihan ini malah berubah menjadi toxic. Saya gak mau anak dan istri saya terus tertekan hidup dengan saya. Apa saya bisa berubah menjadi yang lebih baik kedepannya?" tanya Bima pada Raka. Raka menoleh ke arah Bima. Mata mereka sempat beradu pandang beberapa detik. "Tentu bisa, apa yang gak bisa di dunia ini om? semuanya bisa kita lakuin di dunia ini asal kita punya niat dan berjuang dengan yang terbaik. Jangan takut untuk mecoba, cobalah sampai om mendapatkan hasil yang terbaik. Raka tau om pasti uda khatam banget kan sama perjuangan, om uda ngerasain gimana berjuang dari nol sampai sukses seperti sekarang. Pasti banyak banget rintangannya. Tapi om tetap bertahan sampai om ada di titik sukses seperti sekarang. Jadi Raka harap dalam hal memperbaiki diri om juga harus tetap berjuang, jangan gampang menyerah. Terus berjuang sampai om berada di posisi terbaik. Raka yakin om pasti bisa, semangat om, om harus bisa." Raka menyemangati Bima dengan kehangatan yang ia berikan. Raka tak berhenti tersenyum pada Bima, supaya Bima merasa tenang dan baik-baik saja. "Kamu beneran baim atau pura-pura baik ke saya?" tanya Bima to the point. Raka langsung mengerutkan dahinya saat mendengar pertanyaan seperti itu. "Maksudnya, om?" tanya Raka bingung. "Kamu emang baik ke saya atau cuma pura-pura baik ke saya?" tanya Bima ulang. Raka menaikkan sebelah alisnya. "Hah? pura-pura baik? maksud om Raka pura-pura baik gitu?" tanya Raka yang masih bingung. Bima langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. Raka tertawa geli. "Hahahaha ... apa sih, om? kenapa om sampe mikir begitu sih? Raka sama sekali gak pura-pura baik kok. Raka juga gak merasa kalau Raka baik. Raka lakuin ini semua murni untuk bantu om. Raka gak punya maksud apa-apa. Raka cuma mau bantu om gak lebih, Raka gak ngeharap apapun dari om, Raka gak ngeharap uang, harta, atau apa pun itu. Raka bantu ya karena Raka mau bantu aja. Semua yang Raka lakuin itu murni tanpa ada maksud terselubung." Raka langsung menjelaskan kalau dia tidak punya maksud apa-apa pada Bima. Raka menjelaskan bahwa dia tidak punya maksud untuk mendapat kan sesuatu dari Bima. "Apa yang bisa buat saya yakin kalau kamu benar-benar baik ke saya, bukan cuma palsu dan buat pencitraan saja?" tanya Bima meninta bukti. Raka melongo saat Bima meminta bukti padanya. "Maksud om minta bukti yang gimana ya? emangnya ini kasus apaan minta bukti, om? kan ini Raka cuma mau bantu om aja, gimana Raka kasih bukti ke om? mana bisa Raka kasih bukti ke om? kalau om gak percayalah juga gak apa-apa kok, yang penting Yang Maha Kuasa tau niat baik Raka, dan InshaAllah pahala Raka ditulis dengan benar sama malaikat tanpa minta bukti segala." Raka menjawab dengan santai. Bima diam, sesungguhnya dia ingin tertawa saat Raka bicara tadi. Tapi Bima menahan tawanya, dia tak ingin Raka melihat dirinya tertawa. Karena menurut Bima, jika Raka sudah tau Bima tertawa karena dia, maka Raka pasti akan merasa berhasil mendekati Bima dan berhasil membuat hati Bima luluh. Bima masih ingin mensurvei bagaimana sebenarnya kepribadian Raka. Apakah Raka benar-benar mencintai Umaya? apakah Raka benar-benar baik? Bima masih tidak tau jawabannya, maka dari itu Bima masih mensurvei bagaimana sebenarnya sifat asli Raka. "Jangan sok ngelawak deh kamu, gak lucu lawakan kamu, garing." Bima meremehkan Raka. "Lahh siapa yang ngelawak om? Raka gak ngelawak kok. Raka juga gak ada bakat melawak, Raka cuma ngomong apa yang ada di dalam pikiran Raka. Masa gitu aja dibilang ngelawak, selera lawak om mah receh banget deh." Raka tertawa mengejek. Bima menoleh ke arah Raka. "Kamu kenapa ketawa ngejek gitu? kamu ngejek saya iya?" tanya Bima. "Nahh kan, om mah sensi banget kalau sama saya. Saya ketawa biasa aja pake dibilang ketawa ngejek segala, idih om, jangan cari kesalahan saya terus dong. Om kan bukan malaikat Atid yang tugasnya nulis dosa manusia." Raka mulai bercanda pada Bima. "Uda mulai berani kamu bercanda sama saya ya," Bima menegur Raka. Raka cengengesan. "Emangnya Raka gak boleh bercanda sama om ya? emang ada larangan tersendiri buat gak bercanda sama om ya?" Raka bertanya pada Bima. Bima mendengus kesal. "Uda lah jangan banyak bicara, kamu fokus nyetir aja. Saya gak mau kalah terjadi apa-apa di jalan karena kamu gak fokus dan malah banyakan ngobrol." Bima menyuruh Raka untuk fokus ke jalan. "Ini juga kita uda sampe di restorannya kok om. Nahh ini uda di parkirannya. Ayo turun," Raka mengajak Bima untuk turun dari mobil. "Hah? uda sampe?" tanya Bima terkejut karena sejak tadi dia tidak memperhatikan jalan. "Iya uda sampe, liat dong ini kita uda berhenti di parkirannya. Liat itu tuh banyak orang keluar masuk ke restorannya. Ini restorannya rame banget karena enak. Ini tempat makan favorit Raka. Ayo turun om, om harus coba dong ya makanan di restoran ini, pasti enak banget dan om pasti bakalan ketagihan. Raka yakin banget deh." Raka menyuruh Bima untuk segera turun. Bima menaikkan sebelah alisnya. "Kamu S3 marketing ya? jago banget kamu marketing, marketing restoran orang aja jago, bagus kamu usaha di bidang kuliner aja, pasti sukses." Bima memuji ilmu marketing Raka. Raka tertawa. "Hahahaha ... om bisa aja sih. Tapi saya gak S3 marketing kok, om. Dan saya juga uda punya 4 restoran di luar kota. Dan Alhamdulillah lancar, meski belum sesukses om, tapi InshaAllah bakalan lebih sukses kedepannya. Doain aja om." Raka meminta doa pada Bima. "Uda udah, nyesel saya ngomong sama kamu. Saya baru bicara satu kalimat kamu langsung bicara 30 kalimat. Uda ayo buruan turun, biar cepat selesai makan dan cepat juga cari Umaya dan mamanya." Bima mengajak Raka turun dari mobil. "Lah perasaan dari tadi Raka uda ngajakin om turun deh. Omnya aja yang gak turun-turun. Yaudah ayo turun, om." Raka membuka pintu mobilnya lalu Raka langsung turun dari mobil. Bima langsung menyusul Raka turun dari mobil. Raka mengajak Bima masuk ke dalam restoran. Raka mengambil tempat duduk yang berhadapan langsung dengan taman restoran. "Kita di sini aja duduknya gak apa-apa kan, om? di luar panas banget. Di sini aja ya, lagi pula di sini kan bisa langsung liat ke luar. Gak apa-apa kan? tanya Raka pada Bima. "Iya gak apa-apa, uda di sini aja juga gak apa-apa. Saya gak terlalu mempermasalahkan tempat duduk kok. Yang penting ada tempat duduk aja kalau saya," ucap Bima sambil menarik bangku dan mendudukinya. Tak berapa lama Bima dan Raka duduk, pelayan writers langsung datang membawa menu makanan untuk mereka. "Om mau pesan apa? mau makan apa?" tanya Raka pada Bima. "Saya belum pernah makan di sini, saya gak tau apa menu makanan favorit di sini. Jadi saya pesan makanan dan minuman yang sama dengan kamu aja." Bima memutuskan untuk menyamakan pesanannya dengan Raka. "Yakin, om? saya mau pesan bebek goreng spesial, om suka bebek goreng gak?" tanya Raka ragu. "Saya suka kok, yaudah kalau kamu pesan itu saya juga pesan itu. Samakan aja makanan dan minumannya." Bima setuju dengan pesanan Raka. "Saya mau minum ice lemon tea, om mau minum ice lemon tea juga?" tanya Raka lagi. Bima kembali mengangguk. "Iya, saya mau. Minum saya itu juga. Samain aja pesanan saya sama punya kamu." "Oke, kalau gitu 2 bebek goreng spesial dan 2 ice lemon tea ya, mbak." Raka memesan makanan untuknya dan Bima. "Baik, mohon ditunggu sebentar ya pesanannya, pak." Writers itu tersenyum ramah pada Bima dan Raka. Lalu dia langsung permisi pergi. "Om emang belum pernah makan di sini?" tanya Raka masih belum percaya. Bima menggelengkan kepalanya. "Belum, saya gak pernah makan di sini. Restoran favorit keluarga saya restoran yang di jalan Purnama itu yang ada di depan mall. Tempatnya pas di sebrang mall." "Ooh restoran itu. Raka juga lumayan sering makan di situ. Itu mah restoran orang kaya, mahal mahal banget mah menu di situ. Emang sih harga gak mengkhianati rasa, tapi gila sih harganya emang mahal banget. Pantas aja restoran favorit keluarga om di situ, secara om kan orang kaya raya." Raka cengengesan, bicara tanpa rasa takut dan rasa bersalah. "Emangnya kamu orang miskin? kamu juga kan sering makan di situ? kamu juga punya banyak bisnis dan sukses semua. Jangan merendah untuk meroket dong." Bima tertawa pelan, sangat pelan. Raka membelalakkan matanya lebar saat melihat Bima tertawa, walaupun Bima tertawa pelan, bahkan sangat pelan dan tipis sampai jika Raka tidak memperhatikannya detail mungkin Raka tidak tau kalau Bima tertawa. "Asli itu kan? aku gak halu kan? itu emang om Bima tadi ketawa kan? bukan cuma halusinasi aku doang kan? emang beneran kan?" Raka bertanya dalam hati. "Wahhh!! gila ihh! akhirnya aku liat om Bima ketawa juga, sekian purnama aku kenal Om Bima, baru ini aku liat ketawanya om Bima. Astaga!! sumpah aku axited banget!!" Raka memekik kesenangan dalam hati. "Ya ampun, Umaya harus tau nih kalau papanya yang super duper galak tadi ketawa sama aku!! Umaya harus tau kalau papanya yang gak bisa ditaklukkan itu satu hari ini banyak banget bicara sama aku." Raka sangat senang, dia sangat bersemangat untuk cerita ke Umaya nanti. "Aku mau kamu tau, nanti aku bakalan ceritain ke kamu biar kamu bahagia. Aku yakin kalau kamu tau pasti kamu juga sama axitednya kayak aku. Aku yakin kalau kamu tau pasti kamu bakalan loncat-loncat kesenangan. Secara ini kan kemauan dan impian kamu yang benar-benar kamu inginkan? ini aku uda coba berjuang sekuat tenaga untuk dapatin hati papa kamu. Aku tau yang namanya perjuangan pasti tidak akan mengkhianati hasil. Jadi gak peduli seberapa banyak aku gagal meluluhkan hati papa kamu, aku gak bakalan menyerah, karena aku yakin pasti suatu saat nanti papa kamu pasti bakalan luluh juga hatinya. Yang penting itu dukungan dari kamu dan kesabaran kamu supaya kamu sabar nunggu aku cari restu papa kamu." Raka tersenyum bahagia. Rasanya benar-benar bahagia. Bagaimana tidak bahagia? ini adalah salah satu impian Umaya yang selalu diberitakan Umaya padanya, dan ini juga salah satu hal yang sedang Raka perjuangkan. Bima mengerutkan dahinya bingung. "Kenapa kamu senyum-senyum gitu? ada yang salah dengan saya?" tanya Bima bingung. "Ehh--" Raka sadar dari lamunannya. "Gimana, om? tadi om ngomong apa?" tanya Raka ulang. "Kamu ngapain senyum-senyum? ada apa? apa ada yang salah dengan saya? ada yang aneh dengan saya?" tanya Bima penasaran. "Ehh enggak kok, om. Enggak ada yang salah sama om. Om gak ada yang aneh juga, tadi Raka senyum-senyum cuma bayangin kucing Raka yang lagi adu otot di rumah." Raka berbohong, dia berbohong pada Bima tentang alasannya tersenyum. Bima menaikkan sebelah alisnya. "Hah? gimana? kucing? kucing apa yang kamu bilang? kucing kamu adu otot maksudnya apa?" tanya Bima bingung, dia tak mengerti dengan apa yang dikatakan Raka. "Ya maksudnya tuh Raka lagi mikirin dua kucing Raka yang ada di rumah. Raka tuh punya dua kucing di rumah. Awalnya sih cuma satu, tapi Raka baru beli satu lagi buat teman kucing Raka yang pertama. Eh bukannya jadi teman malah jadi lawan. Mereka tau nya mah gelut aja, adu otot aja, reog banget dua-duanya, Raka yang misahin aja sampai luka-luka diserang mereka berdua. Dan yang buat lucu itu tadi pagi Raka liat mereka akur, malah mereka tidur bareng gitu. Makanya Raka gemes banget sama mereka berdua yang uda mulai akur. Raka senyum senyum karena itu, om." Raka menjelaskan panjang lebar pada Bima. Padahal panjangnya lebar penjelasan Raka itu adalah seratus persen mengarang, alias bohongan. Raka memang punya dua kucing di rumah, tapi faktanya Raka bukan senyum-senyum karena kedua kucingnya. Bima menggeleng-gelengkan kepalanya. Dia tak habis pikir dengan Raka yang bisa senyum-senyum bagaikan orang jatuh cinta hanya karena memikirkan kucing di rumah. "Gak jelas banget kamu, cuma karena kucing aja kamu cengengesan." Bima tersenyum mengejek. "Iih kucing itu uda kayak teman Raka, om. Jadi wajar aja kalau Raka sayang banget sama kucing-kucing Raka." Raka tersenyum bangga. "Apa yang kamu banggakan dari itu? pelihara kucing uda biasa, yang gak biasa itu pelihara gorila." Bima meremehkan Raka. "Iih apaan, mana ada orang melihara gorila buat teman di rumah. Lagi pula gak semua orang bisa pelihara kucing tau, om. Yang biasanya suka pelihara kucing itu orangnya penyayang dan sabar. Ya kayak Raka ini, penyayang dan sabar. Karena ngurusin kucing tuh harus punya hati yang tulus, anggap kucing kayak anak sendiri, sayangi kucing dengan tulus, rawat dengan baik. Selain itu melihara kucing juga harus ekstra sabar. Karena kucing bukan manusia yang bisa buang air sendiri dan makan sendiri. Jadi kita harus ekstra sabar buat ngurusin kucing. Dan gak semua orang mampu ngurusin kucing, biasanya kalau orang yang stok kesabarannya dikit tuh galak, bahkan suka mukul kucing, padahal kan kucing mah cuma hewan ya, gak tau mana yang benar dan salah. Jadi yang suak melihara kucing itu istimewa, om. Jangan remeh, om." Raka membela sang pecinta kucing. "Iya iya uda gak usah kamu jelasin. Saya dengar kamu ngomong terus aja pusing. Jadi uda stop, saya juga tau kalau mau melihara hewan harus punya kesabaran yang ekstra. Kalau gak punya kesabaran yang ekstra mungkin dia gak bakalan ambil resiko buat adopsi hewan peliharaan." Bima memutuskan pembicaraan, dia tak ingin membahas lebih lanjut tentang hewan peliharaan. Sepertinya jika dia terus membahas ini, maka Raka akan terus membahas sampai ke akar-akar. Bisa-bisa cerita Raka gak selesai-selesai sampai mereka selesai makan. "Iih om, baru juga Raja cerita sedikit, uda disuruh stop aja." Raka tampak cemberut. "Saya mah gak suka dengerin cerita kamu yang gak ada artinya." Bima langsung berterus terang pada Raka. Raka sampat shock sebentar. "Jadi om gak suka bahas beginian? maksudnya om lebih suka bahas pembahasan yang berat gitu? maksudnya om lebih suka kalau Raka bicara soal pekerjaan di sini, iya?" tanya Raka pada Bima. "Baru juga tadi selesai rapat, masa mau bahas tentang pekerjaan lagi sih om? om gak capek? om gak muak bahas soal pekerjaan? Raka aja rasanya muak banget, masa om muak sama sekali sih?" Belum sempat Bima menjawab, Raka malah kembali menyambung ucapannya yang tadi.. "Siapa juga yang nyuruh kamu buat ngomongin soal pekerjaan? saya cuma mau kamu diam aja udah, gak usah ngomong apa pun. Telinga saya sakit dengerin ocehan kamu yang gak berhenti-berhenti. Makanya saya suruh kamu berhenti deh, jangan ngomong lagi, pusing kepala saya dengar cerita kamu." Bima menyuruh Raka untuk diam dan tidak banyak bicara lagi. Raka meringis. "Idihh jahat banget sih, om. Padahal mah ngomong gak dilarang di UU, tapi om malah ngelarang Raka untuk ngomong, malah nyuruh Raka untuk diam. Gimana caranya Raka diam? Raka mah kalau uda dekat sama orangnya susah buat diam, gak bisa diam juga." Raka memberitahu tentang dirinya pada Bima. Bima tertawa. "Perasaan saya gak ada minta kamu buat ngejelasin kepribadian kamu deh. Dan saya juga gak peduli kamu orangnya gimana. Jadi jangan jelasin apa pun tentang diri kamu ke saya. Karena itu akan menjadi sia-sia yang tidak berguna." Bima mengingat Raka untuk tidak lagi mendeskripsikan tentang dirinya pada Bima. "Iih om, kita tuh di sini dikasih waktu untuk ngobrol sebelum makanan datang. Masa iya sih kita harus diam-diam doang. Kan gak lucu hada-hadapan tapi diam-diaman. Gimana ceritanya coba? mendingan kita ngobrol aja, om, sambil ngilangin stres loh. Om tau kan kalau diam-diam aja, suka mendam masalah sendiri, diam-diam terus gak ngomong apa pun, itu malah buat kita tertekan loh. Kita juga butuh waktu ngobrol, kita juga butuh waktu ketawa biar kita gak stres banget." Raka bicara panjang lebar, menjelaskan pada Bima tentang pentingnya mengobrol, tentang pentingnya tertawa dan mengekspresikan diri. "Kamu sok banget kalau ngomong, belagu banget ya kamu. Kamu ngomong seolah-olah saat ini kamu adalah seorang psikolog. Padahal kamu gak ngerti apa-apa tentang mental healt, tapi kamu mah sok tau, padahal aslinya gak tau apa-apa." Bima meremehkan Raka Raka tertawa renyah. "Hahaha ... itu kan cuma pendapat om doang. Padahal saya juga sempat belajar pendidikan psikolog loh. Saya sempat belajar tentang mental healt. Apa lagi saya punya banyak teman seorang psikolog dan psikiater, tentu saya sering sharing dengan mereka. Dan bisa di bilang saya sangat paham dengan dunia psikolog dan mental healt." Raka menjelaskan tentang dirinya yang memang paham tentang mental healt. "Dihh sombong kamu, kamu bukan ahlinya. Sebanyak apa pun yang kamu tau tetap aja itu gak sebanding dengan apa yang diketahui oleh para ahli." Bima masih tak setuju jika Raka mengaku paham dengan dunia mental healt atau dunia psikolog. Raka menghela nafas. "Iihh uda deh om, jangan bahas itu lagi. Malas berdebat sama om, om kan jago banget kalau soal debat, mana bisa sih Raka ngimbangi om. Uda pasti om yang menang." Raka menyerah, dia tak ingin melanjutkan bahasan soal itu lagi. "Ya kamu yang mulai duluan, kamu sendiri yang mulai sok paling jago," balas Bima. "Iih apaan? Raka gak merasa sok paling jago, Om, Raka cuma bilang kalau Raka tuh tau soal psikolog begitu loh." Raka masih membela diri. "Uda uda deh jangan dilanjutkan lagi. Ini mana makanannya ? kok gak datang-datang sih? uda lama banget, saya aja sampai capek dengerin dongeng kamu, tapi makannya masih belum datang juga. Uda lama banget loh padahal." Bima bertanya soal makanan yang tak kunjung datang. "Lama dari mana sih, om? masih 10 menit loh padahal, om aja yang merasa lama banget, padahal masih 10 menit kok. Ini kan restoran yang dimasak dulu semua bahannya om, segar. Bukan restoran cepat saji. Gimana sih om? sabar sebentar lagi deh, pasti sebentar lagi datang makanannya." Raka menyuruh Bima untuk sabar. "Lama banget, saya gak suka nunggu lama-lama." Ucap Bima spontan. "Lah apa kabar sama Raka om? Raka aja nunggu bertahun-tahun tanpa kepastian masih sanggup masa nunggu makanan aja gak sanggup sih, om?" Raka bertanya pada Bima. Bima langsung melayangkan tatapan mautnya pada Raka. "Hah? kenapa malah ditatap pakai tatapan maut? emangnya aku kenapa?" tanya Raka dalam hati. Bima masih menatap Raka dengan tatapan mautnya. Sementara Raka masih merenungi apa kesalahannya. "Upssss ...." Raka langsung refleks menutup mulut dengan kedua tangannya karena sadar apa yang barusan diucapkan olehnya. "What? astaga bisa-bisanya aku ngomong soal menunggu hubungan aku sama Umaya yang gak ada kepastian restu dari Om Bima. Aduhhh ini mulut oon banget sihh!! suka banget keceplosan deh!!" Raka mengutuk mulutnya sendiri. "Duhh malah dipelototin sama Om Bima lagi, ihh malu banget deh." Raka merutuki kebodohannya sendiri. Raka diam, Bima juga masih menatap Raka dengan tatapan mautnya. Membuat Raka diam kicep dan tak berkutik. "Permisi, pak, pesanannya datang." Selang beberapa detik pelayan datang memecahkan keheningan antara Raka dan Bima. Raka langsung tersenyum lebar melihat kedatangan pelayan dengan pesanannya dan Bima. "Waahh makanannya uda datang, asikkk nih. Dari tadi ada yang uda gak sabaran banget nunggu makanan datang soalnya. Lapar berat deh kayaknya orangnya." Raka membantu pelayan ini menurunkan piring makanan mereka dari nampan. "Makasih ya, mbak." Raka mengucap terimakasih saat semua makanan dan minuman sudah tersusun rapih di atas meja. Pelayanan itu langsung tersenyum ramah. "Sama-sama, pak. Selamat menikmati," ucapnya. Lalu kemudian pelayan itu langsung pergi meninggalkan meja Bima dan Raka. "Nihh om makanannya, tadi om uda nanyain makanan aja, om uda lapar banget pasti ya? nih uda datang nih. Liat nih bebek gorengnya besar banget, cukup kalau untuk om yang lapar ini mah." Raka menyodorkan piring yang berisi menu makanan Bima ke hadapan Bima. "Saya gak selapar dan serakus itu ya. Saya mau makannya datang cepat supaya kamu diam dan tidak banyak bicara. Saya juga mau cepat-cepat pergi cari anak dan istri saya. Saya gak mau lama-lama menghabiskan waktu di restoran ini. Sayang waktu berharga saya kalau terbuang sia-sia." Bima mengelak, dia tak terima dibilang sangat lapar dan tidak sabar ingin makan. "Ya ampun om, kalau iya juga mah gak apa-apa, gak dosa juga kan ya. Uda deh sekarang om makan deh, nanti keburu hidup lagi tuh bebeknya." Raka menyuruh Bima untuk segera memakan makanannya supaya tidak dingin. Bima tak memberi tanggapan apa pun, dia hanya diam dan langsung mulai makan makanannya. Bima makan dalam keadaan hening, pelan, dan sangat menikmati. Berbanding terbalik dengan Raka yang makan dengan sangat lahap seperti orang yang sedang kelaparan. Bima melirik Raka sejenak. "Kamu gak bisa makannya biasa aja ya? kamu keliatan seperti manusia yang gak pernah makan seminggu tau gak?" Bima menegur Raka karena Raka yang terlalu lahap memakan makanannya. "Engguwak kok, owm ... Rwaka twuh bwukan gwak mwakan sweminggwu, tapwi Rwaka swuka bwanget swama menu inwi." Raka membalas ucapan Bima dengan mulut yang penuh dengan makanan dan saat sedang mengunyah. Bima tampak menatap Raka dengan tatapan sinisnya. "Kamu kalau makan ya makan aja, jangan sambil ngomong, nanti kesedak baru tau." Bima memperingati Raka. "Enggwak kom owm, Rwaka gwak su-" "Uhukk uhuk uhukk uhukk!!" Tiba-tiba Raka batuk-batuk karena tersedak. Melihat Raka tersedak, Bima refleks langsung panik dan langsung memberikan Raka minum. Tak lupa Bima juga menepuk-nepuk punggung Raka "Tuh kannnnn!! baru aja saya bilang kalau makan tuh jangan ribut, jangan bicara, uda kena karmanya kan? makanya dengerin kalau orang ngomong, jangan malah disepelekan." Bima mengomeli Raka sambil masih menepuk-nepuk punggung Raka. "Ayo banyak minum sampai hilang kesedaknya." Bima menyuruh Raka untuk banyak minum. "Uhukk uhuk uhukkk ...." Raka masih batuk-batuk, tapi kedua dia langsung menghela nafasnya lega saat makanan yang membuatnya tersedak sudah hilang. "Howahhhh ... haduh, sakit banget kesedak, sakit banget pokoknya." Raka memegangi lehernya. "Makanya kalau orang tua ngomong itu di dengerinnya, jangan cuma dicuekin, rasain tuh kena karmanya kan." Bima mengomeli Raka. Raka diam sejenak. Dia masih shock karena tersedak makanan yang potongannya cukup besar, benar-benar sakit. Semetara itu Raka juga terkejut dengan respon Bima. Raka terkejut dengan respon Bima yang benar-benar refleks dan peduli dengannya. Jujur ini adalah sebuah kabar baik yang sejak dulu Raka nanti-nanti. Dan saat ini perlahan-lahan kabar baik itu mulai terwujud, walaupun perlahan-lahan dan dimulai dari hal-hal terkecil pun, Raka tetap sangat beryukur dengannya apa yang dia dapat hari ini. Raka harap Bima akan terus seperti ini padanya. Raka harap Bima tetap menjadi Bima saat ini yang peduli dengannya. Raka sangat berharap tentang itu. "Maaf, om, Raka emang gak sengaja tadi tersedaknya." Raka meminta maaf pada Bima. "Memangnya ada ya orang tersedak itu sengaja? emang ada?" tanya Bima pada Raka gak tau, om, tapi yang pasti tuh tadi Raka gak settingan, tuh tadi beneran. Raka beneran ngerasain sakit loh." Raka menjelaskan supaya Bima tak salah paham. "Iya iya, saya juga tau kok kalah tadi itu kamu beneran tersedak, masa iya sih orang uda mau mati begitu tadi saya bilang settingan. Saya juga gak bodoh, saya tau mana yang asli dan mana yang settingan. Kalau kamu pura-pura juga gak bakalan saya tolongin." Bima mengerti tentang apa yang dikhawatirkan Raka. "Yaudah, om, maafin Raka ya. Gara-gara Raka makan om jadi terganggu. Maafin Raka ya, om. Sekarang om lanjut makan aja deh. Raka jadi merasa bersalah sama om." Raka menghela nafasnya. "Ya kamu ngapain merasa bersalah sama saya? bukannya kamu setiap hari selalu salah ya sama saya." Bima cepat menanggapi Raka dengan candaan. "Yaudah deh, om, lanjut makan deh." Raka menyuruh Bima untuk melanjutkan makannya. Dan akhirnya Raka dan Bima kembali ke kegiatan makan mereka.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN