Rumah Umaya

5000 Kata
Setelah makan bersama dan banyak bercerita tentang masalah-masalah yang saat ini sedang Bima hadapi, Bima dsn Raka memutuskan untuk lanjut ke perjalanan mencari Meli dan Umaya. Sejauh ini Raka sudah mengamati bagaimana Bima, apakah Bima benar-benar sudah menyesal dan ingin berubah atau hanya sekedar pura-pura dan sesaat saja. Setelah mengamati Bima, Raka memutuskan untuk membantu Bima bertemu dengan Umaya dan Meli. Raka merasa kalau Bima benar-benar sudah merasa menyesal dan akan memperbaiki semuanya. Raka melihat penyesalan yang dalam dan ketulusan untuk meminta maaf dan memperbaiki semuanya yang terpancar dalam mata Bima. "Kita mau cari ke daerah mana?" tanya Bima pada Raka. "'Cari ke daerah yang ada tante Meli dan Umaya nya lah, om." Jawab Raka enteng. "Ya saya tau, tujuan kita kan emang itu. Tapi saya nanya tempat yang mau kita datangi tuh di mana?" Bima kembali bertanya pada Raka. "Raka juga masih kurang ngerti om, kita raba jalan aja, kita cari asal ke tempat-tempat mana gitu, ke daerah-daerah mana gitu. Nanti kalau ketemu kan Alhamdulillah," jelas Raka pada Bima. Bima menganggukkan kepalanya. "Oke kalau begitu, saya gak masalah kamu mau ke mana. Yang penting ingat tujuan kita itu untuk cari Umaya dan Mamanya." Ucap Bima mengingatkan Raka. "Iya om tenang aja, Raka bakalan bantu om nemuin tante dan Umaya secepatnya kok." Raka tersenyum penuh percaya diri. "Kamu keliatan yakin banget, padahal kan kita gak tau di mana mereka sekarang. Kita juga masih meraba di mana keberadaan mereka, belum tau bau-baunya ada di mana." Bima melihat ke arah Raka. Raka tersenyum lebar. "Ya gimana, om? emangnya apa lagi yanh bisa kita lakuin selain cari dengan semangat? enggak ada kan? nah dari pada cari sambil setres mending cari sambil semangat dan penuh percaya diri kan? doain aja semoga hari ini om bisa ketemu sama Umaya dan tante Meli." Raka menyarankan pada Bima untuk Banyak-banyak berdoa. "Iya kalau berdoa gak usah kamu suruh juga saya selalu melakukan itu," balas Bima kesal. "Om ngantuk?" tanya Raka pada Bima. "Kalau om ngantuk om tidur aja. Nanti kalau uda sampai pasti bakalan Raka bangunin kok." Raka menyarankan Bima untuk tidur. Bima terlihat sangat lelah dan ngantuk, Bima pasti tidak tidur beberapa hari ini, itu sebabnya mungil lingkaran hitam di mata Bima saat ini. "Ngapain kamu suruh saya tidur? aneh kamu ya. Saya tujuannya tuh untuk cari anak dan istri saya, kok malah disuruh tidur. Memangnya dengan mata terpejam bisa tau di mana istri dan anak saya?" tanya Bima kesal pada Raka. "Ya ampun om, om aneh banget ya. Umaya sama tante Meli pasti sedang berada di suatu tempat, suatu bangunan, suatu rumah, bukan di jalanan kan? kalau tante Meli sama Umaya ada di jalanan baru mata harus melek tanpa kedip sambil ngeliatin jalan. Nah ini kan enggak ya, pasti kita cari nya bukan di jalanan, kita cari di suatu tempat, di suatu penginapan, atau di suatu rumah. Nah sebelum sampai ke tempat itu om bisa tidur dulu. Saya tau kalau om saat ini lagi nahan ngantuk kan? mata dan wajah om gak bisa bohong. Malah mata om hitam lagi seperti mata panda, pasti beberapa hari ini om gak ada tidur kan?" tanya Raka pada Bima. Bima diam sejenak, tapi pada akhirnya dia mengerti apa maksud Raka menyuruhnya untuk tidur dahulu. "Memangnya saya gak apa-apa tidur kalau kamu gak tidur?" tanya Bima pada Raka. "Ya gak apa apa lah, om. Memangnya kenapa? emangnya siapa yang mau marah kalau om tidur? Raka? ya kali, Raka gak bakalan marah kalau om tidur. Om juga tenang aja, gak bakalan Raka bawa om ke tempat yang aneh-aneh kok. Raka cuma bawa om ke tempat untuk cari tante sama Umaya. Jadi om gak perlu khawatir, om tidur aja gih, gak usah melek terus, nanti tenaganya abis lagi." Raka terus memaksa Bima untuk tidur. "Tapi saya gak mau tidur, saya gak mau tidur sebelum bertemu dengan anak dan istri saya. Intinya saya sangat menghargai perjalanan ini, perjalanan ini adalah hukuman buat saya karena saya terlalu egois pada anak dan istri sehingga anak dan istri saya gak betah dan akhirnya pergi meninggalkan saya. Maka dari itu saya memutuskan untuk tidak tidur selama perjalanan mencari anak dan istri saya. Sebagai bentuk penyesalan saya atas semua kesalahan saya." Bima menolak untuk tidur, dia memutuskan untuk melek di sepanjang jalan. "Loh kok gitu sih, om? saya tau om itu ngantuk banget, jangan dipaksain om, nanti om bakalan ngedrop kalau om tetap maksa melek terus. Tubuh juga butuh istirahat om, uda berapa lama om gak tidur? uda berapa hari? tubuh om pasti capek banget, butuh istirahat om. Om mendingan tidur aja deh. Nanti kalau uda sampe bakalan aku bangunin kok." Raka menyuruh Bima untuk tidak tidur supaya Bima istirahat, karena beberapa hari ini Bima pasti sangat kurang istirahat. "Tapi saya gak mau tidur, kenapa kamu maksa saya untuk tidur? kan saya bilang saya gak mau tidur, kalau gak mau ya gak mau berarti, jangan maksa saya." Bima terlihat sedikit kesal dengan Raka yang terus memaksanya untuk tidur. "Yaudah deh om, terserah om aja, mau tidur ya silahkan, mau gak tidur ya silahkan. Terserah om aja." Raka menyerah, dia tak ingin berdebat dengan Bima. Berdebat dengan Bima tak ada habisnya, Bima sangat pandai dalam hal perdebatan. "Ya memang tersedia saya lah, memangnya kamu siapa ngatur ngatur saya? emang terserah saya lah," sambar Bima cepat. Raka menggelengkan kepalanya heran. "Emang benar benar ya, walaupun uda tobat tapi keras kepalanya masih aja ada. Emang kalau kelas kepala uda bawaan dari orok susah deh." Raka ngedumel dalam hati. "Bisa-bisanya diperhatiin, disuruh tidur, dikasih yang enak malah nolak. Selain nolak juga malah nyolot lagi, dasar Bima Sakti." Raka mengejek Bima dalam hati. "Bima sakti Bima sakti ... kalau Bima Sakti di TV tuh paling kuat, tapi kalau Bima sakti yang ini kuatnya cuma di keras kepala doang. Kepalanya kuat banget, keras kayak batu." Raka kembali ngedumel dalam hati. "Kamu mau ke mana sih? kenapa dari tadi gak sampai sampai?" tanya Bima kesal. "Ya ampun, emang belum sampe jadi gimana, om? kan nanti kalau uda sampe bakalan dibilangin, makanya jangan melek terus om. Makanya pejamkan mata, tidur, biar gak terasa tau tau uda sampe aja." Raka menyuruh Bima untuk tidur yang kesekian kalinya. Bima menatap tajam ke arah Raka. "Sekali lagi kamu bicara soal tidur, saya suruh kamu turun dari mobil saya." Bima mengancam Raka. Raka pura-pura shock dan terkejut. "Astaga!! sumpah Raja ga mau ya kalau om turunin di jalan, Raka gak mau ya kalau Raka uda dengan senang hati membantu om eh malah dikacangin, malah diusir, malah ditendang, enggak! Raka gak mau turun dari mobil om!" Raka menolak keras ancaman Bima. "Gak usah banyak cingcong deh kamu, saya gak suka sama orang yang banyak cincong. Diam aja, fokus ke jalan, itu lebih baik dan lebih tenang." Bima menyuruh Raka diam dan tidak bicara lagi. Raka diam, dia tidak berbicara lagi. Saat ini Raka diam dan fokus menyetir mobil. Matanya melotot ke arah depan, matanya melotot ke jalanan, hanya ke dapan saja tanpa melihat ke kanan dan ke kiri. Raka sudah terlihat seperti patung. Sekitar 20 menit berlalu, Raka masih dalam mode patungnya, diam tanpa berbicara apa pun. Tak melihat ke samping kanan kiri dan monoton hanya liat ke depan saja. "Kok hening?" tanya Raka dalam hati. "Kayak ada suara dengkuran halus ya?" tanya Raka dalam hati juga. "Siapa yang mendengkur?" tanya Raka lagi dalam hati. Raka mencoba melirik ke arah samping, melihat apakah Bima masih dalam keadaan sadar atau sudah tepar. Raka terkejut saat melihat Bima yang sudah tertidur nyenyak dengan suara dengkuran halusnya. "Astaga, tadi kekeuh banget disuruh tidur gak mau tidur. Tapi liat nih, apaan gak tidur? uda merem gitu matanya. Malah mendengkur lagi. Gimana ceritanya gak tidur begini? jelas-jelas tidur tuhh." Raka geleng-geleng kepala melihat Bima yang sedang ketiduran. Bima benar benar aneh. Tadi Bima sangat bersikeras untuk tidak mau tidur, dia bilang dia akan menghormati perjalanan ini sebagai perjalanan pejuangannya dan untuk menebus semua kesalahannya, maka dari itu dia tidak ingin tertidur di sepanjang perjalanan. Tapi sekarang? liat lah saat ini, Bima benar-benar termakan omongan sendiri. Bahkan dia terlihat sangat nyenyak dan polos. "Emang ya bapak bapak keras kepala yang satu ini tuh benar-benar keras kepala dan gak bisa dipercayai omongannya." Raka hanya bisa geleng-geleng kepala tak habis pikir dengan kelakuan Bima. "Ini papanya begini, anaknya juga sama kayak papanya, gak beda jauh. Memang yang namanya buah gak bakalan jatuh jauh dari pohonnya. Nah ya benar, sebanyak apa pun perbedaan antara anak dan orang tua, pasti ada salah satu kesamaan di antara mereka, pasti itu, pasti. Papanya keras kepala pasti Umay juga keras kepala. Cuma selama ini jarang debat aja sama aku. Kalau debat kayak kemaren mungkin aku sama Umaya bakalan seri kali ya. Atau malah semakin hancur hubungannya, soalnya kemaren tuh Umaya benar benar-benar keras kepala banget, aku juga kaget liat Umaya begitu. Dan ya, bodohnya aku kenapa aku harus terkejut kalau Umay begitu? sementara jelas jelas Raka tau kalau Bima sangat keras kepala dan itu pasti sedikit banyaknya bakalan nurun ke Umay. Dan terbukti dengan Umay yang keras kepala. "Gimana ya nanti kira kira reaksi Umaya sama tante Meli ketika aku bawa om Bima ke dalam rumah. Apa mereka bakalan marah ke aku? Umay yang jarang marah sekalinya marah pasti bakalan serem tau. Gimana nih coba? sementaranya om Bima uda berharap banget ketemu sama anak dan istrinya. Eh malah anak dan istrinya gak mau ketemu, duh nyesek banget ya. Apa bakalan ada kelanjutannya?" tanya Raka dalam hati. "Semoga nanti Umay sama tante Meli gak marah marah deh. Kalau marah marah tuh serem banget sih. Semoga juga nanti Om Bima gak bakalan balik ke sifat awalnya yang buruk itu. Semoga om Bima jadi baik dan gak egois lagi. Semoga yang terbaik deh pokoknya." Raka berdoa dalam hati "Semoga ada juga pencerahan buat hubungan aku dan Umay. Semoga nanti om Bima may ngerestuin aku dan Umay. Ya walaupun gak langsung ngerestuin, pelan pelan juga gak apa apa kok. Yanng penting direstuin sama om Bima, aamiin." Raka berdoa dalam hati. "Aku uda gak sabar pengen nikah sama Umaya. Aku uda gak sabar hidup bareng sama Umay, gak sabar jadi seorang pemimpin untuk Umay. Gak sabar jadi lelaki pelindung seutuhnya untuk Umay. Pokoknya aku uda gak sabar saat pulang ke rumah yang diliat Umay, gak sabar pengen selalu dekat Umay." Raka tersenyum kecil. "Aku yakin perjuangan ku pasti akan membuahkan hasil, baik dalam waktu dekat ataupun waktu lama. Yang penting aku berjuang dan harus tetap yakin kalau nanti hubungan ku dengan Umaya pasti akan direstui. Harus yakin pokoknya. Yakin adalah kunci utama dari segalanya." Raka meyakinkan dirinya sendiri supaya tidak lelah dalam berjuang mendapatkan restu. "Sebentar lagi sampai ke rumah, aku benar benar deg degan liat reaksi Umay dan tante Meli liat om Bima datang menemui mereka. Semoga aja responnya bagus, dan semoga om Bima beneran nyesal dan mau memperbaiki diri seperti apa yang dia bilang supaya Umay dan tante Meli mau maafin om Bima. Aku kasian banget sama om Bima, dia benar-benar setres banget gak bersama anak dan istrinya. Semoga om Bima setelah ini, setelah ketemu sama Umay dan tante Meli bakalan kembali ke seperti dulu deh. Jadi om Bima sang pengusaha yang sukses dan kaya raya, om Bima yang berwibawa dan punya Kharisma khusus untuk menarik perhatian orang. Jangan kayak sekarang, liatnya aja aku uda malas, benar benar gak teratur dan gak rapih sama sekali, seperti orang yang gak mengurus diri. Pakaian nya gak rapih, orangnya juga jadi kucel, kurus, makin kusam wajahnya. Duh benar benar hancur banget itu om Bima sekarang. Semoga nanti Om Bima berubah secepatnya setelah kembali bersama Umaya dan tante Meli." Raka berharap dalam hati sambil sesekali melirik ke arah Bima yang sedang tertidur lelap di sampingnya. "Walau pun om Bima galak dan selalu aja kasar sama aku, tapi tetap aja aku gak bisa benci om Bima. Karena aku tau om Bima itu aslinya orang baik. Aku gak bisa benci orang baik hanya krena satu kesalahan. Seperti om Bima, om Bima hanya gak suka saka aku aja, tapi sama yang lain om Bima fine fine aja. Itu pasti karena om Bima punya alasan tersendiri. Dan aku gak bisa benci om Bima karena alasan itu. Aku akan tetap mendukung om Bima dan selalu anggap om Bima orang baik, karena nyatanya om Bima memang orang baik." Raka bicara dalam hati. Sekitar kurang lebih setengah jam Bima tertidur di jalan, dan saat ini mobil mereka sudah masuk ke dalam pekarangan rumah yang Meli dan Umaya tempati. Raka menghela nafasnya lega. "Hufttt ... akhirnya sampai juga di sini. Capek juga nyetir terus. Dari tadi pagi mau meeting juga nyetir sendiri. Capek juga ya." Raka menggeliat, dia meregangkan otot-otot nya yang kaku karena menyetir mobil. Raka menoleh ke arah samping, di sampingnya terlihat Bima yang masih tertidur dengan lelap dengan dengkuran halusnya. "Bangunin atau tunggu bangun sendiri ya?" tanya Raka bingung. "Kalau tunggu bangun sendiri sampai kapan? keburu nanti tante Meli atau Umaya liat mobil ini di halaman lagi. Bisa makin ribet urusannya nanti." Raka bingung ingin membangunkan atau membiarkan sampai bangun sendiri. "Bangunin aja deh, nanti kalau gak dibangunin payah, nanti kalau ketahuan sama tante Meli sama Umay gimana? mendingan bangunin aja langsung, terus langsung ajak masuk deh ke rumah." Raka sudah menetapkan keputusannya. Raka mendekat ke Bima , lalu Raka langsung mengguncang tubuh Bima untuk membangunkannya. "Om, om, bangun om, kita uda sampe. Bagun om ...." Raka membangunkan Bima pelan sambil mengguncang tubuh nya pelan. Bukannya bangun, Bima malah menggeliat dan masih tidur dengan lelap "Iih kok gak bangun bangun sih? padahal tadi katanya gak ngantuk, tapi sekalinya tidur malah gak bangun bangun. Uda kaya mayat aja tidurnya." Raka mengomel karena Bima tak kunjung bangun. "Omm!! omm bangun omm!!! Om, ini kita uda sampai dj tempat nya, ayo om bangun!!" Raka terus mengguncang tubuh Bima tapi Bima masih juga belum terbangun. "Iih kok tidurnya kayak kebo sih, gak bangun bangun. Ini gimana sih bangunin nya? uda diguncang guncang tapi gak bangun juga. Gimana bangunin nya sih?" Raka bertanya pada dirinya sendiri. Raka melihat ada minuman kemasan di dashboard mobil, lalu Raka langsung mengambil minuman kemasan itu dan langsung menyiram Bima dengan air minum itu. "Bangunnn!! bangun!! bangun! bangunn!!!" Raka menyiram Bima seperti dukun yang sedang menyiram pasiennya. Bima yang disiram air langsung terkejut dan langsung terbangun dengan shock. "Ehh banjir!! banjir banjir banjir!!" Bima melihat ke sekelilingnya dengan wajah panik dan berteriak banjir. Raka menahan tawanya. Dia tak sanggup menahan lucu melihat ekspresi Bima yang sangat sangat naturan dan tanpa dibuat buat. "B-bhahahahahahaha .... banjir? banjir di mana om? ada banjir dj mana? di dalam mimpi? hahahahah ...." Raka tertawa terbahak bahak melihat ekspresi lucu Bima. Bima yang masih linglung hanya bisa diam seraya meratapi Raka yang sedang tertawa terbahak-bahak. "Duhh muka om ekpresinya lucu banget sih hahahahaa ... sumpah ya, ini bener lucu banget ya ampun. Raka gak nyangka kalau om bisa latah kayak emak emak juga. Malah ngatain banjir lagi. Emang banjir di mana om? om lagi ada di dalam mobil. Banjir di mana? di dalan mimpi om?" tanya Raka dengan senyum jahilnya. Bima menatap Raka dengan tatapan tajamnya. Dia benar-benar tak menyangka kalau ini adalah ide dan ulah Raka. "Kamu apa apaan sih? kamu gak tau siapa yang kamu kerjain hah?!" bentak Bima marah. "Ya tau lah, Raka lagi ngerjain om Bima kan, ya kali orang lain. Jelas jelas om Bima juga." Raka menjawab dengan santai. "Uda berani kamu sama saya ya? lancang sekali kamu sama saya. Kamu benar-benar gak takut sama saya hah?" Bima bertanya pada Raka dengan wajah menyeramkannya. Raka langsung menggeleng cepat. "Engga lah, ngapain juga takut sama om Bima? kan om Bima manusia, bukan hantu. Jadi gak perlu ada yang ditakutin. Sama hantu aja Raka gak takut, apa lagi sama om Bima. Raka cuma takut sama Allah, uda itu aja." Raka menjawab dengan percaya diri. Bima mengambil nafasnya dalam dalam, lalu dia mengeluarkan nafasnya dengan perlahan. Bima mengelus d**a, bicara sama Raka selalu buat emosinya memuncak. Jadi lebih baik Bima mengalah saja dari pada Bima semakin setres dengan tingkah Raka dan mulutnya yang tidak bisa berhenti bicara. "Di maba kita sekarang ini?" tanya Bima mengalihkan pembicaraan. Raka menaikkan sebelah alisnya. "Di mana? ya om liat sendiri lah kita ada di mana. Jelas kita ada di sebuah rumah," jawab Raka. "Ya saya tau ini saya ada di sebuah rumah. Tapi ini rumah siapa? kenapa kita ada di sini? apa anak dan istri saya ada di rumah ini? kalau enggak ada untuk apa kita ke sini? sia-sia dan gak berguna." Bima langsung bertanya sampai ke akar akarnya pada Raka. "Ini rumah Umaya," jawab Raka enteng. "Hah? apa?" Bima tampak bingung dan merasa aneh. "Iya, ini rumah Umaya, ini rumah milik Umaya," jelas Raka lagi. "What? kok bisa ini rumah Umay? sejak kapak Umay punya rumah dan bangun rumah? Umay gak pernah minta uang ke saya untuk bangun rumah kok. Ini pasti bukan rumah Umay, kamu jangan ngarang cerita deh. Kelihatannya kamu benar-benar pendongeng yang handal ya." Bima tersenyum sinis, dia masih belum percaya kalau yang ada di depan matanya saat ini rumah Umaya. Pasalnya Umay tidak pernah meminta uang pada Bima untuk membangun rumah. Lagi pula jika Umaya mau bangun rumah pasti Umaya akan konsultasi ke Bima dulu, pasti Umaya akan minta izin ke Bima dulu. Dan selama ini Umaya memang tidak pernah meminta izin untuk membangun rumah. "Saya gak dongeng om, ini emang rumah Umaya. Ini rumah Umaya kok. Rumah ini saya yang bangun, saya sengaja bangun rumah ini untuk Umaya. Jadi jika nanti kamu menikah, saya dan Umaya sudah punya rumah sendiri untuk ditinggalin. Rumah ini juga atas nama Umaya kok. Jadi saya menyebutnya rumah Umaya, karena rumah ini milik Umaya sepenuhnya." Raka menjelaskan pada Bima tentang rumah ini mengapa disebut rumah Umaya. Mendengar cerita Raka, Bima hanya bisa diam melongo tak percaya. Bima masih belum percayalah kalau Raka membangun rumah sebesar dan semewah ini untuk Umaya, dan atas nama Umaya. Bima belum yakin akan hal ini. "Mana mungkin kamu bangun rumah sebesar dan semewah ini untuk Umaya. Apa lagi kalau nama sertifikat rumahnya nama Umaya , saya gak yakin. Apa lagi ini rumah mewah bukan rumah biasa." Bima mengutarakan ketidak percayaaan dirinya pada Raka. Raka tertawa geli. "Hahahaaha ... kok lucu ya, kok aneh, bisa bisanya om gak percaya. Jelas Raka mampu loh bangun rumah sebesar ini, om tau dong ya aset Raka dan bagaimana perusahaan Raka, ya walau pun belum sebesar perusahaan om tapi kalau untuk bangun rumah mewah aja uang Raka cukup kok, malah berlebih lagi." Raka tersenyum lembut. "Saya bukan gak percaya sama kamu yang sanggup bangun rumah mewah seperti ini. Saya yakin dan saya percaya kamu bisa bangun bahkan 6 rumah mewah seperti ini. Tapi yang buat saya gak percaya adalah kamu yang bicara kalau sertifikat ruman ini atas nama anak saya, Umaya." Bima menjelaskan pada Raka di bagian mana dia tidak percaya dengan Raka. "Loh om masih gak percaya sama Raka?" tanya Raka pada Bima. Lalu Bima langsung menganggukkan kepalanya sebagai jawaban. "Ini, om bisa liat ini. Om harus liat ini, ini momen pengesahan sertifikat atas nama Umaya. Tapi pada saat tanda tangan Umaya tuh gak sadar kalau ini adalah tanda tangan sertifikat pemiliik rumah. Bahkan Umaya juga gak tau kalau Raka diam diam bangun rumah untuk dia. Niat Raka ini rumah untuk surprise setelah menikah dengan Umaya, tapi karena kejadian kemarin Umaya dan tante Meli pergi dari rumah dan cari tempat tinggal, jadi Raka memutuskan untuk memberitahu Umaya dan tante Meli tentang rumah ini. Jadi Umaya dan tante Meli menetap di rumah ini. Mereka saat ini ada di rumah ini." Raka menceritakan pada Bima kejadian yang sebenarnya. Bima diam, dia masih shock dan tidak menyangka kalau Umaya dan Meli ada di rumah ini. "Ja-ja-jadi Umaya dan mamanya ada di rumah ini?" tanya Bima shock. Raka mengangguk mengiyakan. "Iya, Umaya dan tante Meli ada di rumah ini," jawab Raka. "Tapi kenapa kamu bilang kamu gak tau mereka ada di mana? padahal jelas jelas kamu yang membantu mereka bersembunyi dari saya! kenapa saat saya memohon ke kamu sekali pun kamu gak kasih tau saya kalau mereka ada di sini? kenapa?" tanya Bima kesal dan sedikit emosi. "Maaf om, tapi kalau itu saya lakukan karena memang tante Meli dan Umaya melarang saya untuk memberi tau orang lain tentang keberadaan mereka termasuk kasih tau ke om. Itu sebabnya saya gak kasih tau ke om. Itu semua sesuai permintaan Umay dan tante Meli," jawab Raka jujur. "Kalau kemarin kamu gak mau kasih tau saya karena dilarang sama Umay dan mamanya, lalu kenapa sekarang kamu malah bawa saya ke sini? apa mereka sudah mengizinkan saya untuk menemui mereka?" tanya Bima pada Raka. Raka menggelengkan kepalanya cepat. "Enggak, mereka bahkan sampai sekarang belum mengizinkan om untuk datang ke sini, mereka masih belum maj ketemu sama om," jawab Raka. "Kalau mereka aja masih gak mau ketemu sama saya kenapa kamu bawa saya ke sini? apa gunanya saya ke sini kalau ujung ujungnya nanti saya diusir sama mereka?" Bima bertanya lagi pada Raka. Raka tertawa geli. "Ya itu sih sebenernya problem nya. Dari kemaren tuh Raka mau bawa om ke sini, tapi takut nya malah nanti om diusir sama Umay dan tante Meli, atau yang lebih parahnya lagi nanti mereka yang keluar dari rumah ini. Itu lebih bahaya, bakalan susah lagi cari mereka ke mana. Makanya Raka gak bawa om kemari dari kemaren, banyak yang harus Raka pertimbangkan sampai saat ini om bisa ada di sini sekarang." Raka tersenyum tulus pada Bima. "Kalau mereka malah angkat kaki dari rumah ini karena kedatangan saya saat ini gimana? saya gak mau mereka pergi semakin jauh." Bima bertanya pada Raka. Bima bener benar-benar takut kalau anak istrinya kembali pergi jauh ke tempat yang bahkan tidak bisa ditemukan oleh Bima sekalipun. "Maka dari itu Raka uda mempertimbangkan semuanya dengan matang matang. Melihat om Bima uda mulai sadar akan kesalahan diri sendiri, uda mulai menerima kesalahan diri sendiri dan mulai memperbaiki diri dengan bersungguh-sungguh, Raka harap ini menjadi jalak utama untuk kebaikan dan kedamaian keluarga om lagi. Om tau kan kalau tante dan Umay pasti sangat mencintai dan menyayangi om. Mereka pergi dari rumah hanya karena mereka kecewa dan merasa tidak pas dan cocok dengan segala keputusan om yang semena-mena. Jadi om gak perlu takut, kalau om emang tulus ingin merubah diri om menjadi lebih baik lagi, emang tulus meminta maaf sama Umaya dan tante Meli, Raka pasti yakin tante Meli dan Umay juga pasti maafin om kok. Asalkan semua yang om perbuat itu harus benar-benar tulus tanpa modus ya, jangan cuma sebatas hari ini doang, om harus benar benar mau berubah, dan mau minta maaf dengan tulus. Karena Raka tau Umaya dan tante Meli tuh pasti tau mana orang yang tulus mana yang cuma modus. Jadi hati hati, om bisa tertolak kapan saja kalau om gak benar-benar tulus dan ingin berubah menjadi lebih baik dari hati." Raka menjelaskan pada Bima dan berharap kalau Bima benar-benar tulus ingin memperbaiki diri dari hati supaya ke dapan nya keluarga mereka semakin harmonis dan bahagia. Bima menghela nafasnya lelah. "Saya capek dengan segalanya. Saya capek dengan segala kekhawatiran berlebihan saya pada anak dan istri saya yang membuat saya menjadi toxic. Saya memang ingin berubah dan memperbaiki diri menjadi yang lebih baik. Saya ingin keluarga saya berubah menjadi keluarga yang hangat dan ceria seperti dulu. Belakang ini saya gak pernah merasakan itu, saya gak pernah merasakan kehangatan dan keceriaan keluarga saya lagi. Saya benar-benar rindu kehangatan dan keceriaan keluarga saya lagi. Dan saya harap dengan saya yang berusaha memperbaiki diri, maka anak dan istri saya lebih merasa nyaman dan dekat dengan saya. Saya mau hubungan keluarga saya yang harmonis seperti dulu itu terulang kembali. Jadi saya akan pastikan kalau saya akan berubah menjadi pribadi yang lebih baik lagi." Bima meyakinkan dirinya sendiri. Bima yakin kalau dia pasti bisa melawati cobaan ini. Bima yakin dia pasti bisa menjadi orang yang lebih baik lagi di kedepannya, Bima benar-benar bertekad mengubah pola pikirnya dan keegoisannya. Perlahan-lahan Bima akan mencoba menjadi sosok ayah idaman bagi Umaya dan suami idaman bagi Meli. Bima harus menjadi yang terbaik untuk keluarga kecil nya. Dia kepala keluarga jadi dia harus menjaga dan melindungi anak dan istrinya tanpa melukai mereka. Bima harus belajar tentang hal itu. Itu benar-benar penting untuk Bima saat ini. Bima harus belajar mencintai tanpa harus menyakiti. Raka tersenyum bangga. "Raka bangga sekaligus kagum sama om. Akhirnya om mau intropeksi diri dan mau memperbaiki diri sendiri. Ini yang Raka harapankan dari om. Raka mau om menjadi ayah versi terbaik untuk Umaya agar Umaya merasa senang dan bahagia." "Kenapa kamu selalu memikirkan Umaya dalam hal apa pun itu?" tanya Bima pada Raka. Bima penasaran mengapa Raia selalu menyebut nama Umaya. Apa Raka benar-benar cinta pada Umaya atau Raka hanya pencitraan di depan Bima saja. "Kenapa saya selalu sebutin Umaya di mana mana? kenapa syaa selalu memikirkan Umaya terus menerus? ya jawabannya cuma satu. Karena dia Umaya, karena dia adalah cinta pertama dan terakhir Raka. Karena dia adalah gadis spesial yang istimewa, gadis yang mampu mencuri hati Raka. Gak peduli seberapa penting harta ini dan itu, tapi bagi Raka Umaya adalah harta sesungguhnya yang harus dijaga dengan baik. Umaya adalah harta karun Raka, Umay adalah cahaya kehidupan Raka. Raka benar-benar mencintai Umaya. Umaya, gadis cantik yang datang di saat hidup Raka gelap gulita, dan Umaya datang membawa penerangan untuk Raka. Umaya itu lampu bagi Raka, dia penerang hati dan penerangan kehidupan untuk Raka. Dia juga penunjuk jalan yang baik. Umaya berhasil membimbing Raka sampai menjadi yang seperti sekarang. Jadi om tau lah ya seberapa pentingnya Umaya untuk Raka. Kalau ditanya seberapa penting nya Umaya di hidup Raka, maka jawaban nya adalah sangat penting, penting sekali. Lebih penting dari hidup Raka sendiri." Raka menjelaskan arti Umaya untuk nya pada Bima. "Terus kalau kamu gak jodoh sama Umaya gimana? kalau Umaya nikah sama orang lain gimana?" tanya Bima penasaran. "Ya kalau begitu Raka gak bakalan nikah. Raka gak bakalan nikah sama orang lain kecuali Umaya. Pokoknya Raka harus nikah sama Umay, kalau Raka gak bisa nikah sama Umaya, ya Raka gak bakalan nikah. Lebih baik mencintai dalam diam dari pada menikah tanpa cinta. Lagi pula hati tak bisa bohong, sampai kapan pun cuma Umay di hati, gak ada orang lain. Dan gak akan bisa digantiin posisinya sama orang lain." Raka menjelaskan pada Bima betapa pentingnya Umaya dalam hidupnya, betapa Raka mencintai Umaya sampai sampai Raka rela tidak menikah jika Umaya sudah menikah duluan dengan orang lain. "Apa yang buat kamu mencintai Umaya sampai segitunya?" tanya Bima lagi. Saat Bima seperti sedang memberikan pertanyaan untuk mewawancarai sebagai calon menantu, apakah layak menjadi calon mantu atau tidak. "Yang buat Raka mencintai Umaya? harus berapa kali Raka jawab ini? jawabannya tetap sama, Raka mencintai Umaya karena Umaya adalah satu-satunya orang yang datang menjadi pelitanya di saat hidupnya benar-benar gelap dan kelam pada masa itu. Jadi tidak ada alasan lain, karena semua yang berhubungan dengan Umaya itu adalah jawbannya. Because Raka benar-benar cinta sama Umaya, apa pun tentang Umaya, Raka suka, Raka cinta. Jadi alasan simpelnya ya karena dia Umaya. Karena dia Umaya makanya Raka cinta mati sama dia. Tapi mungkin kalau dia bukan Umaya, Raka gak akan ada di sini saat ini. Mungkin Raka uda ada di kuburan kali." Raka kembali menjawab pertanyaan Bima yang mutar mutar dan itu itu saja. "Kalau misalnya setelah nikah dengan Umaya ternyata kamu menemukan keburukan Umaya. Entah apa pun itu, tapi bila kamu mengetahui keburukan Umaya setelah nikah bagaimana?" tanya Raka pada Umaya. "Ya gak gimana-gimana. Raka uda tau banget Umaya gimana. Dan mau sejelek apa pun sifatnya nanti, dia bakalan tetap menjadi Wanita utama di hati." Raka menjawab dengan santai. "Saya melihat enteng sekali kamu menjawab pertanyaan pertanyaan saya. Apa gak mikir dan asal jawab aja? atau kamu hanya pura pura mencintai Umaya padahal kamu punya maksud terselubung. Tolong ngaku sekarang sebelum anak saya terjerumus lebih dalam dengan kamu." Bima mendesak Raka untuk jujur. Raka tertawa geli. "Hahahaha ... iya, Iya benar apa yang om katakan, itu Semuanya yang om katakan adalah benar." "What?" Bima membelalakkan matanya lebar. "Iya, kalau Om maunya itu benar ya anggap aja itu benar. Karena saya gak bisa menganggu dan ikut campur dalam pikiran seseorang kan? setiap orang berhak memilih sendiri apa yang ia mau. Dan seusai apa yan om mau, om ngomong gitu dan bertanya apakah benar? ya cari aja sendiri mikir aja sendiri, ya kali Raka harus jelasin ke semua orang kalau Raka itu orangan bla bla bla bla bla bla ...." "Raka gak mau kasih tau ke orang orang tentang apa yang Raka rasa itu pribadi. Dan kalau pun orang orang mau tau tentang hal itu ya biarin aja. Silahkan mereka cari sendiri dan mikir sendiri gimana sih Raka sebenernya? biar orang mau berpikir gimana tentang Raka , tapi yang pasti Raka ya Raka . Gak ada yang boleh sok sok mau ngubah hidup Raka. Hidup Raka itu untuk Umay, jadi cuman Umaya yang bisa tau dan berhak tau apa pun yang sedang terjadi sama Raka." Raka tersenyum bangga mengingat masa masa saat mereka berama tanpa memikirkan soal restu orang-tua dulu. "Intinya Raka itu sayang banget sama Umaya. Raka cinta banget sama Umaya. Pokoknya Raka gak bakalan bisa berpaling ke wanita lain selain Umaya . Terserah orang lain di luar sana anggap kalau Raka cuma bohongan dan gak cinta sama Umaya, terserah. Raka gak peduli. Yang penting Raka sama Umaya. Mau Raka jadi orang miskin yang gak punya harta pun Raka gak masalah kalah sama Umaya, karena Umaya adalah harta yang paling berharga di hidup Raka. Umaya yang paling penting di hidup Umaya, titik. Raka gak bisa nerima apa pun alasannya untuk meninggalkan Umaya. Umaya is my life, so jangan pisahin Umaya dan Raka. Karena Umaya dan Raka sama sama saling mencintai satu sama lain. Kami benar-benar gak bisa kehilangan satu sama lain. Jika satu pergi, maka yang satunya juga harus ikut. Apa pun masalah nya bakalan Raka hadapi demi terus bisa sama sama bareng Umaya terus. Dan liat sekarang hubungan Umaya dan Raka itu terhalang restu orang tua, tapi Umaya dan Raka tetap bertahan demi hubungan kita. Kita saling mencoba dan sudah berjuang sejauh ini. Kita gak mau perjuangan kita sia-sia." Raka menjelaskan panjang lebar pada Bima.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN