"Uda om, ayo sekarang kita masuk ke dalam, Raka yakin om pasti uda gak sabar kan untuk ketemu Umaya dan tante Meli, ayo sekarang masuk." Raka mengajak Bima untuk segera masuk ke dalam rumah.
Bima menggelengkan kepalanya. "Enggak, nanti dulu, saya belum siap untuk ketemu mereka."
Raka mengerutkan dahinya bingung. "Lah kenapa, om? perasaan tadi di jalan om yang paling semangat buat ketemu mereka, kenapa sekarang jadi gak semangat sih? kenapa sekarang jadi lesu? aneh banget sih om." Raka tak habis pikir dengan Bima.
"Saya benar-benar jadi belum siap karena merasa malu dengan kesalahan saya selama ini. Saya tidak bisa bertemu dengan mereka langsung. Saya benar benar takut kalau mereka kecewa sama saya." Bima menggelengkan kepalanya dan tak mau turun dari mobil.
"Om, kok om jadi gini sih? mana om Bima yang pemberani itu?" tanya Raka kesal.
"Om, om gak perlu merasa malu. Setiap manusia pasti punya porsi kesalahannya masing masing. Dan tugas kita sebagai manusia itu untuk memperbaiki nya, bukan malah nyesal dan malu terus gak ngelakuin apa apa kayak gini. Om gak boleh begitu. Ayo om, semangat, ada Raka di sini. Raka bakalan bantuin om kok. Raka janji Raka bakalan bantu om kalau mereka marah ke om. Om jangan takut dan jangan khawatir, om harus tetap maju, gak bisa diam di tempat seperti ini. Kalau kita diam di tempat seperti ini, kalau kita gak ngelakuin apa pun, gimana perubahan akan terjadi? gak bakalan ada perubahan yang terjadi kalau kita stuck di sini. Jadi ayo kita keluar dari mobil, ayo kita masuk dan temui tante Meli dan Umaya." Raka mengajak Bima turun, tapi lagi lagi Bima menolak, Bima menolak dengan alasan yang kurang masuk akal.
"Om kenapa sih? ngapain harus malu coba? itu yang di dalam itu anak om sendiri, yang di dalam itu istri om sendiri. Om ngapain malu? salah benar dalam kehidupan itu wajar, yang gak wajar adalah ketika kita gak mau memperbaiki kesalahan kita. Sama seperti om sekarang ini. Ini namanya gak wajar. Apa susah nya turun dan temui istri dan anak sendiri? apa susahnya minta maaf ke anak dan istri sendiri? gak ada yang susah kalau belum di coba. Jadi om harus coba dulu. Raka yakin kalau om minta maaf dengan tulus pasti mereka bakalan maafin om kok. Raka juga tau kalau tante Meli sama ngerasain rindu seperti apa yang om rasakan. Begitu juga Umaya, Umaya juga ngerasain rindu, sama seperti apa yang om rasakan. Umaya sering cerita ke Raka kalau Umaya itu sayang banget sama papanya, Umaya sering cerita walaupun kadang Umaya marah sama om, Umaya kesal sama om, tapi tetap aja nanti pasti Umaya bakalan luluh lagi hatinya, bakalan gak bisa marah lagi ke om. Dan tau kenapa mereka memilih pergi dari rumah?" tanya Raka pada Bima.
Bima menggeleng kepalanya tidak tau.
"Ya karena mereka gak mau liat muka om. Gak mau liat muka om dalam artian mereka gak mau terus terusan serumah dan liat muka om, soalnya kalau mereka masih satu rumah dan masih sering liat muka om, pasti mereka gak bakalan bisa marah ke om, pasti mereka gak bakalan bisa cuek terus. Itu lah sebabnya kenapa Umaya dan tante Meli milih pergi dari rumah." Raka menjelaskan pada Bima alasan Meli dan Umaya pergi dari rumah yang jelas jelas itu salah total. Meli dan Umaya pergi dari rumah saat mereka bertengkar dengan Bima karena Bima tidak bersikap baik pada Raka waktu Raka menjenguk Umaya. Meli dan Umaya pergi dari rumah karena merasa sakit hati dan tersinggung karena Bima yang terus berkata 'Kalau mau tinggal di rumahnya maka semua harus ikut dan nurut apa yang dikatakannya'. Tentu saja Meli dan Umaya merasa sakit hati dengan ucapan Bima. Bima bicara seolah-olah rumah itu hanyalah rumah miliknya dan yang tinggal di rumah itu selain dia hanya numpang saja. Maka dari itu Umaya dan Meli keluar dari rumah, mereka merasa tak dianggap sebagai istri dan anak oleh Bima.
Raka yang pada saat itu jelas menyaksikan keributan itu pun bisa menyimpulkan bahwa yang salah adalah Bima. Bima bicara tanpa dipikirkan dahulu dampak nya pada orang yang mendengarkan. Contohnya seperti sekarang, dampak buruknya terjadi pada dirinya sendiri. Lihat lah sekarang, Umaya dan Meli memilih pergi dari rumah karena kerasa sakit hati dengan perkataan Bima.
"Apa kamu yakin mereka pergi dari rumah dengan alasan itu? apa kamu yakin hanya karena supaya bisa marah lebih lama karena tidak melihat Wajah saya?" Bima bertanya pada Raka.
Raka mengangguk mantap. "Iya, tentu saja," jawab Raka cepat.
"Jadi uda tau kan apa penyebab mereka keluar dari rumah karena apa? uda tau caranya minta maaf dengan tulus kan? uda tai caranya ambil hati wanita yang lagi marah kan? kalau uda semua gak usah pake nunggu lama lama lagi. Ayo langsung gas kan aja." Raka mendesak Bima untuk cepat turun dari mobil.
Bima menggelengkan kepalanya cepat. "Saya masih belum siap," ucap Bima ketakutan.
Raka menepuk jidat. "Aduh om, om kenapa sih? kenapa om jadi culun gini sih? ini anak dan istri Om sendiri loh. Masa om gak bisa ngomong di depan mereka? padahal kan uda tiap hari ketemu, masa sih malunya sampe segitunya? perasaan gak gitu juga dong, om. Om biasanya juga berani maalah berani banget lagi, kenapa tiba tiba mentalnya jadi menciut sih? ah gak asik nih om. Uda saya bawa ke sini tapi ujung ujungnya gak masuk, untuk apa? kesempatan gak datang untuk yang kedua kalinya om. Jangan menunda apa pun kalau masih bisa diselesaikan saat itu juga. Karena apa pun yang ditunda tunda biasanya berakhir tidak bagus, jadi jangan menunda nunda. Ayo kita turun sekarang." Raka menarik tangan Bima, tapi Bima langsung menepis nya dengan cepat.
"Jangan, jangan paksa saya. Saya masih memenangkan diri, saya masih mau berpikir apa yang harus saya katakan saat saya bertemu dengan mereka nanti. Kalau tidak ada persiapan maka saya pasti akan gugup dan alhasil saya hanya bisa diam dan gak bicara apa pun. Itu lebih merugikan saya. Saya gak mau masuk begitu aja tanpa persiapan dulu, saya butuh persiapan yang matang." Bima menjelaskan pada Raka kalau dirinya butuh persiapan terlebih dahulu. Bima tak mau hanya asal masuk dan asal bicara. Ini adalah momen penting untuknya, jadi Bima harus bicara dengan kesan yang baik dan makna yang dalam. Bima harus bisa menyampaikan semua isi hatinya tanpa harus ada yang ketinggalan. Bima harus menyusun kata mulai dari sekarang.
Raka menghela nafasnya lelah. "Ada aja ya hambatannya. Ada aja tuh halangan biar cepat ketemu dan menyelesaikan masalah. Emang deh ada ada aja." Raka menggelengkan kepalanya tak habis pikir.
"Ya maksud kamu saya masuk aja ke dalam tanpa persiapan apa pun gitu? nanti kalau di dalam suasana jadi canggung gimana? kalau saya jadi diam dan gak berkutik sama sekali gimana? masih di sini aja saya uda keringet dingin, apa lagi di dalam nanti. Saya khawatir saya bisa bisu mendadak." Bima sangat deg degan.
Melihat kekhawatiran Bima yang sangat amat jelas, Raka langsung tertawa geli.
"Hhahaha ... om aneh ya, om ini beneran aneh. Om meeting sama perusahaan sukses luar negeri, om presentasi proyek besar yang dihadiri oleh orang-orang ternama kayaknya keliatan biasa aja. Kenapa cuma bertemu dengan anak dan istri di dalam rumah aja merasa gugup nya bukan main? aneh banget sih om. Om ini gak habis thinking Raka dibuat." Raka geleng gelang kepala tidak habis pikir.
"Ya gimana, saya emang begini, apa lagi saya tau kalau saya yang salah, saya semakin merasa gak percaya diri. Saya merasa kalau yang saya lakukan itu semua salah. Jadi saya butuh persiapan dulu. Saya harus menyiapkan dengan matang sebelum bertempur." Bima menarik nafas dalam dalam, lalu menghembuskan ya keluar secara perlahan-lahan.
"Hahaha ... ada ada aja ya, om, lucu sekali, bisa-bisanya bertemu dengan orang penting tidak merasa gugup sama sekali. Tetapi bertemu dengan anak dan istri sendiri malah merasa gugup tak menentu." Raka menertawakan Bima.
"Diam kamu! jangan ngeledek saya saya! saya bikin gini juga untuk persiapan supaya saya tidak canggung di dalam sana, kamu jangan banyak cerita, jangan banyak komen, jangan banyak mengejek, doakan saja saya bisa mendapatkan hati mereka kembali." Bima memarahi Raka.
Raka mengangguk anggukan kepalanya. "Iya iya, siap, om. Yauadah latian lah om, biar cepat masuk kita." Raka menyuruh Bima untuk latihan persiapan yang dia katakan tadi.
Bima duduk dengan kepala yang menghadap ke atas, matanya terpejam seolah-olah sedang memikirkan sesuatu. Ya, tentu saja, Bima memang sedang memikirkan sesuatu, dia sedang memikirkan bagaimana caranya meminta maaf pada anak dan istrinya. Bima tidak pandai dalam merangkai kata sehingga dia kesulitan saat berada di posisi seperti ini. Jika ditanya apakah nanti lebih baik menyampaikan presentasi proyek kepada rekan rekan kerja yang senior dan yang lebih berpengalaman atau menyampaikan pesan dan maaf kepada keluarga terdekat seperti anak dan istri, maka Bima pasti akan menjawab yang lebih sulit adalah menyampaikan pesan atau meminta maaf kepada keluarga terdekat. Rasanya sangat canggung dan aneh.
Bima diam, dia sedang memikirkan rangkaian kata apa yang akan diucapkan nya saat sampai di depan anak dan istrinya nanti.
"Meli, maafkan aku karena sudah terlalu egois dan tidak pernah memikirkan perasaan kamu, maafkan aku karena selalu ingin menang sendiri dan tidak pernah bertanya apa pendapat dan sesuatu yang kamu mau, maafkan aku selama ini selalu bersikap keras kepala tanpa memikirkan perasaan kamu." Bima diam, dia merangkai kata kata dalam hati.
"Sepertinya kata-katanya sangat terdengar formal dan tidak nyaman untuk dimasukkan ke dalam obrolan pribadi yang seharusnya santai tapi bermakna. Lalu aku harus merangkai kata yang bagaimana? aku kurang bisa dalam hal merangkai kata seperti ini. Kalau merangkai kata untuk rapat dan presentasi juga biasanya mengalir sendiri, tanpa ada persiapan persiapan seperti ini. Kalau ini, otak ku benar-benar buntu dan tidak bisa berpikir apa yang harus aku katakan pada mereka." Bima menggaruk kepalanya yang tak gatal, dia masih bingung dan merasa tidak cocok dengan kata kata yang sudah dirangkainya tadi.
"Umaya, maafin papa ya, nak. Selama ini papa uda egois sama kamu, selama ini papa gak pernah mendengar apa kemauan kamu. Maafin papa karena papa selalu bertindak sesuka hati papa tanpa mikirin apa yang kamu mau. Papa terlalu menyayangi dan mencintai kamu, sehingga tanpa sadar papa malam membuat kamu terjebak dalam kurungan yang papa ciptakan."
"Papa masih ingat dulu kamu ingin sekolah di luar negeri, tapi papa bilang gak boleh karena kamu masih sangat kecil. Dan kamu minta supaya kuliahnya aja yang di luar negeri, dan pada saat itu papa setuju dengan itu. Tapi nyatanya, nyatanya papa ingkar janji ke kamu, nak. Padahal kamu udah dapat beasiswa ke luar negeri seusai dengan jurusan yang kamu impikan. Tapi karena keegoisan papa, papa malah larang kamu pergi ke luar negeri. Papa gak izinin kamu pergi karena papa gak bisa jauh dari kamu, papa khawatir kamu kenapa-kenapa kalau jauh dari papa. Dan tanpa sadar, karena keegoisan papa, papa malah mematahkan cita cita kamu yang hanya tinggal selangkah lagi. Dengan Egoisnya papa memotong sayap kamu dengan alasan papa tidak ingin kamu terluka dan dalam bahaya. Papa benar-benar merasa bersalah saat ini. Papa benar-benar merasa kalau papa adalah orang tua yang paling jahat di dunia ini. Maafin papa ya, maafin papa walaupun seharusnya papa pantas untuk dimaafkan, tolong maafin papa. Papa benar-benar sayang sama kamu, papa janji papa gak bakalan egois lagi ke kamu, papa janji akan memperbaiki semuanya." Bima bicara panjang lebar di dalam hati. Ini bagian dari latihannya yang benar-benar Ekstra dan bersungguh-sungguh. Bima masih bingung memikirkan kata apa yang pas dan cocok untuk doa katakan saat bertemu dengan anak dan istrinya nanti.