Strategi Raka

1033 Kata
Bima menghela nafasnya, dia benar-benar tak bisa berpikir saat ini. Deg-degan bercampur dengan sedikit rasa takut membuat pikirannya kacau. "Gimana ya? apa yang harus aku katakan ke Meli dan Umaya?" Bima bertanya pada dirinya sendiri. Bima melihat lurus ke depan, lalu dia langsung melihat ke arah samping. Bima berdecak kesal saat mendapati Raka sedang menyandarkan tubuhnya dengan tangan yang di lipat di d**a dan mata yang terpejam. "Bisa-bisanya dia tidur, ck." Bim tersenyum sinis. Bima mengalihkan pandangannya. Dia melihat ke arah atas, lalu kemudian langsung menghela nafasnya kasar. "Lagi-lagi bingung dengan apa yang mau diucapkan nanti, huftt." Bima tampak sedikit menyesal. "Meli, kamu di sini? aku benar-benar uda nyariin kamu dan Umaya ke mana aja, tapi gak ketemu-ketemu. Kamu kenapa sih aku telepon gak diangkat? aku benar-benar uda cari kalian ke mana aja tapi gak ketemu. Maafin aku ya, aku minta maaf kalau aku salah. Iya aku sadar aku salah, aku sadar aku egois, aku sadar aku selalu keras kepala. Maafin aku ya, aku benar-benar salah banget sama kamu dan sama Umaya. Maaf kalau aku uda buat kamu kecewa, tapi aku gak bisa jauh dari kamu. Aku selalu kepikiran kamu setiap hari. Maafin aku, aku benar-benar gak bakalan ngelakuin hal-hal yang gak kamu suka lagi, aku gak bakalan egois dan keras kepala lagi. Maafin aku ya." Bima memeluk Meli kuat, dia meminta maaf dengan tulus pada sang istri. Setelah meminta maaf dengan sang istri, Bima langsung melepaskan pelukannya dan langsung pindah memeluk sang anak, Umaya. "Umay, maafin papa ya. Maafin papa karena kesalahan papa selama ini. Papa sadar kalau papa salah, papa sadar kalau papa ini adalah papa yang buruk untuk kamu. Maafin papa ya. Papa selalu aja memaksa apa yang papa inginkan tanpa bertahan ke kamu, tanpa bertanya pendapat kamu. Maaf, maafin papa. Papa benar-benar papa yang buruk, papa banyak salah ke kamu. Karena papa juga kamu jadi mengasingkan diri dari teman-teman kamu. Bahkan papa gak tau kalau kamu mengalami masa-masa sulit di sekolah dan kampus yang papa pilih. Seandainya papa ngizinin kamu kuliah di kampus pilihan kamu, mungkin saat ini senyum ceria dari Umaya yang dulu pasti gak akan hilang. Maafin papa, tanpa papa sengaja papa uda memotong sebelah sayap kamu sehingga kamu tidak bisa terbang untuk meraih kebahagiaan kamu. Maaf, sekali lagi maafin papa. Papa janji papa gak akan egois lagi, papa janji papa akan selalu bertanya tentang pendapat kamu. Maafin papa ya, nak." Bima memeluk Umaya dengan tulus, dia benar-benar merasa bersalah dengan sang anak. Bima menggelengkan kepalanya, lalu dia langsung tersadar dari lamunan nya. "Begitu kira kira kalau aku minta maaf di dalam nanti. Dan kalau aku uda ngerasain sendiri mungkin nanti kata kaya yang keluar lebih natural dan mengalir sendiri." Bima bicara di dalam hati. Ya, yang tadi itu hanyalah hayalan Bima, dia membayangkan bagaimana nanti dia saat meminta maaf pada istri dan anaknya. Bima menghela nafas. "Seperti aku uda siap, semakin lama ditunda semakin gak baik. Apa pun yang ditunda berlebihan pasti gak akan baik," ucap Bima dalam hati. Bima melihat ke arah samping, lalu dia menggoyangkan tubuh Raka yang saat ini sedang tertidur. "Heh, bangun!" Bima membangunkan Raka. Sepertinya Raka benar-benar tertidur, bahkan saat digoyangkan tubuhnya saja dia tidak terasa. Bima menggeram kesal. "Heh!! kamu kenapa malah tidur?! ayo bangun!!" Bima menggoyang-goyangkan tubuh Raka lebih keras lagi. Raka yang ketiduran pun langsung terkejut karena Bima. Raka langsung membuka matanya seperti orang linglung. "Hah? i-iya ada apa? kenapa?" Raka bertanya seperti orang linglung. "Ada apa ada apa. Pake nanya lagi. Kamu ngapain tidur? kan saya suruh tunggu sebentar, malah tidur." Bima mengomel pada Raka. "Ooh uda selesai?" tanya Raka polos. "Pake nanya lagi. Ayo kita turun," ajak Bima tak sabar. "Ya ampun, sabar napa om. Tadi yang diajak turun gak mau kan om, malah ini ngeburu-buruin. Sabar napa, om-om." Raka merapikan penampilannya yang acak-acakan. "Uda gak usah sok rapih kamu, kamu bukan mau rapat, jadi jangan sok rapih." Bima meledek Raka. "Gak mau rapat tapi mau ketemu pujaan hati. Jadi harus rapih dan tampan," balas Raka dengan penuh percaya diri. "Apa kamu bilang?" tanya Bima dengan tatapan tajamnya. Raka menyengir lebar. "Hehehe ... uda om, ayo turun, jangan marah-marah." Raka langsung mengalihkan topik agar tak mendengar Bima marah. "Nanti om tunggu di belakang Raka atau sembunyi dulu ya. Jadi nanti kalau Umay sama tante Meli keluar, mereka liat Raka dulu, nah baru setelah itu om muncul deh." Raka memberitahu Bima tentang strateginya. Bima mengerutkan dahinya bingung. "Kenapa harus begitu?" tanya Bima tak mengerti. "Ya biar greget aja, om. Kalau di film film kan begitu. Jadi kita ikutin yang di film biar greget gitu," jawab Raka. "Apaan sih kamu. Ini dunia nyata, bukan dunia film," ucap Bima tak setuju. "Ya gak apa-apa, om. Gitu aja nanti, maksud Raka begitu tuh biar tante Meli sama Umaya keluar dulu kan dari rumah. Kalau mereka nanti masih mau buka pintu eh uda ngeliat wajah om dan mereka langsung gak jadi buka pintu, langsung tutup pintu lagi gimana? aduh om, ini Raka uda mikirin secara matang, jadi om ikut strateginya Raka aja deh. Raka jamin gak akan gagal deh." Raka menjelaskan tentang strateginya pada Bima. Bima diam sejenak, lalu dia mengangguk setuju. "Iya sih, benar apa yang kamu katakan. Bisa aja nanti kalau mereka liat saya duluan mereka bakalan gak jadi keluar rumah, malah masuk lagi." "Ehh tapi apa iya? masa sih mereka gak mau liat saya? seharusnya mereka axited sama saya karena saya datang untuk mereka." Bima sedikit ragu dengan statment Raka. Raka tertawa pelan. "Ya ampun, om, Om gak percaya sama Raka? Raka tau semuanya, om, Raka juga tau kalau mereka gak mau ketemu om. Raka uda tanya ke mereka apa mereka mau ketemu sama om, dan kalau mau Raka akan kasih tau tempat ini ke om. Tapi nyatanya mereka jawab mereka gak mau ketemu sama om. Tapi karena Raka gak tega liat om, Raka juga tau kalau sebenarnya om, tante, dan Umaya saling rindu, maka Raka memutuskan bawa om ke sini. Yang paling utama Raka bawa om ke sini itu karena Raka liat om uda sadar apa kesalahan om, jadi om bisa memperbaikinya dan meyakinkan tante dan Umaya." Raka menjelaskan panjang lebar pada Bima. Bima berdeham, "Hmmm, iya-iya, yaudah, saya ikut apa kata kamu aja," ucap Bima pasrah.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN