Takut

1041 Kata
Raka turun dari mobil, setelah turun dari mobil Raka langsung berjalan ke rumah diikuti dengan Bima yang berjalan di belakangnya. Saat sudah sampai di depan pintu rumah, Raka langsung menoleh ke arah belakang. "Sini, om, om di belakang Raka aja biar ketutupan." Raka menyuruh Bima untuk berdiri di belakangnya. "Saya berdiri di belakang kamu?" tanya Bima menunjuk dirinya sendiri. Raka langsung menganggukkan kepalanya. "Iya, sini om berdiri nya di belakang Raka aja." Raka kembali menyuruh Bima untuk berdiri di belakangnya. "Memangnya saya berdiri di belakang kamu apa gak keliatan?" tanya Bima bingung. "Enggak, om. Raka kan tinggi, badan Raka juga atletis banget. Om sini aja di belakang Raka berdiri, enggak keliatan kok." Raka menarik Bima supaya berdiri di belakangnya. "Maksud kamu tuh kamu bilang saya kecil gitu?" tanya Bima sewot. "Astaga, jangan seudzon mulu, om. Saya gak ada bilangin om kecil kok. Uda deh om pokoknya diam aja di belakang sampai tante Meli sama Umay datang." Raka menggelengkan kepalanya tak habis pikir dengan Bima yang selalu negatif thinking padanya. "Ya udah iya iya saya di belakang kamu, buruan pencet belnya." Bima menyuruh Raka untuk memencet bel. "Ya ampun, sabar om sabar. Semua butuh proses," balas Raka geleng-geleng kepala. Sesuai permintaan Bima, Raka langsung memencet bel rumah. Tingg tonnggg ... tingg tongg ... tingg tongg ... Raka memencet bel beberapa kali, lalu setelahnya dia langsung diam menunggu dibukakan pintu. Suasana di dalam rumah. "Ma, itu ada suara bel. Siapa ya kira-kira yang datang ke rumah ini?" Umay yang sedang menonton TV langsung bertanya pada mamanya. Meli menggelengkan kepalanya. "Enggak tau, mama juga gak tau siapa yang datang. Kan yang tau alamat rumah ini cuma kita berdua dan Raka. Mungkin itu Raka kali." Meli menebak-nebak siapa yang datang bertamu. Umaya mengerutkan dahinya bingung. "Hah? Raka? masa sih Raka, ma? kalau Raka gak pernah pencet bel perasaan kalau datang. Raka kalau datang kan langsung nyelonong masuk aja gak pernah pencet bel. Lagi pula hari ini Raka ada meeting penting setah aku. Masa sih itu Raka? kayaknya enggak deh, ma." Umaya tak setuju dengan pendapat mamanya. Umaya pikir yang memencet bel itu bukan lah Raka. Karena biasanya Raka tak pernah memencet bel dan langsung masuk ke dalam rumah begitu saja. "Lahh jadi kalau itu bukan Raka terus siapa?" tanya Meli bingung. Umaya menggelengkan kepalanya dengan wajah tak kalah bingung. "Ya mana Umay tau, ma. Umay juga gak tau itu siapa. Kan yang tau rumah ini cuma Raka, mama, sama Umay." Umaya sedikit panik karena takut jika yang bertamu adalah orang jahat "Kalau yang datang ternyata orang jahat gimana, ma?" tanya Umaya khawatir. "Hushh! kamu ini, jangan ngomong yang aneh-aneh deh. Kamu buat mama panik aja." Meli memarahi Umaya karena bicara yang tidak-tidak. "Loh Umay juga panik, ma. Umay takut, mamanya Umay ngomong gitu," balas Umay ketakutan. Tinggtong tingtong tingtong tingtong ... Bel rumah kembali berbunyi beberapa kali, membuat Umaya dan Meli menjadi semakin cemas. "Duhh siapa sih itu? mendingan pulang aja. Kalau uda gak dibukain pintu ngapain masih bertahan di situ sih? mending pulang aja." Meli menggerutu karena takut bercampur khawatir. "Iya, ma, mendingan gak usah kita buka. Siapa tau itu orang jahat, kan bahaya kalau itu orang jahat. Uda deh, ma, jangan kita buka pintunya, biarin aja gitu. Kalau orang yang bertamu kalau gak dibukain pintu kan nanti pergi sendiri, uda biarin aja begitu gak usah dibukain pintu " Umaya setuju dengan mamanya. Lebih baik tidak usah membuka pintu jika kalian ragu dengan kedatangan seseorang. Apa lagi jika di rumah hanya sendirian atau hanya berdua atau bertiga dan sama-sama seorang wanita, sangat bahaya. Umaya dan Meli diam, hening, sambil tatap tatapan menunggu apakah ada yang memencet bel lagi atau tidak. "Ma, kalau nanti belnya bunyi lagi gimana?" tanya Umaya khawatir. "Semoga aja enggak. Uda deh kita diam aja biar gak ketahuan di dalam rumah ada orang." Meli menyuruh Umaya untuk diam. Umaya langsung diam, dia kembali diam sambil berpikir dan menebak-nebak kira-kira siapa yang memencet bel rumah mereka. "Baru juga beberapa hari tinggal di sini eh suasana uda horor aja," batin Umaya dalam hati. "Kayaknya uda gak ada yang mencet bel lagi deh," ucap Meli. "Iya emang gak ada tapi kita tunggu dulu aja, ma. Kalau beberapa menit lagu ga ada suara bel berarti mereka uda pulang." Umaya duduk kembali di depan TV. "Sini, ma, duduk sini, kita nonton TV aja, relaks dulu. Gak usah tegang banget," Umaya memanggil mamanya untuk duduk di sampingnya. "Kamu mah malah mau nonton TV, mama uda greget ini mau tau siapa yang bertamu eh kamu malah masih bisa santai." Meli geleng-geleng kepala melihat tingkah Umaya. "Untuk apa mama nunggu di situ berdiri aja? sini duduk, capek berdiri tau, ma." Umaya memaksa mamanya untuk duduk di sampingnya. Meli menghela nafasnya, lalu dia langsung berjalan dan duduk di samping Umaya. Umaya dan Meli mengalihkan perhatiannya dari bunyi bel, mereka kembali menonton TV. Dan bel rumah mereka memang tidak berbunyi lagi. Sementara di luar rumah, Raka dan Bima sudah lelah menunggu pintu dibuka. "Kok lama banget sih bukanya? apa mungkin mereka gak dengar suara bel?" tanya Bima pada Raka. "Masa sih gak dengar suara bel? perasaan suara belnya kuat loh," balas Raka bingung sendiri. "Jadi kenapa gak dibuka-buka pintunya?" tanya Bima kesal. "Mungkin mereka lagi ada di kamar mandi kali," jawab Raka asal tebak. "Coba pencet lagi belnya. Pencet terus sampe mereka dengar." Bima menyuruh Raka untuk kembali memencet bel. "Iya om, iya," Raka menghela nafasnya pasrah. Raka kembali memencet bel rumah. Tingtong tingtongg tingtong tingtong tingtongg tingtong tingtong ... Raka terus membenci bel rumah tanpa henti, membuat Umaya dan Meli yang ada di dalam rumah terkejut. "Lohh, tuh kan bunyi lagi kan itu belnya. Siapa sih yang mencet? malah mencetnya gak berhenti-berhenti lagi." Meli mulai panik dan kembali ketakutan. Umaya yang ikut panik juga langsung memeluk sang mama. "Iya, ma, itu siapa sih? Umay pikir uda pergi dari tadi. Eh ternyata dia bukan pergi, malah masih nunggu di luar. Siapa sih itu?" tanya Umaya penasaran. "Mama gak tau, kalau itu Raka dia gak mungkin menghabiskan waktu untuk mencet bel. Biasanya juga dia selalu masuk nyelonong aja kan? Terus kalau itu bukan Raka jadi itu siapa?" tanya Meli yang mulai berpikir negatif. "Umaya juga ga tau, ma. Umaya takut," balas Umaya yang sudah takut dan berpikir kalau itu adalah orang jahat.
Bacaan gratis untuk pengguna baru
Pindai untuk mengunduh app
Facebookexpand_more
  • author-avatar
    Penulis
  • chap_listDaftar Isi
  • likeTAMBAHKAN