Tinggtong tingtong tingtong tingtong tingtong ...
Bel rumah terus berbunyi tanpa jeda. Membuat Umaya dan Meli semakin panik dan bingung.
"Ma, uda deh, ma, ayo kita keluar aja liat siapa yang mencet bel. Kalau gak keluar kayaknya belnya bakalan dipencet terus." Umaya mengajak mamanya untuk keluar rumah.
Meli menggelengkan kepalanya cepat." Enggak ah, gak usah keluar, kamu mau ngapain keluar? nanti kalau ada orang jahat di luar gimana? uda kita di dalam aja." Meli menolak ajakan Umaya.
"Tapi belnya gak berhenti bunyi, ma. Uda deh, ma, mendingan kita liat aja. Kan bisa dipastikan itu siapa. Umaya penasaran siapa sih yang bertamu maksa banget begitu. Ayo kita keluar, ma." Umay mengajak mamanya untuk keluar melihat siapa yang memencet bel tiada henti.
"Gak usah, Umay, ini bahaya. Logikanya aja deh, kita gak kenal siapa-siapa di sini. Bahkan rumah ini yang tau cuma kita dan Raka. Nah kalau Raka gak mungkin kan mencet bel terus-terusan. Biasanya juga Raka main masuk rumah aja. Uda gak usah keluar, nanti kalau ada apa-apa bahaya." Meli lagi-lagi menolak ajakan Umay untuk keluar rumah.
"Mama ihhh, yaudah deh kalau mama gak mau keluar, biar Umay aja." Umay tak peduli dengan larangan mamanya. Telinganya sudah sakit mendengar suara bel. Terlepas dari itu, Umaya memang benar-benar penasaran dengan seseorang yang memencet bel itu.
Umaya berdiri, dia langsung berjalan ke arah pintu rumah.
Meli yang melihat Umaya keras kepala dan kekeuh ingin keluar rumah pun tak bisa diam. Meli langsung menarik tangan Umaya dengan sigap.
"Ck. Kamu keras kepala banget sih. Uda mama bilang gak usah keluar, ngapain harus keluar coba? uda di dalam aja." Meli memarahi Umaya.
"Yaudah kalau mama gak mau keluar ya gak apa-apa. Tapi Umaya mau keluar, Umay penasaran siapa yang kurang kerjaan mencet bel sampe gak ada jeda gitu. Kalau mama gak mau keluar ya gak apa-apa, Umay sendiri aja." Umay melepaskan tangan mamanya yang memegang tangannya, lalu Umay langsung berjalan ke arah pintu utama.
Meli mendengus kesal. Umay memang benar-benar sangat keras kepala.
Meli langsung berlari dan menyusul Umaya. "Ehh tunggu-tunggu!!" Meli menarik tangan Umaya.
Umaya langsung berhenti berjalan saat mamanya kembali menarik tangannya.
Umaya melihat Meli dengan tatapan kesal. "Kenapa lagi sih, ma?" kan uda Umay bilang tunggu aja di dalam."
"Apaan sih kamu? emangnya mama bakalan biarin kamu liat sendiri apa? mana tega mama biarin kamu keluar sendirian. Nanti kalau ada apa-apa gimana? uda, mama temenin kamu aja. Ayo sama mama aja keluar nya." Meli mengeratkan pegangannya pada tangan Umaya.
Umaya menaikkan sebelah alisnya. "Yakin nih mama mau ikut keluar sama Umay?" tanya Umaya ragu.
"Ya yakin lah, masa gak yakin. Uda ayo buruan," jawab Meli yakin.
"Yaudah ayo." Meli dan Umaya berjalan sambil bergandengan tangan, mereka berjalan pelan-pelan seperti orang mengendap-endap.
Di luar rumah, Bima sudah sangat bosan berdiri menunggu pintu rumah di buka. Dia terus mengomel pada Raka karena tak Meli dan Umaya tak kunjung membukakan pintu.
"Kamu gimana sih? kenapa pintunya gak dibuka-buka juga? saya uda berdiri lama loh di sini. Atau jangan-jangan kamu cuma bohongin saya ya? kamu cuma bohongin saya dan sebenarnya Umaya dan istri saya gak ada di sini. Iya?" Bima marah-marah pada Raka.
Raka menggelengkan kepalanya cepat. "Hah? bohong? enggak ah om, Raka gak bohong. Mana mungkin Raka bohongin om. Raka beneran kok, ini memang rumah yang Raka berikan untuk Umaya, dan Umaya serta tante Meli ada di sini." Raka meyakinkan Bima.
"Atau jangan-jangan mereka uda tau kalau saya mau ke sini makanya mereka kabur dari rumah ini?" Bima bertanya sambil marah-marah.
"Hah?" Raka mengerutkan dahinya bingung.
"Masa sih, om? masa sih mereka kabur? kayaknya enggak deh. Dari mana mereka tau kalau om mau datang ke sini? kan Raka gak ada kasih tau mereka. Kayaknya enggak deh, mungkin mereka lagi tidur kali." Raka taj percaya dengan apa yang diucapkan Bima.
"Masa tidur gak bisa dengar suara bel sih? emang mereka tidak atau latihan mati? kamu pake bel rumah murahan yang suaranya pelan ya?" Bima bertanya pada Raka.
"Murahan dari mana? bel rumah ini mahal, om, Raka beli dari luar negeri. Mana mungkin murahan," Raka membantah ucapan Bima.
"Terus kenapa mereka gak dengar belnya? masa bel mahal gak bisa didenger sama manusia." Bima terus mengomel.
"Astaga, mana Raka tau. Kan kita sama-sama di luar. Mana Raka tau mereka lagi apa sampai-sampai mereka gak bisa bukain pintu." Raka geleng-geleng kepala heran.
"Uda deg jangan ribut, ini Raka pencet lagi belnya sampai mereka keluar rumah."
Tingtong tingtong tingtong tingtong tingtong tingtong tingtong tingtong tingtong tingtong ...
Raka memencet bel rumah tanpa jeda, membuat siapa pun yang mendengarkan suaranya pasti akan kesal dan emosi.
"Pencet terus. Pencet terus belnya sampai mereka bukain pin--"
Kreeekkkkkk ...
Saat Bima mengomel tiba-tiba pintu rumah terbuka seketika. Spontan Bima langsung sembunyi di belakang Raka lagi.
Raka yang ikut terkejut langsung berdiri tegak dan berusaha menetralkan wajahnya.
"Gila, terkejut banget. Ini tiba-tiba banget," ujar Raka dalam hati.
Pintu terbuka, tapi nasih masih setengah. Dan orangnya pun belum keliatan keluar.
Di balik pintu yang terbuka setengah, ada Umaya dan Meli yang saat ini berusaha mengintip siapa seseorang yang bertamu je rumahnya.
"Siapa?" tanya Meli berbisik.
"Hah?"
"Siapa?" tanya Meli ulang.
"Gak keliatan, susah gak keliatan," jawab Umaya juga berbisik.
"Ya gimana mau keliatan, kamu kan gak liat keluar. Ayo liat ke luar, liat siapa yang datang." Meli menyuruh Umay untuk melihat siapa yang memencet bel.
"Tapi Umay rada takut, takut digebuk kepalanya dari luar kalau liat ke luar " Umay parno, dia terlalu sering melihat film action.
"Aahh kamu apaan sih? mana ada, itu cuma ada di film. Kebanyakan nonton film sih kamu. Uda buruan liat," perintah Meli lagi.
"Iih takut ah," Umay menolak untuk melihat.
"Yaudah geser, biar mama aja yang liat." Meli menyuruh Umaya untuk bertukar posisi. Umaya yang di belakang dan Meli yang di depan.
"Gak ah, gak mau. Nanti mama kenapa-kenapa." Umay menolak tawaran Meli.
"Lahh jadi kita ngapain di sini kalau gak keluar? aneh kamu." Meli mengomel pada Umaya.
"Yaudah Umay aja deh yang liat, gak usah mama. Umay aja yang intip." Pada akhirnya Umay memutus kalau dia yang akan melihat keluar.
"Yakin kamu?" tanya Meli memastikan.
Umaya menganggukkan kepalanya "Yakin," jawabnya.
"Yaudah, Hati-hati." Balas Meli.
Umaya langsung mengintip, kepalanya keluar dari pintu untuk melihat siapa yang bertamu. Dan saat Umaya melihat seseorang yang ada di depan pintu, dia benar-benar terkejut. Matanya membelalak lebar dah hampir tak percaya dengan siapa yang dilihatnya saat ini.